Novel ini penuh air mata ya say...kalau tidak kuat Melo, tinggalkan saja...!
Penolakan sang suami untuk mengakui keberadaan putranya membuat Adis menyerah. Ia harus membesarkan putra semata wayangnya seorang diri.
Namun penderitaan makin sempurna yang harus ia alami saat putranya di vonis dokter mengalami sakit jantung membuat ia harus berpikir keras untuk mencari uang tambahan.
"Ya Allah. Dari mana aku harus mendapatkan uang 500 juta dalam sebulan?" desis Adis sambil mengelus dadanya yang terasa sangat sesak lagi sakit.
Bagaimana kisah ini selanjutnya antara Adis, suaminya Panji serta putra mereka Rian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Keberatan
Tiba di tanah air, Adis benar-benar di kasih cuti dua hari oleh Galih sebelum mulai lagi aktivitasnya sebagai model di perusahaan pria tampan itu.
Adis memanfaatkan waktu dua hari itu untuk mendaftarkan putranya ke sekolah paud. Adis dan Dina mengantar Rian yang terlihat sangat bersemangat.
Ketiganya masih menggunakan taksi online untuk aktivitas mereka. Walaupun sebenarnya mereka bisa menggunakan motor namun mengingat Adis sekarang bukan lagi orang biasa membuat mereka memilih untuk lebih berhati-hati tampil di khalayak umum.
"Apakah itu sekolahnya, mama?" tanya Rian begitu mobil itu masuk ke area sekolah yang terlihat sangat mewah untuk anak-anak konglomerat.
"Apakah kamu suka, sayang?" tanya Dina membantu Rian turun dari mobil taksi itu.
"Sangat suka, tante," ucap Rian terlihat antusias dengan intonasi suara terdengar menggemaskan.
Rian digandeng oleh mamanya dan tantenya Dina menuju ke ruang kepala sekolah. Kedatangan kedua wanita cantik itu disambut baik oleh kepala sekolah. Penampilan Adis dan Dina tetap terlihat sederhana walaupun mereka bisa tampil seperti ala selebriti.
"Assalamualaikum..! Selamat pagi...!" sapa Adis dan Dina yang disambut salam oleh kepala sekolah.
Ketiganya dipersilahkan duduk di ruang tamu kepala sekolah yang bernama Bu Ninik. Rian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia menatap beberapa foto anak-anak berprestasi di sekolah itu.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Bu Ninik.
"Begini Bu, perkenalkan nama saya Adis dan ini putra saya Rian dan ini adik saya Dina." Rian menyalami ibu kepala sekolahnya.
"Putra saya ini ingin sekali cepat sekolah Bu. Apakah saya bisa menitipkan putra saya sekolah di sini sampai ada pendaftaran untuk tahun ajaran baru?" tanya Adis.
"Sebenarnya kami sudah membuka pendaftaran untuk tahun ajaran baru dari Januari kemarin Bu. Untuk langsung sekolah, boleh saja Bu. Tidak perlu menunggu tahun ajaran baru," ucap ibu Ninik.
"Tunggu sebentar...!" Bu Ninik mengambil berkas untuk Adis agar bisa mengisi biodata siswa baru.
"Ibu harus mengisi data siswa dan memenuhi beberapa dokumen pribadi siswa dan wali sebagai persyaratan untuk kepentingan sekolahnya Rian," ucap Bu Ninik.
Adis mengambil berkas itu dan melihatnya sebentar." Berarti berkas ini diserahkan bersama dokumen siswa yang dibutuhkan sekolah ini, Bu?" tanya Adis.
"Iya Bu."
"Kalau begitu kami pamit dulu Bu. Besok kami akan ke sini lagi untuk memenuhi administrasi nya," ucap Adis.
"Nanti Rian akan mendapatkan seragam sekolah dan perlengkapan lainnya setelah penyerahan berkas dan menyelesaikan transaksi administrasinya di sekolah ini," ucap ibu Ninik.
"Mama. Apakah Rian boleh melihat-lihat sekolah ini? Tadi Rian melihat ada siswa yang bermain piano. Rian ingin mencobanya, mama," pinta Rian.
"Besok saja ya sayang...! Jangan sekarang ya sayang. Rian boleh melakukannya jika Rian sudah diterima di sekolah ini dan pembayaran sekolah Rian sudah terpenuhi kewajibannya oleh mama," imbuh Adis memberi pengertian pada Rian.
"Baik mama." Rian tidak lagi memaksa mamanya.
"Sekolahnya sangat bagus dan terlihat disiplin. Semoga Rian betah sekolah di sini," ucap Dina.
"Aamiin." Adis meminta Dina untuk memesan lagi taksi online namun yang datang menjemput mereka adalah asisten Andre yang sudah tahu dari Dina kalau mereka sedang ke sekolah itu.
"Lho kok asisten Andre bisa tahu kita di sini?" tanya Adis.
"Aku hanya cerita kalau kita pagi ini mau ke sekolah ini. Tapi aku tidak meminta dia menjemput kita ke sini, Adis," gumam Dina takut diomelin oleh Adis.
Asisten Andre menghampiri ketiganya. Rian menyalami asisten Andre yang langsung mengelus puncak kepalanya Rian.
"Aku diminta tuan Galih untuk menjemput kalian karena suster Adis tidak boleh lagi naik taksi online demi kenyamanan model baru perusahaan kami," ucap asisten Andre.
Dina dan Adis saling menatap dengan wajah tercengang.
"Masa sampai segitunya permintaannya bos kamu, sayang," ucap Dina dan Adis hanya mengangkat kedua bahunya lalu buru-buru masuk ke dalam mobil mewah itu.
Melihat Adis dan Rian masuk ke mobil mewah itu tidak luput dari perhatian ibu Ninik yang tersenyum penuh makna.
"Walahhh....! Ternyata istri seorang bos to...? Aku kira orang biasa karena pakaiannya sederhana sekali tapi berani-beraninya sekolah di sini," ucapnya dengan cengkok Jawa yang kental.
Ia kembali masuk ke dalam ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di perusahaan Galih sedang berhadapan dengan beberapa klien yang sudah mengajukan jadwal untuk menggunakan jasa model iklan untuk produk mereka dan tentu saja itu adalah Adis.
"Saya akan bayar tiga kali lipat pada perusahaan anda jika nona Violin bersedia melakukan syuting iklan dengan penampilan yang cukup seksi," ucap salah satu klien yang meminta Adis mengenakan pakaian senam aerobik yang lumayan menantang.
Galih mengerutkan keningnya dengan rasa geram hingga ia ingin menampar wajah tuan Glen yang memang selalu meminta modelnya dengan mengunakan pakaian minim. Namun ia menahan diri dan mencari alasan untuk membungkam si tua bangka di depannya ini.
"Kalau tampilan dengan pakaian seperti itu, nona Violin akan menolaknya karena dia tidak ingin berpenampilan seksi. Cari saja model yang lainnya tuan," ucap Galih walaupun Adis tidak pernah bicara seperti itu.
Entah mengapa ia tidak rela tubuh Adis dieksploitasi di depan kamera demi sebuah produk yang akan mendobrak pasar.
"Jika anda ingin produknya tetap di tayangkan oleh nona Violin, saya yakin produk anda akan laku keras di pasar bisnis milik anda," ucap Galih menawarkan solusi yang lebih bijak pada tuan Glen yang berpikir sesaat.
"Baiklah. Jika produk baru aku ini tidak sesuai dengan ekspektasi, maka tuan Galih tahu resikonya bukan?" ancam tuan Glen dan Galih sedikitpun tidak bergeming dengan keputusannya.
"Saya yakin dengan kemampuan model baru yang kami miliki akan memberikan keuntungan berkali-kali lipat kepada perusahaan anda tuan Glen dengan tampilan yang tetap terhormat karena masyakarat Indonesia itu sudah sangat cerdas karena mereka melihat kualitas produk anda bukan tubuh wanita seksi sebagai model iklannya.
Masih banyak orang waras mencintai model-model yang sopan lagi berbakat di luar sana," imbuh Galih membuat tuan Glen menarik sudut bibirnya sinis.
"Ok. Saya terima tantangan anda," ucap tuan Glen seraya menyodorkan tangannya sekaligus pamit pada Galih yang tetap memperlihatkan wajah datar seperti biasanya pada orang lain namun tidak pada Adis dan Rian.
Sepeninggalnya tuan Glen dan klien lainnya, datang lagi klien yang lain yang diberitahu oleh sekertaris Afya.
"Tuan. Ada klien lain yang ingin bertemu dengan tuan," ucap sekertaris Afya dari seberang telepon.
"Siapa Afya?"
"Tuan Panji dan asistennya tuan Rendy."
Deggggg....
"Astaghfirullah halaziiim. Kenapa harus bertemu lagi dengan orang itu. Rasanya aku ingin memutuskan kontrak kerjasama dengannya," kesal Galih.
"Bagaimana tuan?"
"Ok. Suruh dia masuk." Galih terpaksa menerima kedatangan Panji.
Di unit apartemen milik Adis, asisten Andre memberikan beberapa paper bag kepada Dina dan Adis secara terpisah.
"Ini untuk kalian dari saya dan tuan Galih." Menyerahkan sepuluh paper bag itu pada kedua wanita cantik itu.
Dina segera melihat salah satu isi paper bag itu hingga membuat ia menjerit kesenangan.
"Masya Allah. Ini tas yang kemarin aku taksir. Baby ini kamu sengaja beli semua ini untukku?" tanya Dina terharu.
Jika Dina terlihat sangat antusias dengan barang mewah nan branded dari sang kekasih namun tidak dengan Adis yang melihat barang-barang mewah itu terlihat begitu syok.
"Ya Allah. Apa maksudnya tuan Galih membelikan barang ini semua yang harganya sudah mencapai satu unit rumah mewah di Jakarta," batin Adis.