Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah
"A, biasa yah jangan bilang Aki." Marcel memberikan sebungkus rokok warna putih pada Yudi, tak ketinggalan juga dengan kopi kalengannya.
"Aman aja." balas Yudi.
Ara segera berpindah naik ke motor Yudi. Paper bag warna hitam ia pegang erat sambil terus membayangkan ekspresi Ziano saat menerimanya, pasti seneng banget.
"A, Pas Aa berangkat tadi A Ano lagi ngapain?" tanya Ara.
"Lagi bantuin Aki ngitung. Sambil ngasih saran supaya warung Aki pake komputer aja, lebih gampang ngitungnya sama apa tadi lah aku nggak paham juga." jawab Yudi.
"Aki sama Ambu juga nggak pagham kayaknya, makanya nolak terus, mending ribet pake kalkulator aja katanya."
"Oh gitu... Mungkin memudakan stock opname kali yah." tebak Ara, sedikit banyak meski tak langsung praktek tapi ia diajari cara menghitung persediaan. Jika dibandingkan dengan perhitungan manual, menggunakan sistem komputerisasi memang lebih mudah. Sayangnya Abah dan ambu nggak akan paham, minimal harus bisa mengoperasikan komputer.
"Mungkin."
"Lehernya gimana? udah sembuh belum? tadi pagi kan nggak bisa nengok. Kata Abah tadi udah di urut?" tanyanya lagi.
"Lihat aja nanti langsung, Ra. Sebentar lagi juga sampe rumah. Perhatian banget sama bang Nono. Nggak sekalian tanyain udah makan apa belum bang Nono nya?" ledek Yudi.
"Ih!" Ara menabok punggung Yudi.
"Aku kan cuma nanya doang."
"Tapi yang ditanyain cuma Bang Nono, Lusi nggak? dulu aja yang suka ditanyain Lusi terus."
"Ya kan sekarang Lusi udah cerewet lagi semenjak ada A Ano, jadi aman aja." elak Ara.
"Nih A awas yah jangan sampe keceplosan ke Aki kalo aku pulang sama Marcel." Ara menepuk punggung Yudi pelan.
"Aman, Ra."
"Makasih."
"Nggak perlu bilang makasih. Ini semua aku lakuin bukan karena Marcel atau kamu selalu ngasih rokok atau minuman." Yudi mengurangi kecepatan motornya.
"Karena aku tau kalian nggak salah, bahkan Abi sama Umi nya Marcel juga nggak salah. Semua emang udah takdir, salahnya harus ada orang yang ngomporin Aki. Ngomporin Abi Marcel juga, padahal dulu Abi Marcel udah maklum tapi dikomporin terus malah jadi nggak akur beneran."
"Mungkin Aki juga makin kesini makin sadar cuma berat aja buat nerima kalo teh Nayes sama A Rudi udah nggak ada, dan Aki butuh orang buatin disalahin."
"Nanti lambat laun juga bakal membaik, Ra."
Ara menyandarkan dagunya di pundak Yudi, "semoga, A."
"Andai aja dulu pihak desa bener-bener berusaha ngedamaiin Abah sama Abi yah."
"Susah, Ra. Kalo kata ibu aku mah mereka berat sama yang punya uang." Kini keduanya saling diam, pikirannya kembali pada insiden beberapa tahun lalu.
Abi Marcel mencalonkan diri sebagai kepala desa. Hanya ada dua calon, Abi Marcel dan kepala desa lama. Beberapa orang berspekulasi jika kepala desa lama yang menyebabkan mobil orang tua Marcel blong dengan tujuan mengenyahkan lawan politiknya, sayang yang kena malah Nayes dan suaminya, putri dari sahabat karib Abi Marcel. Demi memecah persahabatan mereka, kades lama menyebar fitnah jika Abi Marcel sengaja membuat mobilnya blong dengan alasan kesal karena sebelumnya mereka sempat rebutan jual beli tanah yang dimenangkan oleh Abah. Sebenarnya setelah itu mereka tetap akur, meskipun butuh waktu satu minggu untuk saling menerima setelah insiden jual beli tanah. Tapi setelah insiden kecelakaan Aki benar-benar murka. Sementara kades lama tertawa puas karena dengan renggangnya hubungan Aki Dikun dan Abi Marcel membuat Abi marcel kehilangan banyak suara di pemilihan. Bagaimana pun Aki Dikun lumayan berpengaruh karena banyak menyerap tenaga kerja dan sifat dermawannya meski kadang galak. Sehingga mengakibatkan warga yang tadinya mendukung Abi Marcel karena memadang Aki Dikun sebagai sahabatnya mengalihkan suara ke kades lama gara-gara keduanya bermusuhan.
"Udah ah percuma juga kita pikirin, A. Nggak ngerubah apa-apa. Agak di gas coba biar cepet sampe rumah."
"Sabar. Bang Ano nya juga nggak akan kemana-mana, Ra."
"Apaan sih!" elak Ara, meskipun dalam hati emang udah pengen cepet-cepet ketemu Ziano.
Ketika tiba Ara langsung masuk ke warung, ternyata Ziano masih sibuk dengan abah, di sampingnya ada Lusi yang sedang mewarnai.
"Tebi beli sosis bakar buat Uci nih." Ara memberika sosis yang ia beli di angkringan tadi. Lusi tentu menerimanya dengan senang hati.
"Papi cobain dulu, Uci dibeliin cocis sama Tebi." gadis kecil itu menarik kaos Ziano.
Meski sedang fokus, Ziano tetap menoleh dan mengigit sosis yang disodorkan Lusi, "enak. Abisin sama Uci yah." ucapnya seraya mencubit gemas pipi Lusi.
"Aa lagi ngapain sih sama Abah? kayak yang serius banget nontonnya." Ara melirik sekilas tontonan di HP abahnya.
"Ini lagi ngejelasin ke Aki, biar pake komputer aja. Biar nggak harus itung manual tiap malem, nanti tinggal ngajarin Yudi atau kamu buat operasinya kalo Aki sama Ambu bingung."
"Iya Abah pake komputer aja mudah, ntar abah tinggal scan-scan aja. Biar kayak di super market, Bah." imbuh Ara.
"Ah lieur abah mah, Neng. Seg wae lah No diurus mun sakirana Neng Ara atawa Yudi bisaeun mah." Aki DIkut memijit pelipisnya. (Pusing ah abah, neng. Silahkan aja No diurus kalo sekiranya Neng Ara atau Yudi bisa ngejalaninya.)
"Jaba abah aya rencana ek muka warung deui sisi jalan, kamari geus nanya-nanya harga kontrakan na. Mun di ditu dikomputer oge bisa, No?" lanjutnya. (Mana abah ada rencana mau buka warung lagi di pinggir jalan, kemaren udah tanya-tanya harga kontrakannya, kalo disana pake komputer juga bisa, No?)
"Bisa banget, Aki."
"Nya geus sok urus lah, ke mun Neng Ara geus beres ujian dipeta-peta nya!" ucap Abah. (Ya udah di urus aja. Nanti kalo Neng Ara udah selesai ujian diatur-atur aja yah!)
"Siap, Aki." jawab Ziano.
"Aku juga siap, Abah." Timpal Ara, "Ini A Ano nya udah selesai belum kerjanya Abah? Aku mau pinjem A Ano nya."
"Mau belajar lagi?" tebak Abah.
"Iya, Bah." jawab Ara semangat.
"Nembe ge uih atuh, Neng Ara. Istirahat heula, mam heula." ucap Abah (baru juga pulang, Neng Ara. Istirahat dulu, makan dulu.)
"Makan dulu No bareng Neng Ara, baru lanjut belajar." lanjutnya pada Ziano.
"Iya, Abah." jawab Ara.
"Ayo A ke rumah!" lanjutnya seraya menarik Ziano cepat.
"Pelan-pelan jalannya, Ra."
"Cepet lah A, aku udah nggak sabar nih."
Mereka duduk di ruang tamu, Ara memberikan paper bag hitam pada Ziano. "buat A Ano."
"Apaan nih?" Ziano membuka paper bag itu, "HP? buat gue?"
"Iya, biar mudah komunikasinya. Itu beli pake uang aku loh, A. Sengaja aku pilihin spek yang bagus. Udah ada kartunya juga, tadi sekalian aku akitivasi."
"Wah nggak nyangka lo baik banget, padahal terakhir waktu bantuin dagang cuma dibayar tiga puluh ribu, sekarang malah dibeliin HP. Gue kira lo pelit, ternyata gue salah." Ziano mulai menyalakan HP barunya. Spesifikasinya lumayan, meskipun sangat jauh jika dibandingkan dengan HP nya dulu.
"Nggak usah makasih, A. Aku aslinya emang royal gini kok. Itu HP lima juta loh, kredit yah nanti aku potong gaji Aa."
Senyum di wajah Ziano langsung sirna mendengar kata kredit. Otaknya langsung menghitung berapa lama ia bisa melunasi kredit lima juga kalo bayaran sekali bantu Ara dagang saja hanya tiga puluh ribu. "Dah lah gue nggak jadi makasih. Balikin aja HP nya dari pada kelamaan gue jadi babu." Ziano melempar HP itu ke pangkuan Ara.
"Emang nggak bakal mungkin ini bocah tiba-tiba jadi baik, pasti ana niat terselubung." batinnya seraya beranjak pergi.
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih