"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan Adrian
"Dimana Tasya? Kenapa dia tidak terlihat?"
Sudah lebih dari 1 jam Adrian pulang ke rumahnya, akan tetapi rumahnya kini bagaikan kuburan yang sangat sepi.
Hanya ada 1 pelayan yang kini menghadap Adrian.
"A-anu, Tuan! Tadi Nona Tasya keluar. Dia bilang ada hal penting yang harus di urus." Adrian menghela napas panjang, kemudian mengibaskan tangannya menyuruh pelayan itu pergi.
Ia melangkahkan kakinya hendak menuju tangga, pandangannya fokus pada anak tangga yang lumayan banyak. Tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya, ketika melihat beberapa tetes cairan berwarna merah di dekat anak tangga pertama.
"Apa ini?" Adrian sedikit membungkukkan tubuhnya, untuk melihat lebih dekat noda warna merah yang mulai mengering tersebut.
Jarinya menyentuh cairan itu, matanya membelalak mengetahui bahwa itu bukan cairan biasa, melainkan darah.
"Darah siapa ini?!"
Kepanikan melanda, Adrian segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Tasya berkali-kali.
Tiba-tiba saja, Adrian mendengar ponsel yang berbunyi. Ia segera menghampiri ponsel tersebut. Ponsel yang tergeletak di atas meja ruang tamu, itu adalah milik Tasya.
Kini bukan hanya kepanikan, bahkan Adrian mulai khawatir akan Tasya.
Hanya ada satu yang harus Adrian tanyakan perihal kemana Tasya, yaitu ibunya sendiri yang mungkin kini sedang berada di kamarnya sedang tertidur.
Adrian mula-mula merasa segan, akan tetapi hatinya lebih mencemaskan Tasya. iapun membuka pintu kamar ibunya yang tak terkunci.
Hatinya mencelos saat melihat tidak ada siapapun di dalam kamar tersebut. Bahkan sosok ibunya yang ia pikir tengah terlelap di atas ranjang tidak ada. Ranjang itu masih rapi dan kosong seperti belum ada yang merebahkan tubuhnya disana.
"Kemana ibu pergi?" Adrian bertanya-tanya sendiri.
Ia menelepon ponsel ibunya, sama halnya seperti ponsel Tasya, ponsel ibunya berdering tepat di atas ranjang.
"Bagaimana bisa ponselnya ada tapi pemiliknya tidak ada? Apa mereka sedang berada dalam bahaya?"
Adrian kembali melangkahkan kakinya, tujuannya pelayan yang tadi mengatakan bahwa Tasya pergi keluar. Hatinya tidak tenang saat Adrian berjalan menyusuri koridor rumahnya sendiri.
"Apa Tasya memberitahumu mau pergi kemana?"
Pelayan itu terlihat gemetar ketakutan, wajahnya pucat seolah menyembunyikan sesuatu.
"Tu-tuan! Ta-tadi Nyonya Tasya mem-"
"Aku pulang Adrian!" si pemilik nama yang sejak tadi disebut dan dicemaskan Adrian datang dengan senyuman cantiknya.
"Astaga, aku sangat khawatir padamu!" Adrian segera memeluk Tasya.
"Kau darimana saja? Kenapa keluar malam-malam begini?"
"A-aku, hanya mencari udara segar!" Tasya terlihat gelagapan, pandangannya menunduk menyembunyikan sesuatu. Adrian membingkai wajah Tasya sambil tersenyum.
Pandangannya menelusuri Tasya dari bawah ke atas, Adrian membelalakan matanya melihat ada sedikit noda merah di dress ketat Tasya yang berwarna silver tersebut.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa ada darah di bajumu?" Tasya menundukan wajahnya, mengikuti arah kemana Adrian menunjuk. Ia sangat terkejut dengan noda darah di dressnya tersebut.
Tasya mulai gemetar, ia mulai tak sanggup berhadapan dengan Adrian.
"Ini bukan darah, ini saus tomat yang mengenai bajuku saat aku makan di resto tadi." Ucap Tasya dengan tangan yang gemetar.
"Oh ya, Ibu juga tidak ada di kamar. Kemana dia? Apa dia pergi bersamamu?"
Duarr...
Tasya sangat kebingungan, entah ia harus menjawab pertanyaan Adrian seperti apa. Rasa takut mulai menguasai hatinya.
"I-ibu? Ta-tadi dia pamit untuk ke rumah kebun. Dia bilang tidak sempat berpamitan padamu karena ada hal penting yang harus dia urus disana." Kegugupan bisa Adrian rasakan.
Baginya Tasya seperti menyembunyikan sesuatu. Naluri Adrian mulai mencurigai Tasya.
"Ya sudah," Adrian menyudahi pertanyaannya. Membiarkan Tasya pergi tanpa berkata apapun pada Adrian.
Langkah kaki Tasya terlihat sangat terburu-buru, seolah takut berhadapan dengan Adrian lama-lama.
Adrian membiarkannya pergi, kini ia melangkah menuju kamar ibunya.
Di kamarnya, Tasya tengah mengemasi barang-barangnya dan sebagian besar pakaiannya. Tak lupa ia memasukan beberapa kartu kredit dan atm, juga beberapa kotak perhiasan miliknya.
"Aku harus pergi sementara! Sebelum Adrian tahu segalanya!" Tasya terus memasukan pakaian yang berada dalam lemarinya.
Setelah selesai, ia melangkahkan kakinya menuju keluar. Tepat saat itu dia berpapasan dengan Adrian.
"Mau kemana kau dengan kedua kopermu itu?! Kau mau pergi?!"
"Adrian, aku mau menyusul Ibu! Dia baru saja meneleponku, katanya aku harus membantunya disana."
Adrian mengerutkan dahinya.
"Kita pergi bersama!" putusnya yang langsung membuat mata Tasya membulat sempurna.
"Ti-tidak!"
"Ibu menyuruhku datang tanpamu!"
Adrian semakin merasa curiga pada Tasya.
"Baiklah, hati-hati di jalan! Oh ya, aku akan mengantarmu sampai bandara!"
Adrian menarik tangan Tasya, memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil. Perasaan Tasya mulai tenang, lantaran Adrian yang melepaskannya pergi setelah ini.
Keduanya sampai di bandara, dengan Tasya yang terburu-buru memasuki pesawat dengan tiket yang beberapa jam yang lalu dipesannya setelah apa yang ia lakukan pada mertuanya.
"Dia harus aku selidiki!" Gumam Adrian yang melihat kepergian Tasya dalam sekejap mata.
...****************...
Bersambung...
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????