"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapor dan Kabar dari Rumah
Hari pembagian rapor tiba, ditandai dengan suasana sekolah yang riuh oleh orang tua murid yang datang menjemput. Bu Sulastri hadir mewakili Raka, sementara ibu Naya juga datang sendirian—ayahnya sudah izin tidak bisa hadir karena bertugas di luar kota, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sejak perceraian resmi terjadi.
Ketiga sahabat, ditambah Salsabila, menerima rapor mereka dengan hasil yang cukup memuaskan, mengantarkan mereka resmi naik ke kelas 8 tahun ajaran berikutnya.
Wali kelas mereka, Bu Retno, sempat memberikan pesan singkat sebelum semua murid dibubarkan.
"Ibu bangga sama kelas ini. Kalian udah lewatin tahun pertama SMP dengan banyak hal, ada suka, ada duka, tapi kalian tetap kompak. Semoga tahun depan makin baik lagi."
Beberapa murid bertepuk tangan mendengar kata-kata itu, termasuk Raka, Naya, Adit, dan Salsabila yang saling melempar senyum, teringat kembali berbagai kejadian yang telah mereka lalui bersama sepanjang tahun ajaran yang baru saja berakhir.
"Alhamdulillah, nilai kalian bagus-bagus," puji Bu Sulastri, memeriksa rapor Raka dengan bangga. "Ayo, kita rayakan sedikit, Ibu belikan es krim buat kalian semua."
Keempat anak itu bersorak senang, mengikuti Bu Sulastri menuju kedai es krim dekat sekolah untuk merayakan kenaikan kelas mereka dengan sederhana namun penuh kehangatan.
Di tengah perayaan kecil itu, ponsel Naya tiba-tiba berdering. Ia melihat layar, mendapati nama ayahnya tertera di sana—sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini mengingat kesibukan ayahnya yang terus meningkat sejak perceraian.
"Halo, Ayah?" jawab Naya, sedikit terkejut.
Suara di seberang telepon terdengar hangat namun juga menyimpan sesuatu yang serius. "Naya, Ayah mau ngobrol penting pas akhir pekan nanti waktu jemput kamu. Ada kabar yang mau Ayah sampein langsung."
"Kabar apa, Yah?" tanya Naya, mulai merasakan firasat yang tidak nyaman.
"Nanti aja pas ketemu langsung, ya. Ini kabar baik, kok, tenang aja," jawab ayahnya, meski nada suaranya terdengar sedikit gugup, sesuatu yang jarang Naya dengar dari sosok ayahnya yang biasanya tegas dan percaya diri.
Panggilan itu berakhir, menyisakan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di benak Naya. Ia menatap ketiga sahabatnya yang masih asyik menikmati es krim, ragu apakah harus membagikan kegelisahannya saat itu juga atau menunggu hingga kabar sebenarnya terungkap akhir pekan nanti.
Raka, yang menyadari perubahan raut wajah Naya, mendekat dengan nada khawatir. "Kenapa? Ada apa dari Ayahmu?"
Naya menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski hatinya dipenuhi tanda tanya besar. "Nggak tau.
Katanya mau ngasih kabar penting akhir pekan nanti. Entah kenapa, aku ngerasa ini bakal ngubah banyak hal."
Adit dan Salsabila, yang mendengar sebagian percakapan itu, ikut mendekat dengan raut wajah khawatir. "Kabar baik atau buruk kira-kira?" tanya Adit hati-hati.
"Ayahku bilang kabar baik," jawab Naya, mencoba meyakinkan diri sendiri lebih dari meyakinkan teman-temannya. "Tapi entah kenapa, nada suaranya tadi bikin aku malah makin was-was."
Salsabila menggenggam tangan Naya sebentar, memberi dukungan tanpa banyak kata. "Apa pun kabarnya nanti, kita semua di sini buat kamu, kok."
Naya tersenyum tipis, mencoba menikmati sisa es krim yang mulai meleleh di tangannya, meski pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan berbagai kemungkinan tentang apa yang akan disampaikan ayahnya akhir pekan nanti—sesuatu yang, tanpa ia sadari, akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan