Zalika Azzalea adalah gadis cantik yang berusia dua puluh dua tahun, dirinya memutuskan untuk menikah dengan sang kekasih Arga Pramana diusia muda dengan harapan sebuah kebahagiaan
Pil pahit harus ia telan, karena pernikahan tak berjalan seperti yang dirinya impikan. mimpi sederhana untuk biduk rumah tangga yang sempurna nyatanya harus ia kubur dalam-dalam
Pernikahan yang hanya berlangsung tiga hari itu berakhir dengan menyisakan trauma mendalam, mengubah gadis ceria menjadi seorang yang takut akan cinta
Akankah ada pria yang dikirim tuhan untuk menyembuhkan lukanya? lalu Cinta yang akan memberinya kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
"Apa saya boleh pulang?" Zalika hanya berharap jika keluarga nya tidak tahu tentang keberadaannya disini
Jika itu terjadi bisa dipastikan bahwa sang ayah akan melarang dirinya untuk bekerja dengan segera
"Saya akan tanyakan pada Mala dulu!"
Pintu kaca tersebut dibuka, seorang pria berbadan tegap masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun
"Zalika"
Tubuh Jefry bahkan mundur beberapa langkah saat pria tampan itu melangkah dan memeluk tubuh gadis cantik itu
Raut kekhawatiran terlihat jelas dari wajahnya, Jefry dibuat bertanya-tanya tentang siapa pria yang tengah memeluk sekertaris nya ini
"Kamu baik-baik saja? Ada apa sebenarnya!"
Tangan Jefry mengepal saat pria itu dengan lancang menangkup kedua pipi Zalika lalu mendaratkan satu kecupan lembut dipuncak kepalanya. Hal yang sejak tadi ingin ia lakukan namun tak bisa
"Sial. Ada berapa banyak lagi pria yang harus aku singkirkan jika ingin bersama Zalika!" Batin Jefry
"Aku nggak pa-pa kok bang!" Jawab Zalika
Apa hubungan keduanya sebenarnya? Bahkan gadis itu tampak nyaman dalam dekapan pria itu
"Abang ketakutan, dokter Mala bilang kamu pingsan!"
Mala memang mengabari Akbar bukannya Zayyan, pria itu akan lebih tenang dibandingkan ayah dari gadis itu pikir Mala
"Ayah nggak tau kan kalau aku disini?" Hal yang paling ia takuti adalah jika sang ayah mengetahui keadaannya
Akbar menggeleng "Abang nggak ngasih tau ayah"
"Terima kasih bang!" Sekali lagi Zalika membenamkan diri dalam pelukan pria itu, semua itu tak luput dari perhatian Jefry yang tengah terbakar
"Abang ketemu dokter Mala dulu!" Pamit Akbar pada sang adik, lalu ia menatap kearah pria yang juga berada diruang perawatan tersebut
"Dia atasannya Zalika dikantor!" Mengerti akan tatapan sang kakak, gadis itu segera menjelaskan siapa Jefry
Akbar lalu tersenyum kearah Jefry, dan tanpa mengatakan apapun pria itu meninggalkan ruang perawatan guna mendengar langsung penjelasan dari dokter tentang kondisi sang adik
Jefry duduk disisi tempat tidur tepat dihadapan Zalika, keduanya saling menatap tanpa mengeluarkan suara
"Dia siapa?" Setelah beberapa saat diam, Jefry mulai bertanya
"Dia bang Akbar, kakakku!" Ada perasaan lega saat gadis itu mengatakan jika pria tampan yang tadi memeluknya adalah seorang kakak
"Syukurlah!"
"Tuan mengatakan sesuatu?" Zalika mendengar jika tuannya itu tengah bergumam
"Tidak ada, kamu istirahat saja dulu!"
"Aku ingin segera pulang!" Zalika memang tidak begitu menyukai rumah sakit
"Sabar sedikit dulu"
Tak lama Akbar kembali, pria itu menghampiri sang adik yang masih duduk diatas ranjangnya
"Gimana bang?" Tanya Zalika tak sabaran
"Kamu boleh pulang sekarang, nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi!" Jelas Akbar, dirinya telah bicara dengan Mala selaku dokter
"Biar saya antar!" Jefry menawarkan diri
"Tidak perlu, Zalika akan pulang bersama saya!" Jika saja pria didepannya ini bukan kakak dari gadis pujaannya, maka Jefry sudah akan menghajar wajah tampannya itu
"Tapi dia kesini bersama saya!" Keukeh Jefry
"Saya akan pulang dengan bang Akbar saja, tuan. Terima kasih karena sudah membawa saya kesini!"
Jefry hanya bisa setuju jika Zalika yang mengatakannya. Dirinya tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman
"Baiklah!"
"Ayo dek!" Bahkan Jefry hanya bisa puas dengan melihat bagaimana cara Akbar memperlakukan adiknya
Zalika berjalan dengan dibantu sang kakak, sementara Jefry mengikuti dibelakang
"Sekali lagi terima kasih tuan!" Ucap Zalika tulus
"Sudah kewajiban saya Zalika" Jefry tersenyum "Oh iya, saya sampai lupa!"
Pria itu membuka pintu mobil bagian belakangnya lalu menyerahkan Tote bag milik Zalika yang tadi tanpa sengaja ia tinggalkan di dalam mobil
"Terima kasih tuan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tuan Jefry tidak ada!"
"Berhenti mengucapkan terima kasih, dan kamu boleh istirahat beberapa hari, saya akan serahkan pekerjaan kamu pada Gavin selama kamu cuti!"
Keduanya masih berbincang diluar sementara Akbar menunggu didalam mobilnya
"Tapi saya baik-baik saja tuan!"
"Jangan membantah Zalika, kamu harus banyak istirahat!"
"Saya pamit dulu tuan!" Gadis itu menundukkan kepalanya lalu masuk kedalam mobil mewah milik sang kakak
"Kakaknya terlihat bukan orang sembarangan, wajahnya juga seperti familiar!" Gumam Jefry saat kendaraan roda empat itu menjauh dari area rumah sakit
Tak ingin pusing, pria tampan itu segera masuk kedalam mobilnya dan melaju meninggalkan tempat tersebut, dirinya juga harus kembali kekantor guna menyelesaikan pekerjaan nya
***
"Kamu memiliki hubungan dengan atasan kamu itu?" Tanya Akbar pada sang adik
"Nggak ada kok bang, tuan Jefry itu cuma atasan aku aja bang, nggak lebih!" Jawab Zalika
"Dia sepertinya suka sama kamu!" Tebak Akbar
Sebagai seorang pria, Akbar jelas tau arti dari tatapan yang diberikan pria bernama Jefry itu pada adik perempuannya itu
"Nggak mungkin bang, tuan Jefry itu sudah punya calon istri!" Gadis itu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang kakak yang menurutnya melantur
Setelah tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Akbar tiba dikediaman Dhirgantara
Hari masih cukup siang, hingga membuat Tari bertanya ada apa hingga sang putri pulang lebih awal
"Kamu sakit?" Tanya Tari, wanita itu bahkan meletakkan punggung tangannya di kening sang putri
"Aku nggak pa-pa kok mah!" Jawab Zalika
"Terus kenapa kamu pulangnya cepet kalau nggak ada apa-apa?"
Kedua Kakak beradik itu saling menatap membuat Tari curiga
"Ada apa Akbar?" Pria itu tersikap saat tatapan penuh curiga diberikan sang mama padanya
"Zalika sedikit tidak enak badan, mah!" Ujar pria itu sedikit berbohong, tidak sepenuhnya karena memang Zalika tidak sehat
"Ada apa? Apa yang sakit sayang? Kita kerumah sakit ya!" Tari benar-benar dibuat khawatir atas keadaan putrinya. Beruntung Zayyan belum kembali dari kantor nya
"Aku udah nggak pa-pa kok mah!" Ujar Zalika meyakinkan wanita yang merupakan ibunya itu
"Terus kenapa kamu bisa sama Akbar?"
"Tadi aku yang kabarin bang Akbar supaya jemput aku dikantor, kebetulan bang Akbar juga lagi ketemu klien nggak jauh dari kantor nya Zalika!" Dusta gadis cantik itu dan Akbar hanya mengangguk mengiyakan
"Zalika mana kak?" Baru saja tiba di ruang kerjanya, Jefry dikejutkan dengan keberadaan sang adik yang ternyata masih setia menunggu di sana
"Udah pulang!" Jawab Jefry singkat
"Kok pulang? Tadi kan ikut kak Jef meeting!" Leon tidak percaya ini, dirinya menunggu selama berjam-jam dan sang bidadari telah pulang? Rasanya jahat sekali
"Dia lagi nggak enak badan!" Jefry tidak mengatakan yang sebenarnya
Kenyataan tentang pernikahan Zalika, serta penyakit yang ia derita biarlah menjadi rahasia untuk Jefry
"Zalika sakit? Sekarang dimana dia, rumah sakit mana kak?" Leon yakin jika gadis incarannya berada dirumah sakit
"Dia nggak dirumah sakit Leon, tadi kakaknya Dateng buat jemput dia!"