"Bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan, aku tetap akan mencintaimu"Ethan Thomas Essex & Hana Miller
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YellowBanana26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Ethan turun dari kudanya dengan amarah, ia membuka pintu rumah milik Lady Harrington begitu keras, ia bahkan tidak perduli dengan panggilan Richard yang terdengar marah.
Di pikirannya ia hanya perlu bertemu dengan sang Lady dan sepertinya Lady Harrinton sudah tahu mengenai kedatangannya yang tiba-tiba, sosoknya kini sedang menatapnya dari atas tangga.
"Kau berhutang penjelasan kepadaku." Suaranya sarat akan kemarahan
"Aku sudah melakukannya."
"Tapi tidak semuanya."
Lady Harritong terdiam sejenak sebelum ia melanjutkan pembicaraannya kemudian Richard datang dengan tergesa-gesa hendak meminta penjelasan atas sikap kasar pria itu namun sang Lady menghentikannya.
"Richard pergilah nak, ini bukan sesuatu yang dapat kau tangani."
"Tapi--"
"Tidak sayang, Ethan tidak akan menyakitiku."
Solah tahu apa yang akan di ucapkan putranya sang lady dengan cepat menghentikannya.
"Kau yakin mom."
Lady Harringtong hanya mengangguk.
" baiklah, kalau begitu aku akan pergi. "
Richard melangkah pergi meskipun pria itu enggan namun apa boleh buat ibunya sudah mengatakan meski tidak secara langsung bahwa itu bukan urusannya dan ia tahu ibunya benar.
"Nah sekarang apa yang ingin kau dengar lagi nak."
"Kebenarannya."
"Kau bilang kau tidak mempercayaiku."
"Benar, tapi aku harus tahu."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan Ethan dan sebaiknya persiapkan hatimu."
Lady harrington membawanya keruang tamu lalu perempuan itu meletakan sesuatu d mejanya.
"Pisau."
"Kau benar tapi ketahuilah Ethan ini bukan sekedar pisau biasa."
"Apa maksudmu?"
"Pisau ini tahu siapa yang pantas menggunakannya."
"Apa itu Hana?"
"Benar itu adalah Hana, pisau ini memilih kekasihmu dan pisau ini juga yang akan mengakhiri kehidupan abadimu lewat tangannya."
Ethan bergeming, menatap lekat pisau perak di hadapannya.
"Sekarang apa kau mengerti mengapa aku berkeras memisahkanmu."
"Tapi mengapa kau memintaku membunuhnya?"
"Mungkin aku hanya mengujimu."
"Dan kau tahu aku tidak akan pernah melakukannya."
"Aku tahu begitu pula Hana, dia menangis ketakutan saat tahu hal itu. dia bilang tidak bisa dan menolak meski dia tahu konsekuensinya."
"Apa Konsekuensinyq ?"tanya Ethan setengah melamun.
"rasa sakit yang mebuatnya perlahan mati."
Mendengar itu Ethan menghela nafasnya, ia mengingatnya sekarang. ia pernah melihat kekasihnya kesakitan bahkan dalam pelukannya dan buruknya lagi ia tidak melakukan apapun. ia tidak tahu hal itu begitu menyiksa kekasihnya tapi mengapa perempuan itu tidak mengatakannya? mengapa perempuan itu lebih memilih tersiksa ketika dirinya tahu ada jalan yang mudah.
Karena aku mencintaimu Ethan.
Suara lembut Hana merasuki benaknya membuat pria itu terpaku, kemudian tawa terdengar dari mulutnya meski tidak ada yang lucu sama sekali.
"Aku tidak mungkin berbohong kepadamu Ethan. Hana tidak sepenuhnya berada disini lebih tepatnya perempuan itu tidak sepantasnya ada di sini."
Ethan menghentikan tawanya, lalu menatap tajam kepada sang lady.
"Sebaiknya aku pergi. terimakasih atas semuanya bibi kau benar-benar membuatku terkejut."ucapnya sarkas.
"Apa kau akan pulang Ethan?"
"Bukan urasanmu."
...***...
Sampai sore itu Hana tahu Ethan tidak kunjung kembali ke Mansionnya meski Hana menunggu dengan cemas di dalam kamarnya ia tahu ia tidak akan pernah mendengar pria itu mendatangi kamarnya. hari ini bahkan semua orang di dalam Mansion menutup mulut dan telinga mereka, bersikap seolah dirinya tidak ada.
Mungkin mereka membencinya atau mungkin hanya prihatin terhadapnya. Hana tidak tahu mana yang benar tapi saat ia menghampiri Mina seperti saat ini perempuan itu justru menghindarinya bahkan tak sekalipun menatapnya.
Hana menghela nafasnya panjang, sesungguhnya dirinya merasa lelah dan ia ingin menyerah tapi ia ingin memastikan Ethan pulang dan menemuinya, setidaknya untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.