novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taupan Kembali
"Saya masih belum percaya, Taupan bisa utuh kembali," ucap letnan Anwar saat bersama Dul Karim di ruang serba guna menunggu Abe dan Nugroho yang sedang dalam perjalanan menjemput Taupan.
"Maksudnya?" Dul Karim tidak mengerti.
"Seharusnya, ilmu Rawarontek hanya efektif bila ada unsur biologi hidup yang tersisa. Sedangkan malam kemarin, bom itu. Bom itu jelas-jelas membuat seluruh tubuh Taupan kering dan menjadi debu seketika. Tapi nyatanya, sekarang dia utuh lagi," ucap letnan Anwar. Sedikit banyak Dul Karim pun mengerti.
"Bayangkan kalo dia menjadi penjahat lagi, Bom sedahsyat itu saja tidak membuatnya mati," lanjut letnan Anwar.
***
Setelah puas meneliti kendaraan kuno yang kata gurunya itu kendaraan milik kerajaan langit, Don Lee pamit, turun gunung dan segera mencari perpustakaan atau pusat arsip-arsip kuno di negeri asalnya itu, negeri tirai bambu.
***
Teo terduduk lesu, otaknya terkuras, asetnya terkuras. Tapi ia belum menyerah, justru dendam kesumatnya pada Dul Karim semakin menjadi-jadi. Ia terus memikirkan cara untuk memancing Dul Karim keluar dan mengalahkannya.
"Dia bukan manusia biasa, dan temannya itu juga bukan manusia biasa. Ada apa dengan semua ini?" pikir Teo. Tampang Teo kusut sekali.
***
Akhirnya Abe dan Nugroho datang membawa Taupan ke hadapan letnan Anwar dan Dul Karim.
Letnan Anwar menyambut dengan tangan terbuka dan setelah dekat letnan Anwar memeluk Taupan.
"Kota ini berhutang Budi sama kamu Taupan. Kami sangat berterima kasih. Tapi kami tidak tahu, bonus seperti apa yang pantas kami berikan atau kamu punya keinginan yang belum tercapai, katakan saja, mungkin kami bisa membantu," ucap letnan Anwar dengan senyum tulus.
Sejenak Taupan termenung dan pikirannya menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum malu dan berbisik pada letnan Anwar.
Mengerti apa yang Taupan bisikan, letnan Anwar tersenyum lebar dan manggut-manggut.
"Tentu, tentu, kami akan bantu sepenuhnya." Abe yang dari tadi menyimak tampak mengerutkan dahi. Abe tidak mengerti apa yang Taupan minta.
***
Tak terasa hari sudah redup lagi, Fani sudah harus beres-beres dan pulang.
Gelap pun merayap seperti kabut tak kasat mata yang membalut gedung demi gedung, menutup hari dan membasuh keringat para pekerja yang mulai berlalu-lalang untuk pulang. Fani melenggang sendiri diantara orang-orang yang asing di kota yang sibuk ini. Fani tampak mencolok, tubuhnya yang jangkung seperti jerapah dan langkahnya anggun dengan pakaian Seragam yang mencolok. Biru muda yang cerah.
Sesampainya di muka rumah, Fani mendapati sesuatu yang aneh. Bagaimana tidak, ada sebuah sedan patroli terparkir di samping mobil si Wiwik di dalam pagar, Fani juga mendapati seonggok karangan bunga yang besar bertuliskan kata-kata aneh atas nama KAPTEN TAUPAN untuk dirinya.
Di dalam rumah juga terdengar suara Wiwik sedang berbincang. Pintu terbuka dan Fani langsung masuk saja dan benar saja, Wiwik sedang berbincang dengan dua orang pria berseragam coklat khas kepolisian. Dua polisi itu tidak lain adalah Nugroho dan Abe. Abe yang lantas cengar-cengir.
Fani merasa terganggu dengan karangan bunga yang bertuliskan,
TERIMA KASIH ATAS BANTUAN DAN PERJUANGANNYA MENGALAHKAN PARA PERAMPOK. TTD KAPTEN TAUPAN
"Ehm, Fan, Fani ini lho, ada yang nyari kamu," ucap Wiwik sumringah pada wajah Fani yang tampak risih.
"Selamat sore, kami dari pihak kepolisian hanya mau mengucapkan terima kasih atas keberanian Mbak membantu kami melawan para perampok itu," ucap Abe sok manis dan wibawa. Fani hanya terbengong, keberanian apa? membantu apa??? pecah sudah otak Fani.
"Dan ada sedikit bonus dari kami, ini," lanjut Abe sambil mengambil sebuah kado besar dari pangkuan Nugroho.
Wiwik hanya tersenyum geli melihat tampang Fani yang seperti orang linglung. Perlahan kado sebesar kardus mie instan itu berpindah ke pangkuan Fani.
"Ya sudah, kami pamit dulu, terima kasih kopinya," pamit Abe pada Wiwik dan Fani. Begitu pula Nugroho, ia mengikuti langkah Abe, menyalami kedua perempuan bening itu dan segera beranjak pulang.
up
up