Dipusingkan oleh pekerjaan, membuat Dakota Cynthia Higgins melampiaskan rasa lelah dengan bersenang-senang di club malam bersama teman. Dia yang sedang mabuk pun ditantang untuk menggoda seorang pria yang tak lain adalah Brennus Finlay Dominique.
Dalam kondisi terpengaruh alkohol, mabuk berat hingga kehilangan akal sehat, Dakota sungguh merayu Brennus hingga terjadi satu malam penuh tragedi. Padahal sebelumnya tak pernah melakukan hal segila itu dengan pria manapun.
Ketika sadar, Dakota benar-benar menyesal. Bukan akibat kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, tapi karena pria itu adalah Brennus, salah satu keturunan Dominique. Di matanya, keluarga itu memiliki sifat menyebalkan.
Brennus berusaha untuk menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi malam itu, tapi ternyata Dakota tidak menginginkan hal serupa. Wanita itu sudah anti dengan keluarga Dominique.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Dakota merasa setiap hari adalah mimpi buruk karena lagi-lagi Brennus berkeliaran di depannya. Padahal sudah jelas ia katakan kalau tidak perlu bertanggung jawab. Tidak ada tuntutan apa pun. Dan lebih baik jika ada jarak membelenggu seperti biasa. Hidup normal tanpa menghantui ketenangan sedikit pun.
Kini setiap hari Dakota harus melihat wajah Brennus karena pria itu menguasai ruang kerja bosnya. Entah kenapa Aloysius tiba-tiba meminta bantuan keluarga. Padahal pekerjaannya juga setiap hari masih bisa diselesaikan walau jarak jauh.
“Sumpah ... menyebalkan sekali lebah satu itu,” gerutu Dakota saat berada di dalam lift sendirian.
Biasanya berangkat ke kantor adalah hal paling disukai dan pasti semangat mengais rezeki. Namun, kini tidak lagi. Dakota benci karena harus bertatapan dengan Brennus.
Seharusnya cukup diribetkan satu orang dari keluarga Dominique. Sekarang bertambah lagi.
Lift menunjukkan angka sembilan, satu lagi sampai tujuan. Dakota menyempatkan menarik napas sedalam mungkin supaya kesabaran bertambah. Tepat pintu terbuka, ia hembuskan beriringan dengan kaki melangkah.
“Demi gaji besar, Dakota ... kau harus tahan.” Dia menguatkan diri sendiri supaya tak menyerah begitu saja.
Tiba di depan ruang bosnya, kepala wanita itu menengok ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu. Seperti ada yang berbeda. Terasa aneh. Tapi apa?
“Ah ... di mana meja kerjaku?” Setelah menyadari tidak ada barang-barangnya, Dakota pun lekas mencari.
“Jangan-jangan ada yang mencuri? Memangnya laku dijual berapa meja dan kursi begitu?” gumam Dakota seraya menyusuri tiap ruangan yang ada di lantai itu.
Brennus baru sampai di kantor kembarannya. Langsung melihat wajah kebingngan wanita incaran. Kaki tentu saja tertarik untuk mendekati. “Mencari apa?”
“Meja dan kursi kerjaku,” jawab Dakota tanpa menatap orang yang bertanya, karena tahu itu suara Brennus.
“Oh ... sini ku tunjukkan.” Brennus menarik pergelangan tangan Dakota dan sedikit menyeret agar mengikuti langkahnya.
Dakota perlu berdecak berkali-kali. Sialnya berurusan dengan keluarga itu. Selalu dipaksa. Bosnya tukang mengancam, yang kini bersamanya suka memaksa.
Sedikit terseok-seok karena roknya terlalu span dan heels sedikit kelonggaran. Jadi, Dakota harus menyeret kaki supaya sepatunya tidak mendadak lepas.
Brennus membuka pintu ruang kerja kembarannya. Masuk ke dalam. Lalu menunjuk sesuatu. “Ini dia yang kau cari.”
Bibir melongo, mata membulat, Dakota dibuat kehabisan kata-kata dengan tingkah pria yang sepertinya tidak waras itu. “Kenapa dimasukkan ke dalam sini?”
“Supaya saat aku bekerja bisa mudah melihatmu,” jawab Brennus sangat santai.
Pundak terasa ada yang menyentuh, Dakota sedikit didorong menuju kursi, dan didudukkan ke sana. “Mulai sekarang, kita satu ruangan. Tidak ada bantahan karena kini aku juga bosmu.” Ia tepuk puncak kepala sang wanita sebanyak tiga kali.
“Aku tidak nyaman satu ruangan bersama orang lain,” tolak Dakota. “Membuat pekerjaan menjadi kurang fokus,” imbuhnya. Siap untuk memindahkan kursi dan meja. Menarik benda itu sendirian juga kuat. Dia terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Pulang pergi ke desa tempat bosnya berada pun kuat. Apa lagi hanya memindahkan itu.
“Berani kau memindahkannya, ku nikahi kau sekarang juga!” ancam Brennus. Wajahnya tidak datar ada senyum miring, tapi justru menyebalkan di mata Dakota.
Berdecak, akhirnya Dakota kembali duduk dan menarik kursi sedikit ke depan, menyembunyikan kepala di balik monitor agar tidak terlihat oleh manusia yang sejak tadi mengamatinya.
“Kursiku jadi tak terasa nyaman lagi,” gerutu Dakota. Wajah cemberutnya semakin disinari oleh cahaya layar monitor yang baru saja menyala.
“Tidak nyaman? Sini, duduk di pangkuanku, pasti enak,” tawar Brennus. Kedua alis disentakkan ke atas seraya menepuk paha.
gass lah Brennus maju yrs jangan mundur takut nabrak.🤣🤣