Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
“Mas... sudah siang, mas
Bram harus ke kantor kan..?” Renata berusaha mengalihkan pembicaraan. Bram menghela
nafas berat. Bram menyadari saatnya tidak tepat untuk membahas lebih lanjut. Apalagi
kondisi Renata belum benar-benar sehat. Bram tidak ingin Renata salah paham.
“Kamu mengusir aku lagi...?” Tanya Bram pelan sambil tersenyum.
“Haa...???” Renata
melongo mendengar pertanyaan Bram. “Mas Bram merasa terusir.?”
“Oke nona... aku pamit dulu,
udah siang. Ntar pulang kantor aku mampir lagi. Kamu mau dibawain apa?”
“Gak usah repot-repot mas.”
“No.... no... Kamu gak
ijinin aku datang pun, aku tetap akan datang. Oke...? Jangan lupa makan dan
minum obat ya. Dan satu hal lagi, jangan matiin hape!!” kata Bram serius.
“Aku pamit ya... bye..” Bram
berdiri sambil mengelus pucuk kepala Renata.
“Hati-hati mas..”
Bram keluar kamar meninggalkan
Renata lalu menutup pintu.
Setelah Bram keluar
kamar, Renata menghela nafasnya. Ah... kenapa kamu selalu baik padaku mas? Aku
takut menyakiti perasaanmu. Bukan seperti ini yang aku inginkan. Perasaanmu
sudah terlalu jauh padaku. Aku menjadi sulit menghindar. Kata Renata dalam hati..
Bayangan Adhitya muncul lagi, dan kembali rasa sakit itu hadir. Renata terisak.
Mas Adhit aku mencintaimu
sungguh-sungguh, tapi kenapa kau tega menyakitiku??? Aku benci.... benci....
Renata menangis tersedu. Mbok Jum yang tiba-tiba masuk kamar menjadi heran melihat
Renata.
“Jeng Rena kenapa..??” Mbok
Jum mendekati dan memeluk Renata. Hatinya ikut sedih melihat Renata menangis.
“Mbookkk...” Renata terus
menangis di pelukan mbok Jum. Air matanya ikut menetes mendengar isakan Renata.
“Jeng Rena... sudahhh... ya..
Jangan nangis terus. Simbok jadi ikut sedih. Nanti gak sembuh-sembuh.... Sudah
ya...” Mbok Jum mengelus kepala Renata.
Sesaat kemudian, Renata
melepaskan diri dari pelukan mbok Jum, dan mbok Jum mengusap air mata Renata.
“Jeng Rena harus sabar ya....
Jangan mikir yang sudah-sudah. Kalau jeng Rena sedih terus, lebih baik simbok
pulang ke desa saja. Buat apa di sini kalau jeng Rena tidak bahagia...”
“Mbok Jum mau ninggalin Rena...???”
“Yaaa... kalau jeng Rena
nangis terus, buat apa simbok di sini??”
Renata menghapus air matanya
yang masih menetes, isaknya menjadi pelan.
“Tapi mbok, hati Rena
sakit kalau inget mas Adhit....”
“Sudah jeng jangan diingat
lagi. Masih ada den Bram yang sangat mencintai jeng Rena. Sudah ya.... sekarang
tidur aja gak usah mikirin mas Adhit, Mungkin belum jodoh jeng Rena. Simbok doakan
jeng Rena berjodoh dengan den Bram... Simbok rasa jeng Rena sangat cocok kalau
sama den Bram, dari pada sama....siapa itu.... yang pernah jemput jeng Rena
pagi-pagi?’ Tanya mbok Jum sambil berpikir, mengingat-ingat
“Yang mana mbok....”
“Itu lho...yang ganteng
juga, yang jemput jeng Rena waktu kakinya sakit itu lho....”
“Pak Erwin maksudnya mbok
Jum....”
“Nahhhh... iya betul itu.
Mbok rasa lebih pas jeng Rena dengan den Bram, dari pada dengan pak Erwin... heee.....
maaf jeng.....”
“Rena gak tahu mbok, apa bisa
membalas perasaan mas Bram. Dia terlalu baik. Kadang Rena merasa kasihan juga
sama mas Bram..” Kata Renata dengn wajah sendu.
“Pelan-pelan saja jeng.
Gusti Allah pasti memberi yang terbaik. Jeng Rena yang sabar ya...” Mbok Jum menasehati
Renata dengan lembut. Wanita desa ini sangat sederhana pemikirannya.
“Den Bram ganteng, orangnya
sabar, sopan, baik.... apa lagi... Kalau simbok masih muda... mau kok kalau
dijodohin sama orang seperti den Bram... ha....” Jawab mbok Jum bercanda menggoda
Renata
“Iisshhh.... mbok Jum genit..”
Jawab Renata cemberut,
“Heeee.... sudah ya.... sekarang
istirahat saja. Nanti mau dimasakin apa jeng..?”
“Terserah mbok Jum aja...
apa maunya. Minta tolong buatin coklat anget ya mbok..”
“Baik simbok buatin dulu
ya...” mbok Jum lalu melangkah keluar kamar.
Sore hari, seperti yang
dijanjikan, Bram mampir ke rumah Renata sepulang dari kantor. Dia membawakan
dua bungkus sop iga, karena berharap Renata mau makan banyak.
“Mas kok pake bawa-bawa segala
sih.” Kata Renata yang sedang selonjoran di sofa ruang tengah ketika Bram
datang.
“Tadi pas lewat aja. Aku
pikir kalau makan sop panas-panas kan enak. Kamu pasti belum makan kan..?” kata
Bram sambil menyerahkan bungkusan sop ke mbok Jum
“Mbok tolong sekalian Rena
diambilin makan ya. Masih panas-panas kan enak..” Kata Bram lagi
“Tapi mas... aku belum
mau makan sekarang...”Renata protes
“Ini udah malem neng.... mau
makan jam berapa lagi??? Kamu harus minum obat lho...” Bram gak mau kalah.
“Aku belum laper mas...”
“Kamu kan memang orang yang
gak pernah laper. Remember..???” Kata Bram sambil melangkah ke ruang makan
untuk mengambil makan buat Renata.
“Ayo... mau makan sendiri
atau aku suapin...?” Bram duduk di depan Renata, dan Renata dengan cemberut
menerima piring dari Bram.
“Pemaksa....!!!” Renata
berkata pelan, tapi tetap terdengar di telinga Bram. Bram pun tersenyum melihat
Renata yang cemberut dan makan dengan males-malesan. Gak papa, yang penting mau
makan. Dalam hati Bram.
“Oke aku temenin makan,
biar gak dibilang pemaksa... hee...” Bram kembali ke ruang makan untuk mengambil
nasi dan lauk, kemudian duduk kembali di depan Renata dan makan dengan tenang. Mbok
Jum datang membawa air putih dua gelas dan secangkir kopi untuk Bram.
“Makasih mbok...”
Setelah acara makan bersama
dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol ringan. Sesekali Bram cerita konyol yang
dapat membuat Renata tertawa kecil. Bram sungguh senang melihat Renata yang
berbeda dari kemarin malam, dan Bram ingin Renata terus seperti itu.
“Ren aku besok pagi berangkat
ke Singapore. Mendadak, ada meeting dengan perusahaan minyak di sana..”
“Sampai kapan mas..?”
“Yaa... kira-kira 2 hari,
mudah-mudahan Jumat sudah bisa pulang. Dan saat aku pulang, kamu harus bener-bener
sudah sehat ya. Kamu mau pesen apa..?”
“Gak ada mas....”
“Ooo ya... kamu besok
belum ngantor kan... masih ada surat dokter..”
“Pengennya sih masuk
mas... tapi gak tahu bagaimana besok.”
“Kalau belum sehat bener
gak usah masuk, ntar malah kambuh lagi...”
Setelah melanjutkan obrolan dengan topik yang
lain sebentar, Bram pamit karena sudah malam. Renata dilarang mengantar sampai
depan. Cukup mbok Jum saja yang sekalian mengunci pintu.
Seperti yang dijanjikan,
Bram memang ke Singapore hanya dua hari, tapi Jumat malam dia baru sampai di
rumah. Rencana mau ke rumah Renata batal karena sudah terlalu malam, tidak
enak, tapi di janji malam minggu mau datang.
Dan benar, jam enam sore
Bram sudah memarkir mobilnya di depan rumah Renata.
“ Monggo den silakan duduk
dulu, mbok panggil jeng Rena.” kata mbok Jum yng membukakan pintu. Setelah Bram
duduk, mbok Jum ke dalam untuk memberitahu Renata, dan tak lama Renata keluar.
next