Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : SEKTOR 7
Konvoi kendaraan lapis baja itu kembali membelah jalanan yang sunyi. Namun, atmosfer di dalam kabin kini terasa berbeda. Elara, yang baru saja naik ke Level 11, duduk dengan mata terpejam, mencoba menyelaraskan aliran energi baru yang berdenyut di pusat sarafnya. Fitur Map Real-Time Evolution mulai memancarkan citra transparan di dalam benaknya, memetakan radius 5 km ke depan dengan detail yang mengerikan.
"Satu jam lagi, Sayang," ujar Leonard sambil melirik arlojinya. "Tapi aku merasakan sesuatu yang tidak beres di radar manual kita."
Elara membuka matanya. Pupilnya berkilat biru sedalam samudra. "Bukan hanya radarmu, Leo. Map-ku mendeteksi gelombang panas yang tidak wajar di gerbang luar Sektor 7. Sepertinya pangkalan itu sedang dikepung, tapi bukan oleh manusia."
Ia segera meraih HT di dasbor. "Arkan, Herra, bersiap! Kita akan memasuki zona pertempuran dalam 15 menit. Sektor 7 tidak dalam kondisi baik. Ada gerombolan mutan tipe pengejar (Crawler) dalam jumlah besar di gerbang utama."
"Dimengerti, Nona," suara Arkan terdengar tenang namun tajam. "Menyiapkan formasi tempur Vanguard."
Gerbang Sektor 7: Neraka Baja
Sektor 7 bukan sekadar pangkalan; itu adalah benteng baja dengan tembok beton setinggi 10 meter yang dilengkapi dengan menara senapan mesin otomatis. Namun, saat konvoi Elara tiba di puncak bukit yang menghadap ke pangkalan, pemandangan di bawah sana benar-benar kacau.
Ribuan Crawler mutan yang bergerak dengan empat kaki, berkulit pucat, dan memiliki lidah sepanjang dua meter sedang menumpuk diri mereka di dinding benteng, mencoba memanjat masuk. Senapan mesin di menara terus menyalak, memuntahkan peluru panas, namun jumlah monster itu terlalu banyak.
"Mereka akan jebol dalam hitungan menit," gumam Leonard, tangannya mencengkeram stir lebih erat.
"Tidak jika aku yang memegang kendalinya," sahut Elara dingin. Ia berdiri, membuka sunroof mobil lapis baja, dan membiarkan tubuhnya terkena terpaan angin kencang. "Tobi, Herra! Bersihkan area sayap kiri. Arkan, lindungi truk prajurit baru. Leo, arahkan mobil ini tepat ke tengah kerumunan!"
"Siap, Ratu!" Leonard menginjak gas hingga dalam. Mesin mobil menderu, melesat menuruni bukit seperti peluru raksasa.
Demonstrasi Kekuatan: Gravity Press
Saat mobil mereka berjarak 50 meter dari gerombolan Crawler, Elara mengangkat tangan kanannya ke langit. Telapak tangannya terbuka lebar, seolah-olah ia sedang memegang beban yang tak terlihat.
"Mari kita coba mainan baru ini," bisik Elara.
"GRAVITY PRESS: AREA CRUSH!"
BOOOOOMMMM!
Suara itu bukan ledakan api, melainkan suara udara yang dipaksa turun secara brutal. Dalam radius 20 meter di sekeliling Elara, gravitasi tiba-tiba meningkat seribu kali lipat.
Ratusan Crawler yang tadinya melompat buas tiba-tiba terhempas ke tanah dengan bunyi tulang yang remuk secara bersamaan. Tubuh mereka gepeng, menempel pada aspal yang retak hingga mengeluarkan cairan tubuh berwarna hijau pekat. Mereka bahkan tidak sempat melolong kesakitan sebelum organ dalam mereka meledak karena tekanan gravitasi yang luar biasa.
Para prajurit baru di dalam truk terbelalak. Mereka melihat Elara berdiri tegak di atas mobil yang melaju, tangannya perlahan diturunkan, dan setiap inci gerakan tangannya membuat monster-monster di bawahnya hancur seperti serangga yang diinjak kaki raksasa.
"Gila... itu kekuatan Nona?" bisik salah satu prajurit dengan tangan gemetar memegang senapan.
"Jangan hanya menonton! Serang!" teriak Herra dari mobil sebelah. Ia keluar dari jendela, senapan sniper nya memuntahkan peluru demi peluru yang menembus kepala mutan yang masih mencoba bergerak di luar jangkauan gravitasi Elara.
Tobi melesat keluar, tubuhnya hanya terlihat seperti kilatan bayangan. Dengan belati kembarnya, ia memotong leher para Crawler yang sudah lumpuh akibat tekanan gravitasi. "Terima kasih atas bantuannya, Nona! Ini jadi terlalu mudah!"
Mobil Leonard menghantam barisan mutan yang sudah menjadi bubur daging, meluncur mulus menuju gerbang utama Sektor 7 yang hampir jebol. Para penjaga di atas menara, yang awalnya panik, kini terpaku melihat bantuan yang datang dengan kekuatan yang melampaui logika manusia.
"Buka gerbangnya! Ini perintah dari kode akses Jenderal Rian!" Arkan berteriak melalui pengeras suara, mengirimkan kode transmisi yang tadi dicuri Elara dari ingatan Rian.
KREEEEEEKKKK...
Gerbang baja raksasa itu perlahan terbuka. Leonard memutar stir, memarkirkan mobil tepat di tengah gerbang untuk menghalangi mutan yang mencoba merangsek masuk, sementara Elara tetap berdiri di atas mobil, mempertahankan medan gravitasi untuk menciptakan zona aman.
Seorang perwira militer dengan seragam yang sudah koyak berlari mendekat, wajahnya penuh keringat dan debu mesiu. "Siapa kalian?! Di mana Jenderal Rian?!"
Elara melompat turun dari atas mobil dengan gerakan yang sangat halus. Ia berjalan mendekati perwira itu, membiarkan rambutnya yang tertiup angin jatuh dengan sempurna. Di belakangnya, Leonard, Arkan, Herra, dan Tobi berdiri dalam formasi yang mengintimidasi.
"Jenderal Rian sudah pensiun... selamanya," ujar Elara dengan senyum tipis yang mematikan. Ia mengeluarkan lencana emas milik Rian dan melemparkannya ke kaki perwira itu. "Mulai detik ini, pangkalan ini, seluruh isinya, dan nyawa kalian... adalah milikku. Ada keberatan?"
Perwira itu menatap lencana di tanah, lalu menatap hamparan ratusan mayat mutan yang hancur karena gravitasi di luar gerbang. Ia menelan ludah. Keberatan? Menentang wanita ini sama saja dengan memesan tiket VIP menuju liang lahat.
"Ti-tidak, Nona... Kami... kami tunduk pada pemegang lencana," jawab perwira itu sambil memberikan hormat militer dengan tangan gemetar.
Elara menoleh ke arah timnya. "Arkan, ambil alih sistem komunikasi dan radar pangkalan. Herra, tempatkan prajurit baru kita di menara pengawas. Leo, ikut aku ke ruang brankas bawah tanah. Ada 'hadiah' yang ditinggalkan Rian untuk kita di sana."
Langkah kaki Elara menggema di koridor beton Sektor 7. Ia tidak hanya datang untuk berlindung, ia datang untuk menjajah. Dan dengan kemampuan Gravity Press yang baru saja ia pamerkan, tidak ada satu pun orang di pangkalan itu yang berani bernapas terlalu keras di hadapannya.
[STATUS SEKTOR 7: TERKUASAI]
[LOYALITAS PERSONEL PANGKALAN: 30% (KETAKUTAN EKSTREM)]
[TUJUAN BERIKUTNYA: BRANKAS BAWAH TANAH - LEVEL RAHSIA]
🧟♀️🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Elara melangkah masuk ke jantung Sektor 7 dengan aura yang begitu mendominasi, seolah-olah setiap ubin beton yang ia pijak secara otomatis mengakui kedaulatannya. Di belakangnya, Leonard berjalan dengan tangan di hulu pedang, matanya menyapu setiap sudut koridor yang dipenuhi oleh tentara pangkalan yang bersandar lemas di dinding, terluka dan kehilangan harapan.
"Arkan, status sistem keamanan?" tanya Elara tanpa menoleh.
Arkan yang berjalan sambil mengotak-atik perangkat di pergelangan tangannya menjawab cepat, "Akses utama telah dialihkan ke ID Anda, Nona. Saya telah memutus jalur komunikasi keluar. Sektor 7 sekarang sepenuhnya terisolasi dari pusat komando militer pusat. Kita adalah penguasa tunggal di sini."
"Bagus. Leo, ikut aku ke level B-4. Sisanya, bersihkan sampah-sampah mutan yang masih tersisa di koridor samping," perintah Elara dingin.
Lift baja yang berat itu berdenting saat berhenti di lantai terbawah. Pintu terbuka, menampakkan sebuah lorong panjang yang diterangi lampu darurat berwarna merah. Berbeda dengan lantai atas yang berantakan, lantai ini tampak sangat steril dan dijaga oleh pintu baja biometrik setebal setengah meter.
"Ini tempatnya," ujar Elara. Ia berdiri di depan panel pemindai. Berkat ingatan Jenderal Rian yang telah ia ekstrak, ia menekan urutan kode numerik dan pola sidik jari virtual yang telah disalin oleh Sistem.
KREEEEEAK... SHHHH...*
Pintu raksasa itu terbuka dengan suara desisan udara hidrolik. Begitu mereka masuk, mata Leonard membelalak. Di dalam ruangan luas itu, bukan hanya tumpukan emas atau uang yang tersimpan, melainkan deretan kapsul kriogenik berisi cairan kehijauan yang berpendar.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah brankas kaca yang berisi sebuah kristal berwarna ungu gelap yang berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri.
┌─────────────────┐
ANALISIS SISTEM:
ITEM TERDETEKSI: DARK MATTER CORE (INTI MATERI GELAP)
STATUS: SANGAT LANGKA
FUNGSI: BAHAN UTAMA UNTUK EVOLUSI SISTEM KE LEVEL 20
DAN PEMBANGKIT ENERGI TANPA BATAS. └───────────────────┘
"Jadi ini yang dirahasiakan Rian," gumam Elara sambil berjalan mendekati kristal itu. "Dia ingin menggunakan ini untuk menciptakan pasukan supernya sendiri. Sayangnya, dia terlalu lemah untuk mengendalikannya."
Tiba-tiba, suara alarm melengking keras dari arah belakang mereka.
WEOOO... WEOOO...
"Nona! Ada pergerakan dari dalam kapsul!" teriak Arkan melalui HT. "Sistem mendeteksi aktivitas biologis yang melonjak drastis di Level B-4! Segera keluar dari sana!"
Salah satu kapsul di pojok ruangan retak. Cairan hijau tumpah ke lantai, mengeluarkan uap yang menyengat. Dari dalam kapsul itu, sesosok makhluk menyerupai manusia namun dengan kulit bersisik hitam dan cakar panjang keluar sambil meraung.
"Prototipe 0-X," Elara membaca label pada kapsul itu. "Hasil eksperimen gagal Rian."
Makhluk itu bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap mata, menerjang ke arah Elara. Namun, Leonard lebih cepat. Ia menghunus pedangnya dan menangkis cakar makhluk itu.
TRANGGG!
Percikan api muncul saat baja beradu dengan cakar mutan itu. "Sayang, ambil kristalnya! Biar aku yang mengurus peliharaan Jenderal ini!" seru Leonard sambil menendang dada makhluk itu hingga terpental ke dinding.
Elara tidak membuang waktu. Ia menghantam kaca pelindung kristal dengan tinju yang dilapisi kekuatan Gravity Press.
PRANKKK!
Saat tangannya menyentuh kristal ungu itu, gelombang energi gelap meledak dari pusat ruangan. Seluruh Sektor 7 bergetar hebat. Di permukaan, para prajurit baru dan tim inti bisa merasakan tanah di bawah kaki mereka bergemuruh.
┌────────────────────┐
SINKRONISASI DIMULAI...
MENYERAP DARK MATTER CORE... 10%... 30%...
TUAN RUMAH MENGALAMI PENINGKATAN STATISTIK SECARA INSTAN! └────────────────────┘
Elara merasakan tubuhnya seperti terbakar, namun itu adalah rasa sakit yang menyenangkan. Kekuatannya berlipat ganda. Ia melihat Leonard sedang kesulitan menahan serangan bertubi-tubi dari Prototipe 0-X yang memiliki kemampuan regenerasi luar biasa.
"Leo, mundur!" teriak Elara.
Mata Elara kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, memancarkan aura kehancuran yang murni. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah makhluk itu.
"GRAVITY PRESS: SINGULARITY!"
Bukan lagi sekadar tekanan dari atas, kali ini Elara menciptakan sebuah titik gravitasi di tengah tubuh makhluk itu yang menarik segala sesuatu di sekitarnya ke dalam. Makhluk itu melolong kesakitan saat tubuhnya mulai melipat dan menyusut, tertarik oleh kekuatan tarikan internal yang tak masuk akal.
KRETEKKK... CRASHHH!
Dalam hitungan detik, Prototipe 0-X yang tadinya begitu perkasa hancur menjadi seukuran bola tenis, lalu lenyap menjadi abu. Ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan Elara yang berdiri dengan napas teratur dan energi yang meluap-luap.
Elara menoleh ke arah Leonard yang menyarungkan kembali pedangnya dengan napas sedikit terengah. "Kau tidak apa-apa, Leo?"
Leonard tersenyum bangga, meski ada sedikit memar di lengannya. "Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya istriku baru saja menjadi dewi kematian."
Elara berjalan keluar dari ruangan rahasia itu, membawa kristal ungu yang kini telah meredup karena sebagian energinya telah menyatu dengan sistemnya. Saat mereka kembali ke lantai atas, seluruh personel Sektor 7 sudah berlutut di koridor, dipimpin oleh perwira tadi. Mereka telah melihat melalui layar monitor bagaimana Elara menghancurkan monster yang selama ini menjadi mimpi buruk pangkalan tersebut.
"Kami tunduk pada Anda, Nona Elara," ujar perwira itu dengan suara gemetar. "Sektor 7 adalah milik Anda."
Elara menatap barisan tentara itu. "Arkan, mulai proses registrasi dan penanaman chip loyalitas pada setiap orang di pangkalan ini. Herra, amankan gudang persenjataan berat. Besok, kita akan mulai membersihkan kota ini secara total."
Ia berjalan menuju balkon utama pangkalan, menatap hamparan dunia yang hancur di bawah sinar rembulan. Dengan Sektor 7 di tangannya dan energi Materi Gelap di tubuhnya, Elara bukan lagi sekadar penyintas. Ia adalah awal dari tatanan dunia baru.
"Kiamat ini... baru saja menjadi sangat menarik," bisik Elara dengan senyum tipis yang mempesona sekaligus mengerikan.
[PROGRES KEKUASAAN: 85% - SEKTOR 7 SEPENUHNYA TERINTEGRASI]
[LEVEL TUAN RUMAH: 15 (UPGRADED BY CORE)]
[MISI BERIKUTNYA: PEMBERSIHAN KOTA & EKSPANSI KEKAISARAN]
Bersambung🧟♀️🧟♀️🧟♀️
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥