NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Kejahatan yang terbongkar

02.

Sistem pengubah nasib? Apakah tugasnya mengubah nasib orang-orang di sini?

Morline baru pertama kali mendengar sistem pengubah nasib, biasanya jika sebuah sistem terikat itu pasti sistem kesukaan atau kebencian, dan tugas mereka hanya membuat orang-orang menyukai atau membenci mereka.

Tapi sistem pengubah nasib? Kalau di pikir lagi, sistem ini memberikan tugas yang lebih sulit di banding yang lain. Tugas mengubah nasib tokoh di novel ini sama dengan dia harus ikut campur urusan antar tokoh, dan Morline belum tentu bisa melakukannya karena itu merepotkan.

Bukankah tugasnya nanti akan sulit?

Saat Morline tengah berpikir, muncul layar transparan berbentuk persegi dengan 3 menu di dalamnya. Ada pilihan: belanja, detail sistem, dan cek poin.

Morline mengklik detail sistem, dia sejenak mengabaikan keributan yang terjadi dan menatap barisan huruf di layar transparan di depannya. Saat akan membaca, suara mekanis perempuan terdengar.

{....sistem akan membantu anda dalam mengerjakan tugas, jika ada pelanggaran yang terjadi maka terkena hukuman, antara lain; demam, sakit jantung dan sakit kepala. Tugas tidak memiliki jangka waktu, tapi jika anda melanggar ketentuan sistem, maka hukuman di atas akan terjadi.}

{Setiap misi berhasil anda mendapatkan 50 poin. Dan poin itu bisa digunakan untuk membeli banyak item di sistem.}

{Tugas pertama, jika berhasil akan mendapatkan bonus poin, 50 sampai 100 poin. Target, Gerald dan Yuhan.}

Gerald dan Yuhan? Sepertinya Morline pernah membaca nama itu.

Kemudian Layar virtual itu menghilang. Morline melihat Talise dan Susan bersujud di kedua kaki Joseph dan Marnin, menangis-nangis seperti anak kecil.

Kedua pelayan itu adalah bagian dari kelompok pemberontak, dan Morline jelas tahu siapa pemimpin mereka, tak lain adalah adik Cedric, Edward yang memiliki niat seperti ibunya.

Saat ini posisinya di kerajaan sangat baik karena Edward terus membangun pondasi, meski nantinya pemberontakan itu tak akan berhasil karena Cedric memiliki kekuatan yang dia pinjam dari Orbelian, kerajaan yang sekarang menjadi musuhnya.

Namun Orbelian meminjam kekuatan mereka pada Hesperias bukan tanpa pamrih. Diam-diam Aleron memanfaatkan hutang budi itu untuk masuk dan perlahan menguasai kerajaan Hesperias. Nantinya Orbelian akan membangun tambang untuk mengeruk kekayaan alam Hesperias, lalu pabrik-pabrik yang membuat rakyat Hesperias merasa ditekan oleh kerajaan mereka sendiri.

Padahal protagonis di dalam novel adalah Aleron. Dia adalah raja bagian Orbelian yang pasukan tempurnya. Hanya saja, wilayah itu sangat kekurangan bahan pangan dan harus bergantung pada kerajaan lain. Namun setelah masuk ke dalam novel dan menjadi rakyat Hesperias, rasanya Morline menganggap Orbelian kejam pada mereka.

Dia tentu tak akan membiarkan itu terjadi. Morline Haris mencegah kerajaan ini dari kesengsaraan. Meski tidak semuanya, meski tidak benar-benar menjadi kerajaan yang maju, tapi setidaknya Morline harus membuat kerajaan ini bersih dulu.

Morline yakin, dengan bantuan sistem. Dia pasti akan bisa mewujudkan keinginannya itu.

"Lebih baik interogasi mereka dan cari tahu siapa orang di balik surat itu." Katanya dengan suara keras. "Aku tak menyangka ternyata mereka mata-mata." Morline menatap mereka dengan pandangan menghina. Lalu menatap seluruh pelayan yang berkumpul. "Sebaiknya berita kalau mereka tertangkap jangan tersebar,  untuk memancing orang di balik surat itu. Joseph dan Marnin, bawa mereka ke ruang interogasi."

Keduanya menyeret Talise dan Susan, Morline sendiri memasuki kamar asrama mereka berdua. Dia mencari barang-barang lain yang mungkin masih tertinggal.

Melihat Morline, yang mereka kenal sebagai putri mahkota, salah satu pelayan memberanikan diri bicara. "Putri anda membutuhkan sesuatu?"

Morline yang sedang membungkuk mencari sesuatu di lemari menegakkan punggungnya, dia berbalik dan menatap pelayan itu. Ada rasa gugup di matanya. "Ah, ya. Aku sedang mencari barang-barang mereka yang kemudian bisa dijadikan barang bukti nanti. Mereka berdua harus dipenjarakan bahkan dihukum lebih parah."

Morline dan pemilik tubuh sama-sama tidak mendapatkan perlakuan dilayani seperti ini, mereka tumbuh dengan kemandirian mereka sendiri. Menyadari kesalahan kecil itu, dia jadi gugup sendiri.

Pelayan itu Ninna, perempuan bertubuh kurus berkata, "biar saya yang melakukannya, putri." Ninna masuk, dan langsung bekerja.

Para pelayan yang sering berkonflik dengan Talise dan Susan, merasa senang dengan kejadian hari ini. Meski mereka tak menyangka jika keduanya adalah mata-mata, tapi perasaan gembira itu tak luput mereka rasakan.

Mereka, menatap Morline. Meski tahu gossip buruk tentang Morline, tapi statusnya tetap putri mahkota dan mereka sudah sepantasnya tunduk padanya. Maka dari itu, mereka berinisiatif membantu menggeledah kamar Talise dan Susan.

Morline tak mengusik. Dia hanya berdiri memperhatikan para pelayan saking bekerja sama mencari setiap sudut ruangan.

"Putri." Pelayan yang tak Morline tak kenal mendekat, membawa sesuatu di tangan. "Saya menemukan ini di lantai, di tutupi oleh batu." Pelayan itu menujukan bagian pojok lantai yang terdapat lubang seukuran pelapak tangan.

Dia memberikannya pada Morline. Benda yang dia temukan berupa botol kecil dengan cairan berwarna ungu. Morline belum tahu cairan apa itu, tapi dia curiga jika itu racun.

"Benda ini harus di cek ke dokter dulu. Dimana aku bisa menemui dokter?"

"Saya akan memanggil dokter istana, untuk anda."

Morline mengangguk, "panggil sekarang. Aku akan menunggu di ruang utama."

"Baik putri."

Di ruang utama, setelah pelayan memanggil dokter istana. Dokter itu bernama Arten, pria berusia 60 tahun yang diangkat menjadi dokter istana sejak usia 40 tahun.

Arten tentu saja bukan dokter biasa. Latar belakangnya cukup berpendidikan dengan ayah dan ibu yang sama-sama berkecimpung di dunia medis, tak heran bagi Arten kecil sudah memiliki dasar-dasar medis dan di usianya sekarang, dia dijuluki dokter ajaib oleh rakyat Hesperias karena peluang kesembuhan ditangannya sangat besar.

Morline ingat, pernah membaca nama Arten saat Cedric berobat dengannya. Sayangnya luka bakar di jaman ini belum ada obatnya. Arten harus melakukan penelitian untuk mengobati Cedric. Namun, dia dibunuh oleh pria itu karena dianggap tak berkompeten dalam bekerja sebagai dokter.

Mengingat narasi itu, Morline harus bisa melindungi Arten agar tak di bunuh oleh Cedric. Arten adalah dokter hebat, di suatu saat dokter hebat seperti Arten sangat berguna

Dalam novel, ada wabah yang menyerang Hesperias dan membuat kerajaan kacau balau. Dengan adanya Arten, Morline berharap mereka bisa menangani dengan baik jika hari itu terjadi.

"Putri anda memanggil saya." Pria itu datang dengan jas hitam, rambut tipis dan sedikit botak di tengah. Di balik kacamatanya, Morline bisa melihat lingkar hitam, tanda bahwa dia benar-benar sedang berusaha mencari obat untuk luka Cedric.

Morline berdiri dan menyambut pria itu dengan jabat tangan sederhana. Arten menjabatnya, matanya penuh observasi saat menatap Morline.

"Sebelumnya perkenalkan nama saya Morline Moralles, maaf merepotkan dokter istana seperti anda. Tapi saya ingin meneliti cairan ini." Morline mengeluarkan botol kecil dari kantungnya. "Saya menemukan ini dari salah satu kamar asrama pelayan. Saya ingin tahu cairan apa yang ada di dalamnya?"

Arten meraih botol seukuran jari kelingking anak kecil itu, dia mengangkatnya ke atas, menerawangnya. Kemudian membuka dan mencium aromanya. Wajahnya tampak serius saat melakukan itu. "Ada kemungkinan ini racun, Ini sepertinya campuran bunga Magnolia, aromanya sangat saya kenali, tapi saya belum bisa mengetahui racun apa ini dan untuk apa? Kalau anda mau menunggu, saya akan meneliti ini di laboratorium saya."

"Ya, tentu. Saya hanya ingin tahu racun apa itu, dan berikan juga laporan resminya nanti."

"Memangnya untuk apa anda ingin mengetahui racun ini?"

"Saya menemukannya di kamar pelayan yang di duga mata-mata dari musuh, ada surat yang memperkuat dugaan. Hanya saja mereka belum mengaku dan masih dalam proses interogasi."

Arten menatap racun di tangannya tanpa mengatakan apapun. Morline tak mau menebak-nebak isi kepala pria itu.

"Putri!"

Keduanya menoleh ke kanan, melihat Marnin dan Joseph dibelakangnya melangkah lebar, menghampirinya.

"Ya, kenapa?"

"Mereka berdua mengakui. Dan kami mendapatkan beberapa informasi penting dari mereka." Marnin berhenti sejenak saat melihat Arten ada di sana, alisnya mengkerut.

"Aku yang memanggil Arten ke sini untuk memeriksa racun yang ditemukan dikamar Talise dan Susan."

"Ah!" Marnin memekik, seolah tersadar dari sesuatu. "Itu masuk akal! Mereka juga mengatakan bahwa ada yang menyuruh mereka untuk meracuni yang mulia. Jadi racunmya sudah ditemukan."

"Yang mulia, jadi kasus ini benar-benar bukan masalah sepele?" Arten bertanya.

"Tidak. Susan mengakui bahwa dia memiliki hubungan dengan seorang pria dari kelompok pemberontak. Saat ini kami belum tahu siapa pemimpin dibalik kelompok itu, tapi pergerakannya begitu cepat, kita harus menekannya." Joseph menjawab dengan wajah ketat.

"Apa kalian tidak curiga dengan pangeran Edward?" Morline berbisik pelan.

Semuanya orang menoleh padanya, seakan tak menyangka bahwa Morline memikirkan nama itu.

Ratu sebelumnya, ibu kandung Edward memang menginginkan putranya naik tahta, tapi Edward sendiri mengatakan jika dia tak menginginkan tahta itu. Namun, ada sebuah kontradiksi yang pria itu lakukan. Jika dia tak menginginkan tahta, tapi mengapa Edward terus menumbuhkan kekuatan politiknya dan membuat posisi Cedric terancam?

Baik, Arten, Joseph dan Marnin sama-sama berpikir lebih serius mengenai hal ini. Namun mereka masih menyangkal bahwa, Edward dalang dibalik semua ini.

Sebenarnya Morline sudah tahu bahwa Edwardlah yang melakukan pemberontakan. Namun, dia tak mungkin langsung mengatakan pada semuanya tanpa adanya bukti. Morline harus mempunyai bukti konkret atau setidaknya, membiarkan ini semua terungkap secara perlahan.

Akan tetapi, untuk saat ini yang harus mereka lakukan adalah menekan pergerakan pemberontak. Morline juga perlu memperingatkan Edward agar berhenti menebar wajah di depan rakyat. Itu bisa memperngaruhi kekuasaan Cedric saat ini.

"Baiklah, mungkin aku hanya asal bicara. Namun kita perlu berdiskusi dengan yang mulia raja soal ini. Bagaimanapun masalah pemberontakan ini serius."

Joseph dan Marnin sepakat. Setelah itu, Arten pamit pergi ke laboratorium untuk memeriksa kandungan dalam racun itu.

Mereka, termasuk Morline serentak pergi ke tempat Cedric.

Menurut Joseph, Cedric tidak mau ada orang lain yang menemuinya terkecuali orang-orang yang sudah dia percaya, Joseph salah satunya.

"Kenapa?" Morline bertanya. Mereka masih melangkah melewati koridor istana yang panjang.

Joseph terdiam lama, matanya sempat melirik Morline tapi kemudian beralih menatap kedepan. "Yang mulia hanya tak ingin ditemui saja, mungkin dia masih terguncang pasca kejadian itu."

Sebenarnya, Morline sudah tahu kalau wajah Cedric rusak karena terbakar api dan terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya pada orang lain. Namun dia hanya ingin bertanya seperti itu untuk memastikan sesuatu. Ternyata Cedric memang menjaga berita ini sampai Joseph di larang memberitahukan keadaan sebenarnya.

Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar pribadi Cedric. Joseph mengetuk tiga kali. "Yang mulia, saya Joseph, Marnin dan Putri Morline ingin menyampaikan sebuah berita penting pada anda?"

Beberapa detik tak ada jawaban dari dalam. Kemudian, sebuah suara yang teredam oleh pintu terdengar di telinga mereka. Suara itu sedikit serak dan berat. "Ada keperluan apa?"

"Saya tak bisa membicarakannya di ruang terbuka, kita harus melakukan diskusi."

Morline setia diam dan mendengarkan di belakang Joseph dan Marnin.

10 detik berlalu dengan mereka yang menunggu, lalu pintu dibuka dari dalam. Dari balik pintu, sosok tinggi seorang pria berjubah gelap berdiri menarik pintu. Jubah itu menutupi hampir seluruh tubuhnya, terutama bagian wajahnya.

"Ayo masuk." Suaranya jauh lebih serak dan berat, seperti benda berat yang diseret di atas konblok. Pria itu kemudian berbalik, berjalan masuk ke ruangan dengan pencahayaan minim.

Joseph mengangguk sopan kemudian berjalan masuk. Marnin dan Morline mengikutinya dari belakang. Mereka duduk di sofa dengan lilin di atas meja yang hampir habis.

"Saya baru saja mengintrogasi dua pelayan yang ternyata mata-mata dari pemberontak, mereka mengaku bahwa mereka berhubungan dengan seorang pria yang menyuruh mereka memata-matai anda, yang mulia. Ini beberapa surat yang kami temukan." Joseph menyodorkan surat itu ke meja.

Joseph kemudian melanjutkan, "putri Morline juga menemukan botol racun dan saat ini dokter Arten sedang meneliti racun itu di laboratoriumnya."

Morline mengangguk, dia menatap pria berjubah yang bahkan dagunya saja tak terlihat. Dia merasa seperti melihat malaikat maut. "Benar, racun itu diduga akan digunakan pada anda. Jelas pemberontak itu sudah mengambil langkah jauh. Kita harus menghentikan mereka."

Hening sesaat. Mereka menunggu Cedric bicara.

"Apa kalian sudah tahu siapa pemberontak itu?"

"Belum, yang mulia." Josep menjawab. "Tapi kelompok itu adalah kelompok kecil yang berkembang. Berawal dari kelompok para petani kecil yang menuntut bangsawan di wilayah mereka, kini kelompok itu membesar menjadi kelompok pemberontak."

"Jelas diantara mereka pasti ada orang yang memiliki pengetahuan." Kata Morline dengan keras. "Kalau hanya petani, bangsawan masih bisa menanganinya tapi ini sudah menjadi kelompok pemberontak, jelas akarnya dari orang-orang yang memilih intelektual tinggi. Karena butuh seseorang yang cerdas untuk jadi pemimpin."

"Benar apa yang dikatakannya putri Morline, yang mulia. Saya pernah mendengar dari para pelayan bahwa di kalangan rakyat terjadi kericuhan yang di picu oleh bangsawan. Rakyat meminta keadilan pada bangsawan itu." Marnin menatap sosok di depannya tanpa rasa segan.

"Apa masalah yang membuat kericuhan itu?" Cedric bertanya.

"Saya kurang tahu untuk itu, tapi ada yang bilang bangsawan itu membunuh salah satu keluarga pedagang, ada yang bilang juga menaikkan pajak ilegal."

"Kita harus segera menangani ini. Rakyat tidak boleh kehilangan kepercayaannya pada kita. Yang mulia harus melakukan pertemuan dengan para bangsawan untuk membahas ini lebih dalam." Morline memberi saran.

"Baiklah, undang para bangsawan ke ruang rapat esok hari. Dan...." Kepala Cedric bergerak, sedikit terangkat menghadap padanya, tapi Morline masih tak bisa melihat wajahnya. "Kau, jadilah berguna. Turun dan berinteraksi dengan mereka."

Bibir Morline berkedut. Meski Morline tahu apa maksud dari Cedric, tapi kalimat itu seakan-akan Cedric menganggapnya bukan siapa-siapa. Morline menahan diri, dia tersenyum dan mengangguk tanpa mengatakan apapun.

Tepat ketika lilin mati, diskusi mereka selesai.

Mereka lalu pergi dari kamar Cedric, membiarkan pria itu kembali sendiri dalam kegelapan yang sunyi.

────୨ৎ────

Esoknya.

Karena permintaan atau lebih tepatnya perintah dari Cedric, Morline bersiap untuk turun ke jalan.

Sebelum pergi, dia sudah bertanya pada Marnin dan beberapa pelayan yang mendengar berita perihal bangsawan yang menaikkan pajak terlalu tinggi atau telah membunuh seseorang.

Informasi yang dia dapat dari mereka adalah nama bangsawan itu. Dia memang bangsawan, memiliki jabatan dalam pemerintahan, posisinya di sana sebagai pengawas wilayah provinsi Gujun atau gubernur.

Saat ini, tujuan Morline adalah mendatangi kota Sentra, daerah Periho. Ketika kericuhan terjadi, itu sekitar 7 hari yang lalu, tapi telah berhasil diredam oleh prajurit.

Kabar terbaru yang dia dengar, bahkan ada korban dari kericuhan itu. Namun rakyat yang berusaha menyuarakan keadilan terus di tekan dan di ancam oleh bangsawan terkait, mereka menyuap orang-orang di kalangan rakyat agar rakyat tak bisa menyuarakan keinginannya.

Menurut kesatria yang mendampinginya, perjalanan membutuhkan sekitar 2 jam. Di waktu yang panjang itu, Morline mengisinya dengan membaca buku yang dia bawa dari perpustakaan istana. Dia membaca buku tentang sejarah kerajaan Hesperias dan membaca buku-buku yang di tulis oleh penulis-penulis terkenal dalam politik untuk memperluas wawasannya.

Dua jam kemudian rombongan sampai di kota Sentra.

Mungkin karena melihat rombongan kereta yang ramai, warga sekitar berkumpul di sekitar jalan. Morline mengintip dari jendela kereta, merasa sedikit gugup melihat banyaknya orang berkumpul.

Tiga ksatria yang mengawal perjalanan, turun dari kuda mereka dan menepikan warga agar tak menghalangi jalan. Kereta maju perlahan hingga menemukan tempat parkir yang pas.

Di dalam kereta, Morline menghela nafas kemudian pintu terbuka. Ksatria yang bertugas mengawalnya mengulurkan tangan. Morline meraihnya dan turun dengan hati-hati dari kereta.

Melihat keramaian di depannya, Morline berusaha menenangkan diri. Dulu dia adalah seorang mahasiswi yang aktif dalam program kampus, seharusnya Morline lebih percaya diri ketika berhadapan dengan banyak orang seperti ini.

Morline menyapa mereka dengan senyuman kecil. "Selamat siang semua, maaf atas kehadiran kami yang mengganggu aktifitas kalian. Kami datang hanya untuk mendengar masalah terkait kericuhan 7 hari yang lalu.''

Tak ada suara selama beberapa detik, warga seolah mematung dan membisu di tempat mereka. Ksatria dan rombongan yang kerajaan juga terdiam, mereka menatap Morline dengan aneh. Namun tak lama dari itu seorang pria yang harus berdesakan dengan warga muncul di depan Morline. Para ksatria langsung menghalanginya dengan pedang.

"Aku hanya ingin bicara pada bangsawan ini.'' pria itu tak mengetahui status Morline. Yang dia yakini bahwa gadis bertubuh gemuk dengan penampilan yang anggun itu adalah seorang bangsawan.

Ketika Morline mengatakan kejadian 7 hari yang lalu, tanpa pikir panjang dia maju.

''Tidak apa-apa biarkan dia bicara.'' Morline memerintahkan para ksatria menurunkan senjata mereka dan membiarkan pria itu mendekat padanya.

Morline menatapnya, tatapannya tegus seperti seorang pejuang yang tak tergoyahkan. Melihatnya, Morline teringat akan seorang pria bernama Gerald yang mati karena memperjuangkan hak rakyat di dalam novel.

Dia terbunuh di depan kediaman tuan Juandar, seorang bangsawan dan pejabat pemerintahan.

Karena kejadian itu, rakyat menjadi marah dan kericuhan besar terjadi. Para pemberontak memanfaatkan situasi dan menyerang istana. Edward pada akhirnya berhasil merebut kekuasaan dan menggulingkan Cedric.

"Sebelumnya saya memperkenalkan diri sebagai Gerald. Saya termasuk orang yang ikut dalam kericuhan 7 hari lalu dan saya pula yang menyaksikan korban dari kericuhan itu. Total ada 2 korban jiwa oleh para prajurit atas perintah tuan Juandar. Saya hanya meminta keadilan untuk dua korban yang telah gugur, nona bangsawan.'' Gerald menyatukan tangan dengan wajah tertunduk.

"Panggil beliau yang mulia putri!" teriak salah satu ksatria-nya.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!