NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

“Mas... sudah siang, mas

Bram harus ke kantor kan..?” Renata berusaha mengalihkan pembicaraan. Bram menghela

nafas berat. Bram menyadari saatnya tidak tepat untuk membahas lebih lanjut. Apalagi

kondisi Renata belum benar-benar sehat. Bram tidak ingin Renata salah paham.

“Kamu mengusir aku lagi...?”  Tanya Bram pelan sambil tersenyum.

“Haa...???” Renata

melongo mendengar pertanyaan Bram. “Mas Bram merasa terusir.?”

“Oke nona... aku pamit dulu,

udah siang. Ntar pulang kantor aku mampir lagi. Kamu mau dibawain apa?”

“Gak usah repot-repot mas.”

“No.... no... Kamu gak

ijinin aku datang pun, aku tetap akan datang. Oke...? Jangan lupa makan dan

minum obat ya. Dan satu hal lagi, jangan matiin hape!!” kata Bram serius.

“Aku pamit ya... bye..” Bram

berdiri sambil mengelus pucuk kepala Renata.

“Hati-hati mas..”

Bram keluar kamar meninggalkan

Renata lalu menutup pintu.

Setelah Bram keluar

kamar, Renata menghela nafasnya. Ah... kenapa kamu selalu baik padaku mas? Aku

takut menyakiti perasaanmu. Bukan seperti ini yang aku inginkan. Perasaanmu

sudah terlalu jauh padaku. Aku menjadi sulit menghindar. Kata Renata dalam hati..

Bayangan Adhitya muncul lagi, dan kembali rasa sakit itu hadir. Renata terisak.

Mas Adhit aku mencintaimu

sungguh-sungguh, tapi kenapa kau tega menyakitiku??? Aku benci.... benci....

Renata menangis tersedu. Mbok Jum yang tiba-tiba masuk kamar menjadi heran melihat

Renata.

“Jeng Rena kenapa..??” Mbok

Jum mendekati dan memeluk Renata. Hatinya ikut sedih melihat Renata menangis.

“Mbookkk...” Renata terus

menangis di pelukan mbok Jum. Air matanya ikut menetes mendengar isakan Renata.

“Jeng Rena... sudahhh... ya..

Jangan nangis terus. Simbok jadi ikut sedih. Nanti gak sembuh-sembuh.... Sudah

ya...” Mbok Jum mengelus kepala Renata.

Sesaat kemudian, Renata

melepaskan diri dari pelukan mbok Jum, dan mbok Jum mengusap air mata Renata.

“Jeng Rena harus sabar ya....

Jangan mikir yang sudah-sudah. Kalau jeng Rena sedih terus, lebih baik simbok

pulang ke desa saja. Buat apa di sini kalau jeng Rena tidak bahagia...”

“Mbok Jum mau ninggalin Rena...???”

“Yaaa... kalau jeng Rena

nangis terus, buat apa simbok di sini??”

Renata menghapus air matanya

yang masih menetes, isaknya menjadi pelan.

“Tapi mbok, hati Rena

sakit kalau inget mas Adhit....”

“Sudah jeng jangan diingat

lagi. Masih ada den Bram yang sangat mencintai jeng Rena. Sudah ya.... sekarang

tidur aja gak usah mikirin mas Adhit, Mungkin belum jodoh jeng Rena. Simbok doakan

jeng Rena berjodoh dengan den Bram... Simbok rasa jeng Rena sangat cocok kalau

sama den Bram, dari pada sama....siapa itu.... yang pernah jemput jeng Rena

pagi-pagi?’ Tanya mbok Jum sambil berpikir, mengingat-ingat

“Yang mana mbok....”

“Itu lho...yang ganteng

juga, yang jemput jeng Rena waktu kakinya sakit itu lho....”

“Pak Erwin maksudnya mbok

Jum....”

“Nahhhh... iya betul itu.

Mbok rasa lebih pas jeng Rena dengan den Bram, dari pada dengan pak Erwin... heee.....

maaf jeng.....”

“Rena gak tahu mbok, apa bisa

membalas perasaan mas Bram. Dia terlalu baik. Kadang Rena merasa kasihan juga

sama mas Bram..” Kata Renata dengn wajah sendu.

“Pelan-pelan saja jeng.

Gusti Allah pasti memberi yang terbaik. Jeng Rena yang sabar ya...” Mbok Jum menasehati

Renata dengan lembut. Wanita desa ini sangat sederhana pemikirannya.

“Den Bram ganteng, orangnya

sabar, sopan, baik.... apa lagi... Kalau simbok masih muda... mau kok kalau

dijodohin sama orang seperti den Bram... ha....” Jawab mbok Jum bercanda menggoda

Renata

“Iisshhh.... mbok Jum genit..”

Jawab Renata cemberut,

“Heeee.... sudah ya.... sekarang

istirahat saja. Nanti mau dimasakin apa jeng..?”

“Terserah mbok Jum aja...

apa maunya. Minta tolong buatin coklat anget ya mbok..”

“Baik simbok buatin dulu

ya...” mbok Jum lalu melangkah keluar kamar.

Sore hari, seperti yang

dijanjikan, Bram mampir ke rumah Renata sepulang dari kantor. Dia membawakan

dua bungkus sop iga, karena berharap Renata mau makan banyak.

“Mas kok pake bawa-bawa segala

sih.” Kata Renata yang sedang selonjoran di sofa ruang tengah ketika Bram

datang.

“Tadi pas lewat aja. Aku

pikir kalau makan sop panas-panas kan enak. Kamu pasti belum makan kan..?” kata

Bram sambil menyerahkan bungkusan sop ke mbok Jum

“Mbok tolong sekalian Rena

diambilin makan ya. Masih panas-panas kan enak..” Kata Bram lagi

“Tapi mas... aku belum

mau makan sekarang...”Renata protes

“Ini udah malem neng.... mau

makan jam berapa lagi??? Kamu harus minum obat lho...” Bram gak mau kalah.

“Aku belum laper mas...”

“Kamu kan memang orang yang

gak pernah laper. Remember..???” Kata Bram sambil melangkah ke ruang makan

untuk mengambil makan buat Renata.

“Ayo... mau makan sendiri

atau aku suapin...?” Bram duduk di depan Renata, dan Renata dengan cemberut

menerima piring dari Bram.

“Pemaksa....!!!” Renata

berkata pelan, tapi tetap terdengar di telinga Bram. Bram pun tersenyum melihat

Renata yang cemberut dan makan dengan males-malesan. Gak papa, yang penting mau

makan. Dalam hati Bram.

“Oke aku temenin makan,

biar gak dibilang pemaksa... hee...” Bram kembali ke ruang makan untuk mengambil

nasi dan lauk, kemudian duduk kembali di depan Renata dan makan dengan tenang. Mbok

Jum datang membawa air putih dua gelas dan secangkir kopi untuk Bram.

“Makasih mbok...”

Setelah acara makan bersama

dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol ringan. Sesekali Bram cerita konyol yang

dapat membuat Renata tertawa kecil. Bram sungguh senang melihat Renata yang

berbeda dari kemarin malam, dan Bram ingin Renata terus seperti itu.

“Ren aku besok pagi berangkat

ke Singapore. Mendadak, ada meeting dengan perusahaan minyak di sana..”

“Sampai kapan mas..?”

“Yaa... kira-kira 2 hari,

mudah-mudahan Jumat sudah bisa pulang. Dan saat aku pulang, kamu harus bener-bener

sudah sehat ya. Kamu mau pesen apa..?”

“Gak ada mas....”

“Ooo ya... kamu besok

belum ngantor kan... masih ada surat dokter..”

“Pengennya sih masuk

mas... tapi gak tahu bagaimana besok.”

“Kalau belum sehat bener

gak usah masuk, ntar malah kambuh lagi...”

 Setelah melanjutkan obrolan dengan topik yang

lain sebentar, Bram pamit karena sudah malam. Renata dilarang mengantar sampai

depan. Cukup mbok Jum saja yang sekalian mengunci pintu.

Seperti yang dijanjikan,

Bram memang ke Singapore hanya dua hari, tapi Jumat malam dia baru sampai di

rumah. Rencana mau ke rumah Renata batal karena sudah terlalu malam, tidak

enak, tapi di janji malam minggu mau datang.

Dan benar, jam enam sore

Bram sudah memarkir mobilnya di depan rumah Renata.

“ Monggo den silakan duduk

dulu, mbok panggil jeng Rena.” kata mbok Jum yng membukakan pintu. Setelah Bram

duduk, mbok Jum ke dalam untuk memberitahu Renata, dan tak lama Renata keluar.

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!