Siti yang begitu ingin menutup mata batinnya agar bisa mendapatkan keturunan justru bertemu dengan seorang dukun yang justru memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan sesuatu.
Sang dukun bukannya mengobati Siti justru menikahkan Siti dengan puluhan makhluk gaib hingga membuat Siti sakit-sakitan.
Selama bertahun-tahun Siti menderita penyakit aneh dimana tak seorangpun yang mampu mengobatinya.
Berbagai pengobatan medis dan non medis sudah ia lakukan namun penyakitnya tak kunjung sembuh.
Apakah Siti akan menemukan seseorang yang akan menyembuhkannya, dan mendapatkan keturunan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Melati dan 7 Mawar
Semilir angin malam sedikit menghalau peluhku. Rasa takut masih menghantui ku, meskipun aku sering melihat berbagai wujud makhluk astral namun tetap saja rasa takut itu tetap ada.
*Tak, tak, tak!
Ku dongakkan kepalaku saat seorang mengulurkan telapak tangannya.
"Mas Bimo,"
Lega rasanya saat melihat dia mencari ku.
Ku raih jemari Mas Bimo. Ia kemudian mengajakku pergi. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi bebatuan dengan pohon-pohon besar menjulang di kanan dan kirinya.
Sejenak aku merasa ini bukan jalan depan rumah kami. Entah kemana Mas Bimo akan membawaku. Tapi aku hanya menurut dan mengikutinya tanpa banyak tanya.
Cukup lama kami berjalan hingga kedua kakiku mulai merasa lelah.
"Sebenarnya kita mau kemana Mas?" tanyaku berharap Mas Bimo berhenti sejenak untuk istirahat.
"Jangan banyak tanya," jawab Mas Bimo kembali menarik lenganku
"Tapi aku capek Mas, bisa kita istirahat sejenak, kakiku udah mati rasa," keluhku
Mas Bimo seolah tak mendengar ucapan ku, dia terus berjalan bahkan melepaskan genggaman tangan ku.
Suara binatang malam yang bersahutan membuat bulu kudukku berdiri. Aku segara berlari mengejar Mas Bimo yang sudah jauh meninggalkan aku. Meskipun tergopoh-gopoh akhirnya aku bisa mengejarnya juga.
Mas Bimo menghentikan langkahnya di depan pohon besar.
Ia kemudian menarikku dan menyuruhku untuk duduk bersimpuh. Tidak lama seorang pria muncul dari balik pohon.
Mas Bimo kemudian membungkuk memberi hormat. Aneh, bukankah Mas Bimo tidak bisa melihat makhluk gaib, tapi kenapa sekarang dia bisa melihatnya.
Bahkan ia bisa berinteraksi dengannya.
Apa dia selama ini diam-diam berguru tanpa sepengetahuan ku. Ah aku tidak suka.
Ia kemudian menyuruhku untuk berdiri dan menyerahkan aku kepada makhluk itu.
Ada apa dengan Mas Bimo?
Aku tak percaya dia menyerahkan aku kepada makhluk itu demi sebuah benda pusaka.
Ia kemudian meninggalkan aku setelah mendapatkan sebuah kujang dari pria itu.
Ia bahkan pergi meninggalkan aku setelah menerima benda pusaka itu dari pria itu.
"Mas Bimo!"
Ia tetap berlalu meskipun aku terus memanggilnya.
Saat aku hendak menyusulnya, pria itu langsung menarik ku.
"Mas Bimo tolong!"
Aku berteriak sekeras-kerasnya berharap Mas Bimo mendengar dan segera menolong ku.
Tapi sepertinya ia sama sekali tak bergeming mendengar teriakan ku. Mas Bimo terus berjalan hingga punggungnya menghilang di kegelapan malam.
Lelaki itu menyeret ku kesebuah tempat tempat yang gelap gulita.
Tak ada penerangan apapun hingga aku beberapa kali terjatuh saat memasuki tempat yang lebih mirip dengan gua itu.
Makhluk itu kemudian menyuruhku duduk di atas batu besar.
Tak lama terdengar suara gelak tawa seseorang yang begitu familiar.
Meski tak bisa melihat wajahnya namun aku bisa mengenal lelaki itu dari aroma tubuhnya.
Wangi melati bercampur mawar.
Ki Wage, tak salah lagi itu pasti dia.
Ia menyeringai menatapku.
"Kau takan pernah bisa lepas dariku Neng, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu, hahaha!"
Tiba-tiba aku merasakan sesak, leherku seperti tercekik hingga membuat ku tak sadarkan diri.
"Neng bangun, Neng!"
Sayup-sayup ku dengar suara Mas Bimo membangunkan aku.
"Kamu mimpi buruk ya?" tanya Mas Bimo mengusap peluhku
Aku menggeleng pelan.
Syukurlah, hanya mimpi. Namun kenapa terasa begitu nyata. Bahkan kakiku masih terasa capek seolah aku benar-benar habis berjalan jauh.
"Jam berapa Mas?"
"Jam 8 Neng,"
"Rupanya aku bangun kesiangan,"
"Makanya jangan tidur terlalu larut, jadi kesiangan kan. Sebaiknya kamu mandi, biar seger,"
Aku mengangguk dan segera menuju ke kamar mandi.
Sementara itu Mas Bimo menuju ke dapur. Sepertinya ia sedang memasak sarapan.
*Byuurr!!
"Segar sekali,"
Entah kenapa rasanya begitu segar saat ku siramkan air ke atas kepalaku.
Rasanya begitu sejuk hingga aku betah berlama-lama di kamar mandi.
Dan karena begitu segarnya hingga aku memutuskan untuk berendam di bathtub.
Sudah lama aku tidak merasakan kesegaran seperti ini. Ke pejamkan mataku dan perlahan ku benamkan tubuhku kedalam air.
Hidungku tiba-tiba mengendus aroma wangi melati. Saat ku keluar dari bathub tiba-tiba ku lihat banyak bunga melati di atas air. Padahal sebelumnya tidak ada bunga melati.
Buru-buru ku kumpulkan bunga itu dan ku buang ke tempat sampah.
Namun baru aku akan mencelupkan kakiku kedalam bathub, kembali ku dibuat tak percaya saat melihat beraneka ragam kelopak bunga tujuh mawar yang berbeda jenis .
Tujuh mawar, jumlahnya sama persis seperti yang dulu ku bawa saat ritual ke Gua Cirengganis.
Bahkan Merah, putih, pink, biru, kuning, hitam, dan nila. Bahkan tak ada satupun warna yang berbeda.
Ku rasakan bulu kudukku berdiri, hingga reflek menoleh ke belakang.
Tak ada siapapun di sana kecuali suara keran air yang masih mengucur.
Segera ku ambil handuk untuk menutupi tubuhku. Ku matikan keran air dan segera keluar dari kamar mandi. Selesai berganti pakaian aku segera keluar menuju ke dapur.
Dengan ramah Mas Bimo mengajakku sarapan.
"Makan yang banyak ya biar cepat naik berat badannya,"
"Iya Mas,"
Meskipun aku tak berselera makan, namun untuk menghargai usaha Mas Bimo yang sudah mempersiapkan sarapan aku harus menghabiskan semangkuk bubur ayam buatannya.
"Gimana rasanya?" tanyanya begitu antusias
"Lumayanlah,"
"Tapi aku senang kamu mau menghabiskan bubur buatan ku, oh ya tadi Aki Lingga mengundang kita ke rumahnya,"
"Yaudah kita kesana sekarang saja, lagian ada yang ingin aku tanyakan padanya,"
"Ok, kalau begitu aku siap-siap dulu,"
Pukul sebelas siang kami tiba di kediaman Aki Lingga.
Sepertinya dia sudah menunggu kedatangan kami hingga langsung mengajak kami ke beranda rumah.
Kami berbincang santai di sana ditemani ketiga makhluk gaib yang selalu menjaga Ki Lingga.
"Sekarang ceritakan apa yang kamu alami semalam?" tanya Ki Lingga seolah sudah tahu jika semalam aku diteror oleh sosok Parewangan milik Ki Wage.
Ku ceritakan semua yang ku alami semalam kepadanya. Termasuk kejadian yang ku alami pagi tadi sebelum aku berangkat ke rumahnya.
"Jadi gimana Dad?" tanya Ki Lingga
Om Rangga tampak seperti menghitung sesuatu.
"Apa sebelumnya kau pernah melakukan ritual di suatu tempat menggunakan syarat melati dan tujuh mawar?" tanya Om Gilang
Aku mengangguk.
"Sepertinya ini sebuah petunjuk,"
"Angka tujuh berarti angka keberuntungan atau Angel number. Namun dalam dunia mistis atau supranatural angka tujuh bisa berarti kamu akan mendapatkan sesuatu yang berharga setelah kau bertemu dengan sosok makhluk gaib terkuat yang bakan meneror mu," terang Om Rangga
"Untuk apa mereka meneror ku Om?"
"Karena kau sudah mengambil sesuatu yang berharga darinya?" jawab Om Rangga
"Tapi aku tidak pernah mendapatkan apapun setelah ritual itu. Aku masih belum punya anak dan juga aku masih bisa melihat makhluk gaib,"
Ku lihat semua orang tampak berpikir keras memecahkan misteri ini.
Namun disaat semuanya tengah mencari tahu apa pesan dari mimpiku itu tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti berat hingga semuanya terlihat gelap.