Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan yang Terlalu Berat
Yang lebih mengejutkan lagi, istri Herutomo ditemukan meninggal dunia di lokasi kecelakaan beruntun yang terjadi kemarin. Kabar itu sontak membuat suasana di kantor menjadi sunyi.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Anak perempuan Herutomo masih belum ditemukan.
Petugas kemudian memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi untuk mengetahui bagaimana kecelakaan itu bermula. Dari salah satu rekaman terlihat istri Herutomo berjalan sendirian di tengah jalan raya. Langkahnya terlihat aneh, seperti orang yang sedang kehilangan arah. Ia sama sekali tidak tampak menyadari bahaya yang mengarah kepadanya.
Beberapa detik kemudian, sebuah truk melaju dari kejauhan.
Suara rem terdengar keras. Truk itu berusaha menghindar, tetapi terlambat. Benturan pertama terjadi dan dalam hitungan detik kendaraan lain ikut bertabrakan. Jalan raya berubah menjadi kekacauan. Kendaraan saling menghantam, suara klakson bercampur dengan teriakan orang-orang yang panik.
Mahesa menatap layar CCTV tanpa berkedip.
Dadanya terasa sesak ketika rekaman itu diputar berulang kali. Ada sesuatu yang terasa janggal. Mengapa istri Herutomo berjalan sendirian di tengah jalan? Di mana anak perempuannya? Dan yang paling mengganggu pikirannya, apa yang terjadi beberapa menit sebelum perempuan itu muncul di rekaman?
“Putar lagi,” ucap Mahesa pelan.
Asistennya menurut.
Rekaman kembali berjalan.
Mahesa memperhatikan setiap gerakan perempuan itu. Wajahnya tampak pucat, sementara pandangannya kosong. Tidak terlihat seperti seseorang yang sedang berjalan menuju suatu tempat. Lebih seperti seseorang yang baru saja mengalami sesuatu yang membuat pikirannya tidak lagi berfungsi dengan baik.
Mahesa mengepalkan tangan.
Perasaan tidak enak semakin kuat. Kematian istri Herutomo mungkin memang terlihat seperti kecelakaan biasa, tetapi hilangnya anak perempuan mereka membuat semuanya terasa berbeda.
“Cari rekaman CCTV dari satu jam sebelum kejadian,” perintah Mahesa.
Asistennya mengangguk.
Mahesa kembali menatap layar yang telah membeku pada detik sebelum kecelakaan terjadi. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan satu-satunya petunjuk yang mereka miliki hanyalah rekaman tersebut.
Sementara itu, keberadaan anak perempuan Herutomo masih menjadi misteri.
Entah di mana anak itu berada.
Dan Mahesa mulai merasa bahwa kecelakaan beruntun tersebut bukanlah akhir dari sebuah kejadian, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Mahesa masih memikirkan rekaman CCTV itu. Setelah melihat beberapa kali, muncul satu dugaan yang terus mengganggu pikirannya. Mungkin saja istri Herutomo mengalami tekanan mental yang sangat berat setelah kehilangan suaminya.
Herutomo telah meninggal, sementara sebagian besar tabungan yang dimiliki istrinya ikut hilang setelah diinvestasikan ke hotel. Kehilangan suami sekaligus harta yang selama ini menjadi pegangan hidupnya mungkin membuat perempuan itu tidak mampu menghadapi semuanya. Langkahnya yang kosong di tengah jalan seolah menunjukkan seseorang yang sudah kehilangan arah.
Namun, Mahesa tidak ingin terburu-buru menyimpulkan.
“Bagaimanapun juga, kita harus menemukan anaknya,” ujar Mahesa dengan suara tegas.
Asistennya yang berdiri di hadapan meja langsung mengangguk.
“Cari tahu semua tentang anak perempuan Herutomo. Temukan sekolahnya, teman-temannya, kerabatnya, siapa pun yang terakhir kali berhubungan dengannya,” perintah Mahesa.
Ia kemudian kembali menatap layar komputer.
“Dan cari tahu kapan terakhir kali anak itu terlihat bersama ibunya.”
Ada kegelisahan yang perlahan tumbuh di dalam diri Mahesa. Jika benar istri Herutomo berjalan ke tengah jalan karena depresi, lalu mengapa anaknya tidak ada bersamanya?
Pertanyaan itu membuat pikirannya semakin berat.
Mahesa bersandar di kursinya dan menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kematian Herutomo dan istrinya mungkin menyimpan sesuatu yang belum mereka ketahui.
“Jangan berhenti sebelum kita menemukan anak itu,” katanya sekali lagi.
Asistennya segera meninggalkan ruangan.
Mahesa tetap duduk sendirian. Tatapannya kosong mengarah ke layar, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia hanya berharap anak perempuan Herutomo masih dalam keadaan selamat.
Karena jika anak itu juga menghilang setelah kematian kedua orang tuanya, maka masalah ini jelas jauh lebih besar daripada sekadar kecelakaan beruntun.
Telepon dari rumah datang ketika Mahesa masih berada di perjalanan menuju kantornya. Suara asistennya terdengar sedikit panik di seberang telepon.
“Tuan, Raffi menangis. Dia terus bilang ingin pulang dan mencari ibunya.”
Mahesa terdiam sejenak. Hatinya langsung terasa tidak tenang. Tanpa banyak bertanya, ia meminta sopir memutar arah dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Mahesa langsung melihat Raffi duduk di depan pintu. Anak itu memeluk lututnya sendiri sambil sesekali mengusap air mata. Pandangannya terus mengarah ke ujung jalan, seolah seseorang yang sangat ia rindukan akan muncul dari sana.
“Raffi…”
Mendengar suara Mahesa, anak itu menoleh. Wajahnya yang sembab membuat hati Mahesa terasa berat.
“ayah.. Ibu belum pulang,” ucap Raffi dengan suara bergetar.
Mahesa segera berjongkok di hadapannya dan menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan.
“Tenang, Nak. Jangan menangis.”
“Tapi Raffi mau ketemu Ibu...” Tangisnya kembali pecah. “Raffi kangen Ibu.”
Mahesa mengusap rambutnya perlahan. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Ada banyak hal yang belum bisa ia jelaskan kepada anak sekecil itu.
“Ibu sedang pergi sebentar. Kamu jangan takut,” ucap Mahesa lembut.
Raffi masih terisak di dadanya.
Mahesa memeluknya lebih erat. Dalam hati, ia berharap Maya segera kembali. Melihat Raffi yang terus menunggu di depan pintu membuat rumah itu terasa jauh lebih sepi.
Untuk sementara, Mahesa hanya bisa menjadi tempat anak itu bersandar.
Ia tidak tahu berapa lama Raffi harus menunggu.
Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan anak itu merasa sendirian.
Mahesa tidak tega mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada Raffi. Anak itu masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan. Apalagi sejak tadi Raffi terus menangis dan menunggu di depan pintu, berharap ibunya pulang dan memeluknya seperti biasa.
Bagaimana mungkin Mahesa mengatakan bahwa perempuan yang begitu dirindukannya tidak akan pernah kembali?
Mahesa hanya bisa mengusap kepala Raffi sambil menahan berat di dadanya. Ia tahu, cepat atau lambat kebenaran itu harus disampaikan. Tetapi bukan sekarang. Bukan ketika mata anak itu masih penuh harapan.
Di sisi lain, Julian tanpa sengaja mendengar percakapan ibunya. Dari suara yang terdengar pelan, ia mengetahui bahwa ibu Raffi telah meninggal dunia akibat kecelakaan.
Julian terdiam.
Matanya perlahan tertuju kepada Raffi yang masih berada dalam pelukan Mahesa. Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ada rasa sedih yang muncul, tetapi juga rasa bingung melihat Mahesa menyembunyikan kenyataan itu.
“Kenapa ayah nggak bilang sama Raffi?” tanyanya pelan.
Mahesa menoleh. Tatapannya langsung berubah serius.
“Karena dia belum siap.”
Julian menunduk. Ia mulai memahami bahwa ada kabar yang memang terlalu berat untuk disampaikan begitu saja, terutama kepada seorang anak yang sedang kehilangan tempat bergantung.
Mahesa kembali memeluk Raffi. Tangannya mengusap punggung anak itu perlahan.
Dalam hati, Mahesa hanya bisa berdoa agar ketika kebenaran itu akhirnya diketahui, Raffi memiliki cukup kekuatan untuk menerimanya.
Karena terkadang, menjadi seorang ayah bukan hanya tentang mengatakan kebenaran.
Tetapi juga tentang tahu kapan harus mengatakannya, dan kapan harus menjadi tempat berlindung ketika seorang anak belum sanggup menghadapi dunia.
Mahesa membawa Raffi masuk ke dalam rumah. Tangannya masih menggenggam tangan kecil anak itu, memastikan Raffi tidak kembali duduk di depan pintu untuk menunggu ibunya.
Namun, dari kejauhan Julian terus memperhatikan mereka. Tatapannya tampak sinis. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya setelah mendengar kabar tentang ibu Raffi.
Ketika Raffi melewati ruang tengah, Julian tiba-tiba berkata dengan nada menyindir, “Ngapain masih nunggu ibu kamu? Dia kan sudah meninggal.”
Langkah Raffi langsung terhenti.
Wajah kecilnya berubah. Ia menatap Julian dengan mata yang mulai berkaca-kaca, seolah belum memahami sepenuhnya arti perkataan itu, tetapi bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang buruk dari kalimat tersebut.
“Julian!” suara Mahesa terdengar tegas.
Julian hanya mengangkat bahu. “Aku cuma bilang kenyataan.”
Mahesa menatap putranya dengan kecewa. Ia tahu Julian mungkin belum mengerti betapa kejamnya perkataan itu bagi seorang anak yang sedang kehilangan.
“Kalau kamu belum bisa menghibur, jangan menambah luka orang lain,” ujar Mahesa pelan, tetapi tegas.
Julian terdiam. Ia membuang muka, masih menyimpan rasa kesal yang tidak mampu ia jelaskan.
Raffi terdiam setelah mendengar ucapan Julian. Wajahnya yang semula hanya bingung perlahan berubah pucat. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.
“Ibu... meninggal?”
Suaranya terdengar sangat kecil, seolah ia sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Beberapa detik kemudian, air matanya jatuh begitu saja.
“Nggak... Ibu nggak meninggal...” Raffi menggeleng berkali-kali. “Ibu bilang mau pulang... Ibu pasti pulang...”
Mahesa langsung menatap Julian dengan kemarahan yang sulit disembunyikan.
“Julian, cukup!”
Suara Mahesa membuat suasana rumah mendadak sunyi. Ia segera menghampiri Raffi yang sudah menangis semakin keras.
Tanpa banyak bicara, Mahesa menggendong tubuh kecil itu dan membawanya menuju kamar. Raffi masih terisak dalam pelukannya, bahkan tangannya mencengkeram erat pakaian Mahesa seakan takut ditinggalkan.
“ayah... Ibu nggak meninggal, kan?” tanyanya di sela tangisan.
Mahesa terdiam. Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia tidak sanggup berbohong, tetapi juga belum tega menghancurkan harapan anak itu.
“Tenang dulu, Nak,” ucap Mahesa sambil mengusap kepalanya.
Sesampainya di kamar, Mahesa mendudukkan Raffi di atas tempat tidur. Namun, anak itu terus menangis dan menggeleng.
“Raffi mau Ibu... Raffi mau pulang sama Ibu...”
Mahesa duduk di sampingnya lalu memeluk tubuh kecil itu erat. Tangisan Raffi memenuhi kamar yang terasa semakin sunyi.
Di dalam pelukan Mahesa, Raffi masih belum bisa menerima kenyataan. Baginya, ibunya hanya sedang pergi dan sebentar lagi akan kembali membuka pintu.
Mahesa memejamkan mata sejenak.
Ia tahu, cepat atau lambat Raffi harus menghadapi kenyataan itu. Namun melihat anak itu menangis sambil terus memanggil ibunya, Mahesa merasa seolah tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengurangi luka tersebut.