Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Sudah
warning, ada adegan yang sedikit berbahaya di eps ini 🔥🔥🔥
***
Ray masih berdiri ditempatnya, menunggu Celine keluar dari kamar mandi. Gadis itu sengaja berlama-lama disana untuk menghindari Ray. Entahlah rasanya sekarang ia ingin menghilang saja dari hadapan lelaki itu.
Setelah menenangkan dirinya, ia pun keluar. Mendapati Ray yang masih berdiri didepan pintu.
"Kak, ngapain lo disini?" Celine menghindari Ray.
"Nungguin lo lah,"
"Minggir, Kak!" Ray menghadang Celine yang ingin melewatinya.
"Cel, lo jangan salah paham, itu nggak seperti yang lo liat," Ray mencoba meraih tangan gadis itu tapi segera ia tepis.
"Apanya Kak? emangnya gue ngeliat apa?" Celine memasang wajah sepolos mungkin, seolah benar ia tidak mengetahui apapun yang baru saja terjadi.
"Elo tau kan barusan gue ada tamu?" Ray mengikuti setiap langkah Celine di kamar itu. Gadis itu terlihat sedang membereskan barang-barangnya.
"Lo mau kemana?" Melihat Celine yang sedang mengemasi beberapa kosmetiknya yang berada di atas nakas, Ray mulai curiga.
"Loh emang tadi ada yang datang ya? gue nggak tau, kan baru bangun."
"Jawab gue, lo mau kemana?" Celine terdiam terpaku saat Ray mendekap erat tubuhnya dari belakang. Ini pertama kalinya, jantung Celine berdegup sangat cepat seolah akan berpindah dari tempatnya.
"Gue... mau pulang kerumah, Kak. Lepasin!" Suara Celine melemah, dan lagi-lagi air mata ingin keluar disudut matanya, tapi sebisa mungkin ia tahan.
Ray tahu gadis itu sedang berbohong, padahal tadi Ray melihat saat Celine mengintip. Meski matanya tak tertuju pada Celine saat itu tapi ia tahu.
"Nggak bisa, lo mau pulang terus elo nerima perjodohan itu dan lo bakalan nikah?"
Celine berhasil melepaskan dekapan tubuh Ray, ia berbalik menghadap lelaki itu.
"Iya, dan kesepakatan kita berakhir sampe disini."
Gadis itu meneruskan kegiatannya, ia menuju lemari dan mengambil semua pakaiannya disana. Namun Ray segera mengambil tindakan, ia mengangkat tubuh Celine, tak peduli seberapa besar usaha gadis itu untuk lepas darinya.
Ray mengempas kasar tubuh gadis itu ke atas kasur,
"Gue bahkan belum menikmati tubuh lo, dan lo mau pergi gitu aja? oke mungkin sekarang saatnya," mungkin Ray sudah kehilangan akal, ia mencari cara bagaimana agar Celine tidak pergi meninggalkannya, tak peduli ia ada jadwal penting siang ini. Karena menurutnya urusan bersama Celine jauh lebih penting.
Ray sudah mengunci tubuh Celine dengan kedua pahanya, sehingga gadis itu tak bisa kemana-mana.
"Kak, lepasin. Lo mau apa?" Celine masih berusaha melepaskan diri.
"Menurut lo gue mau apa?" satu persatu kancing kemeja Ray sudah terbuka.
"Kak, please jangan..." Celine hanya bisa menangis saat ini. Saat Ray mulai membuka paksa blouse yang ia kenakan. Ray mulai beraksi, mengecup seluruh wajah Celine tanpa ada yang tertinggal.
"Lo nggak boleh kemana-mana, lo nggak boleh pergi dari hidup gue, Celine," ia berbisik, Celine mulai merinding saat bibir lelaki itu menyentuh telinganya.
"Tapi lo nggak punya hak Kak, buat nahan gue. Kita nggak punya hubungan apapun, please jangan lo rusak gue. Gue mau nikah dan gimana nanti kalau suami gue protes kalau gue udah nggak per---"
"Itu bukan urusan gue, dan gue bakal nerima lo dengan senang hati kalau lo diceraikan sama suami lo nantinya."
Ray tersenyum setelah mengatakan itu, ia seperti merencanakan semuanya. Entah setaan apa yang merasuki Celine sehingga ia terhanyut dengan setiap permainan Ray, ia hanya menerima begitu saja.
"Gue malu, Kak," Celine merasa pipinya sangat panas sekarang, terlebih saat Ray tersenyum menggoda kearahnya.
"Ngapain lo malu, gue udah pernah liat semuanya Cel. Semua." mendengar kalimat itu, kini bukan hanya pipinya saja yang panas, tapi juga sekujur tubuhnya.
Ya, mungkin Celine lupa kalau lelaki itu sudah pernah menjamah tubuhnya waktu itu. "Tapi Kak," Celine hendak meraih selimut yang teronggok disamping mereka, untuk menutupi tubuhnya kini. Namun Ray segera meraih tangan gadis itu hingga terangkat ke atas, kedua tangan mereka menyatu. Ray memulai lagi dengan sangat lembut, hingga Celine semakin terhanyut.
"K-Kak..." suara Celine tertahan saat Ray mulai lagi menyentuh bagian-bagian tertentu ditubuhnya.
"Lepasin aja, gue suka kok," Ray kembali tersenyum, sebelum memulai ia kembali mengecup wajah gadis itu. Celine seperti sudah menjadi candu untuknya.
Celine sadar dan sangat sadar bahwa ini salah, ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya, bagaimana nasibnya nanti, tapi ia tidak mau munafik, ia suka dan senang dengan setiap perlakuan Ray padanya saat ini.
"Kak, sakit..." rengeknya saat Ray akan memulai.
"Sebentar doang sakitnya, percaya sama Kak Ray, sayang!" kedua tangan Ray mengusap pipi Celine.
"Ih, sok manis!" gerutu Celine.
Tidak peduli seberapa besar rintihan Celine yang sedang merasa kesakitan dibawahnya, Ray tetap akan menuntaskannya hari ini.
"Kak Ray..." Celine mencengkram erat bahu lelaki itu. Kini mata mereka saling bertemu.
"Maafin gue kalau lo harus sakit," Ray mengusap-ngusap kening Celine yang mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat.
"Lo tega Kak!" Hentak Celine, kini ia benar-benar meneteskan air mata.
Setelah mendapatkan pelepasannya Ray berhenti dan langsung berbaring tepat disamping Celine.
Celine masih menangis, hilang sudah keperawanan yang ia jaga selama dua puluh tahun, mungkin perasaan yang ia miliki terhadap Ray sudah berbeda, meski Celine tak mau mengakui pada dirinya sendiri, namun itu tetap tak bisa ia hindari. Segera Ray dekap tubuh gadis itu. "Gue sayang sama lo, Cel." bisiknya.
----------------------------------
Yah Celine udah nggak perawan 😌