"Menikahlah dengan wanita pilihan Kakek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Kakek kepada kamu, Askara."
Sebuah permintaan yang terlontar dari mulut pria paruh baya yang sudah tak berdaya, yaitu Genta Wiguna.
Ghattan Askara Wiguna adalah pria yang mencoba meninggalakan tanah air demi dua misi. Misi pertamanya sudah berhasil, yaitu menjadi pengusaha sukses. Namun, tidak dengan misi kedua. Bayang wajah wanita yang telah membuat hatinya porak poranda masih selalu melekat di hati dan kepalanya. Ternyata, mengikhlaskan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kali ini, Aska dihadapkan dengan sebuah permintaan sang kakek yang sudah lemah dan melekat berbagai alat medis di tubuh pria yang banyak membuatnya berubah.
Apa Askara akan mengabulkan permintaan terakhir sang kakek? Atau dia memilih untuk menunggu wanita yang dia cintai yang tak lain adalah istri dari mantan sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pacaran Dahulu
Sore menjelang, Ayanda keluar dari ruang ICU. Dia menyuruh anak-anak dan para menantunya pulang ke hotel. Terlebih Riana yang masih memiliki anak kecil juga tengah hamil muda.
"Tapi, Mom--"
"Jangan pikirkan Mommy dan Daddy. Pikirkan kesehatan kamu dan calon cucu Mommy. Empin pun pasti merindukan kamu juga Daddy-nya." Riana menatap ke arah sang suami meminta persetujuan. Aksa pun mengangguk pelan. Dia juga tidak tega melihat Riana di rumah sakit. Apalagi sering mengeluh pusing dan mual jika mencium bau obat. Meninggalkannya pun dia tidak bisa karena sang istri tidak mau jauh darinya dan putranya selalu ingin bermain bersama dia.
"Kak, tolong urus resepsi Adek. Takutnya ada yang kurang kamu handle dulu, ya. Mommy gak bisa tinggalin Daddy dan kakek."
Echa mengangguk mengerti. Tanpa ibunya minta pun Echa akan membantu mengurus resepsi sang adik tercinta.
"Jingga."
Namanya dipanggil membuat Jingga yang tengah memperhatikan ibu mertuanya lekat-lekat sedikit terkejut. "Kamu juga pulang, ya. Kamu harus fit betul untuk acara besok." Jingga menyunggingkan senyum seraya mengangguk pelan.
"Adek!"
Dahi Aska mengkerut ketika nada bicara sang ibu sangat berbeda. Tatapannya sangat tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Jangan coba-coba sentuh istri kamu dulu!" Ayanda sudah mengeluarkan peringatan genting. "Jangan sampai ada jejak setan di leher istri kamu."
Aska berdecak kesal. Sikap ibunya semakin ke sini layaknya ibu tiri, sangat kejam.
"Gampang itu, mah. Adek gak akan ninggalin jejak kok pas mainnya," ucap Aska dengan santai. Jingga melebarkan mata mendengar ucapan sang suami. Sungguh bar-bar sekali.
Ayanda mendekat ke arah Aska dan menarik telinganya Aska hingga putra bungsunya mengerang kesakitan.
"Ampun, Mom! Adek cuma bercanda."
"Jangan pernah bantah ucapan Mommy. Atau sosis kamu Mommy potong," ancamnya.
"Ya ampun, Mom. Kenapa menjelma menjadi ibu tiri begini," keluhnya.
Jingga tertawa melihat kelakuan keluarga Aska. Penih canda tawa di dalamnya. Dia benar-benar beruntung dan merasa bersyukur karena sudah bisa masuk ke dalam keluarga penuh kehangatan juga kebahagiaan. Apalagi ini mertuanya tidak pernah membedakan para menantunya.
"Kak, mau langsung ke hotel 'kan?" tanya Aksa yang tengah berjalan menggandeng istrinya.
"Iya. Mau bareng?" Aksa pun mengangguk. Dia malas membawa mobil sendiri. Apalagi istrinya yang tak ingin lepas dari dirinya.
Sedangkan Aska sudah masuk ke dalam mobil bersama istri tercinta. Meninggalkan Abang dan juga kakaknya. Dahi Jingga mengkerut ketika mobil Aska berbelok.
"Loh," ucap Jingga.
"Ke jalan Malioboro dulu, yuk. Sambil nyari makan." Jingga pun mengangguk. Dia juga lapar.
Tibanya di sana, Aska menggenggam tangan Jingga dengan sangat erat menyusuri jalan yang sudah padat orang.
"Mau makan apa?" Kini Aska merengkuh pinggang Jingga.
"Pengen yang pedas." Jingga pun tak segan merengkuh pinggang Aska juga. Mereka berjalan dengan sesekali bercanda.
Aska memesan makanan apa yang diinginkan oleh istrinya. Mereka berdua duduk lesehan dengan tangan Aska yang tak melepaskan tangan Jingga.
"Gak apa-apa 'kan kita pacaran dulu?" Pertanyaan Aska membuat Jingga mengerutkan dahi.
Aska menatap ke arah sang istri tercinta dan membenarkan anak rambut Jingga. "Pernikahan kita sangat mendadak. Kita memang sudah mengenal lama, tetapi kita juga beberapa kali dipisahkan cukup lama juga." Jingga tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aska. "Aku ingin kita seperti orang pacaran terlebih dahulu agar kita bisa lebih menikmati hubungan kita." Jingga pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Melupakan malam pertama itulah yang ada di kepala Aska. Dia ingin lebih mengenal Jingga karena banyak hal yang belum dia ketahui perihal Jingga dan kehidupannya. Dia hanya tahu bahwa Jingga anak yatim piatu. Namun, ketika menikah kemarin dia pun terkejut dengan nama ayah Jingga. Orang yang keluarganya kenal juga. Banyak rahasia yang masih belum bisa terpecahkan oleh Aska.
Pesanan Jingga dan Aska sudah datang. Terlihat Jingga sudah menelan air liurnya melihat ayam penyet super pedas.
"Mau nyobain gak?" Aska. menggeleng dengan cepat. Dia tidak bisa memakan makanan yang terlalu pedas.
"Cobain dikit aja. Enak loh."
Aska ragu, tapi melihat raut Jingga yang penuh permohonan membuatnya tidak tega. Dia pun membuka mulut dan mengunyah makanan yang Jingga berikan. Wajah merah padam dan dia segera menyambar air mineral yang ada di meja.
"Pedas banget." Aska meneguk air itu kembali dan membuat Jingga tertawa.
"Lucu deh liat kamu begitu." Aska yang tengah meneguk air mineral pun menyudahinya. Dia menatap lekat wajah sang istri tercinta yang terlihat sangat ceria.
"Senang liat suami tersiksa." Jingga pun tertawa dan menjawab, "enggak gitu, tapi lucu ketika kamu wajahnya merah kaya orang marah." Deretan gigi putihnya pun terlihat ketika dia tertawa dan Aska menggenggam tangan Jingga membuat tawa Jingga terhenti. Tawa penuh ketulusan juga kebahagiaan yang baru Aska lihat lagi.
Setelah selesai makan, Aska mengajak Jingga ke suatu tempat. Mata Jingga melebar ketika melihat Aska melajukan mobil ke arah pantai.
Tibanya di sana, Aska menggenggam erat tangan Jingga dan menuju pantai yang terlihat indah di malam hari. Aska memeluk tubuh Jingga dari belakang dengan dagu yang dia letakkan di bahu sang istri. Jingga memejamkan mata merasakan angin laut yang menerpa kulitnya.
Dingin, tapi menenangkan. Apalagi sekarang sudah ada Aska yang tak lain adalah suaminya di sisinya. Sungguh kebahagiaan yang tak terduga dan tak terkira.
"Kamu suka, Sayang?" Jingga tersentak dengan panggilan yang diberikan oleh Aska kepadanya.
"Sa-sayang." Jingga mengulang ucapan yang diucapkan oleh suaminya. Aska tersenyum dan membalikkan tubuh istrinya. Menatapnya lamat-lamat.
"Kenapa terkejut?" tanya Aska.
"Terlalu manis untuk aku dengar." Aska pun tertawa mendengarnya.
"Bukankah hanya panggilan lumrah yang biasa semua suami memanggil istrinya dengan panggilan seperti itu?"
"Iya, tapi di telingaku terasa berbeda. Aku benar-benar merasa dicintai." Lirih, itulah yang dapat Aska tangkap.
Aska tersenyum dan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Dia mengusap lembut rambut Jingga dan mengecup ujung kepalanya.
Aska mengurai pelukannya, tangannya membelai lembut pipi Jingga. Turun ke leher dan mampu membuat Jingga merasa geli.
"Aku mencintai kamu, Jingga Andhira."
Bibir Aska sudah menempel di bibir Jingga. Melumaatt-nya dengan sangat lembut hingga Jingga pun terbawa akan kelembutan yang Aska mainkan. Dia mencoba membalas dengan tangan yang sudah melingkar di leher sang suami tercinta.
Berawal kelembutan hingga menjadi gelora yang semakin memanas di dinginnya udara tepi pantai. Apalagi tangan Aska sudah semakin merengkuh tubuh Jingga hingga menempel pada tubuhnya. Jingga merasakan ada sesuatu yang menonjol keras di bawah perut Aska.
Setelah puas menjelajahi bibir Jingga. Aska menempelkan dahinya di dahi Jingga dengan napas yang menderu. Mata yang sayu.
"Abang mau?" tawar Jingga.
...****************...
Komen atuh ih!
udah taksempur abDi lu sadar.,
atau ngemis y.. minta di akui.. 😁😁😁
pasti ada sinar setelah ny..
padahal udah banyak hati yg mereka sakiti..
orang sabar rezeki ny luas 😊😊😊
jangan y dek y.