NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.Tongkat Besi di Tengah Takdir yang Menertawakan Langit

Udara di dalam Aula Pembangkitan Roh Desa Roh Suci terasa jauh lebih menusuk tulang dibandingkan biasanya pagi ini. Aroma kayu tua yang mulai lapuk bercampur dengan debu halus yang menari-nari di sela-sela berkas cahaya matahari pagi. Atmosfer di dalam ruangan terasa pengap dan sarat ketegangan, seolah dinding-dinding kayu yang telah berumur itu pun ikut menahan napas, menanti guratan takdir yang akan digariskan bagi anak-anak manusia di dalamnya.

Sembilan anak berdiri berjejer rapi. Bahu mereka yang kecil saling bersentuhan, menyalurkan getaran cemas yang membuat napas mereka terengah-engah, tertahan di dada. Mata-mata polos itu menatap lurus ke arah sosok pria yang berdiri di depan mereka. Di dalam manik mata mereka, bercampur baur antara rasa ngeri yang membekukan darah dengan antusiasme yang membara—dua kutub perasaan yang saling beradu, mengantisipasi masa depan.

Pria itu mengenakan seragam putih bersih khas petugas Aula Roh, dilapisi jubah abu-abu tipis yang melambai lembut setiap kali ia bergerak perlahan. Wajahnya tegas, berukir garis-garis ketat khas seorang petarung yang telah melewati banyak badai. Namun, kelelahan mendalam yang mengendap di sudut-sudut matanya yang redup tidak dapat disembunyikan sepenuhnya.

"Namaku Su Yuntao, seorang Grandmaster Pertempuran Roh Binatang tingkat dua puluh enam," suaranya bergema memenuhi ruangan kosong, terdengar dingin, padat, dan penuh wibawa yang tak terbantahkan. "Aku adalah pemandu kalian hari ini. Aku yang akan membuka gerbang potensi yang terpendam di dalam tubuh masing-masing dari kalian. Ingat baik-baik apa yang akan kukatakan: apa pun yang terjadi nanti, kendalikan rasa takutmu. Jangan bergerak sedikit pun, dan... jangan pernah berpikir untuk lari."

Dengan gerakan tangan yang cepat, taktis, dan terlatih, Su Yuntao mengeluarkan enam batu hitam berbentuk berlian dari saku penyimpanannya. Ia menyusunnya dengan presisi yang matang ke dalam sebuah formasi lingkaran di atas lantai kayu yang telah digosok licin. Di sisi kanannya, sebuah bola kristal besar berwarna biru jernih diletakkan di atas altar kecil. Kristal itu memancarkan kilauan dingin yang statis, seolah sedang menunggu untuk menelan dan membaca esensi setiap jiwa yang mendekat.

Ia memberi isyarat tangan kiri ke arah anak pertama di ujung kanan. Bocah itu melangkah dengan lutut yang gemetar hebat, wajahnya pucat pasi seolah sedang berjalan menuju panggung eksekusi, bukan tempat harapan.

"Serigala Tunggal, bangkit dan kuasai!"

Sebuah lolongan rendah dan serak tiba-tiba meledak dari tenggorokan Su Yuntao. Tekanan udara di dalam ruangan mendadak merosot tajam. Rambut abu-abunya memanjang secara tidak wajar, sementara otot-otot tubuhnya menyembul kasar hingga membelah jahitan pakaiannya yang tebal. Manik matanya berubah menjadi sepasang kilatan hijau buas yang mengerikan. Dua cincin cahaya—satu berwarna putih gading, satu lagi kuning keemasan—muncul berputar perlahan di bawah kakinya, mengelilingi tubuhnya yang kini menjelma menjadi wujud manusia setengah serigala yang mengintimidasi.

"Ah!"

"Astaga...!"

Jeritan ketakutan langsung pecah di udara. Tujuh dari sembilan anak itu spontan mundur terhuyung dengan wajah pias, beberapa bahkan terduduk di lantai sambil menahan tangis yang hampir meledak karena tidak kuat menahan tekanan visual tersebut.

Namun, di sudut ruangan yang agak gelap, ada dua anak yang menanggapi pemandangan mengerikan itu dengan reaksi yang sama sekali berbeda.

Anak pertama, seorang bocah bermata ungu jernih dan tenang bernama Tang San, memperhatikan setiap detail transformasi itu dengan keheningan yang jauh melebihi usianya. Tidak ada jejak ketakutan di wajahnya, hanya tatapan tajam yang berusaha memahami setiap perubahan otot, kilatan energi, dan gerakan sekecil apa pun.

Sedangkan anak kedua, seorang bocah berwajah tegas dengan garis rahang yang kokoh dan matanya yang hitam pekat, hanya mendesah pendek di dalam hatinya. *Sialan, meski sudah berkali-kali membayangkannya lewat ingatan masa lalu, melihat penindasan aura ini secara langsung tetap saja terasa mengesankan,* batinnya berkomentar dengan ketenangan yang dingin.

Namanya Xiao Xuan. Di mata penduduk desa, ia hanyalah seorang anak yatim piatu yang ditemukan dan diadopsi oleh Kepala Desa, Pak Tua Jack, tepat enam tahun yang lalu.

Namun jauh di dalam lubuk jiwanya yang terdalam, tersimpan ingatan tentang kehidupan lain—sebuah dunia modern yang padat dan bising, yang hancur baginya dalam kilasan cahaya lampu truk di sebuah malam yang basah. Enam tahun hidup di desa terpencil ini, diasuh dengan kasih sayang tulus oleh Pak Tua Jack layaknya cucu kandung, telah menempa dirinya menjadi sosok yang tenang, cerdas, dan penuh perhitungan di permukaan. Namun, di balik sikap dinginnya, ia adalah pria dewasa yang sangat menghargai setiap ikatan emosional yang telah menyelamatkan waras jiwanya.

Sebagai satu-satunya orang yang mengerti arah aliran dunia ini, Xiao Xuan tahu betul bahwa hari ini adalah titik balik mutlak. Apakah ia akan berdiri di puncak benua yang luas ini, atau hanya menjadi warga biasa yang menua diam-diam di sudut desa, semuanya akan ditentukan oleh apa yang mengalir di dalam darahnya hari ini.

"Rumput Perak Biru. Roh yang Terbuang. Tidak ada kekuatan roh sama sekali."

Su Yuntao menghela napas panjang, suaranya kembali tenang namun dibalut kekecewaan yang kian menumpuk. Waktu berlalu begitu cepat, dan hampir setiap anak yang melangkah keluar dari lingkaran itu membawa hasil yang sama: roh biasa, potensi rendah, dan masa depan yang suram.

Hingga akhirnya, giliran Tang San tiba.

Pemandangan yang telah digariskan sejarah itu terjadi tepat di depan mata Xiao Xuan. Pusaran angin dan cahaya keemasan yang luar biasa mengembang dari dalam lingkaran batu hitam. Sehelai Rumput Perak Biru yang tampak rapuh namun berkilau indah muncul di telapak tangan bocah itu. Detik berikutnya, saat tangan Tang San menyentuh bola kristal di samping altar, alat itu memancarkan sinar yang begitu menyilaukan, memenuhi seluruh ruangan hingga hampir memecahkan permukaannya sendiri karena tekanan energi yang padat.

"Kekuatan Roh Penuh Bawaan! Langit dan bumi, ini adalah Kekuatan Roh Penuh Bawaan!" Su Yuntao berteriak histeris, suaranya bergetar di antara kekaguman yang meluap dan kepahitan yang mendalam. Matanya menatap rumput kecil itu dengan tatapan berkaca-kaca. "Sayang sekali... sungguh sangat disayangkan! Potensi sebesar ini, namun terikat pada roh tanaman terlemah di dunia..."

Kegemparan itu perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang kembali berat. Su Yuntao menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh tak stabil, sebelum akhirnya menatap sosok terakhir yang masih berdiri diam di sana.

Melihat wajah Xiao Xuan yang tetap tenang, datar, dan tak sekalipun menunjukkan tanda ketakutan sejak awal transformasi tadi, ekspresi tegas Su Yuntao sedikit melunak. Ia bahkan memaksakan sebuah senyum kaku di wajah serigalanya yang masih kasar.

"Masuklah, Nak. Semoga saja keberuntungan anak sebelumnya sedikit menular padamu," ujarnya lirih, hampir seperti sebuah doa yang tulus.

Xiao Xuan melangkah perlahan. Setiap langkahnya terasa pasti dan mantap saat ia menapak ke tengah formasi batu hitam itu. Saat Su Yuntao menyalurkan energi rohnya, lingkaran cahaya keemasan yang hangat dan lembut melonjak naik dari lantai, membungkus seluruh tubuh Xiao Xuan dalam pelukan spiritual yang menenangkan.

Seketika itu juga, Xiao Xuan merasakan aliran hangat yang kencang berderu dari ulu hatinya, menjalar deras menuju lengan kanannya. Ada sensasi berat, padat, dan dingin yang luar biasa, seolah ada sebongkah logam murni yang telah lama terperangkap dan kini berjuang mendobrak keluar dari balik kulitnya.

*Datanglah,* batin Xiao Xuan menegaskan kehendaknya dengan tenang dan tanpa keraguan.

*Wung!*

Cahaya keemasan perlahan meredup, menyisakan kepulan asap putih tipis yang membawa aroma khas besi panas yang baru ditempa. Saat asap itu lenyap, sebuah benda telah berdiri tegak di dalam genggaman tangan kanan Xiao Xuan.

Itu adalah sebatang tongkat besi berwarna putih keperakan. Panjangnya sekitar delapan puluh sentimeter, permukaannya polos tanpa ukiran atau motif mewah apa pun. Namun, benda itu memiliki tekstur yang sangat kokoh, dingin, dan padat saat bersentuhan dengan kulit telapak tangannya. Sederhana, namun memancarkan ketahanan yang diam dan mutlak.

Su Yuntao menajamkan pandangannya. Untuk sekejap mata, kilatan harapan kembali menyala di matanya, namun segera padam saat ia meneliti bentuk dan esensi dari benda itu.

"Roh Jenis Alat... sebatang Tongkat Besi," gumamnya pelan, nada suaranya kembali mendatar dan kehilangan minat sama sekali. "Bukan variasi dari senjata legendaris, bukan benda sakti, hanya besi biasa yang sedikit lebih padat dari biasanya. Baiklah, mari kita uji seberapa besar potensi yang tersimpan di dalam tubuhmu."

Xiao Xuan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membantah. Wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi saat ia melangkah maju dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas bola kristal biru yang dingin itu. Begitu kulitnya bersentuhan dengan permukaan licin kristal, ia merasakan daya hisap halus yang sangat lemah, seolah kristal itu sedang meraba isi tubuhnya.

Bola kristal itu berkedip pelan, memancarkan seberkas cahaya redup di bagian intinya saja—sangat jauh, sangat berbeda dengan kilauan menyilaukan milik Tang San yang baru saja ia saksikan.

Su Yuntao menggelengkan kepala perlahan, ada rasa iba yang tulus namun pahit dalam tatapannya.

"Kekuatan roh bawaan... tingkat satu. Kau memang memiliki bakat untuk menjadi Master Roh, Nak, tapi percayalah... jalan yang akan kau tempuh nanti akan sangat, sangat sulit dan melelahkan."

Xiao Xuan menarik kembali tangannya dengan santai. Tongkat besi di tangan kanannya lenyap seketika, menyatu kembali ke dalam jiwanya seolah tak pernah ada. Ia tersenyum tipis, sebuah lengkungan getir yang menyembunyikan perhitungan tajam yang berputar cepat di hatinya.

*Tingkat satu? Bahkan tidak lebih baik dari teori kosong yang sering digaungkan oleh Yu Xiaogang di luar sana. Tanpa latar belakang sekte besar, tanpa roh kembar, tanpa keistimewaan bawaan... aku benar-benar memulai perjalanan ini dari titik nadir,* batinnya mencatat dengan rasionalitas seorang pria dewasa.

Namun, tepat saat ia hendak melangkah keluar dari lingkaran batu itu untuk menyusun rencana bertahan hidup yang lebih taktis, sebuah getaran aneh yang sama sekali berbeda muncul di sudut kesadarannya. Bukan aliran energi roh yang kasar, melainkan seutas denyutan halus yang terasa murni, sakral, dan sedikit nakal, seolah takdir baru saja mendobrak pintu jiwanya yang terdalam.

*Ding!*

Sebuah suara seperti tirai air yang jatuh ke kolam sunyi bergema pelan di kepalanya. Di depan pandangannya, sebuah hamparan cahaya keperakan yang tipis dan elegan perlahan terbentuk, menyerupai lembaran perkamen kuno yang melayang perlahan di udara, tak terlihat oleh siapa pun selain dirinya.

[ ٩(◕‿◕)۶ *Ding! Riak Takdir Terdeteksi! Selamat ya, manusia fana yang malang, Sistem Sifat Kehidupan Berhasil Terikat dengan jiwamu yang biasa-biasa saja ini!* ✨ ]

Nama: Xiao Xuan

Garis Takdir: Jiwa Jelata (Seseorang yang berjalan di antara kerumunan tanpa meninggalkan jejak atau aroma kekuatan).

Roh Inti: Tongkat Besi (Besi dingin dan keras yang belum ditempa oleh badai dunia).

Kekuatan Roh Bawaan: Tingkat 1 ⭐

[ *Sifat Kehidupan Saat Ini* ]

✅ **Memori Dua Dunia** (Peringkat: Putih)

*Memiliki serpihan ingatan dari kehidupan masa lalu. Karena kehidupan sebelumnya hanyalah manusia biasa, informasi yang tersisa sebagian besar berupa cerita tentang dunia ini, tanpa pengetahuan teknis atau kekuatan nyata. Tapi hei, setidaknya kau tahu siapa saja yang harus kau hindari agar tidak mati muda!* 🤭

✅ **Tubuh yang Ditempa** (Peringkat: Putih)

*Akibat kerja keras dan latihan fisik rutin sejak dini di desa, kebugaran tubuhmu di usia enam tahun setara dengan anak berusia delapan tahun. Dasar yang lumayan kokoh, tapi jangan coba-coba menantang binatang roh dengan otot seadanya ini ya!* 🏋️‍♂️

✅ **Aura Biasa** (Peringkat: Putih)

*Potensi jiwa yang sangat standar. Tanpa adanya campur tangan takdir atau anugerah besar, batas pencapaian tertinggimu dalam hidup ini diperkirakan hanya mencapai tingkat Tetua Roh. Batas yang terlihat sangat jelas sejak awal perjalanan.* 📉

✅ **Tersembunyi di Kerumunan** (Peringkat: Putih)

*Kau tidak memiliki riak energi yang mencolok. Selama kau tidak mencari masalah secara sengaja, tak ada tokoh besar yang akan sudi mengarahkan pandangannya padamu. Peringatan Kecil dari Sistem:* [ 💢 *Jika kau mencoba mencampuri urusan para raksasa dengan kekuatan tingkat satumu ini, kau akan hancur lebur menjadi abu sebelum sempat menjelaskan apa motifmu! Jadi tahu diri ya!* (★ヮ★) ]

🔹 Peluang Penempaan Sifat: 2 Poin

🔹 Sifat yang Dapat Ditingkatkan: [Memori Dua Dunia] , [Aura Biasa]

🔹 Kapasitas Replikasi Sifat: 2 Slot

Xiao Xuan terpaku diam di tempatnya selama beberapa detik. Matanya yang hitam pekat perlahan menyipit, memancarkan kilatan tajam yang tersembunyi dengan rapi di balik topeng ketenangannya. Seluruh intuisi dan kemampuan analisisnya langsung bekerja dengan cepat.

Sebuah sistem. Benar-benar ada sistem di dunia ini untuknya. Namun, ini bukan sekadar alat pemberi kekuatan instan atau angka statistik RPG yang kaku dengan perhitungan mekanis. Ini adalah sistem penempaan sifat—sebuah alat spiritual untuk mengubah esensi dasar dari apa yang mendefinisikan dirinya sendiri.

*Enam tahun... aku menunggu dalam ketidakpastian di bawah asuhan Pak Tua Jack, dan kau baru muncul sekarang setelah nasibku dicap sebagai bakat rendah oleh dunia luar?* Xiao Xuan berkomunikasi dengan suara batinnya sendiri, terselip nada sarkasme yang tipis namun juga rasa lega yang hangat. *Tapi pengenalanmu jujur dan tajam sekali. Langsung memperingatkanku agar tidak bertindak bodoh. Menarik... aku mulai menyukai kepribadianmu yang sarkas ini.*

[ ┐( ̄∀ ̄)┌ *Hmph! Tentu saja aku jujur! Jika bukan karena jiwamu yang tenang dan tidak naif itu, aku pasti sudah memilih untuk tidur lagi daripada melihat tongkat besi polosmu itu. Sekarang, cepat tentukan langkahmu, jalan di depan masih sangat panjang, Tuan Master Roh Tingkat Satu!* 💅✨ ]

"Kak Xuan... hei, Kak Xuan... ayo keluar, kita sudah selesai."

Sebuah tepukan lembut di bahunya membuyarkan lamunan yang mendalam itu. Xiao Xuan menoleh dan mendapati Xue Ling, anak perempuan dengan mata bulat jernih yang merupakan salah satu teman masa kecilnya di desa, sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa kagum bercampur cemas. Ruangan itu kini sudah mulai lengang; Su Yuntao, Tang San, dan anak-anak lainnya tampaknya sudah melangkah keluar lebih dulu untuk menemui Kepala Desa Jack yang telah menunggu di luar.

"Ah, maaf. Aku hanya sedikit melamun memikirkan bentuk rohku tadi, Xue Ling," jawab Xiao Xuan. Nada suaranya segera berubah, kembali melembut, tenang, dan ramah, seolah topan perubahan besar yang baru saja melanda batinnya tidak pernah terjadi sama sekali.

"Kak Xuan, kau luar biasa sekali!" Xue Ling berjalan di sampingnya dengan langkah ringan saat mereka melangkah melewati ambang pintu besar aula, membiarkan angin segar pedesaan menerpa wajah mereka. "Kau benar-benar memiliki kekuatan roh! Tidak sepertiku atau anak-anak lain yang rohnya tidak bisa digunakan untuk berkultivasi. Kakek Jack pasti akan sangat bangga padamu. Siapa tahu, suatu hari nanti namamu akan ditulis di halaman pertama sejarah desa kita sebagai Master Roh yang hebat!"

Mendengar ocehan polos anak perempuan itu, Xiao Xuan hanya tersenyum tipis. Sebuah gerakan tangan yang hangat dan protektif ia lakukan dengan menepuk kepala Xue Ling secara lembut—sebuah perlakuan khusus yang hanya ia perlihatkan pada orang-orang terdekat yang ia sayangi.

"Sejarah desa terlalu berat untuk dipikul oleh sebatang tongkat besi sederhana, Xue Ling," ujar Xiao Xuan pelan, suaranya mengalir alami bersama embusan angin, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke arah langit biru luas yang membentang di atas Benua Douluo. "Tapi untuk memastikan Kakek Jack bisa tidur nyenyak di masa tuanya, dan melindungimu dari badai di luar sana... kurasa sebatang tongkat besi ini sudah lebih dari cukup."

Di dalam hatinya, sebuah ketetapan yang sekeras baja telah terukir dalam-dalam.

Dengan tingkat satu kekuatan roh dan sebatang besi biasa yang belum menemui bentuknya, ia memang memulai perjalanan hidup ini dari titik yang paling bawah di mata dunia. Namun kini, dengan riak takdir yang berdenyut pelan di ujung kesadarannya dan intuisi matang yang ia miliki, Xiao Xuan tahu satu hal yang pasti: besi yang paling dingin sekalipun, jika ditempa dengan cara yang benar dan ditempa oleh takdir yang tepat, suatu hari nanti akan mampu menghancurkan langit yang paling tinggi sekalipun.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!