NovelToon NovelToon
Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:946.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: dewi wahyuningsih

" Kau menggoda ku lagi?! dasar sialan! pergi kau jal*ang! "
Kata-kata itulah yang sering aku dengar saat suamiku bangun di pagi hari.

Saat malam ia pulang dengan keadaan mabuk, dia memaksaku untuk melakukan hubungan suami istri. Tapi saat pagi, dia menendang ku layaknya seonggok sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah

Rumah megah yang terlihat begitu asri, tapi sayangnya tidak se asri hati si pemilik rumah. Hati dan jiwanya seolah berkelana mencari keberadaan anak dan istrinya. Jordan selalu berpikir begitu posisitif selama ini sampai dia tidak memikirkan bagaimana jika butuh waktu lama untuk menemukan Gaby dan juga anak mereka. Dulu saat awal kehamilan Gaby, dia begitu gontai hingga tidak tahu harus bagaimana caranya mencari keberadaan Gaby dengan tubuh yang lemas dan terus menerus mual. Tapi saat keadaanya membaik, waktu sudah berlalu berbulan-bulan lamanya. Jejak Gaby juga tidak bisa lagi di lacak. Ditambah lagi Rendy yang seolah mempermainkannya.

Di malam yang sunyi dan gelap, Jordan kini tengah meringkuk memeluk photo Gaby erat. Rasa rindu yang sudah menggunung itu benar-benar terasa begitu menyakitkan hingga rasanya dia kehilangan semangat untuk hidup. Berkali-kali dia mencoba untuk menyemangati diri dengan meyakinkan hatinya bahwa suatu hari nanti dia pasti akan bertemu dengan anak dan istrinya. Tapi sayang, semuanya terasa sulit untuk menjadi nyata dan membuat Jordan kehilangan alasan untuk tetap bertahan hidup. Beruntunglah, disaat seperti ini, Ron selalu ada untuknya dan terus memberikan semangat untuknya.

" Tuan, saya berada di luar. Jika anda membutuhkan sesuatu, tolong panggil saya saja. " Ucap Ron yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar Jordan yang tidak memiliki penerangan sama sekali. Inilah cara Jordan menghukum dirinya sendiri. Meski tidak bisa membuatnya merasa lebih baik, tapi dia mencoba segala cara untuk menghukum dirinya sendiri dengan caranya.

" Hem.. " Seperti biasa, beginilah Jordan yang beberapa tahun terakhir ini mnejadi sangat pendiam dengan tatapan putus asa yang berkepanjangan.

Ron mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Sebenarnya bukan hanya dia yang ada disana untuk menghibur hari-harinya Jordan, Ibu Lidia dan adik perempuannya, Diana juga selalu datang untuk menemani Jordan. Tapi mereka hanya bisa kembali dengan murung karena Jordan selalu meminta mereka untuk membiarkannya sendiri.

Sudah terbiasa bagi Ron untuk duduk di sofa yang berada di dekat kamar Jordan. Bukanya tidak ada kamar, dia hanya terlalu khawatir dengan Jordan. Sedikit saja dia mendengar pergerakan Jordan dari dalam kamar, dia akan langsung bangkit untuk memastikan keadaan Jordan tetap baik-baik saja. Entah bagaimana Ron bisa begitu sensitif beberapa tahun ini. Dia sendiri tidak tahu apa alasan begitu mengkhawatirkan keadaan Jordan. Padahal dia sendiri yakin kalau Jordan tidak akan mungkin bertindak gegabah. Walau bagaimana pun, keinginan untuk bertemu dengan istri dan anaknya masih menggebu-gebu untuknya.

" Tuan, lekas lah bangkit. Ini sudah empat tahun, Tuan. Bangkit dan semangat lah kembali agar anda bisa mencari keberadaan Istri dan anak anda. " Gumam Ron lalu merebahkan tubuhnya perlahan menatap langit-langit hingga lama kelamaan dia mulai terlelap.

Baru saja beberapa menit Ron tertidur, suara getar ponsel membuatnya terbangun. Ron mengusap wajahnya dan menajamkan mata untuk melihat siapa yang menghubunginya di jam tidur seperti ini.

" Ada apa? " Tanya Ron setelah sambungan telepon tersambung.

Tuan maaf saya mengganggu. Tapi ini gawat tuan.

" Kenapa? "

Proyek yang berada di negara A terpaksa mundur beberapa bulan dari ketetapan awal.

" Apa?! bagaimana bisa? bukanya harusnya tinggal satu bulan lagi selesai? "

Maaf Tuan, beberapa jam lalu terjadi gempa besar Tuan. Beberapa sisi bangunan roboh dan lumayan rusak parah.

Ron menghela nafas kasarnya.

" Akan aku diskusikan besok. Tapi untuk berjaga-jaga, carilah bahan bangunan yang memiliki kualitas lebih bagus. Dan ingat, bangunlah bangunan yang tida mudah runtuh oleh gempa. Kau mengerti? "

Baik, Tuan.

Ron mengusap wajahnya kasar. Jujur dia merasa begitu keteter karena Jordan yang tidak lagi memiliki semangat seperti dulu. Mengandalkan Ibu Lidia tentulah tidak mungkin.

" Tuan, aku hampir tidak sabar lagi. "

***

Di negara A. Gaby dan Ele berlari keluar lalu menjauh dari pantai karena takut jika gempa besar itu akan mengakibatkan tsunami. Tapi untunglah, hanya tsunami kecil saja yang masih sangat jauh dari rumahnya. Gaby memeluk erat Ele dan mengecup pucuk kepalanya karena beberapa saat lalu dia sangatlah takut jika akan terpisah dari Ele.

" Thanks, God. Setidaknya kami baik-baik saja sekarang. "

" Ibu, tadi itu kenapa? kenapa rumah kita bergerak? " Tanya Ele polos.

" Itu namanya gempa sayang. Jika suatu hari nanti ada gempa seperti ini lagi dan Ibu tidak ada di samping mu, kau harus cepat berlari dan menjauh dari pantai ya? kau mengerti? " Ele mengangguk paham.

" Ele! " Suara seorang wanita yang tak lain adalah Rose, satu-satunya tetangga dan teman Gaby yang kini tengah berjalan cepat ke arahnya sembari menggandeng dua putranya yang sudah beranjak remaja itu.

" Ya Tuhan, apa kalian baik-baik saja? tadi aku kebingungan sampai lupa dengan mu dan Ele. Maafkan bibi ya, Ele? "

" Tidak apa-apa, Rose. kami baik-baik saja, itu yang paling penting. Dan untunglah, kalian juga baik-baik saja. " Ucap Gaby penuh syukur.

" Kalau aku punya Ayah, aku akan meminta Ayah untuk memukul gempa itu dan jangan biarkan gempa itu mengganggu kita lagi. " Ucap Ele sembari menggerak-gerakkan tangan untuk mengekspresikan ucapannya.

Gaby dan Rose seketika terdiam. Rose sebenarnya juga berada di posisi yang sama. Tiap kali anak kembar laki-lakinya selalu menanyakan perihal sosok Ayah yang tidak pernah ada untuk mereka. Dan itu semua cukup membuat Rose kewalahan terlebih lagi kedua putranya kan sudah beranjak dewasa dan sudah pasti sulit untuk di bohongi.

Gaby mengusap rambut Ele lalu menciumnya. Dia memang tidak pernah membicarakan tentang Ayahnya, selain belum siap, dia juga takut kalau Ele akan memaksa untuk bertemu Ayah nya yang sudah empat tahun Gaby tidak tahu menahu kabar tentang Jordan.

Jordan, apakah kau tahu kalau kita sudah memiliki anak? anak kita mulai mempertanyakan tentang mu. Bagaimana aku bisa menjawabnya? bagaimana aku harus menceritakan rangkaian-rangakian kisah menyakitkan yang pada akhirnya kami harus berada di sini?

" Ele, jangan membicarakan hal itu lagi ya? lebih baik kita kembali ke rumah sekarang. Kita harus terus memantau berita tentang bencana ini. "

" Bibi, apa Ele juga tidak memiliki Ayah seperti kami? kenapa bibi tidak menjawab pertanyaan Ele? "

" Leo! " Bentak Rose yang merasa jika salah satu putranya sudah kurang ajar karena mempertanyakan hal yang sensitive seperti itu.

Gaby terdiam sesaat lalu tersenyum menatap Leo dan Deon.

" Jika kalian sudah dewasa nanti, kalian pasti akan mengerti kenapa kami, Bibi dan Ibu mu memilih untuk hidup disini tanpa sosok yang kalian pertanyakan. "

Leo dan Deon saling menatap bingung. Meski terlihat ingin lebih mencecar Gaby, tapi mereka mengurungkan niatnya karena Ibunya kini tengah memelototinya. Akhirnya Leo dan Deon memutuskan untuk kembali ke rumah sembari mengajak Ele bersama. Kini tinggallah Gaby dan Rose disana.

" Mereka anak-anak yang pintar dan sangat tampan, Rose. " Ucap Gaby sembari tersenyum menatap anak-anak yang mulai menjauh darinya.

Rose terdiam sesaat sembari menahan tangisnya.

" Iya mungkin begitu. Di usiaku yang masih dua puluh sembilan tahun, aku harus menanggung beban berat ini sendiri. Tapi aku tidak punya pilihan, karena bagaimanapun, anak-anak ku tidak boleh mengetahui keburukan Ayahnya.

Gaby meraih tangan Rose dan menggenggamnya erat.

Bersambung....

1
Les Tari
bagus
ayu cantik
suka
sukensri hardiati
kesetiaan buta Ron
sukensri hardiati
masih mikirin jordan juga si Ge...
YuWie
crrita yg bagus, samle bab ini masih asyik dibaca.. Ron cerdik banget sih
YuWie
Luar biasa
Khairul Azam
kenapa tegasnya baru skrng dulu pas disiksa jordan diz tak berdaya?
Khairul Azam
banyak banget kesialan, ini si penulis apa yg dipikirkan
Khairul Azam
novel othor ini perempuanya tersiksa dulu dibikin balikan dan baru bahagia
Khairul Azam
kq bisa ya bikin cerita mengenaskan begini tp perempuanya masih dibikin balikan sama laki laki seperti jordhan
white lily
leukimia bisa donor sumsum tulang belakang Thor,
white lily
lah lebih blangsak
Annie Soe..
Bawang bertaburan tor, tapi seru kyknya..
Annie Soe..
Yup,,,
Ge n jordan mulai keluar tanduknya..
Annie Soe..
Dah jelas hasil dna jordan anak biologisnya ttp aja si bapaknya jordan ga maw terima, marah2 ga jelas..
Bisa ga siy ini disebut bapak durhakim ???
Annie Soe..
Hebat kau ge,,
karakter perempuan yg aku suka,
ga menye2 berurai air mata..
lanjuuttt..
Annie Soe..
Ikut senang Ge dah bisa tersenyum lagi..
Kasih bahagia mereka ya tor ( klg kecil jordan ) n biarkan.l elle sembu sehat lagi .
Shyfa Andira Rahmi
👍👍👍👍👍
Shyfa Andira Rahmi
khilaf apa doyan🤣🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
punya firasat yg buruk kayanya...🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!