NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naga

Kunang-kunang itu berputar-putar mengelilinginya. Ekspresinya dipenuhi rasa penasaran. Mereka mengelilingi perut, lalu menelusuri kedua tangan dan kakinya. Saat itu Xuan Han seperti patung, hanya kedua matanya yang bergerak-gerak menampakkan ketakutan dan permohonan.

Meng Chahua dan Nona Xie hanya diam menonton.

Tidak lama setelah menelusuri seluruh tubuhnya, kunang-kunang itu kembali ke formasinya. Xuan Han sedikit mengendurkan napasnya, namun ini belum selesai.

Setelah kunang-kunang itu kembali, tiba-tiba tangkai persik itu terbang lebih tinggi dan aura merah menyebar lebih pekat. Tekanan udara jauh lebih besar, membuat dada Xuan Han sedikit sakit. Lalu ledakan merah muncul, menciptakan gelombang yang menyebar.

Ketika melewati formasi kunang-kunang itu, tiba-tiba seluruh kunang-kunang runtuh dan berjatuhan seperti menghirup udara beracun.

Saat melewati Xuan, tiba-tiba pemuda itu terdorong ke belakang dan memuntahkan darah. Dadanya terasa sakit seolah ada sesuatu yang berat masuk ke paru-parunya. Ia bertanya apa yang terjadi. Itu juga membuat pedang terbang di belakangnya bergetar lalu terpotong-potong menjadi beberapa bagian.

Sementara ketika gelombang itu datang ke arah Meng Chahua dan Nona Xie, segera mereka membuat pelindung. Namun, segera itu pecah hingga membuat mereka mundur beberapa langkah.

Lalu perlahan-lahan tangkai persik itu memudar dan menghilang seolah seperti kertas tipis yang terus kena ombak dan tercabik-cabik karenanya. Butiran-butiran halus berwarna merah menyebar. Pemandangan itu seperti musim dingin dengan salju-salju tipis. Xuan Han merasa sedikit kedinginan.

Setelahnya tangkai itu sepenuhnya menghilang, Meng Chahua dan Nona Xie menatapnya tajam. Sepertinya mereka ingin mencegahnya, namun tidak bisa melakukan apa-apa.

Lalu mayat kunang-kunang yang berjatuhan tiba-tiba terangkat dan berubah menjadi berbagai cahaya yang bersatu membentuk cahaya warna-warni.

Cahaya itu terbang dan berputar-putar seperti dibawa badai topan. Kemudian membentuk memanjang.

Mata Meng Chahua dan Nona Xie terbelalak. Perlahan-lahan tubuh yang panjang dam dipenuhi sisik yang keras muncul. Itu seekor naga yang panjang muncul dan meraung di depan Xuan Han!

Bummm!!

Langit-langit gua hancur, bintang-bintang muncul di langit. Angin dingin menyerbu masuk.

Sekarang tidak ada ujung gunung itu. Ujungnya telah runtuh dan terjatuh menimpa pepohonan di sekitarnya sembari menyebabkan gempa.

Xuan Han berusaha menghindar dari reruntuhan, tapi tubuhnya tidak seimbang sehingga menyebabkannya pusing dan berusaha melindungi diri. Ia terjatuh dan beberapa anak panahnya berserakan. Berguling-guling lalu merangkak. Ia berusaha bertahan sembari mengoceh mengapa hal ini bisa terjadi padanya.

Naga itu berwarna kuning seperti naga sebelumnya. Tubuhnya melingkar di udara dan menatap tajam ke arah Xuan Han. Lalu akhirnya meraung menghembuskan udara panas.

Melihatnya, Meng Chahua menggeleng lalu bergumam, “Kenapa bisa seperti ini?”

Ia menghela napas dan mengeluarkan sebuah jimat lalu menekannya sehingga membuatnya menghilang.

Nona Xie juga ikut melakukannya dan pergi meninggalkan Xuan Han seorang diri di sana. Melihat mereka pergi, Xuan Han mengutuknya

...----------------...

Sementara itu Xiao Ma si kucing kecil menjilat kaki kanannya di atas dahan dekat jalan masuk gua sembari menggoyangkan ekornya. Ia terlihat menikmatinya sembari memejamkan matanya. Lalu menjilat kaki kirinya.

Setelahnya ia menguap dan merentangkan kedua kakinya. Menatap ujung dahan, rasanya itu sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktu tidur. Tuannya belum juga datang, ia merasa bosan menunggu. Jika ada manusia atau hewan buas yang datang ke sini, itu pasti sangat menyenangkan, tapi sepanjang siang menuju sore dan pada akhirnya malam turun, tidak ada yang datang.

Ia memejamkan matanya, melipat kedua kakinya.

Baru memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba getaran muncul dan embusan angin keluar dari gua bersamaan dengan aura panas. Bulu kucing loreng itu sedikit terhembus. Pohon-pohon itu juga, namun perlahan-lahan daun-daunnya berguguran membuat beberapa pohon yang terkena angin itu menjadi gundul.

Dengan malas kucing itu membuka matanya. Ia mendengar raungan. Lalu perlahan-lahan suara retakan bermunculan. Bersamaan dengan itu ujung gunung mulai miring dan akhirnya terjatuh. Kucing itu masih diam. Lagipula runtuhnya mengarah ke arah lain. Angin kencang kembali berhembus. Dan gelombangnya membuat pohon-pohon bergoyang. Selain itu getaran menjalar ke bawahnya.

Kucing itu ingin menutup matanya, namun ia mengurungkan dan segera berdiri. Saat itulah ia melihat seekor naga di antara potongan gunung bebatuan itu. Ia hanya menggerakkan ekornya dan dari matanya tidak berniat mendekat atau mau berurusan dengan naga itu. Lagi pula itu juga tidak ada hubungannya. Naga di hutan juga banyak, jadi tidak akan terlalu mengherankan.

Lalu muncul dua cahaya, bersamaan dengan itu Meng Chahua dan Nona Xie muncul menatap ke depan.

Xiao Ma melihat mereka dan bertanya, di mana pemuda itu?

Segera ia melompat dan berjalan mendekati majikannya. Pemuda yang dimaksud pasti sudah mati dan bagi Xiao Ma anak seperti itu memang datang untuk dikorbankan.

Kucing itu lalu duduk di samping tuannya sembari menatap ke depan dan menggoyangkan ekornya. Sepertinya akan ada pertunjukan naga, jadi tidak ada salahnya untuk menonton.

...----------------...

Sementara kedua tangan dan kaki Xuan Han bergetar. Ia pernah berhadapan dengan naga dan beruntung bisa lolos darinya, tetapi mengapa sekarang harus bertemu dengannya lagi?

Ia tidak tahu apakah sekarang akan selamat atau berakhir sebagai santapan naga itu.

Memegang pedang di tangannya. Ia punya busur dan pedang. Hanya itu yang bisa diandalkannya sekarang, namun apakah itu bisa menyelamatkannya?

Menatap naga itu, ia berusaha mengeluarkan seluruh keberaniannya. Sementara naga itu melototinya. Kepalanya mendekat dan terus mendekat. Wajah naga itu memang menyeramkan dan membuat Xuan Han menahan napas.

Jelas saja, mengayunkan pedangnya atau berusaha lari akan membuatnya menjadi makanan. Namun apa yang harus dilakukannya?

Naga itu lalu menjauh. Mendongak lalu meraung. Itu menyebabkan batu-batu bergetar dan runtuh, juga menyebabkan telinga Xuan Han sakit. Kemudian naga itu bergerak ke atas. Tubuhnya bergerak lincah menembus langit.

Dari jauh, ia terlihat sangat mengagumkan. Hewan-hewan hutan mendongak melihat sosoknya yang perkasa. Tubuhnya bergerak luwes.

Ia seperti melesat meraih bintang-bintang dan pergi ke luar angkasa.

Seorang gadis bergaun kuning dan berambut pendek yang berdiri di salah satu tebing menunjuk naga itu di langit. “Kakak, naga! Lihat! Kita bertemu naga kembali!”

Seorang gadis bersila di bawah pohon perlahan-lahan membuka matanya, lalu mendongak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Setelah mencapai keting tertentu, tiba-tiba naga itu berhenti dan berbalik ke bawah dengan kecepatan tinggi. Semua hewan memperhatikannya. Gadis itu juga, ia bertanya kenapa naga itu berbalik ke bawah? Seharusnya naga itu pergi melintasi luar angkasa dan menjelajahi bintang-bintang. Gadis yang bersila tidak berkata apa-apa dan terus memperhatikannya.

Xuan Han yang sebelumnya merasa senang, tiba-tiba kedua matanya dipenuhi keterkejutan. Ia buru-buru ingin pergi, tapi tidak bisa dan tetap mendongak menatap naga itu di langit. Tidak bisa bergerak sama sekali.

Tidak lama mulutnya tiba-tiba terbuka lebar-lebar. Xuan Han sangat panik!

Ia penasaran mengapa tidak bisa bergerak, mengapa mulutnya terbuka.

Naga itu tidak menurunkan kecepatannya dan terus melesat ke bawah seperti meteor.

Xuan Han dilanda teror. Ia sekuat tenaga berusaha bergerak dan tubuhnya bermandikan keringat.

Naga itu mendekat.

Terus mendekat.

Xuan Han tidak bisa bergerak. Pada akhirnya ia menyerah dan memejamkan matanya.

Naga itu sudah ada di depannya.

Naga itu melesat ke bawah, tidak menabrak tanah, tapi menyusut dan masuk ke mulut Xuan Han!

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!