Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
" Tolong program apa yang harus di jalani , kalau ingin punya anak perempuan."
" Perbanyak asupan tinggi kalsium dan magnesium (seperti yoghurt, keju, sayuran hijau, dan buah-buahan tertentu). Makanan ini mendukung sperma X untuk bertahan lebih lama."
" Dan program yang paling utama. Perbaiki program hubunganmu dengan Tuhanmu, bukan malah program dengan wanita lain." tatapan tajam seorang dokter kepada klien di depannya.
"Berdoa , minta dengan sungguh-sungguh, karena Tuhanmu yang lebih kuasa dan lebih berhak atas jenis kelamin yang di titipkan di rahim seorang ibu."
" Cukup sampai di sini. Aku tidak mau jadi duri di antara kalian berdua."
Sambil berdiri dan melangkah meninggalkan kliennya yang sedang duduk termangu. Pria itu mendengus.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka dari meja seberang.Pemilik mata itu pura-pura sibuk dengan buku menu di depannya. Dia sengaja menutupi mukanya dengan buku menu , agar tak terlihat oleh pengunjung di depannya.
(Itu bukannya dokter Mirna dan Pramono suami Arista. Ada apa mereka berdua melakukan pertemuan. Apa dokter Mirna buka konsultasi selain di kliniknya juga melayani di luar klinik).
Setelah sosok dokter Mirna meninggalkan Pram, pria itu merubah posisi duduknya dengan membelakangi Pram. Posisi mereka sekarang saking memunggungi.
" Silahkan pak Anjas , selamat menikmati." seorang karyawan pria menghampiri meja Anjas.
Mendengar nama Anjas di sebut, pria yang ternyata Pram menoleh ke arah belakang mejanya. Tubuhnya menegang dan wajahnya memucat. Dia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan gemuruh dadanya.
Ya..benar, pria yang tengah duduk memunggunginya adalah sosok yang sangat dia kenal, walau pun tampak dari belakang.
Perlahan dia menegakkan tubuhnya , berdiri dan melangkah mendekati meja Anjas.
" Selamat siang pak Anjas. Wahh..pak Anjas sedang makan siang rupanya, sudah lama pak?." tanya Pram basa-basi.
" Oh...pak Pram , saya baru beberapa menit yang lalu, memang pelayanan di sini cukup cepat. Baru duduk , pesan , eh..nggak lama menunya udah jadi. Silahkan pak Pram gabung sama saya, mau pesan apa." kata Anjas yang tak terkejut melihat kedatangan Pram.
Dia sudah yakin , kalau Pramono pasti menyadari kehadirannya.
" Oh... kebetulan tadi saya udah makan siang sama klien."
" Wahh...sayang sekali, kita jarang-jarang lho, ketemu pas jam makan siang. Padahal kita satu kantor." kata Anjas.
" Lain waktu Pak Anjas. Makanya pak, cari pasangan biar ada yang nemenin."
Anjas mengernyitkan dahinya, merasa ambigu dengan ucapan Pramono.
" Saya rasa nggak ada korelasinya, Pak Pram. Toh...sekarang kenyataannya Pak Pram sudah punya pasangan, tapi malah makan siangnya dengan klien.." kata Anjas. Kalimatnya seolah memojokkan.
" Ah..Pak Anjas ini bisa aja. Kalau begitu saya permisi, masih ada yang harus saya temui lagi."
"Silahkan ,Pak Pram. Hati-hati." mereka pun tak lupa saling bersalaman.
(Blunderkan jadinya. Nggak ada hal lain yang di omongin, selain masalah pasangan) Anjas tersenyum sinis.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Restu memasuki pekarangan rumahnya , terdengar decitan rem mobil yang beradu dengan lantai paving blok. Pertanda dia mengemudikan dengan kencang, atau nggak dia sedang terburu-buru.
Pintu utama tampak terbuka. Restu langsung masuk ke dalam rumah. Sekuntum mawar merah dia cium, sambil tersenyum mencari keberadaan sosok istrinya.
Kamar tidur kosong, ruang makan juga kosong. Restu tampak kebingungan.
Samar terdengar orang sedang berbincang dari arah halaman belakang. Restu bergegas ke arah belakang rumah. Tampak Anisa sedang berbincang di telepon. Hanif duduk di stroller, sedang asyik dengan botol susunya.
Anisa menyadari kedatangan suaminya. Tapi dia pura-pura tidak tahu dan sibuk menelepon.
" Iya... Pak Baskoro. Kalau bisa secepatnya, karena saya sangat membutuhkannya. Terima kasih, Pak." Anisa memutus sambungan teleponnya.
(Pak Baskoro. Ada apa Anisa menelepon pengacara keluarganya)
Pelan Restu melangkah mendekati istri dan putra angkatnya. Ada rasa bersalah,tapi dia bersikap setenang mungkin. Senormal mungkin.
" Ayah cariin, ternyata anak ayah dan bundanya di sini. Pasti kalian lagi bersantai yaa." Restu tampaknya sudah piawai dalam menguasai dan mengontrol emosinya.
Anisa menoleh dan tersenyum kecil. Gawainya dia simpan ke dalam kantong bajunya.
" Tumben pulang siang, mas. Bukannya kalau jam makan siang, mas pulang ke rumah orang tua mas. Antar makanan." tanya Anisa.
Tapi dia tak menatap ke arah suaminya, dia mengangkat dan mendekap Hanif. Mendekap dan menepuk punggungnya dengan lembut, sambil menggoyangkan badan. Hanif menguap lucu. Tak lama matanya pun terpejam dan akhirnya tertidur dalam dekapan Anisa.
Sambil mengelus lembut punggung Hanif, Anisa berjalan melewati Restu dan menuju kamar tidurnya.
" Tidur yang nyenyak, sayang. Ini kamar kita, selamanya akan jadi kamar kita. Tak boleh ada yang menggantikan apalagi merebutnya." ucap Anisa sambil mencium kening Hanif.
Restu yang mengikuti Anisa ke kamarnya , tertegun di pintu kamar, dia mendengar kalimat yang di ucapkan Anisa.
Memang tidak di tujukan langsung padanya, tapi dia merasa kalau kalimat itu di ucapkan Anisa tertuju padanya.
" Ehemm.." Restu berdehem.
Anisa menoleh sekilas. Dia melihat tangan kanan Restu berda di balik punggung. Entah apa yang di sembunyikannya. Anisa tak mau ambil pusing.
" Sayang. Restu mendekat sambil tersenyum. Untukmu." Restu mengulurkan sekuntum mawar merah yang tadi dia beli dalam perjalanan pulang.
Anisa meraih mawar itu sambil tersenyum. Kalau boleh jujur, Anisa sebenarnya agak muak menerimanya. Tapi dia sudah meyakinkan dirinya, akan mengikuti permainan suaminya, Restu.
" Terima kasih, mas. Ternyata setelah sekian tahun bersama dan menjadi pasangan suami istri. Ada hal yang kamu lupakan."
" Maksudmu apa, sayang." tanya Restu was-was.
" Sejak kapan istrimu ini menyukai bunga mawar." tanya Anisa sambil menyentuh kelopak mawar dengan jari telunjuknya.
" Astaga. Tadi mas reflek aja membeli mawar itu, bunga dan warnanya yang indah seketika membuat hati mas langsung tertarik." Restu memberi alibi.
( Kenapa aku bisa lupa , sih. Kebiasaan bujukin Linda kalau lagi ngambek. Beruntung tadi nggak di kata-kata romantis )
" Nggak apa-apa, santai aja mas. Ada apa mas Restu pulang."
" Oh...itu, tadi pas pulang ke rumah ibu, katanya kamu main ke sana. Maaf, mas belum sempat kasih tahu kamu, kalau rumah yang dulu udah mas renovasi."
" Tadinya mas mau kasih kejutan sama kamu, cuma belum ketemu waktu yang pas. Maaf, ya.." Restu meraih jemari Anisa.
Anisa menunduk, melihat jarinya di remas oleh Restu. Mungkin dulu dia akan merasakan jantungnya berdebar, hatinya berbunga, ribuan kupu-kupu warna warni keluar dari perutnya.
Tapi sekarang yang Anisa rasakan hanya hambar dan dingin. Ingin di tariknya kembali jemari itu, tapi Anisa takut Restu curiga.
" Dan pada akhirnya, mas berhasil membuat kejutan, kan." Anisa tersenyum.
" Rumah baru, apa mungkin di sana ada penghuni baru. Sampai-sampai penghuni lama di anggap tamu." Anisa memandang kosong ke arah pintu kamar.
Restu yang tidak tahu duduk persoalannya, menatap bingung ke arah istrinya.
Belum juga membuka mulut, suara dering ponsel dari kantong celana Restu berbunyi.
Dia mengeluarkan ponselnya. Wajahnya tegang melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
Anisa melirik. Dia sempat membaca nama yang tertera di sana.
Restu bejalan ke luar kamar dan mengangkat panggilan tersebut.
" Ya ..Bu. Oh..iya, nanti pulang dari kantor saya bawain. Sudah dulu, nggak usah telepon , wa aja kalau perlu sesuatu." Restu mengakhiri obrolannya.
" Sayang, mas balik ke kantor lagi, ya." Restu hendak mengecup dahi Anisa.
Spontan Anisa menunduk, pura-pura sibuk membetulkan letak kancing bajunya.
" Mas pulang kantor agak malam. Terus tadi ibu minta di belikan martabak telor. Kalau kemalaman, kemungkinan mas nginap di rumah ibu." kata Restu.
" Hemm. Anisa berdehem. Suatu saat nanti aku kabulkan, mas." lirih suara Anisa.
Jantung Restu berdesir.
" Maksud kamu apa sayang." tanya Restu sambil membalikkan badan.
" Nggak ada maksud apa-apa, lupakan."
Restu menatap Anisa dengan tatapan entah.