NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Adu Ketahanan Mental (1)

Selasa pagi di Danawira’s Law Firm.

“Jadwal hari ini, Yan?” tanya Dean. Ryan mengikuti atasannya yang baru datang dengan sebuah tablet di tangan.

“Janji temu dengan dua klien. Yang pertama jam 9 pagi ini dengan klien lama. Sidang pailit. Yang kedua sesudah makan siang pukul 1 ada janji temu klien baru. Semuanya di kantor ini. Jam 3 sore ke kantor T&T Express temu janji dengan Toni salah satu member Genk Duda Akut.” Ryan menurunkan tabletnya dan menatap Dean.

“Genk Duda Akut? Sorry? Yang duda cuma Toni, jangan nodai nama gue.” Dean meletakkan clutch-nya.

“Oke, janji dengan pak Toni. Katanya profesional. Soal tarif profesional juga?” tanya Ryan memastikan.

“Tarif nanti dikabari. Yang penting semua biaya yang ditimbulkan, dibebankan. Gak diskon untuk itu. Toni kaya.” Dean menghempaskan tubuhnya di kursi.

“Oke. Jangan lupa jam 3 sore,” ulang Ryan. "Sekarang saya ambil berkas pekerjaan kemarin untuk dicek. Be right back,” kata Ryan kemudian pergi menuju pintu.

Klien pertama baru saja keluar dari ruangan Dean. Waktu sudah menunjukkan lewat jam makan siang, sedangkan waktu temu berikutnya pukul satu. Tak sempat kalau ia harus makan menu komplit di restoran lobi saat itu. Dean tak ingin klien barunya menunggu. Kesan pertama tetap harus impresif buatnya.

“Pesen cemilan, Yan!” seru Dean dari kursinya.

Ryan baru keluar dari pintu kantor dan kembali mundur untuk melongok ke dalam. “Cemilannya apa?” Ia tak mau salah memesan.

Bertahun-tahun mendampingi seorang atasan yang rewel dan licin membuat Ryan terbiasa awas dengan segala ucapan laki-laki yang baru berseru dari balik mejanya.

“Apa, ya? Mmm—terserah lo aja deh. Yang penting bisa ngeganjel.” Dean mengusap perutnya saat mengatakan hal itu.

“Batu juga bisa buat ganjel,” ucap Ryan. “Udah kayak cewe aja jawabannya terserah.”

“Apa aja deh, Ryan ... lo juga sekarang udah kayak ibu-ibu bawelnya. Ngatain orang aja nomor satu. Udah sana. Apa aja. Asal jangan gorengan, junk food dan jangan yang pedes.” Dean mengibaskan tangannya kemudian menarik tumpukan map di atas meja.

“Katanya apa aja ...” gumam Ryan sambil pergi.

Dean masih menunduk di atas mapnya dengan sebuah pulpen di tangan. Ryan kembali masuk tak sampai 15 menit kemudian dengan dua buah tentengan.

“Kok cepet?” tanya Dean.

“Gak jadi beli. Di depan lift ketemu cewe-cewe dari lantai 5 yang dateng bawa hampers. Katanya ada yang ulang tahun. Dikasi dua, satu titip untuk Pak Dean katanya.” Ryan meletakkan sebuah hampers berisi nasi kotak, jus buah, dan sekotak kecil dessert.

“Waduh, cewe-cewe itu belum jera kayaknya dicuekin. Lantai 5 perusahaan apa sih?” tanya Dean mulai membuka hampers-nya.

“Kantor importir,” jawab Ryan.

“Gue jadi ngerasa mengkhianati bini kalo kayak gini,” ujar Dean mulai membuka laci meja kerja untuk mengeluarkan satu set sendok garpu khusus miliknya.

“Tinggal makan aja, Pak ...” sela Ryan menuju sofa seraya menenteng hampers miliknya.

“Jadi, ada ngomong apa aja mereka?” tanya Dean tersenyum memandang wajah sebal Ryan.

“Serasa mengkhianati istri tapi tetep perlu update berita.” Ryan mendengus.

“Gue cuma mau tau situasi biar tau untuk untuk menyikapi,” jawab Dean santai.

“Cuma nanya, Pak Dean mana? Apa kabar? Lagi di dalem ruangan atau keluar?” Ryan mulai membuka nasi kotak dan melongok isinya.

“Lo jawab apa? Gak ada yang ngomong Pak Dean, gimana ... gitu?"

“Gimana apanya? Gak ada tuh! Saya cuma ambil hampers-nya terus jawab, Pak Dean lagi di ruangan nunggu klien berikutnya. Sehat-sehat aja. Sekarang sedang nunggu kelahiran anak keempatnya.” Ryan menyendokkan makanannya ke mulut. “Terus si—”

“Udah—udah. Diem. Mulut lo penuh. Lanjut makan aja.” Dean melanjutkan makan siang gratisnya.

“Pak, klien berikutnya soal merger perusahaan ya ...” ucap Ryan mengingatkan.

Dean mengangguk. “Iya, klien pertama paling ngobrol pendapat hukum untuk meminimalisir resiko. Amanlah itu. Gitu selesai, gue langsung ke kantor Toni."

Pukul 14.30 Dean sudah meninggalkan kantornya. Mengemudi Range Rover hitam menuju kantor T&T Express di kawasan Gading. Dan seperti janji-janjinya selama ini, Dean tak pernah terlambat karena satu alasan yang sama. Profesionalisme pekerjaan.

Sore itu, Dean tak diikuti sekretarisnya. Ia meninggalkan Ryan dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun karena hal itu, Dean harus menenteng sebuah map clear holder tempat di mana lembaran berkas perusahaan Toni diletakkan.

Dean langsung berjalan melewati bagian depan kantor yang dipenuhi mobil box berlogo perusahaan Toni yang sedang memuat paket. Beberapa pegawai yang sudah mengenalinya langsung mengangguk saat ia melintas.

Bunyi denting lift terdengar sebagai penanda bahwa ia tiba di lantai empat. Tempat di mana kantor Toni berada. Sebegitu pintu lift terbuka, Dean langsung bersitatap dengan Musdalifah.

“Atasan kamu di dalem, kan?” tanya Dean menghampiri meja dengan map clear holder di tangannya.

“Pak Toni belum nyampe dari cabang yang mau dibuka. Mungkin sebentar lagi. Mas Dean bisa—”

“Pak. Mus ... panggil Pak.” Dean mengangguk menatap Mus. “Pak,” ulang Dean lagi.

“Terlalu berjarak. Kesannya ada dinding tebal kalo ngomong. Manggil yang lain aja pake ‘Mas’. Mas Langit, Mas Rio.”

“Aku mau jarak yang lebih lebar dan dinding yang lebih tebal di antara kita. Kalo bisa aku panggil tukang untuk nambah ketebalan dindingnya. Aku ke dalem dulu,” tukas Dean menuju ruangan Toni.

“Pak,” panggil Musdalifah.

“Apa lagi?” tanya Dean menghentikan langkahnya.

“Rambutnya memang bagus kalo jatuh sebagian ke depan. Kayak waktu di Sukabumi,” tambah Musdalifah lagi.

“Gak boleh! Ini gak boleh jatuh ke depan.” Dean segera menaikkan kembali beberapa helai rambutnya yang menutupi dahi. Ia lalu berbalik menjauhi meja Musdalifah.

“Pak—Pak,” panggil Musdalifah menghampiri Dean.

“Apa lagi?” ketus Dean.

“Berkas di map-nya biar saya cek. Gak usah bawa-bawa map ke ruangan pak Toni. Gak keren. Kayak minta sumbangan 17-an.” Musdalifah menengadahkan kedua telapak tangannya bersiap menerima hempasan map dari Dean.

Dan benar saja perkiraan Musdalifah. Meski tak menghempaskan, Dean menjejalkan map itu ke tangannya.

“Tunggu di dalam ruangan aja Pak, sebentar lagi pak Toni pasti nyampe. Saya antarkan teh untuk menenangkan suasana nantinya.” Musdalifah tersenyum kalem kemudian kembali ke mejanya.

“Menenangkan suasana apa?” gumam Dean kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Toni yang pintunya tertutup.

“Suasana apa? Tunggu aja,” gumam Musdalifah mendengus memandang punggung Dean yang sudah tiba di depan pintu ruangan Toni.

Dan ....

“Eh, Mas Dean ....”

Musdalifah mendengar suara Tasya dari pintu ruangan yang terbuka. Ia bisa melihat Dean membelakangi lorong dengan kedua tangan berada di saku celananya.

“Ngapain kamu di sini?”

Musdalifah lalu mendengar jawaban Dean yang sudah bisa ia duga sebelumnya.

“Menyelesaikan masalah dengan masalah, kan?” gumam Musdalifah. “Itu langsung aku praktekin ajarannya.”

To Be Continued

untuk visual, silakan ke Instagram @juskelapa_ liat bagian Highlight di atas feed berlabel GDA

1
Paramita Waluyo
😂😂😂😂
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
kakkk juss aku nyesel baru baca ini skrg. Ngakak terusss, sambil mutar sp*tify My Waynya Frank biar menjiwai 🤣🤣🤣
reti
sempet2nya narsis coba..
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
Ahmad Ibrahim
kekel bcanya🤣🤣
Ardiansyah Gg
ya ampun... aku ngakak abis l🤣🤣🤣🤣 rasain🤭
Ardiansyah Gg
gitu dong bu Win... sekali" suaminya harus di kasih efek kejut🤣
Ardiansyah Gg
pening Njuss... sampe blingsatan🤣🤣🤣
Eni Gustini
.
jumirah slavina
pelajaran berkembang biak ya Pa'De

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jessica
Seru karya karya nya gk bisa cm sekali baca novel karya Beliau ini
Jessica
dasar musdalifaaah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni
Baguusss bangeettt, buruan baca guys
Susi Andriani
aman pak de,,aman😄😄😄
Susi Andriani
aduh,,,
Lailatus
Gak ada yg d baca jadi baca dean lg aja deh 🤣
Asisthaning Nirwana
hai mbk jussssss......aku kembali lagi lhooooo.....tiba2 bgt kangen tini, lha kok jadi kangen mas dean sampai ke siniiii....hbs ini meluncur ke mas dul
sukensri hardiati
makasiiih....👍🙏💪/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
p De emang anak ragilnya b. Win.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!