Berniat liburan di Pantai, Nara malah harus bertemu dengan seorang pria yang membuatnya mabuk berat dan akhirnya bermalam bersama. Semuanya terjadi begitu saja, dan keduanya hanya berpikir hanya untuk melakukan saat ini dan melupakan keesokan harinya.
Tapi nyatanya tidak seperti itu, pria itu malah muncul kembali sebagai anak pemilik Perushaan besar tempat dirinya bekerja. Entah harus bagaimana? Nara tidak akan bisa bersembunyi lagi darinya.
"Aku hanya seorang simpanan dan aku sadar tidak akan bisa memilikimu sepenuhnya" Anara Malika.
"Setelah malam itu, aku seperti orang gila yang tak bisa melupakanmu. Siapa kau, hingga membuatku tergila-gila seperti ini. Sayangnya takdir belum berpihak pada kita" Arya Zayyan Sugarda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Tidak Mungkin Dengan Maura!
Duduk di sofa yang berada di ruangannya, Ayah dan anak ini masih saling menatap. Seolah memang keduanya masih belum bisa untuk mengungkapkan kata-kata saat ini yang ingin memulai percakapan. Jelas sekali Zayyan juga merasa kalau saat ini Ayahnya sedang ingin membicarakan hal yang serius dengannya.
"Ada apa Pa?"
Papa menghembuskan nafas pelan, dia menatap anaknya dengan lekat. "Bagaimana Perusahaan selama Papa tinggalkan?"
"Aku tahu kalau bukan ini yang ingin Papa bicarakan denganku. Pak Gun juga pasti sudah melaporkan tentang perkembangan Perusahaan saat ini" ucap Zayyan.
Papa tersenyum tipis, memang cukup sulit mengelabui anaknya ini. Pantas saja dulu Zayyan bisa meraih mimpinya untuk menjadi seorang pembalap. Meski sekarang dia mulai mengubur kembali mimpinya itu, karena dia yang harus menggantikan Papa di Perusahaan.
"Papa tidak tahu sedang ada masalah apa diantara kamu dan Maura. Tapi, Papa berharap kalian tetap baik-baik saja"
Zayyan menghela nafas pelan, akhirnya pernikahan yang tidak sehat ini mulai diketahui oleh Ayahnya sendiri. Dan kali ini Zayyan tidak bisa untuk mempertahankan lagi semuanya. Dia sudah cukup lelah menunggu selama 5 bulan ini, mencoba untuk bersabar dan membuka kembali hatinya untuk Maura. Tapi nyatanya hatinya benar-benar sudah tertutup untuk istrinya itu.
"Karena Papa sudah bertanya duluan, sekarang aku bicara jujur saja. Aku sudah tidak mungkin dengan Maura Pa, kami sudah tidak sejalan lagi"
Papa menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia sudah mulai menduga semua ini. Setiap dia mendengar dari Pak Gun, maka dia tahu jika pernikahan anaknya sudah tidak baik-baik saja.
"Apa tidak bisa diperbaiki lagi? Kalian menikah baru satu tahun lebih, apa harus memutuskan untuk berpisah dalam waktu sesingkat ini?" tanya Papa, masih berharap untuk anaknya mempertahankan pernikahannya.
Zayyan menggeleng pelan, memang dia sudah tidak ada kemungkinan lagi untuk terus bersama dengan Maura. "Kami sudah tidak mungkin, Pa. Aku akan bicara berdua dengan Maura nanti, biarkan aku mencoba untuk berbicara tenang dengannya sebelum melibatkan Papa dalam urusan pernikahanku ini"
Papa menghembuskan nafas pelan. "Zayyan, sebenarnya Papa tidak pernah setuju jika kamu harus bercerai dengan Maura. Kamu tahu sendiri hutang budi yang kita punya pada keluarga Maura. Jika memang Maura tetap tidak ingin berpisah secara baik-baik denganmu, maka jangan paksakan kehendakmu itu. Papa malu dengan Ayahnya Maura"
Zayyan tidak menjawab lagi, karena meski dia menceritakan tentang perselingkuhan Maura dan temannya sendiri, tentu saja Papa tetap akan mengatakan hal sama. Akan selalu membahas tentang hutang budi yang keluarga mereka miliki pada keluarga Maura.
Papa berdiri dari duduknya, mengancingkan jasnya. "Papa setuju dengan keputusan kamu untuk bekerjasama dengan Perusahaan Tuan Hadnan lagi. Memang proyek mereka ini cukup bagus"
Zayyan hanya mengangguk saja, memang dia sudah mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan kerjasama dengan Perusahaan Tuan Hadnan di Luar Kota. Karena memang proyek itu akan cukup menguntungkan.
"Iya Pa, mulai sekarang Papa ke Kantor seperlunya saja. Kalau ada apa-apa, aku pasti akan bicarakan pada Papa. Sekarang biarkan aku yang mengelola Perusahan, lagian Papa juga sudah harus banyak istirahat" ucap Zayyan.
Papa tersenyum bangga pada anaknya itu, dia menepuk bahu Zayyan dengan penuh rasa bangga. "Terima kasih Nak, oh ya minggu depan adikmu akan pulang selama libur semester"
"Ya, aku sudah tahu. Dia sudah menghubungiku kemarin. Nanti aku akan menjemputnya" ucap Zayyan.
Papa hanya mengagguk saja, lalu dia segera keluar dari ruangannya yang sekarang sudah menjadi ruangan anaknya. Dia tersenyum pada Nara yang langsung berdiri dari duduknya dan mengangguk penuh hormat saat Papa keluar dari ruangan.
"Semoga kamu betah dengan Bos barumu itu ya. Jangan heran, Zayyan memang mewarisi sifat mendiang Kakeknya. Dia sedikit arogan dan dingin"
Nara hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Edgar barusan. "Baik Pak, saya akan berusaha menyesuaikan. Semoga hari-hari Pak Edgar tetap menyenangkan"
Pak Edgar tersenyum, dia memang cukup puas dengan kinerja Nara yang sudah menjadi Sekretarisnya sejak dua tahun yang lalu.
"Baiklah, kalau begitu semangat bekerjanya" ucap Pak Edgar.
Nara hanya tersenyum dan mengangguk, dia menatap punggung Pak Edgar yang menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu lift yang tertutup. Nara langsung duduk kembali dengan menghembuskan nafas lega.
"Ah, aku takut sekali barusan. Bagaimana kalau Pak Edgar sampai tahu aku ada hubungan dengan anaknya selain atasan dan bawahan. Ah, dia pasti terkejut sekali"
Nara mengerutkan keningnya sendiri, dia jadi berpikir tentang anak-anak Pak Edgar yang memang belum pernah ter-post dimana pun. Membuat dia merasa bingung kenapa Pak Edgar harus menyembunyikan anak-anaknya.
Ketika Nara pernah iseng mencari pencarian tentang Edgar Sugarda, yang muncul itu tentang Perusahaan yang semakin melesat di dunia bisnis. Dan hanya dalam artikel yang di tuliskan kalau Pak Edgar itu mempunyai dua anak. Tapi foto dan namanya saja tidak pernah ada di laman pencarian. Benar-benar sangat di privasi untuk anak-anaknya itu. Makanya Nara tidak pernah tahu kalau Zayyan memang anaknya Pak Edgar. Kalau tahu, mana mungkin dia akan melakukan malam di Pantai saat itu.
"Ish, ngapain juga aku memikirkan tentang keluarga mereka. Jelas keluarga ini sudah terkenal sejak Kakeknya Zayyan. Kenapa juga aku memikirkan urusan orang kaya, lagian terserah mereka mau mempublikasikan atau tidak"
Nara menghembuskan nafas kasar, dia mengambil berkas yang harus dia serahkan pada Zayyan hari ini. Berdiri dan langsung masuk ke dalam ruangan Zayyan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dan Zayyan yang juga sudah mengizinkannya masuk.
Zayyan yang masih duduk di sofa dengan segala pemikirannya, langsung tersenyum saat melihat Nara yang masuk ke dalam ruangannya.
"Sini dulu Sayang" ucap Zayyan sambil menepuk pahanya sendiri.
Nara tahu apa yang di inginkan oleh Bos sekaligus kekasihnya itu. "Ini di Kantor Pak, saya kesini untuk memberikan berkas ini. Tolong di tandatangani dulu"
Zayyan tersenyum tipis, tanpa menghiraukan ucapan Nara yang membahas pekerjaan itu, Zayyan malah meraih tangan kekasihnya dan menariknya hingga Nara benar-benar jatuh di atas pangkuannya.
"Sayang ini di Kantor, kalau ada yang lihat bagaimana"
Nara yang merasa gugup dan cemas, dia ingin melepaskan diri dari pangkuan kekasihnya ini. Tapi dia tidak bisa, karena tangan Zayyan yang melingkar di perutnya dengan erat.
Zayyan mengecup pipi Nara dengan gemas. "Siapa yang akan melihat, kan kaca jendelanya saja sudah aku tutup. Tidak akan ada yang bisa melihat"
Nara menghela nafas pelan, dia tahu kalau sekarang seluruh kaca di ruangan Zayyan ini sedang dalam mode hitam, sehingga tidak akan tembus pandang dari luar. Tapi tetap saja dia merasa was-was.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, Sayang" ucap Zayyan sambil menyembunyikan wajahnya di leher Nara.
Nara hanya terdiam saja dengan tubuh yang cukup menegang. Apalagi ketika hembusan nafas Zayyan yang begitu terasa di kulitnya.
Apa dia sedang ada masalah ya?
Bersambung
TERPENJARA DENDAM PENGACARA LIN
💖💖💖💖💖
lanjut kak semangat 💪💪💪
lanjut kak semangat 💪💪💪
lanjut kak tetap semangat upnya 💪💪💪
semangat kak author 💪💪💪
semangat juga buat kak author buat upnya 💪💪💪