Sepagi ini Adam Halilintar bersama pemuda desa sudah mangkal di depan sebuah Sekolah PAUD, demi melihat Ibu Guru Jingga, guru honorer di sekolah tersebut, kembang desa yang menjadi idaman dan rebutan para pemuda desa.
"Ibu guru datang," seru salah satu kawan barunya yang bekerja sebagai penadah aren.
Lalu dari balik semak, muncul seorang gadis yang ditunggu-tunggu sedari tadi.
Ketika lewat di depannya, matanya mengamati gadis itu dari atas ke bawah. Otaknya merespon dengan cepat informasi yang ditangkap matanya, spontan memberikan penilaian terhadap gadis itu.
Di bawah standar.
Hatinya mendongkol karena gadis yang ditunggunya ternyata jauh dibawah ekspektasinya.
Deretan wanita yang pernah jatuh ke dalam pelukannya, kelasnya jauh di atas wanita yang baru lewat tadi.
Bila ia turut menggoda Ibu Guru Jingga seperti pemuda desa, lantas berpacaran dengan gadis itu, maka akan menjadi pencapaian terburuk dalam sejarah percintaannya.
Ia yakin, dirinya akan menjadi bahan tertawaan dan bahan lolucon teman-temannya di kota.
Karena kenakalan Adam, ayahnya mengirimnya untuk belajar agama di sebuah desa. Di desa itu, ia menemui kehidupan yang jauh berbeda dari tempat asalnya.
Bagaimana petualangan cinta selanjutnya setelah ia tinggal di desa tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Buaya dan Buguyu
Memuliakan orang tua merupakan anjuran agama. Salah satunya melakukan apa yang diridhoi oleh orang tua.
Namun baru saja Jingga melakukan hal yang bertentangan. Berbohong kepada bapaknya. Pamit ke kota sebab memiliki urusan di kantor Dinas Pendidikan. Padahal ia hendak ke kota untuk membesuk Adam Halilintar yang masuk rumah sakit setelah terjatuh dari pohon flamboyan.
Awalnya ia ingin jujur pada bapaknya, bila ia hendak membesuk Adam Halilintar. Namun bila bapaknya mengetahui Adam Halilintar jatuh dari pohon flamboyan sebab permintaan diluar nalarnya, tentu bapaknya akan murka. Sementara ia menghindari hal itu terjadi.
"Kalau sampai sore urusanmu belum selesai, sebaiknya kamu menginap di rumah Bibi Zaenab saja," pesan Bapaknya. Menyebut nama salah satu saudara ibunya yang tinggal di Kota Kabupaten.
Ia berangkat ke kota mengendarai sepeda motor matic yang ia pinjam dari Ibu Guru Murti. Sebab Nadira yang membawa sepeda motor tua bapaknya belum pulang dari sekolah.
Jarak dari Kampung Kopi ke Kota Kabupaten cukup jauh. Lebih dari lima puluh kilometer. Sehingga dengan kecepatan kendaraan yang ia kendarai, dibutuhkan waktu lebih dari sejam untuk sampai ke kota.
Sebab itulah bapaknya memintanya menginap di rumah Bibi Zaenab, khawatir ia pulang larut malam.
Namun bagi dirinya yang sudah terbiasa bolak-balik dari Kampung Kopi ke kota, jarak itu sudah dekat.
Begitu tiba di kota, ia melajukan kendaraan ke rumah sakit umum dimana Adam Halilintar dirawat.
Baru saja memarkir sepeda motor di tempat parkir, Jusman sudah menghampirinya.
"Adam sudah pulang tadi, hanya rawat jalan tidak perlu rawat inap, Bu Guru," terang Jusman.
Sehingga ia urung melepas jaket yang ia gunakan untuk melindungi tubuh dari terpaan angin saat berkendara.
"Pulang ke Bukit Hejo?"
"Bukan, Adam masih di kota sebab harus rawat jalan. Besok masih harus ke rumah sakit. Tapi nginapnya di hotel karena nggak punya kerabat di sini. Kalau Ibu Guru mau membesuk Adam, Bu Guru ke Hotel Akasia saja kamar 202," jelas Jusman.
Entah mengapa penjelasan Jusman membawa rasa kurang nyaman baginya. Rasanya berat untuk membesuk Adam bila pria itu berada di hotel, bukan di rumah sakit.
"Di hotel ada siapa saja?"
"Tadi ada beberapa warga Bukit Hejo yang membawa Adam ke rumah sakit," jawab Jusman.
Meskipun berat membesuk Adam Halilintar sebab pria itu menginap di hotel, namun rasa bersalah yang lebih berat mendorong ia melajukan kendaraan menuju Hotel Akasia yang dimaksud Jusman.
**********
Skenario yang sudah disusun Adam Halilintar terpaksa diubah dengan cepat sebab diluar perkiraan, ternyata Jingga nekat ke kota untuk membesuknya. Ia pun terburu-buru berangkat ke kota berboncengan dengan Yunus, dikawal Jusman, Arsal dan Ramli.
Tetapi bukannya menuju rumah sakit, ia malah mem-booking sebuah kamar hotel. Sebab ia yakin Jingga akan tersesat ke kamar 202 Hotel Akasia.
Kaki sampai lutut, tangan sampai siku telah dibalut perban untuk mengelabui Ibu Guru Jingga.
Ia juga sudah mengusir Yunus, Ramli dan Arsal dari kamar 202 ke kamar 201, sebab yang boleh berada di kamar 202 hanya dirinya dan Jingga.
Sesuatu yang sudah lama dinanti-nantinya.
Jusman tetap tinggal untuk membuka pintu bila Jingga mengetuk pintu. Dan bila Jingga telah berada di dalam kamar, Jusman harus pindah ke kamar 201, meninggalkannya bersama Jingga di dalam kamar.
Ia tidak sabar menunggu bagaimana reaksi Jingga nanti. Wanita yang menyebutnya 'buaya' di baruga desa saat donor darah.
Menunggu Jingga datang, ia sibuk berselancar di dunia maya melalui handphone-nya, sambil berbaring di tempat tidur. Hal yang tidak bisa dilakukannya selama berada di Bukit Hejo.
Begitu suara ketukan pintu terdengar, ia tersenyum seketika.
Mangsa akhirnya masuk perangkap.
Jusman yang sudah menghafal skenario dengan cekatan berdiri, melangkah ke arah pintu, lalu membuka pintu.
"Silahkan masuk Bu Guru!" terdengar suara Jusman dan langkah kaki yang memasuki kamar hotel.
Lalu Bu Guru muncul dari balik koridor kamar mandi. Disusul satu Bu Guru dan satu Bu Guru yang lain lagi.
Membuat alisnya saling bertaut. Apa matanya tidak salah lihat? Sebanyak ini wanita memasuki kamarnya. Padahal yang ia butuhkan hanya Jingga seorang.
Ya, Jingga datang bersama dua teman wanita yang lain. Yang diperkenalkan sebagai teman kuliah PGTK.
Kenapa nggak bawa satu angkatan sekalian? Bila perlu dengan dosen-dosennya.
Sial.
Hal yang terjadi kembali diluar skenario. Padahal besar harapannya bisa berduaan dengan Jingga di dalam kamar.
Saat dua teman Jingga masing-masing duduk pada dua kursi yang tersedia, Jingga tetap berdiri memasang jarak terjauh darinya.
"Di sini Buguyu!" Ia menepuk tempat tidur, dengan maksud agar Jingga duduk di tepi tempat tidur.
Dua teman Jingga tertawa mendengar ia menyebut Jingga dengan kata panggilan Buguyu.
"Di sini aja, Dek." Jingga tetap kekeh berdiri bersandar pada dinding kamar mandi.
Dek ? Perutnya berkedut mendengar Jingga memanggil Adek padanya. Andaikan tidak ada Ibu Guru yang lain, tentu ia akan bangun dan menyeret Jingga ke tempat tidur saking gemasnya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan dokter?" tanya Jingga dengan tatapan cemas padanya.
"Nggak ada yang perlu dicemaskan, malah dokter minta aku naik pohon flamboyan lagi," jawabnya asal. Kesal sebab Jingga datang membawa pasukan, juga menolak duduk di dekatnya.
Jingga menunduk menyembunyikan wajah merona mendengar ucapannya.
"Sakit ya, Dek?" tanya Jingga polos menunjuk kakinya yang diperban, kehilangan aura seorang guru sebab dipenuhi rasa bersalah.
"Nggak kok, biasa aja, baru terasa sakitnya saat kamu memanggil aku Adek. Kalau pengen terus-terusan menyakitiku, jangan berhenti panggil adek." Matanya memperhatikan Jingga yang begitu canggung.
"Memang harus dipanggil apa? Wajar kan aku panggil adek, kan aku lebih tua dari kamu," kilah Jingga.
"Kalau nggak mau panggil namaku, panggil sayang saja," imbuhnya, disusul gelak tawa dua ibu guru yang lain.
Wajah Jingga merah padam seketika. Melirik teman-teman yang menertawai.
"Kamu kok nekat sih ke bukit seberang malam-malam, manjat pohon flamboyan lagi?" tegur Jingga.
"Itu karena aku berusaha untuk memenuhi apapun permintaan Buguyu. Tidak peduli harus bertaruh nyawa untuk itu."
"Atau jangan-jangan Buguyu sengaja ingin membunuhku ya? Biar berhenti mendekati Buguyu?" selorohnya.
Kelihatannya Jingga tersinggung dengan selorohannya sebab wanita itu terperanjat. Selang beberapa detik mata ibu guru itu berkaca-kaca, lalu keluarlah air dari sudut mata yang menganak sungai di pipi.
"Loh kok nangis sih?" Ia bangun dari posisi berbaringnya, tidak menyangka Jingga begitu sensitif. "Aku kan cuma becanda."
"A a ku bukan pembunuh," ucap Jingga terbata-bata. Lalu berbalik melangkah keluar kamar dengan cepat.
"Hey tunggu!" Ia hendak mengejar, namun segera sadar, bila kakinya tidak boleh digunakan ut melangkah atau kebohongannya akan terbongkar.
Ia pun menjatuhkan diri di atas lantai berpura-pura meringis menahan sakit.
Salah satu ibu guru teman Jingga menolongnya, membantunya duduk tegak, satu lagi mengejar Jingga.
"Jingga! Dia jatuh," teriak ibu guru yang mengejar Jingga.
Meskipun skenario sering berubah tidak sesuai rencana, hasilnya tetap sesuai rencana.
Disitulah hebatnya seorang ADAM HALILINTAR.
Jingga kembali ke kamar, panik melihatnya tergeletak di lantai.
"Kamu ngga apa-apa Dam?" tanya wanita itu cemas, berjongkok di dekatnya, tanpa menyentuhnya.
Ia menggeleng sambil meringis, menyandarkan kepalanya ke tempat tidur.
"Maafkan aku." Air mata Jingga semakin meleleh dipenuhi rasa bersalah.
Sementara dua ibu guru yang menemani Jingga sangat mengerti bila ia butuh waktu berduaan dengan Jingga, pamit pulang.
"Kami pulang ya Jingga? Harus kembali ke sekolah."
"Jangan dulu, Nir. Tunggu aku!" cegah Jingga, mungkin kurang nyaman bila hanya mereka berdua di dalam kamar.
"Masa kamu tinggalkan orang sakit sendirian," protes ibu guru yang berbaju batik.
"Ia terimakasih Bu Guru sudah datang. Jingga tinggal di sini dulu. Hati-hati di jalan ya!" pungkasnya, baru saja memenangkan adu strategi. Tidak peduli Jingga melesatkan tatapan protes padanya.
Dua ibu guru itu melangkah keluar kamar lalu terdengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali.
Akhirnya ...
Buaya dan Buguyu kini terkurung di dalam kamar.
Apa yang akan terjadi?
**********
masih mau ngelanjutin cerita nya
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
moga sehat sehat
Selamat datang bayi cantik🥰
makasih k ina udah up kembali🙏🥰
q tunggu jg di cerita edel aa