"Aku sudah menikah. Hubungan kita cukup sampai di sini, Athena."
Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mencintai bule tampan yang kutemui di Pulau Dewata—Alexandre Kendrick Demitry.
Dia yang kupikir masih lajang, ternyata sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil. Aku hanya dijadikan simpanan yang akhirnya dibuang begitu saja.
Kendati demikian, aku masih saja mencintainya. Tak peduli sedalam apa luka yang ia berikan, harapanku masih tertuju padanya. Bahkan, sampai aku menikah dengan lelaki lain pun, tetap Kendrick yang menjadi pemilik hati.
Entah akan bagaimana akhir cinta ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto tanpa Busana
Kutatap dengan tajam lelaki yang kini berdiri di hadapan. Penampilannya masih sama persis dengan pertama kali kami bertemu, di tempat makan yang tak jauh dari bandara Kota Malang.
"Kupikir kamu akan mengindahkan ucapanku waktu itu, ternyata nggak ya," kata lelaki yang tak lain adalah Zion.
"Mas Alfa lelaki baik, nggak seperti yang kamu katakan." Aku sedikit meninggikan suara karena malas dengannya.
Entah apa urusannya tiba-tiba dia datang ke sini dan mengungkit hal itu. Padahal, aku sudah menikah dengan Mas Alfa, dan aku percaya suamiku itu adalah lelaki yang baik.
"Setelah kamu melihat foto itu, masih juga mengatakan dia baik? Apa cinta telah membuatmu kehilangan akal sehat?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku mengernyitkan kening. Foto? Apakah ini ada hubungannya dengan hadiah dan pesan misterius, di hari pernikahanku dulu?
"Dilihat dari ekspresimu, kayaknya belum lihat foto dariku, ya? Apa Alfa yang mengambilnya lebih dulu?" Zion kembali bertanya, tapi aku masih kurang paham dengan maksudnya.
"Pergilah! Aku nggak mau bahas foto atau apa pun itu. Aku udah bahagia dengan Mas Alfa," ucapku sesaat kemudian.
Saat ini, keadaan sedang tidak baik. Aku tak mau kehadiran Zion malah menimbulkan masalah baru. Sudah cukup memikirkan kondisi Pak Suryo dan Bu Mirah, aku tak mau memikirkan yang lain lagi, terlebih yang tidak jelas seperti Zion.
"Baik, aku akan pergi. Tapi sebelum itu ... aku akan menunjukkan foto yang sempat kukirim tempo hari, yang mungkin belum kamu lihat."
Perkataannya kali ini membuat jantungku berdetak cepat. Menunjukkan foto, memangnya sepenting apa itu, sampai dia gencar menunjukkannya padaku.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung mengambil ponsel dan mengotak-atiknya sebentar. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi bersamaan dengan itu, ponselku bergetar. Ada satu pesan masuk yang entah dari siapa.
"Lihatlah sendiri!" ucap Zion sambil menyimpan kembali ponselnya.
Sontak, bukan hanya jantung yang berdetak lebih cepat, melainkan juga tubuh yang mendadak panas dingin tak karuan. Aku mendadak takut dengan foto itu. Pikirku, bagaimana jika sesuatu yang menyakitkan?
Karena dorongan rasa penasaran yang cukup kuat, aku mengabaikan detak jantung yang terus berpacu. Kuambil ponsel yang ada di saku celana, lantas kubuka satu pesan masuk dari nomor yang tak ada dalam daftar kontak.
Sementara itu, Zion masih tak pergi. Mungkin, dia menunggu reaksiku. Ah, sial!
"Ini___" batinku.
Kini, bukan hanya panas dingin yang kurasakan, melainkan juga sesak dan sakit. Di dalam layar ponsel yang sedang kugenggam, tampak dua orang sedang berada dalam satu ranjang, di bawah selimut yang sama. Selain itu, sepertinya mereka tak mengenakan pakaian, buktinya tidak ada satu pun benang yang menutupi bahu keduanya.
"Perempuan yang ada di foto itu adalah Raya, mantan istriku. Aku cerai dengan dia ya karena Alfa. Aku sopir travel yang kadang nggak pulang, dan ternyata istriku memanfaatkan kesempatan itu untuk selingkuh. Hanya saja, dulu aku nggak punya bukti, jadi kebenaran bisa diputarbalikkan oleh mereka. Lalu setelah cerai, baru aku mendapatkan foto itu. Aku memperingatimu waktu itu nggak hanya main-main, tapi serius. Alfa itu playboy, nggak bisa setia. Aku kasihan aja sama kamu kalau cuma dimainin sama dia," terang Zion dengan panjang lebar.
Namun, aku masih bergeming dengan pandangan yang tak lepas dari layar ponsel.
"Kalau kamu masih ragu, tanyakan aja sama ahlinya, itu asli atau editan. Setelah dapat jawaban, kamu ingat-ingat, penampilan Alfa yang kayak gitu itu kapan. Sebelum atau sesudah pacaran sama kamu."
Ucapan Zion kali ini benar-benar mengusik. Meski belum kuketahui secara pasti ini asli atau editan, tapi penampilannya aku paham benar. Selain gaya rambut yang serupa dengan gayanya di awal kami pacaran, ada gelang jam yang melingkar di tangan kirinya, yang kutahu itu juga dibeli setelah kami resmi menjalin hubungan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah dia selingkuh di belakangku? Sampai tidur berdua begini?" ucapku dalam batin.
"Pikirkan dengan baik dan putuskan sendiri langkah apa yang akan kamu ambil. Tapi, satu pesanku yang kuharap kamu ingat. Jangan mencintai orang lain melebihi cinta pada diri sendiri. Jadi, jika bertahan membuat kita sakit, maka lepaskan. Hargai diri sendiri, jangan mau dibodohi orang lain," kata Zion sembari menepuk bahuku dengan pelan.
Lantas, dia berjalan menjauh. Pergi meninggalkanku yang masih terpaku dalam ribuan pertanyaan.
Bersambung...
tengkyu & teruslah berkarya../Rose/
Karena dia msh muda tp untunglah dia cepat sadar keburukan sifatnya itu,
Move on athena, lihatlah ke alfa..