NovelToon NovelToon
SOUL POWER MANIFESTASI

SOUL POWER MANIFESTASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: vheindie

Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.

Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.

Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.

Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suara mendesing...

"Yang dikatakan pak kusir benar!" Seru seseorang tiba-tiba mendarat di depan Vincent. Kemudian dia memeriksa keadaan Zendaya sebelum berbalik menatap pada pemuda asing yang telah mengalahkan putra dari penguasa salah satu distrik kota Lin Fei.

"Segara bawa dia!" perintahnya dan tanpa disuruh dua kali, para pengawal Zendaya membawa pergi tuan mereka.

"Komandan penjaga kota!"

"Kesatria bintang enam!" Seru Yu Shan dan lainnya.

'Spirit tingkat lima ya.' Vincent menatap balik.

'Badjingan ini, sorot matanya tidak ada rasa takut sama sekali.' Ungkap komandan penjaga tersebut. Ia merasa dirinya lah yang harus berhati-hati dan tidak gegabah padanya.

"Anak muda! Jika kau hanya ingin membuat onar di kota ini, aku sarankan lebih baik segera angkat kaki saja dari sini."

"Kenapa anda tidak menanyakan hal yang sama pada orang yang tiba-tiba mau membunuhku. Anda adalah seorang penjaga keamanan, mentang-mentang dia anak orang penting anda melakukan pengecualian padanya. Aku penasaran bagaimana kalau penguasa kota mengetahui sikap kesatria yang dia percaya sebagai komandan keamanan melakukan tindakan yang tak adil," ujar Vincent membela diri. Bagai kena skakmat, komandan penjaga kota terdiam mendengar perkataannya.

Vincent sama sekali tidak takut pada siapapun sejak kekuatannya tumbuh secara signifikan, dia merasa kepercayaan diri tentang kekuatannya semakin meningkat. Dia tidak ingin menjadi dirinya yang dulu, Vincent yang selalu ditindas oleh orang lain dengan gampangnya.

"Maafkan aku komandan Zayn, semua ini salahku. Ia tidak tau tentang peraturan kota ini selama turnamen berlangsung," ujar Shui menghampiri kesatria bintang enam tersebut.

Kesatria bintang bernama Zayn melirik memperhatikan Shui. Raut wajahnya yang mengeras langsung berubah cerah dan tertawa. "Oh Dik Shui! Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu? Kau semakin cantik saja."

"Kabarku baik-baik saja paman Zayn," jawab Shui yang ternyata masih punya hubungan dekat dengan komandan penjaga tersebut.

"Haha... Syukurlah, ayo ikut ke rumah. Bibimu pasti akan senang melihat kau datang mengunjunginya," ujar Komandan Zayn.

"Tetua, tuan muda Yu Shan. Izinkan Shui pergi bersamaku," lanjutnya.

"Oh iya silahkan!" jawab keduanya.

"Saya baru mengingatnya tuan muda. Lima tahun yang lalu dia adalah mantan penjaga di distrik kita dan menikahi gadis bernama Shuanger," bisik tetua klan pada tuan mudanya.

Yu Shan tersenyum mendengar fakta yang baru diketahuinya, ia berpikir setidaknya kesatria bintang tingkat atas tersebut bisa menjadi bekingan keluarga Yu selama berada di kota Lin Fei. Sebab dirinya masih punya hubungan dengan klan Yu dari jalur pernikahannya dengan bibinya Shui.

Sebelum pergi komandan Zayn menghampiri Vincent dan berkata: "Aku tahu kamu orang hebat, tapi bisakah kau menangani banyak ahli di kota ini? Karena ada aturan resmi menjelang turnamen. Barang siapa yang membunuh atau membuat onar sebelum turnamen beladiri dilaksanakan akan menjadi musuh bersama yang pantas untuk diburu oleh siapapun dan akan diberi imbalan bagi yang berhasil membunuh pelaku tersebut."

"Apakah kau mau seperti itu? Aku memperingatkanmu karena Shui begitu perhatian padamu," lanjutnya.

"Oh iya, jika memang kau masih belum puas memukul putra penguasa distrik Apung. Kenapa kau tidak daftar menjadi peserta saja." Komandan Zayn memberi saran sebelum pergi meninggalkan gerbang kota dan mengajak keponakan istri tercintanya itu.

"Oke pertunjukan sudah selesai! Semuanya bubar!" Teriak prajurit patroli yang baru tiba setelah masalah kelar.

"Maaf tuan, boleh tunjukan identitas anda?" Ucap prajurit keamanan.

"Baiklah, nih tuan prajurit." Vincent menyodorkan kartu nama yang baru dibuat tiga bulan yang lalu dan itupun berkat teman kecilnya yang mejadi penjaga gerbang masuk distrik tersebut.

"Distrik Durma? Be... Benarkah anda dari distrik Durma yang pernah terjadi insiden besar tiga bulan yang lalu?" Prajurit yang memeriksa kartu indentitas Vincent tergagap setelah mengetahui asal kampung halamannya.

"Iya benar saya berasal dari sana?" jawab Vincent.

"Eh maaf emangnya apa yang terjadi tiga bulan yang lalu pada kampung halaman saya?" Lanjutnya penasaran dengan insiden yang dimaksud si prajurit.

"Huh... Anda tidak tau meski berasal dari sana?" Prajurit satunya lagi ikut bertanya.

"Tidak... Karena saya sudah cukup lama pergi merantau dan belum pulang ke sana sejak kedua orang tua saya meninggal, memangnya ada kejadian apa?" Vincent pura-pura tidak tau. Padahal tiga bulan yang lalu dirinya memang ada di sana, meski ia melewatkan peristiwa besar setelah berhasil mengambil sebagian besar harta berharga di goa lumut.

"Karena ini menyangkut kampung halamanmu, aku akan menceritakan garis besarnya. Intinya distrik Durma telah hancur setelah pertarungan besar antara kesatria bulan yang bekerjasama dengan para tetua sekte kabut dalam mengalahkan monster binatang spiritual penguasa bukit goa lumut yang telah memusnahkan warga sana. jadi, yang tersisa setelah pertarungan besar hanyalah bukit itu sendiri dan telah menjadi lahan tambang dan zona terlarang bagi orang biasa," ungkap si prajurit.

***

Dua hari setelah tinggal di kota Lin Fei. Vincent terlihat antri di meja pendaftaran turnamen beladiri bersama ahli beladiri lain yang tidak dibawah naungan sebuah naungan klan atau sekte manapun.

"Biaya registrasi lima koin perak besar" ucap prajurit yang mengurus pendaftaran peserta melalui jalur independen.

"Kau berada di arena lima," jelas prajurit lain. Memang menurut peraturan turnamen bagi para peserta independen harus melewati lebih banyak fase dibandingkan peserta yang mewakili kerajaan, sekte, klan besar, serta keluarga pejabat. Para peserta independen dalam jumlah tertentu akan dikumpulkan disatu arena dan hanya satu orang yang bertahan berhak menantang para peserta bangsawan yang sudah menanti dibabak selanjutnya.

"Oke... Selanjutnya!" teriak prajurit setelah menerima uang pendaftaran dan memberikan kartu peserta pada Vincent.

"Mmm... Sisa uang pemberian tetua klan Yu sepertinya hanya cukup untuk seminggu ke depan," gumamnya saat memeriksa isi dompet. Ia sempat menyesal tidak menerima tawaran tinggal bersama mereka kalau ternyata hidup di kota besar macam kota Lin Fei butuh biaya tidak sedikit.

BRUGH

"Woi... Bocah kalau jalan pake mata!" Bentak pria bertubuh besar saat dirinya menyenggol Vincent dengan sengaja.

"Ah maafkan diri kawan," ucapnya santai.

"Hah maaf? Memangnya segala hal terselesaikan hanya dengan kata maaf?" Si tubuh besar menatap garang.

"Bos Wira, Lihat!" Seru anak buahnya saat melihat kertas peserta terjatuh dari saku Vincent.

"Oh kau juga seorang peserta ya?" Ujar Wira.

"Hmm... Body Strength tahap lima dan peserta arena lima ya?"

"Haha... Peserta selemah dirimu berada di arena yang sama denganku, sungguh nasibmu sangat buruk bocah." Wira tertawa puas diikuti sepuluh bawahnya.

"Maaf boleh kembalikan kartu itu?" Ucap Vincent mengabaikan nada sumbang kelompok tersebut.

"Wow... Sepertinya dia cukup punya nyali, lihatlah! Ia tidak takut sama sekali pada kita," seru si jambul merah yang maju menghampiri dari belakang.

"Eh dimana kertasnya?" Wira kaget saat melihat kertas yang ia pegang hilang tanpa disadarinya.

"Jambul kau yang ambil?!" Tanya Wira.

"Bukan bos... Sumpah deh kesamber geledek kalau saya yang ngambil, mungkin yang lain kali? jawab si Jambul ketakutan.

Tanpa disadari Vincent pergi mengabaikan kelompok Wira yang saling menuduh, ia tidak ingin terlibat dengan kelompok sok garang yang hanya membuat keributan tak jelas.

1
angin kelana
pengunaan istilahnya kek kurang masuk ke dunia kultivasi pakai istilah inggris.
vheindie19: Terimakasih kak untuk masukannya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!