Demi bisa hamil, Deavenny sampai nekat mencuri benih suaminya sendiri yang tak mau memiliki anak dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Marvel melepaskan pelukan Deavenny. Entah dia harus bagaimana menghadapi wanitanya yang sudah lancang mencuri cairan pentingnya. Dia ingin gembira mendengar kabar kehamilan istrinya, seperti suami pada umumnya. Tapi, tidak bisa, perasaannya terasa tak enak.
Marvel berusaha mengayunkan kaki agar ada jarak dengan Deavenny. Kepala sengaja didongakkan dengan mata terpejam karena pusing sendiri harus mengambil keputusan apa. Antara memenuhi janji dengan Tuan Dominique, atau mempertahankan darah dagingnya.
“Sayang, tolong, sekali ini saja turuti kemauanku.” Deavenny kembali meminta dengan menggenggam erat kedua tangan suaminya.
“Setiap hari aku selalu menuruti kemauanmu, bahkan hampir tak pernah ku tolak permintaanmu,” jelas Marvel. Sorot matanya terlihat jelas sedang bingung.
“Benar juga,” celetuk Deavenny dengan sangat polos. “Kalau begitu, untuk kali ini saja turuti semua keinginanku.”
Marvel tak berani menatap istrinya yang mengiba. Dia melepas paksa tangan Deavenny dan sedikit menyingkir untuk menghindar. “Kau boleh memintaku apa saja, asalkan jangan hamil. Aku tak bisa mengizinkanmu, dan tidak mau memiliki masalah untuk ke depannya.”
Deavenny menunduk, sepertinya tak ada harapan kehamilannya diterima oleh Marvel. Dia bersimpuh dengan memeluk kedua kaki suaminya. Pokoknya harus memohon sampai mendapatkan persetujuan.
“Please ... aku sangat menginginkan anak ini. Cukup satu kali hamil saja, setelah itu aku tak masalah jika kau tak mengizinkanku mengandung. Setidaknya, kita memiliki keturunan.”
“Tidak bisa, Dea.” Marvel mencoba menyingkirkan istrinya agar tak memeluk kakinya lagi.
“Aku tak akan melepaskanmu sampai kau menerima kehamilanku. Lagi pula ini anak kita, bukan orang lain.” Deavenny masih mengotot tak mau kalah.
“Lebih baik kau hamil anak pria lain daripada anakku.” Marvel secara spontan melontarkan kalimat itu.
Membuat Deavenny melepaskan kaki suaminya dan beralih berdiri, menatap Marvel dengan kedua alis yang memicing. “Apa maksudmu lebih baik aku selingkuh sampai memiliki anak?”
Dengan mata tertutup, Marvel menjawab, “ya!”
“What? Kau sudah gila? Apa kau mulai bosan dengan pernikahan kita? Sampai membuatmu berpikiran seperti itu?” Kali ini justru Deavenny yang balik marah. Tak habis pikir, bisa-bisanya ada seorang suami yang memilih istrinya hamil dengan selingkuhan dan tak senang kalau memiliki keturunan.
“Anggap saja seperti itu.”
Deavenny menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan ucapan suaminya. “Sepertinya kau sedang lelah, omonganmu melantur tak keruan. Sebaiknya kau mandi terlebih dahulu agar pikiranmu lebih jernih.” Dia mencoba membukakan jas kerja Marvel.
Namun, Marvel sudah mencegah agar Deavenny tak bisa meraih jasnya. “Pernikahan kita sejak awal memang salah, seharusnya aku tak menikahimu hanya karena merasa bersalah setelah kau donorkan ginjalmu.”
Deg!
Jantung Deavenny rasanya ingin lepas dari dadanya. Kalimat itu terdengar sangat menyakitkan, apa lagi suaminya sendiri yang mengatakan. “Aku tak pernah memaksamu untuk menikah denganku, aku juga tak mengharapkan balas budi, memberimu ginjalku adalah pilihanku sendiri tanpa mengharapkan balasan apa pun! Semua ku lakukan karena aku mencintaimu!”
Dada Deavenny naik turun, dia membalikkan tubuh seirama dengan bulir bening yang menetes. “Kalau memang pernikahan ini salah, maka akhiri saja sampai di sini, tak perlu dipaksakan kalau hanya membebanimu.”
Deavenny melangkahkan kaki menuju kamar. Dia menghanyutkan diri ke balik selimut yang menutupi sampai ke ujung kepala. Menangis tersedu-sedu. Tak menyangka kalau kehamilannya justru membuat pertengkaran dengan suami.
Marvel menghela napas kasar sembari menatap ranjang di mana istrinya tidur. “Apa yang harus ku jelaskan pada Daddymu?” gumamnya sangat lirih.
...*****...
...Yok bisa yok cerein aja, biar si Keket ada temennya...