Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Aku sedang Tidak Baik-baik Saja
Ardian memperhatikan perempuan di depannya. Biasanya Joyce selalu terlihat kuat. Tegas. Mandiri. Tetapi malam ini berbeda. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Joyce yang tidak pernah diperlihatkan kepada dunia. Sisi seorang anak kecil yang masih mencari jawaban. Membutuhkan tempat untuk mencurahkan, dan teman untuk menemaninya
"Aku takut, Ardian."
Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa pertahanan. Tanpa topeng. Dan entah kenapa membuat hati Ardian terasa sesak. Takut. Satu kata yang sangat manusiawi. Namun begitu sulit diucapkan oleh orang sekuat Joyce.
"Aku takut kalau ternyata aku nggak pernah diinginkan ada di dunia ini."
Mata Joyce mulai memerah.
"Aku takut kalau alasan dia meninggalkanku adalah karena aku memang nggak cukup berharga untuk dipertahankan."
Ardian langsung menggeleng.
"Jangan."
“Buang pikiran burukmu..”
Joyce menatapnya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Ardian berbicara bukan sebagai CEO. Bukan sebagai pria sukses. Bukan sebagai penyelamat. Tetapi sebagai seseorang yang peduli.
"Seseorang meninggalkanmu bukan berarti kamu tidak layak dicintai."
Suasana mendadak hening. Hanya ada suara musik pelan dari sudut ruangan.
"Aku tahu rasanya merasa tidak dipilih." Lanjut Ardian pelan.
"Aku juga pernah mengalaminya."
Joyce menatapnya. Tidak menyangka Ardian akan mengatakan itu. Tenang, hangat, dan tidak menyudutkan siapapun. Kali ini dia merasa aman..
Beberapa detik kemudian. Air mata yang selama ini hanya menetes sedikit demi sedikit, akhirnya jatuh. Pundak Joyce sampai terguncang, dan tangan Ardian terulur menenangkannya. Tidak ada yang dilakukannya, hanya menepuk pelan pundak Joyce. Dia sadar, jika Joyce harus mengeluarkannya. Bukan karena sedih semata. Tetapi karena lega. Karena akhirnya ada seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Seseorang yang tidak berusaha memberi solusi. Tidak memaksa. Tidak menggurui. Hanya tinggal. Dan mendengarkan.
"Aku nggak tahu harus gimana Ardian."
Suara Joyce bergetar. Ardian tersenyum tipis.
"Lalu jangan pikirkan semuanya malam ini."
"Hm?"
"Besok tetap akan datang."
"Kebenaran juga tetap akan ada."
"Tapi malam ini..."
Tatapan Ardian melembut.
"...kamu nggak harus memikul semuanya sendirian."
Dan untuk pertama kalinya sejak telepon itu datang... Joyce merasa sedikit lebih kuat. Bukan karena masalahnya selesai. Tetapi karena akhirnya ada seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya saat ia belum siap menghadapi semuanya sendiri.
Gadis itu menatap mata Ardian, dan laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
„Kosongkan harimu besok. Aku akan menemanimu mencari kebenaran..”
Tidak tahu arah perkataan Ardian, Joyce mengangkat wajahnya.
„Kita ke panti asuhan, tempat mereka membesarkanmu.”
“Dari situ, kita akan tahu awal untuk mengulik keberadaanmu.”
“Dan..”
“Apa lagi..” sahut Joyce dengan suara yang masih bergetar
“Malam ini aku melarangmu sendiri. Ikutlah aku ke pent house ku. Aku akan menemanimu..”
Joyce menggelengkan kepala perlahan. Dia tidak pernah pergi menginap bareng dengan teman laki-laki. Bahkan Arka pun juga belum pernah berhasil mengajaknya. Namun seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Joyce..
“Jangan khawatir Joyce.”
“Ada lima ART, dan dua penjaga, serta satu tukang kebun yang berada di sekitar Pent house.”
Joyce tetap menggelengkan kepala
“Jika kamu menolak, aku yang akan menemanimu di apartemen malam ini.”
„Ini bukan aku minta ijin.”
„Tapi ini harus.”
Suara Ardian tenang, namun tegas dan berwibawa. Joyce sudah tidak bisa menolaknya, dan hanya diam tidak memberikan jawabn.
*******************
Pagi itu Jakarta masih diselimuti udara sejuk ketika sebuah Mercedes hitam berhenti di depan apartemen Joyce. Sesuai intruksi Ardian, Raka menjemput Joyce dengan ditemani Ardian. Semalam laki-laki itu ingin menemaninya, namun dengan halus Joyce menolaknya. Tabu baginya untuk bermalam dengan laki-laki yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Mereka berdua sampai saat ini masih berteman.
Joyce sudah siap sejak setengah jam sebelumnya. Namun sejak membuka mata, perutnya terasa mual. Bukan karena sakit. Melainkan karena gugup. Hari ini ia akan kembali ke tempat yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya.
Panti Asuhan Kasih Bunda. Tempat ia dibesarkan. Tempat ia belajar berjalan. Tempat ia belajar menerima kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki orang tua.
Dan mungkin... tempat yang menyimpan jawaban tentang siapa dirinya sebenarnya.
***************
Di dalam mobil.
Raka duduk di kursi depan. Sementara Ardian duduk di samping Joyce. Tidak banyak percakapan sejak mereka berangkat. Joyce terus menatap keluar jendela. Sesekali jemarinya saling menggenggam erat. Gugup. Sangat gugup. Ardian yang duduk di sebelahnya memperhatikan beberapa kali. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menyodorkan coklat panas yang sudah disiapkan sejak tadi. Joyce menoleh.
"Minum dulu."
Suaranya tenang. Sederhana. Namun cukup membuat Joyce tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Joyce menyesap coklat panas dalam diam. Raka mengintip interaksi Ardian dan Joyce, melalui kaca di atasnya. Dia melirik ke belakang, dan senyuman tanpa sadar mengembang di bibirnya.
“Sudah..”
Tangan Ardian mengambil coklat panas dari tangan Joyce, kemudian menyodorkan potongan sandwich menggunakan garpu.
“Makanlah dulu..”
“Cukup coklat saja..”
Ardian menghela nafas panjang, kemudian..
“Joyce.. hari ini itu sangat hectic. Kamu butuh tenaga.., dengarkan aku..”
Tidak diduga, Ardian mengangkat garpu itu dan menghentikan di depan bibir Joyce. Gadis itu terkesima, dan menatap laki-laki itu. Tidak ada penjelasan, hanya anggukan kepala. Dengan terpaksa Joyce membuka mulutnya. Dan ketika dia mau mengambil tempat sandwich, Ardian tidak mengijinkan.
******************
Satu jam kemudian.
Mobil memasuki kawasan pinggiran Jakarta. Bangunan-bangunan modern perlahan berganti dengan lingkungan yang lebih sederhana. Dan akhirnya... gerbang besi berwarna hijau itu muncul di depan mereka.
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Joyce langsung terdiam. Dadanya terasa sesak. Begitu banyak kenangan kembali menyerbu pikirannya. Ia masih ingat lapangan kecil tempat ia bermain. Masih ingat ruang belajar yang selalu panas saat siang hari. Masih ingat bagaimana ia sering duduk di pojok taman sambil berharap suatu hari ada seseorang datang menjemputnya. Namun tak pernah ada yang datang.
"Kamu siap?"
Tanya Ardian pelan. Joyce menarik napas panjang. Lalu mengangguk.
"Semoga."
Ardian menjejeri langkah kaki Joyce, dan Raka mengawalnya dari belakang. Begitu memasuki area panti, beberapa pengurus lama langsung mengenali Joyce.
"Joyce?"
"Ya ampun..."
"Anak itu sudah besar sekali."
Sambutan hangat itu sedikit meredakan kegelisahannya. Sampai akhirnya seorang wanita tua berjalan keluar dari kantor administrasi. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Namun senyumnya masih sama.
"Ibu Maria..."
Mata Joyce langsung memanas. Wanita itulah yang membesarkannya setelah neneknya meninggal. Ibu Maria langsung memeluk Joyce erat.
"Akhirnya kamu pulang."
“Iya ibu.., maaf baru bisa berkunjung.”
“Tidak apa Joy.., aku tahu kamu pasti sibuk. Tapi kamu tidak pernah lupa untuk kirim transfer untuk operasional panti ini.”
Mereka kemudian duduk di ruang administrasi lama. Raka membuka notebook. Dia tidak mampu berkata-kata. Padahal biasanya dia paling tidak bisa menjaga multnya. Ardian duduk di samping Joyce. Dengan hati-hati Ardian langsung memberi tahu tujuan mereka kemari. Sedangkan Ibu Maria, sesaat terlihat bingung ketika mengetahui tujuan kedatangan mereka.
"Kamu ingin mencari data orang tuamu?"
Joyce mengangguk. Perlahan.
"Sepertinya ada sesuatu yang selama ini tidak aku ketahui."
Ibu Maria mendadak terdiam. Ekspresinya berubah. Dan perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Raka. Wanita tua itu tampak gugup. Sangat gugup.