Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Menyekap
Alga, Devon, dan Fero berjalan memasuki lobi apartemen dengan langkah tenang. Mereka tidak ingin menarik perhatian dan mereka juga tidak ingin membuat keributan. Tujuan mereka hanya satu, yakni menemui Erika.
"Nomor unitnya sudah dapat?" Tanya Devon pelan.
Alga mengangguk. "Sudah."
Fero memasukkan ponselnya ke saku. "Semoga dia enggak kabur."
Ketiganya masuk ke lift. Suasana di dalam lift terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin lift yang bergerak naik.
Ding. Pintu lift terbuka.
Mereka berjalan menyusuri lorong apartemen. Hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu.
Alga menatap nomor unit itu. "Benar."
Devon menarik napas. "Ketuk?"
Alga mengangguk.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban. Mereka saling pandang.
Tok. Tok. Tok.
Kali ini terdengar langkah kaki dari dalam. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Erika muncul. Awalnya Erika terlihat biasa saja, namun begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya, wajahnya langsung berubah seketika.
"Alga? Devon? Fero?" Ucap Erika panik tapi tetap tenang dan tersenyum.
Fero tersenyum tipis. "Sore."
Erika mencoba tetap tenang. "Ada apa?"
Alga menatapnya lurus. "Kami mau bicara."
"Soal apa?" Tanya Erika.
"Soal Aurel." Sahut Devon dengan tegas.
Seketika wajah Erika menegang, meski hanya sesaat. Namun ketiganya melihat perubahan itu dengan jelas.
"Aku enggak ngerti maksud kalian." Ucap Erika yang bingung.
Devon menyilangkan tangan. "Kalau begitu kita bicara di dalam."
Erika segera menggeleng. "Aku capek dan mau istirahat."
Fero tertawa kecil. "Lucu. Aurel juga capek waktu diculik."
Ucapan Fero membuat suasana langsung membeku.
Mata Erika membelalak. "Apa?"
Alga melangkah maju. "Jangan pura-pura. Kami sudah tahu."
Jantung Erika berdegup lebih cepat. Namun tetap berusaha menyangkal. "Kalian menuduh tanpa bukti."
Devon menghela napas panjang. "Masih mau bohong?"
Erika diam.
Alga kembali berbicara. "Lebih baik ikut kita. Pak Bagaskara ingin bicara."
Nama itu membuat Erika semakin gugup. "Untuk apa?"
"Nanti juga tahu." Sahut Devon.
"Aku enggak mau." Tolak Erika.
Fero menatapnya dingin. "Pilihan lo ada dua. Ikut dengan kita atau kita panggil polisi sekarang."
Erika terdiam, mulai merasakan takut. Karena biasanya Bagaskara selalu membelanya, dan selalu mempercayainya. Namun sekarang, orang yang paling mudah dibohongin itu justru ingin bertemu dengannya dan itu bukan pertanda baik.
Di dalam pikirannya, berbagai kemungkinan mulai bermunculan. Apakah kedua pria yang disewanya sudah ditangkap? Apakah mereka sudah bicara?
Semakin dipikirkan, semakin dingin tubuhnya Erika. Alga melihat perubahan ekspresi Erika dan tahu Erika sedang panik.
"Jadi?" Tanya Alga.
"Iyaa aku ikut dengan kalian sekarang." Jawab Erika.
Mereka bertiga tersenyum.
Semuanya sudah ada di mobil. Erika menggenggam erat tas di tangannya. Tatapannya bergantian melihat ketiga pria itu. Sebelum sampai salah satu temannya Arvano yaitu Devon menutupi hidung Erika dengan kain yang dikasih obat, Erika langsung pingsan.
Di kantor PT Argas, sebagian besar karyawan sudah meninggalkan gedung. Namun tidak dengan Bagaskara.
Pria paruh baya itu masih duduk di balik meja kerjanya. Tatapannya tertuju pada jendela besar di belakang kursinya. Pikirannya jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Di atas meja terdapat beberapa berkas yang belum disentuh, bukan karena tidak penting, melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Nama Erika terus berputar-putar di kepalanya. Bagaskara masih sulit menerima kenyataannya bahwa perempuan yang selama ini dianggap calon menantu justru menjadi dalang di balik penculikan Aurel, bahkan lebih dari itu. Erika juga telah membohonginya selama bertahun-tahun.
Mengingat semua itu membuat rahang Bagaskara mengeras. Tangannya mengepal di atas meja. Selama ini Bagaskara selalu percaya bahwa dirinya pandai menilai orang, namun kali ini merasa benar-benar dibodohi dan tidak menyukai perasaan itu.
Teleponnya Bagaskara berada dimeja berbunyi, ada pesan masuk. Bagaskara cepat mengambilnya dan cepat balas pesannya, ternyata Alga.
Alga "Om. Erika Sudah diamankan."
^^^Bagaskara "Iya."^^^
Bagaskara mengambil jasnya dan meletakkan teleponnya kesaku jasnya, kemudian berjalan menuju pintu.
Sekitar tiga puluh menit. Mobil Bagaskara berhenti di depan sebuah rumah kosong yang berada jauh dari keramaian kota. Tempat itu sama dengan tempat yang digunakan untuk menyekap Aurel, tempat yang hampir menghancurkan hidup Aurel.
Begitu turun dari mobil, wajah Bagaskara langsung mengeras. Tidak pernah menyukai tempat seperti ini, yang sunyi, kotor dan penuh kenangan buruk.
Di depan pintu rumah kosong, Alga, Devon, dan Fero sudah menunggu.
"Om." Ucap Alga, Devon dan Fero berbarengan.
Bagaskara mengangguk. "Masih di dalam?"
"Iyaa." Jawab Fero.
"Dia tidak bisa ke mana-mana karena dibius, sekarang Dia sudah sadar." Ucap Alga.
Bagaskara masuk. Langkahnya terdengar berat.
Ketika sampai di ruangan tengah, Erika terlihat duduk di kursi. Kedua tangannya terikat. Wajahnya masih terlihat rapi meskipun sedikit berantakan dibanding biasanya.
Namun yang membuat Bagaskara kesal, Erika masih bisa tersenyum. Seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Bagaskara berhenti beberapa langkah di depannya. Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik. Tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Bagaskara membuka suara. "Dari semua orang yang pernah aku percayai" Nada suaranya dingin dan lanjut bicara. "Aku tidak menyangka orang itu adalah kamu."
Senyum Erika perlahan memudar, namun tetap menatap Bagaskara tanpa takut. "Aku juga tidak menyangka akan sampai sejauh ini." Ucap Erika.
Bagaskara tertawa pendek, tawa yang sama sekali tidak mengandung humor. "Kamu masih bisa bercanda?"
"Aku tidak bercanda." Sahut Erika yang tegas.
"Kalau begitu jelaskan." Titah Bagaskara dan maju selangkah. Lanjut bicara Bagaskara "Kenapa? kamu melakukan semua ini?"
Ruangan langsung sunyi, hanya suara angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Erika menunduk sesaat, lalu mengangkat wajahnya kembali. "Karena aku tidak pernah mendapatkan apa yang ku inginkan."
Bagaskara mengernyit. "Itu alasanmu?"
Jawab Erika "Awalnya aku memang ingin menjadi bagian keluarga Argas."
Bagaskara diam.
Erika melanjutkan. "Ayahku selalu mengatakan kalau aku harus menikah dengan Arvano, tapi aku tidak pernah dicintai."
Wajah Bagaskara semakin keras. "Kamu berselingkuh."
Erika tertawa kecil. "Karena Arvano bahkan tidak pernah menganggapku pacarnya."
Ucapan Erika membuat Bagaskara terdiam beberapa saat. Memang benar. Bagaskara tahu hubungan Arvano dan Erika tidak pernah hangat, namun tetap memaksakan hubungan itu demi kerja sama bisnis.
Dan kini Bagaskara mulai merasakan penyesalan. "Aku salah mempercayaimu." Ucap Bagaskara pelan.
Erika tersenyum tipis. "Dan aku salah berharap."
Di luar ruangan. Alga, Devon, dan Fero berdiri sambil berjaga. Meski diminta menunggu di luar, mereka tetap bisa mendengar sebagian pembicaraan.
Ketiganya saling berpandangan. Mereka sudah lama mengenal Arvano. Mereka juga tahu bagaimana sikap sahabat mereka terhadap Erika, yaitu dingin, menjaga jarak, tidak pernah menunjukkan rasa cinta. Karena itu mereka tidak heran saat mengetahui perselingkuhan tersebut.
Yang membuat mereka penasaran justru hal lain, yaitu Aurel. Karena sejak gadis itu hadir, Arvano berubah, perlahan tapi pasti dan semua orang mulai menyadarinya.
Di dalam ruangan. Percakapan masih berlanjut.
Bagaskara menatap Erika tajam. "Kamu sudah menghancurkan kepercayaan kami."
Erika tersenyum pahit. "Kalau begitu aku akan menghancurkan sesuatu yang lain."
Bagaskara mengernyit. "Maksudmu?"
Erika menatap langsung ke matanya, lalu berkata perlahan. "Sebenarnya ada satu hal yang belum om tahu."
Bagaskara mulai merasa tidak nyaman."Apa?"
Erika tertawa kecil. "Arvano dan Aurel."
Nama itu langsung membuat Bagaskara terdiam. "Mereka kenapa?"
Erika menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Mereka sudah berpacaran."
Ekspresi Bagaskara benar-benar berubah. "Apa?Mereka pacaran. Itu tidak mungkin."
Jawab Erika."Oh, itu sangat mungkin."
Bagaskara menggeleng. "Tidak."
Erika tersenyum. "Kenapa tidak percaya?"
Jawab Bagaskara. "Karena Arvano tidak akan melakukan itu."
Erika justru tertawa lebih keras. Tawa yang membuat suasana ruangan semakin tidak nyaman. "Kalau begitu cek saja CCTV rumah."
Bagaskara membeku.
Erika melanjutkan. "Coba lihat bagaimana mereka saling memandang, coba lihat bagaimana Arvano memperlakukan Aurel, coba lihat bagaimana perhatian itu muncul."
Setiap Ucapan Erika membuat pikiran Bagaskara mulai terganggu. Karena, jika dipikir-pikir. Memang ada banyak hal yang aneh, dari perhatian Arvano, kepanikan saat Aurel diculik, keputusan menjaga Aurel di rumah sakit.
Tatapan yang selama ini di abaikan, semuanya tiba-tiba muncul kembali di kepalanya.
Bagaskara tidak menjawab dan berbalik, Kemudian berjalan menuju pintu.
"Om Bagaskara." Panggil Erika. Namun Bagaskara tidak berhenti.
Saat keluar dari rumah kosong, Alga langsung menghampiri. "Om?"
Bagaskara menarik napas panjang. Tatapannya terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
"Biarkan dia tetap di sini."
Alga mengangguk. "Lalu?"
Bagaskara menjawab dingin. "Lapor polisi."
Ketiga pemuda itu saling pandang. "Baik." Ucap berbarengan.
Bagaskara berjalan menuju mobilnya, namun sebelum masuk, Bagaskara berhenti sejenak. Pikirannya kembali pada ucapan Erika, yakni tentang Arvano, tentang Aurel dan tentang CCTV rumah.
Jika itu benar, berarti selama ini ada sesuatu yang disembunyikan darinya, sesuatu yang terjadi tepat di depan matanya.
Bagaskara masuk ke mobil. Mesin menyala. Mobil perlahan meninggalkan rumah kosong.
Sementara jauh di dalam rumah itu, Erika tersenyum tipis. Karena meskipun dirinya jatuh, baru saja melemparkan sebuah bom yang bisa mengguncang keluarga Argas.
Bagaskara memutuskan satu hal, begitu sampai rumah. Bagaskara akan melihat rekaman CCTV sendiri dan mencari jawaban atas semua kecurigaannya.