Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Nana menatap kalimat Daniel sampai huruf-hurufnya terasa bergerak.
Tanyakan kenapa nomor ini pernah tersimpan di daftar kontak lama Steven.
Di luar kamar, Rumah Besar Sie sudah masuk ke jam sunyi. Namun setelah satu hari penuh bisik-bisik, sunyi itu bukan damai. Sunyi itu seperti orang yang menahan napas di balik pintu.
Nana mengambil amplop, ponsel darurat, dan kertas tiga pertanyaan Pak Shen. Ia tidak tahu mana yang sebenarnya ia butuhkan. Mungkin semuanya. Mungkin tidak satu pun.
Paviliun belakang Steven tidak jauh, tapi malam membuat jalur itu terasa panjang. Lampu taman menyala rendah. Dua orang Tim Lilin yang biasa berpura-pura sebagai staf tidak tampak. Atau mungkin mereka memang ada dan Nana tidak cukup tenang untuk melihat.
Pintu paviliun tidak tertutup rapat.
Dari celahnya, Nana melihat Steven duduk di meja kecil. Di depannya ada laptop terbuka, beberapa kartu SIM, dan satu alat kecil seperti tang. Ia tidak sedang merokok, tidak sedang minum, tidak sedang melakukan hal dramatis. Ia hanya mematahkan satu kartu SIM, memasukkannya ke gelas kosong, lalu menutup laptop saat menyadari ada orang di pintu.
"Masuk atau pergi," katanya.
Nana mendorong pintu.
"Kau selalu tahu kalau ada orang?"
"Kau berjalan seperti orang yang sedang marah pada lantai."
Nana meletakkan amplop Daniel di meja. "Nomor ini pernah ada di kontak lamamu?"
Steven melihat lingkaran pulpen hitam itu. Wajahnya tidak berubah, dan justru itu yang membuat Nana semakin dingin.
"Dari Daniel."
"Aku tidak bertanya dari siapa."
"Kau tidak perlu. Wajahmu sudah menjawab."
Steven mengambil halaman itu, melihat nomor yang dilingkari, lalu meletakkannya kembali. "Nomor lama."
"Itu bukan jawaban."
"Itu fakta."
"Fakta yang kau pilih kecilkan."
Steven bersandar di kursi. "Nomor bisa berpindah tangan. Orang bisa memakai nomor lama untuk membuat orang baru terlihat bersalah."
"Jadi kenapa pernah kau simpan?"
"Karena ada pintu yang harus kusimpan alamatnya."
"Pintu ke mana?"
"Ke tempat yang sebaiknya tidak kau masuki."
Nana tertawa pendek, bukan karena lucu. "Setiap kali kau tidak mau menjawab, kau membuat kalimat seperti tembok."
"Dan setiap kali kau menemukan celah, kau ingin masuk tanpa tahu di baliknya apa."
"Pak Shen mengajariku membaca celah."
Mata Steven menajam. "Pak Shen mengajarimu berpikir. Bukan menabrakkan kepala ke semua pintu yang terlihat terkunci."
"Kalau begitu bantu aku berpikir."
Kalimat itu membuat ruangan diam.
Nana menahan napas. Ia tidak meminta Steven membelanya. Tidak meminta kata manis. Ia hanya meminta satu hal yang seharusnya sederhana.
Jelaskan.
Steven melihat amplop, lalu ponsel darurat di tangan Nana. "Hapus salinan Daniel."
"Apa?"
"Hapus. Jangan simpan di ponselmu. Jangan foto. Jangan kirim ke siapa pun."
"Karena berbahaya untukku atau untukmu?"
"Dua-duanya."
"Itu masih bukan jawaban."
Steven berdiri. Kursinya terdorong sedikit ke belakang. "Kalau kau ingin tetap hidup, kadang bukan semua jawaban boleh kau pegang."
"Aku bosan mendengar itu."
"Bagus. Orang bosan biasanya masih hidup."
"Orang yang terus dibohongi juga masih hidup, tapi dipakai."
Steven berhenti.
Kata itu keluar terlalu tajam. Nana tahu ia mengenai sesuatu. Namun sebelum ia bisa menariknya kembali, ponsel Steven menyala di meja. Layar hanya menunjukkan notifikasi masuk, tapi Nana sempat membaca nama grup.
Keluarga inti.
Lalu ponsel Nana sendiri bergetar. Bukan ponsel pribadinya. Ponsel darurat.
Pesan dari Irwan:
Ke ruang tengah. Sekarang.
Steven mengambil ponselnya, membaca pesan, lalu wajahnya berubah untuk pertama kalinya malam itu. Bukan panik. Lebih buruk. Ia tampak seperti seseorang yang akhirnya melihat pukulan yang sudah lama ia tunggu.
"Apa?" tanya Nana.
"File bocor."
Mereka sampai di ruang tengah hampir bersamaan dengan Stella yang turun dari tangga. Wajah Stella pucat. Tamara sudah berdiri di dekat meja, memegang tablet. William masih memakai pakaian rumah, tapi matanya sepenuhnya terjaga. Lusia duduk dengan selendang di bahu, bibirnya bergetar karena marah atau takut. Irwan berdiri di samping layar televisi yang sudah tersambung ke tablet.
"Siapa yang menerima?" tanya Steven.
Tidak ada yang menjawab.
William menatapnya. "Pertanyaanmu seharusnya, siapa yang belum menerima."
Irwan membuka file di layar.
Judulnya pendek:
Koneksi Rahasia Steven Sie dengan Jaringan Victoria Wan.
Nana merasa telapak tangannya mendadak basah.
Halaman pertama berisi tangkapan layar email yang tadi siang sudah dibahas, ucapan terima kasih atas itikad baik Steven. Halaman kedua berisi daftar panggilan. Beberapa nomor diburamkan. Satu nomor tidak.
Nomor yang dilingkari Daniel.
Di sebelahnya ada catatan kecil: tersimpan dalam kontak lama Steven Sie.
Stella menutup mulut. "Tidak..."
Lusia berdiri. "Ini fitnah atau bukan?"
Steven menatap layar. "Sebagian."
"Sebagian apa?" suara William turun.
"Sebagian benar. Sebagian dipotong."
Kalimat itu lebih buruk daripada menyangkal.
Nana merasa perutnya mengeras. Pak Shen pernah berkata, laporan tidak menatap balik. File di layar itu juga tidak. Namun semua orang di ruangan menatap Steven, dan Steven menatap file itu seolah ia sudah tahu sebagian isi pisau tersebut.
Tamara menyentuh layar dan membuka halaman berikutnya. Ada foto buram dari tempat parkir. Seorang pria dengan postur mirip Steven berdiri di dekat mobil gelap. Wajahnya tidak jelas, tetapi tanggalnya pagi itu, sebelum rapat keluarga.
Di bawah foto tertulis:
Pertemuan tidak resmi dengan perwakilan jaringan Wan.
"Kau bilang memberi umpan," kata Tamara.
"Ya."
"File ini bilang kau sudah berkomunikasi dengan mereka sebelum Hasan mengirim paket rambut Nana."
Ruangan seperti kehilangan suara.
Nana menatap Steven.
Sebelum Hasan.
Itu berarti sebelum semua ancaman yang membuat rumah ini menutup pintu, sebelum helper laundry terluka, sebelum Nana merasa dirinya menjadi titik tekan. Jika file itu benar, Steven bukan sekadar merespons bahaya. Ia sudah berada di jalur yang sama lebih dulu.
"Jawab," kata William.
Steven menatap ayahnya. "Tidak di sini."
William tertawa sekali, pendek dan dingin. "Di mana lagi? Di depan Victoria Wan?"
"Papa," Stella memohon.
"Diam, Stella."
Stella tersentak. Nana ingin meraih tangannya, tapi tubuhnya sendiri terasa sulit bergerak.
Irwan maju setengah langkah. "Pak William, metadata file ini perlu diperiksa. Ada bagian yang terlihat disusun ulang."
Lusia langsung menoleh. "Disusun ulang bukan berarti palsu."
"Benar," kata Irwan. "Tapi juga bukan berarti utuh."
Albert muncul di layar tablet lain, terhubung dari rumah aman. Wajahnya lelah, suaranya pelan. "Kita harus tenang. File seperti ini memang dibuat untuk memecah rumah dari dalam."
Nana ingin percaya kalimat itu. Namun Albert melanjutkan, "Tapi Steven juga harus menjawab. Kalau tidak, kita tidak punya cara melindunginya."
Melindunginya.
Kata itu terdengar indah. Terlalu indah, seperti kata Pak Shen.
Steven menatap Albert beberapa detik. "Paman selalu pandai memilih kalimat."
Albert tampak terluka. "Aku hanya ingin rumah ini tidak hancur."
"Tentu."
Satu kata itu membuat Nana merinding. Bukan karena keras, melainkan karena terlalu halus.
William menunjuk layar. "Mulai malam ini, Steven tidak keluar rumah tanpa pengawasan."
Steven tersenyum tipis. "Itu tidak akan berhasil."
"Kau menantangku?"
"Aku memberi tahu fakta."
"Fakta?" William maju satu langkah. "Fakta di layar itu cukup membuat seluruh mitra kita menutup telepon besok pagi."
Tamara menambahkan pelan, "File ini tidak hanya masuk ke grup keluarga. Vendor lama, beberapa orang legal, dan satu grup asosiasi juga menerima."
Jadi bukan hanya rumah ini.
Seolah menegaskan kalimat itu, ponsel perwakilan legal berdering. Ia melihat layar, menolak panggilan, lalu panggilan lain masuk. Kepala pelayan muncul di ambang pintu dengan wajah bingung.
"Pak William, telepon kantor depan tidak berhenti. Ada vendor yang minta konfirmasi apakah pengiriman minggu ini tetap aman."
Lusia membuka ponselnya, lalu wajahnya berubah pucat. "Grup perkumpulan juga sudah membicarakan. Mereka tidak menyebut nama, tapi semua orang tahu ini tentang kita."
Stella duduk pelan, seperti lututnya kehilangan tenaga. "Mereka baru lihat file beberapa menit dan sudah bicara seolah semuanya selesai."
Nana menatapnya. Selesai. Kata yang sama dengan laporan Patrick. Saat orang menginginkan jawaban cepat, kebenaran sering tidak diberi waktu memakai sandal.
William berkata kepada kepala pelayan, "Tidak ada jawaban keluar dari rumah ini. Semua telepon dicatat, tidak ada komentar."
Namun perintah itu terlambat untuk menghentikan getar ponsel di meja, di tangan, di saku. Rumah besar yang biasanya mengendalikan kabar kini dikepung oleh kabar yang bergerak lebih cepat daripada pintunya bisa ditutup.
Nana melihat file itu lagi. Dari laporan Patrick, ia belajar bahwa kertas bisa dibuat untuk membuat orang berhenti bertanya. Dari Daniel, ia belajar bahwa angka dan domain bisa punya pemilik lama. Dari Pak Shen, ia belajar jangan menjawab terlalu cepat.
Namun tubuhnya tidak sebijak pelajaran-pelajaran itu. Tubuhnya hanya tahu satu hal: nama Steven sedang diletakkan di layar seperti barang bukti, dan semua orang mulai bergerak sesuai arah yang diinginkan file itu.
Ponsel pribadi Nana bergetar.
Daniel:
Jangan buka file itu sendirian. Jangan juga percaya versi yang paling rapi.
Terlambat.
Nana sudah membukanya di ponsel karena Stella mengirim tanpa sadar ke ruang chat kecil mereka. Ia menggulir sampai halaman terakhir, dengan jari yang terasa kaku.
Halaman terakhir bukan foto.
Itu tabel.
Tanggal, jam, nomor kontak, durasi, lokasi sinyal. Beberapa baris ditandai merah. Di baris paling bawah, tertulis satu keterangan yang membuat seluruh suara di ruang tengah menjauh dari telinganya.
Kontak berulang antara Steven Sie dan jalur pribadi Victoria Wan terdeteksi sebelum operasi Hasan dimulai.
Nana menatap kalimat itu sampai matanya panas.
Di layar, nama Steven dan Victoria Wan berdiri dalam satu baris yang sama.