"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 25
Sore ini selepas pulang bekerja Mila mengajak Indah bertemu di salah satu kedai es krim. Tempatnya tak jauh dari kediaman keduanya. Indah lebih dulu tiba lalu menyusul Mila 5 menit kemudian.
"Sepertinya ini sangat serius!" celetuk Indah menggoda.
"Entahlah, serius atau enggak aku hanya meminta pendapatmu aja!" kata Mila tersenyum nyengir. "Kita pesan minuman dan makanan dulu!"
"Hmm... baiklah!" kata Indah lalu memanggil pelayan kedai.
Tiga menit berlalu...
"Pasti masalah hati? Bingung memilih diantara dua lelaki itu?" tebak Indah.
"Ya, kamu tau 'kan Hasbi itu baik banget. Dia datang tepat aku membutuhkannya padahal aku enggak memintanya. Dia itu paham apa yang aku inginkan, tapi Alan jauh berbeda. Dua-duanya memang enggak pelit, cuma kendalanya aku belum tau siapa aja keluarganya Hasbi. Aku gak tau temannya atau saudaranya. Sedangkan, Alan udah mengenalkan aku kepada beberapa saudaranya."
"Menurutmu lebih nyaman dengan siapa?" tanya Indah menatap Mila yang raut wajahnya bimbang.
Mila sejenak diam, lalu menjawab, "Hasbi!"
"Kalau memang menurutmu dengannya nyaman. Kau harus menjelaskan statusmu sejujurnya," kata Indah.
"Bagaimana dengan Alan? Dia sudah mengatakan niatnya ingin serius."
"Dia lebih mementingkan ibunya, Mil. Buktinya kemarin kau bilang dia membiarkanmu pulang sendirian. Apa salahnya mengantarkan pulang sebentar?" Indah ingat beberapa hari lalu Mila bercerita.
Mila diam dan berpikir.
"Dengar, Mil. Belum menikah aja ibunya udah menunjukkan rasa enggak sukanya. Apalagi kalian benar-benar menikah. Aku rasa perceraian untuk kedua kalinya bakal terjadi!" Indah memberikan nasehat panjang lebar karena semalam Mila juga sempat curhat melalui pesan singkat.
"Jadi, aku harus bagaimana?" Mila bingung.
"Kau jauhi Alan dan jelaskan statusmu kepada Hasbi!" saran Indah.
"Bagaimana kalau Alan menolak menjauhiku?" tanya Mila.
"Katakan saja sejujurnya kalau ibunya enggak menyukaimu. Hubungan tanpa restu itu enggak enak, Mil!" jawab Indah lagi.
"Baiklah, aku akan mencari waktu yang tepat biar Alan berhenti berharap!" kata Mila.
"Nah, gitu dong. Daripada dia terus berharap dan kau jadi bimbang!" Indah tersenyum lega.
"Bagaimana kalau Hasbi tak terima dengan status aku yang sudah janda?" tanya Mila meminta pendapat.
"Lebih baik begitu, daripada kalian udah terlanjur jauh dan serius," jawab Indah.
"Baiklah, besok atau lusa aku akan menceritakan semuanya kepadanya."
Pukul 9 malam, Mila sampai ke kos-kosannya. Masuk ke kamar dan bergegas mandi lanjut salat Isya lalu tidur.
Baru saja mata terpejam, notifikasi pesan muncul. Mila membukanya dan membacanya dari Hasbi. 'Baru pulang, ya?'
'Iya. Tadi ketemu Indah.' balas Mila.
'Oh. Istirahatlah, selamat tidur.' Hasbi pun membalas.
Mila meletakkan ponselnya sedikit menjauh dari bantalnya lalu memejamkan matanya.
***
Satu minggu kemudian...
Pagi harinya, Mila yang bersiap-siap hendak berangkat kerja mendadak mendapatkan telepon dari adiknya. Mila bergegas mengangkat dan menjawabnya," Assalamualaikum, Dit!"
"Waalaikumussalam, Mil!"
Deg..
Mila mengenal suara itu. Suara yang sangat dirindukannya beberapa bulan terakhir ini.
"Mila, ini Ibu, Nak!" terdengar suara Maya yang menahan rindu.
"Ibu...." air mata Mila pun menetes.
"Maafkan kami, Nak. Pulanglah!" mohon Maya yang juga menangis.
"Ibu dan bapak mau menerimaku lagi?" tanya Mila dengan bibir bergetar.
"Tentunya, Nak. Kamu tetap anak kami selamanya," jawab Maya terisak.
"Kenapa Bapak dan Ibu masih menerimaku?" tanya Mila lagi.
"Kami sudah mendengarkan ceritanya Adit dan kemarin Ibu bertemu mantan ibu mertuamu. Dia meminta maaf kepada kami, karena gak mampu menjagamu," jawab Maya menjelaskan. "Pulanglah, Nak. Kami merindukanmu. Bapak dan Ibu udah gak peduli dengan omongan orang-orang yang mengatakanmu janda."
"Ibu, maaf. Bukannya aku gak mau pulang, aku di sini mencari uang. Aku mau membahagiakan diriku dan kalian, aku mau membelikan sesuatu yang berharga untuk Bapak dan Ibu. Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat. Insya Allah, hari raya tahun depan aku pasti pulang!" Mila berjanji.
"Iya, Nak. Kami tunggu kepulangan kamu, sekarang kita sudah bisa saling bertukar kabar."
"Ibu, maaf aku harus tutup teleponnya. Aku mau pergi kerja!"
"Iya, Nak. Hati-hati dijalan!"
Panggilan keduanya pun berakhir..
Beberapa hari lalu, Adit, adik bungsunya Mila menghubunginya menggunakan nomor lain. Karena Mila memang memblokir semua kontak telepon keluarga dan saudaranya. Setelah bercerita panjang lebar tentang alasannya perpisahannya dengan Hardi, ia lalu membuka kontak telepon kedua adiknya yang telah diblokirnya.
Hari ini, Mila yang senang sekaligus terharu kembali membuka seluruh kontak telepon keluarga dan saudaranya sebab kedua orang tuanya telah meminta maaf dan menerimanya lagi sebagai anak kandung.
Mila keluar dari kamarnya, sembari menyeka air matanya yang masih menetes meskipun ia sudah menghapusnya dengan tisu di dalam.
Hasbi yang berniat mengantarkannya kerja telah menunggu di halaman, "Kamu habis menangis?"
Mila tersenyum nyengir dan bertanya, "Apa terlalu kelihatan habis menangis?"
"Ini anak, ya, ditanya malah balas nanya. Kamu kenapa menangis? Apa ada masalah?" tanya Hasbi heran.
"Tadi ibuku menelepon aku," jawab Mila.
"Dimarahi ibu, ya, makanya menangis?" tebak Hasbi.
"Enggak juga, dia bilang rindu aku," Mila berbohong, ia belum menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan kedua orang tuanya.
"Makanya, kemarin itu pulang. Sekarang jadi menyesal 'kan enggak pulang!" kata Hasbi.
"Rencananya tahun depan aku pulang, kok!"
"Nah, memang gitu seharusnya. Mumpung kedua orang tua masih hidup, manfaatkan sebaik-baiknya buat berbakti!" nasihat Hasbi.
"Ya ampun, pagi-pagi aku udah dapat ceramah!" ucap Mila tertawa kecil.
"Ya udah, ayo berangkat! Nanti kamu terlambat!" Hasbi menyodorkan helm kepada Mila.
Begitu sampai di tempat kerjanya, Mila mengembalikan helm dan berkata, "Terima kasih."
"Nanti sore aku akan menjemputmu!"
"Iya, Mas!"
Hasbi memakai helm, Mila belum beranjak dari tempat berdiri.
"Sudah sana masuk!" Hasbi menggerakkan matanya ke arah bangunan kedai.
"Besok Mas Hasbi pulang kerja jam berapa?" tanya Mila.
"Belum tau, memangnya kenapa?" Hasbi balik bertanya.
"Aku besok libur kerja. Ada yang ingin aku sampaikan kepada Mas Hasbi," jawab Mila.
"Penting?" tanya Hasbi menatap Mila serius.
Mila mengangguk mengiyakan.
"Enggak tentu juga. Kadang jam tiga udah sampai kos, kadang bisa jam sembilan malam. Tapi lihat besok!" kata Hasbi.
"Kalau pulang jam tiga, kita ke taman kota, ya!" ajak Mila.
"Boleh juga!" Hasbi pun setuju.
"Ya udah, aku masuk dulu!" Mila lantas bergegas masuk ke kedai.
Hasbi memandangi punggung Mila dari kejauhan dan bermonolog, "Apa yang ingin dia dikatakan, ya? Jadi, penasaran!"
***
Sore harinya selepas salat Ashar, Hasbi dan Mila pergi ke taman kota. Hasbi sengaja pulang lebih cepat karena penasaran. Tak biasanya Mila mengajaknya bicara serius dan penting.
Keduanya duduk di bangku taman, tak banyak yang berkunjung sebab bukan akhir pekan atau hari libur nasional.
Ditangan keduanya masing-masing sebotol air mineral. Tatapan lurus ke arah kolam air mancur.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Hasbi dari kemarin sangat penasaran.
"Mas Hasbi sebelumnya aku minta maaf," jawab Mila tanpa menatap.
Hasbi menoleh ke sisi kirinya, "Maaf?"
Mila pun menatap wajah Hasbi. "Maaf, selama ini aku belum dapat bicara jujur."
"Maksudnya?" Hasbi mengernyitkan dahinya.
"Aku sebenarnya..."
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔