DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di bawah naungan kegelapan
Bab 7 - janji di bawah naungan kegelapan.
Suasana di dalam ruangan itu kini terasa kian pengap, berat, dan mencekam. Mbah Cahyo menatap mereka berdua dengan pandangan mata yang begitu tajam, seolah-olah sepasang mata tua itu mampu menguliti isi kepala mereka. Rahmat dan Ratna seketika mati kutu; mulut mereka mendadak terasa terkunci rapat dan tak tahu lagi kata-kata apa yang harus diucapkan untuk membuka obrolan.
Namun, ketegangan itu seketika pecah. Mbah Cahyo tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang serak melengking tinggi terpantul di dinding-dinding kayu rumah tua itu, terdengar sangat puas melihat raut wajah ketakutan dan kecemasan yang terpancar jelas dari kedua tamunya.
"Sudah... Sudah, kalian gak perlu bicara apa-apa lagi," ujar Simbah setelah tawa seraknya mereda, sambil mengibaskan sebelah tangannya yang keriput. "Mbah sudah tahu apa maksud dan tujuan kedatangan kalian ke sini."
"Kalian sudah tepat datang menemui Simbah. Kamu tidak salah, Nduk, Le... Yang salah adalah mereka yang telah mengambil rezekimu selama ini. Kalian hanya ingin mengambil kembali apa yang memang sudah seharusnya menjadi milikmu," lanjut Simbah dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, penuh tipu daya yang menghanyutkan.
Mendengar ucapan Mbah Cahyo, seketika sepasang mata Rahmat berbinar terang. Ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya; ternyata masih ada orang yang peduli dan membenarkan nasib malangnya. Ucapan si Mbah seolah menjadi penawar bagi beban berat yang selama setahun ini menyiksa batin dan harga dirinya sebagai kepala keluarga.
"I... Iya, Mbah. Mereka yang telah mengambil hak saya! Mereka juga yang sudah membuat hidup kami menderita sampai saat ini!" sahut Rahmat berapi-api. Nada suaranya sedikit bergetar, mencampuradukkan rasa haru karena dibela dengan amarah benci yang kembali tersulut di dalam hatinya.
Sementara itu, Ratna hanya bisa terdiam seribu bahasa di samping suaminya. Kedua tangannya bergerak gelisah, saling meremas dan memainkan jemarinya sendiri demi menyembunyikan rasa gugup serta ketakutan yang kian menyiksa batin. Dengan dada yang bergemuruh, ia terpaksa menyaksikan percakapan antara Rahmat dan Simbah yang arahnya terasa kian serius sekaligus menyimpang jauh.
"Kamu yakin, Le, mau menempuh jalan ini? Sekali kakimu melangkah masuk ke dunia ini, kalian berdua sudah tidak akan pernah bisa kembali lagi ke jalan yang dulu," tanya Simbah sekali lagi. Nada suaranya mendadak berat dan penuh penekanan, seolah sedang menuntut sebuah sumpah ikatan gaib.
Belum sempat Rahmat membuka mulut untuk menjawab, Ratna yang sudah tidak tahan lagi langsung memotong percakapan itu. Walaupun sekujur tubuhnya gemetar dikepung rasa takut yang hebat, ia memberanikan diri untuk bersuara.
"Tapi... tapi, Mbah... ritualnya nanti gak akan melibatkan nyawa, kan?" tanya Ratna balik, menatap langsung ke sepasang mata tua si Mbah dengan tatapan penuh kecemasan.
Seketika itu juga, suasana di dalam ruangan kembali hening sekejap. Bersamaan dengan keheningan itu, aroma asap kemenyan yang berputar di udara mendadak berubah; sekilas, samar-samar tercium bau amis darah yang segar dan menyengat di hidung mereka berdua. Udara di dalam rumah kayu itu pun terasa semakin lama semakin pengap, berat, dan seolah beracun untuk dihirup.
Mendengar pertanyaan polos dari Ratna, Mbah Cahyo kembali tertawa terbahak-bahak. Suara tawa seraknya kali ini terdengar lebih panjang, sembari tangan keriputnya perlahan mengelus janggutnya yang sudah memutih dan tumbuh memanjang.
"Hahahahaha... Pertanyaan yang bagus, Nduk," sahut Simbah dengan nada suara yang mendadak datar dan tenang, kontras dengan tawa gilanya barusan. "Tidak, Nduk... ini cuma ilmu penglaris dagangan biasa. Gak perlu pakai yang seperti itu."
Mbah Cahyo menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata Ratna yang ketakutan.
"Tapi... kalau sampai kalian mengingkari janji yang sudah disepakati, kalian sendiri yang harus menanggung akibatnya!" lanjut Mbah Cahyo. Nada suaranya seketika berubah drastis, naik dua oktaf, melengking tinggi penuh ancaman maut yang menggelegar di dalam ruangan sempit itu.
Dibayangi ancaman mengerikan itu, kepolosan dan sisa akal sehat di dalam diri mereka seketika runtuh. Rasa takut yang luar biasa langsung memadamkan seluruh ego dan niat terlarang yang sempat membakar hati Rahmat. Detik itu juga, mereka sadar telah melangkah ke dalam jurang yang salah dan berniat untuk mundur sebelum segalanya terlambat.
"Ka... kalau begitu, kami tidak jadi meminta bantuan Simbah. Kami batal, Mbah," sahut Rahmat dengan bibir bergetar hebat akibat rasa takut yang teramat sangat.
Mendengar ucapan Rahmat yang tiba-tiba mundur, raut wajah Mbah Cahyo seketika berubah total. Sepasang mata tua itu langsung menatap liar dan berkejaran tajam, persis seperti seekor harimau lapar yang siap menerkam dan mengoyak tubuh mangsanya di tengah kegelapan hutan.
"Apa?! Kalian mau membatalkan semua ini?!" bentak Simbah, suaranya menggelegar menggetarkan dinding-dinding kayu yang rapuh. "Tidak semudah itu, Nak! Jangan harap kalian berdua bisa keluar dari rumah ini dalam keadaan tubuh yang utuh!" ancam Simbah dengan tatapan membunuh.
Bersamaan dengan ancaman maut itu, hawa di dalam ruangan yang tadinya sedingin es seketika berubah drastis. Udara mendadak terasa sangat panas dan membakar kulit, seolah-olah posisi duduk Rahmat dan Ratna baru saja digeser tepat di hadapan sebuah bongkahan bara api besar yang sedang menyala-nyala dengan dahsyat.
"Apa kalian sudah tidak ingat lagi dengan tujuan awal kalian datang jauh-jauh ke sini?" ujar Simbah, mulai melancarkan bujuk rayunya kembali. Nada suaranya kini sengaja diturunkan, berubah rendah dan berat, terdengar seperti bisikan beracun yang langsung merayap masuk ke dalam gendang telinga mereka.
"Apakah kalian memang mau melihat sainganmu terus berhasil dan tertawa di atas penderitaanmu? Sementara kalian sendiri harus hidup sengsara, bangkrut, dihina banyak orang, dan akhirnya... mati pelan-pelan dalam kemiskinan?"
Mendengar rentetan kalimat provokatif dari Simbah, batin Rahmat yang tadinya ciut seketika kembali bergebu-gebu dengan hebat. Rasa dendam dan harga dirinya yang terluka langsung menyala kembali, membakar habis sisa rasa takutnya. Dalam benaknya, ia merasa sudah cukup menderita selama ini. Ini adalah saatnya untuk bangkit, membalas perbuatan orang-orang, dan merebut kembali kehormatan serta kepercayaan yang hilang.
"Baik... baik, Mbah. Kami setuju. Kami mau menempuh jalan ini," ujar Rahmat dengan suara yang masih bergetar, namun sepasang matanya kini memancarkan ambisi hitam yang menyala-nyala, menolak untuk padam. "Asal usaha kami bisa maju dan laris lagi, kami siap melakukan apa saja!"
Di sampingnya, jantung Ratna mencelos mendengar keputusan nekat suaminya. Ingin sekali ia membantah, ingin sekali mulutnya berteriak keras kata, "JANGAN!" Namun, lidahnya mendadak kelu. Ia sadar betul, jalan untuk kembali pulang kini telah tertutup rapat. Jika mereka nekat berbalik mundur sekarang, nyawa mereka berdualah yang akan langsung menjadi taruhannya di dalam rumah terkutuk ini. Pada akhirnya, Ratna hanya bisa terdiam, terpaku pasrah meratapi nasib mereka.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁