Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Tidak Suka
Nada baru saja mengelap tubuh Danu menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin, walaupun harus hati-hati karena lengan Danu yang di gips menghalangi gerakan tangannya yang akan mengelap permukaan perut Danu. Namun akhirnya dia bisa menyelesaikannya juga, disela dia mengelap tubuhnya tadi Danu tiada henti menggodanya membuat Nada kesal bukan main. Heran dia sama suami berondongnya ini, dalam kondisi sakit mulutnya tidak bisa berhenti bicara barang sejenak.
Tadi Nada mendapat kabar dari Fani bahwa sahabatnya itu dan beberapa karyawan yang lain termasuk atasannya sedang menuju kemari, Nada merasa senang karena banyak yang memperdulikannya seperti ini. Setidaknya Danu nanti tidak akan merasa kesepian, ah Nada jadi teringat akan ucapan orangtua Danu yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada melihat kondisi anaknya sendiri. Dia belum memberitahu Danu kalau dia sempat menelfon orangtuanya, mungkin nanti siang akan ia beritahu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Danu ketika Nada akan beranjak pergi.
"Kamar mandi, gue harus siap-siap karena teman-teman kantor gue mau kesini jengukin lo." Danu memberengut mendengarnya, dipikirannya Nada pasti ingin berdandan karena ada Pak Wira yang akan datang.
"Pasti kamu mau dandan karena atasan kamu juga mau datang kesini kan?" Sungut Danu merasa kesal sekaligus cemburu.
"Iyalah, malu gue kalau penampilan gue yang acak-acakan kayak gini." Ucap Nada santai kemudian memasuki kamar mandi sambil membawa baju gantinya yang tadi diantarkan oleh orang suruhan Papanya.
Bertepatan dengan Nada yang keluar dari kamar mandi, suara ketukan pintu membuat Nada bergegas untuk membukanya. Terlihatlah ketiga temannya sebagai perwakilan kantor juga sang atasan yang turut hadir, Nada langsung memeprsilahkan mereka masuk.
"Ayo silahkan masuk Pak, teman-teman..." Ucap Nada sembari memberi jalan.
"Ini Nad, kami bawakan parsel buah." Fani menyerahkan parsel buah yang ia bawa pada Nada.
"Waah terimakasih sudah mau repot-repot datang dan membawakan parsel segala." Ucap Nada sambil menerima parsel buah dari tangan Fani kemudian menaruhnya diatas nakas.
"Keadaannya bagaimana Nad?" Itu Pak Wira yang bertanya, Nada melirik sekilas Danu sebelum menatap Pak Wira.
"Keadaannya cukup membaik Pak, mungkin besok atau lusa dia sudah diperbolehkan pulang. Makasih loh Pak, Bapak mau repot-repot datang kesini untuk menjenguknya." Ucap Nada sambil tersenyum manis, Danu mendengus melihatnya. Nada itu ya kalau sama atasannya itu manis begitu, coba saja jika dengannya aura kegalakannya keluar. Danu kan jadi iri.
"Tidak apa-apa Nad, kami sama-sama tidak merasa repot sama sekali. Kebetulan tadi pekerjaan kantor tidak terlalu banyak jadi kami sempatkan kemari, masa ada karyawan yang tidak masuk karena pergi kerumah sakit kami tidak menjenguknya?" Balas Pak Wira sambil melihat wajah sebal Danu, ternyata suaminya Nada ini masih terlihat kekanakan sekali. Lihatlah wajah cemberutnya itu, pikir Pak Wira.
"Sayang, aku mau makan buah apel. Kupasin dong." Pinta Danu manja menginterupsi pembicaraan Nada dan Pak Wira.
Nada memelototi Danu seakan berkata, lo gak punya malu apa? Disini lagi ramai orang dan lo minta dengan manja begitu sama gue!!?Tapi sepertinya Danu seakan tidak peduli dengan kode mata itu, dia malah mendesak Nada agar cepat membukakan apel untuknya.
"Aku gak bisa makan sendiri yang, suapin." Pintanya lagi dengan manja membuat Nada ingin sekali menggeplak kepala Danu karena membuatnya malu didepan atasan dan teman-temanya, Nada masih dapat mendengar suara tawa tertahan dari arah Erik, Andini dan Fani. Sepertinya teman-temannya itu sebenarnya mau menertawakannya namun tidak berani karena ada Pak Wira.
Sambil menyuapi Danu, Nada kembali terlibat obrolan seru dengan Pak Wira dan ketiga temannya membuat Danu merasa dicueki meskipun tetap menerima suapan Nada.
"Hhmm..." Pak Wira berdeham membuat Nada menoleh.
"Kalau begitu kami pamit ya Nad? Semoga dia cepat sembuh supaya kamu bisa kembali bekerja lagi." Pamit Pak Wira pada Nada tanpa menatap kearah Danu.
"Iya Pak terimakasih sudah datang." Pak Wira mengangguk sekilas kemudian keluar terlebih dahulu meninggalkannya dengan ketiga temannya.
"Nad, suami lo imut gitu ya? Mau dong gue punya suami yang kayak punya lo." Ucap Andini sambil memperhatikan wajah imut Danu.
"Kayaknya suami bocah lo kesal deh Nad, daritadi lo cuekin karena keasyikan ngobrol sama Pak Wira." Kekeh Fani.
"Kasihan ya lo harus puasa dulu ya Nad? Soalnya suami bocah lo lagi sakit begitu, gak kuat dong main kuda-kudaannya." Perkataan vulgar itu keluar dari mulut Erik, Nada melotot mendengarnya. Nih cowok satu kalau ngomong gak pernah difilter.
"Pergi lo bertiga!! Pak Wira udah nungguin lo semua diluar!!" Usir Nada karena malas mendengar ocehan menyebalkan teman-temannya.
"Kita pamit ya Nad? Kalau lo udah gak mau sama suami berondong lo itu, lo bisa oper ke gue." Ucap Andini sambil mengedipkan matanya, Nada sontak menatap garang temannya. Sembarangan berkata begitu, memangnya Danu barang apa? Yang bisa dioper kesana-kemari.
"Udah sana kalian pergi." Usir Nada.
"Ciee Nyonya macan kita mau berdua-duaan sama baby husbandnya, makanya kita gak boleh ganggu. Udah yuk kita pergi." Sebelum Nada menimpuk ketiga temannya, mereka sudah terlebih dahulu ngibrit keluar.
"Kenapa tuh muka? Kusut bener." Tanya Nada ketika dia sudah duduk disamping Danu.
"Aku gak izinin kamu dekat-dekat sama dia terus." Sungut Danu kesal, Nada mengernyit mendengarnya. Dia siapa sih?
"Maksud lo siapa sih?"
"Itu atasan kamu, kamu gak boleh dekat-dekat sama dia." Danu tidak menutupi nada kecemburuan yang begitu terpancar jelas dibalik perkataannya.
Nada memutar kedua bola matanya malas, meskipun Danu ini berondong ya tapi suka ngaturnya itu selalu membuat Nada kesal. Bagaimana coba dia tidak dekat-dekat dengan atasannya lagi sedangkan dia kan bekerja bersama Pak Wira di kantor yang sama, akhirnya Nada memilih tidak menanggapi saja.
"Lebih baik lo makan nih buah, daripada ngoceh gak jelas." Ucap Nada sambil menyuapkan potongan apel kedalam mulut Danu ketika suami bocahnya itu akan membuka suara.
Danu memasang wajah cemberutnya sambil terus mengunyah apel yang selalu Nada suapkan padanya, tidak tau apa kalau dia itu takut kehilangan istri cantiknya. Danu akui dia masih belum bisa untuk berlaku dewasa, sepeti atasan istrinya yang memang usianya telah matang. Tapi Danu akan berusaha kok, lambat laun dia akan berubah sesuai masanya nanti. Bukankah semua itu butuh proses? Lagipula beberapa bulan lagi dia akan lulus dari SMA-nya yang artinya sebentar lagi dia akan memasuki bangku kuliahan, jadi seharusnya jika dia sudah ada dibangku kuliah Nada tidak bisa menyebutnya bocah lagi kan?
"Lo lagi mikirin apa sih? Udah gak usah banyak mikir, mending makan nih apel. Nanti kepala lo sakit, gue juga yang repot." Cerocos Nada sambil kembali menyuapkan apel.
Entah mengapa disela rasa sakitnya, Danu malah bersyukur karena mendapat perhatian dari istrinya yang biasanya suka marah-marah kini sedikit bersikap manis padanya.