Hasrat seorang Casanova tiba-tiba saja menggelora tatkala dirinya bertemu dengan seorang model pakaian dalam di sebuah lift.
Namun, tak disangka wanita itu justru memukul wajahnya dengan sebuah tas besar.
"Kau memperlihatkan anggota tubuhmu di berbagai majalah dan media, bisa-bisanya kau menolak tidur denganku!"
"Aku begini untuk bekerja, bukan untuk menjual diri!"
bagaimanakah perjalanan Sang Casanova mendapatkan wanita incarannya?
Instagraam: @iraurah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegaduhan
Beberapa menit sebelumnya...
Sean yang diam-diam sedang menonton 'film kesukaannya' terlihat sangat fokus menatap layar laptop, Sean merasa butuh hiburan di sela-sela pekerjaan yang menumpuk.
Sangking fokusnya Sean bahkan ikut mendesahh ketika melihat salah satu adegan yang ditampilkan.
Kadang tatapannya menajam kadang juga berubah sayu, tergantung bagaimana cuplikan yang terjadi.
Tangan Sean ikut meremass jari-jarinya sendiri, seolah ingin ikut melakukan hal yang sama seperti di adegan dalam film. Ya, begitulah kira-kira kelakuan almarhum semasa hidupnya 😅.
Dan di detik-detik terakhir 'Puncak' film tiba-tiba saja sesuatu menganggu konsentrasi Sean. Pintu ruangan Sean di buka keras tanpa ada yang mengetuk terlebih dulu.
BRAKKK!
Sean terlonjak, buru-buru ia menutup laptop miliknya.
Akan tetapi Sean langsung tercengang ketika mendapati rekan bisnisnya lah yang masuk begitu saja, alis Sean makin mengkerut tatkala ia melihat Sofia yang berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh.
"Nona Sofia?"
PLAKKK!!
Sebuah tamparan Sofia layangkan di wajah Sean, lelaki yang mendapat tamparan di wajahnya langsung memegang pipi kiri yang terasa panas.
Sean menoleh pada Sofia, tak terima dengan perlakuan wanita dihadapannya ini.
"Apa-apaan ini?!!"
Seakan tak puas Sofia kembali mendaratkan tamparan di pipi yang satunya
PLAKKK!!!
"Lelaki brengsekk seperti mu pantas mendapat tamparan dariku!!!"
"Apa maksud mu?? Aku tidak mengerti!!" Ujar Sean menyanggah.
"Oh.. Masih tidak mau mengaku ya?!!"
Sofia mengambil buku yang tergeletak di meja kerja Sean, perempuan itu dengan sekuat tenaga memukul Sean dengan buku yang cukup tebal.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Aw..... Hentikan ini!.... Aduh....!"
"Rasakan ini!! Beraninya kau mengajak Bella tidur denganmu pria banjingann!!! Ini belum apa-apa!! Dasar pria brengsekk....!!"
Bugh!
Bugh!
"Kalau aku tau kau sebejat itu tidak akan aku biarkan Bella bertemu denganmu!!"
Bugh!
"Akhhhh..... Hentikan........ "
Jeritan Sean mengundang dua pasang mata yang tak lain adalah Bella dan Olive, indera penglihatan mereka terbelalak sempurna kala melihat Sofia yang tengah memukul Sean berkali-kali.
"Sofia.... Hentikan" Bella langsung berusaha menjauhkan Sofia dari Sean, Olivia pun ikut membantu kakaknya.
"Lepaskan aku!! Biar aku beri pelajaran pada lelaki bajingann ini...!!"
"No, Sofia hentikannnn...... " Bella menarik-narik tubuh Sofia yang amat kuat.
"Kak Sofia jangan bunuh orang itu... Kau bisa masuk penjara!" Ujar Olivia penuh kepolosan.
"Biarkan saja! Aku memang diciptakan untuk melenyapkan orang ini!"
Bugh!
Bugh!
***
Di luar ruangan Damian baru kembali dari ruang manajer, setelah berbincang-bincang dengan petinggi perusahaan Damian lantas berjalan menuju ruangan Sean, sang atasan. Damian ingin mengecek sudah sejauh mana Sean menyelesaikan pekerjaan yang ia beri.
"Hiks.... Mamiiiiiiiiii...... Verrel takutttt...... Huaaaaaaa" Di depan meja sekertaris Damian mendengar suara Verrel yang tengah menangis, dan benar saja laki-laki itu sedang menjerit sambil menyebut-nyebut nama Ibunya.
"Baby boss? Ada apa? Kenapa anda menangis?" Tanya Damian.
"Wanita itu jahat! Dia mencekikku.... Verrel ingin pulang!"
"Wanita???" Gumam Damian bingung.
"Sofia stop.... "
"Lepaskan aku, aku ingin memukul wajah sok tampannya ini... "
"Kak Sofia jangan bunuh dia... "
Detik kemudian Damian mendengar teriakan beberapa wanita dalam ruangan Sean, pandangan Damian beralih pada pintu di belakangnya.
"Tuan Sean?"
Seketika Damian mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan, dan alhasil benda penghalang itu terbuka dengan lebar.
BRAKKK!
Bola mata Damian melebar penuh keterkejutan!
Tiga orang wanita yang salah satunya ia kenali tengah memukul-mukul Sean hingga membabi buta!
Melihat atasannya di pukuli spontan Damian berteriak guna menghentikan aksi brutal para wanita itu.
"BERHENTIIIIIIIIIIIIIIIIII................... "