Gwen Prameswari dan Daniel Artajaya telah menikah lebih dari 3 tahun. Namun hingga saat ini mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Ibu mertua Gwen yang terus menuntut untuk agar segera memiliki cucu semakin membuat Gwen frustasi dan di ambang perceraian.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPH 25
Sore harinya, Gwen sudah selesai dengan pekerjaan nya. Saatnya ia akan pulang, namun ia teringat akan janji Owen yang akan mentraktirnya makan. Ia pun mengambil hapenya untuk menghubungi Owen.
Tuuuttt .... Tuuuttt .... Tuuttt ....
"Hallo Mbak," jawab Owen di ujung sana.
"Dimana?" tanya Gwen.
"Di depan," jawab Owen membuat Gwen mengerutkan dahinya bingung.
"Depan mana?" tanya Gwen lagi.
"Depan kamu," jawab Owen seketika membuat Gwen langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Owen yang kini sudah berada di depannya.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Gwen bingung.
"Kamu Owen kan?" tanya nya lagi sedikit takut.
"Yaiyalah Mbak, aku masih hidup, nih lihat kaki masih Napak," saut Owen menggelengkan kepalanya.
"Lagian kamu datang kaya jailangkung, bisa tiba tiba begitu," saut Gwen kesal.
"Hehehe kan surpres," kata Owen santai.
"Ya sudah ayo kita pulang, aku kan udah janji mau traktir Mbak makan lele," ujar Owen membuat Gwen tersenyum geli.
"Kamu naik apa tadi?" tanya Gwen.
"Naik ojek, dan sekarang mau nebeng mbak sampai rumah," ujar Owen santai.
"Ada ya, tukang ojek naik ojek," decak Gwen membuat Owen terkekeh.
Owen dan Gwen pun akhirnya pulang dengan menggunakan mobil Gwen. Sebelum pulang mereka menyempatkan mampir terlebih dahulu di warung tenda pinggir jalan yang berada di depan komplek perumahan mereka.
Saat ia sedang menyantap makanan nya dengan nikmat, tiba tiba ia tersedak kala mendengar suara yang begitu keras bergema di pinggir jalan itu.
"GWEN!" teriaknya marah.
"Astagfirullah," gumam Gwen memejamkan matanya dan menghela napas nya dengan kasar.
"Baru seminggu kamu di talak sama anakku sudah kaya gini yah? waaah aku tidak menyangka bahwa kamu semurahan ini. Pantas saja anakku menceraikan mu, kelakuan kamu kaya begini! persis ja lang!" cibir nya membuat Gwen berusaha keras menahan amarah.
"Aku bersyukur karena anakku akhirnya menceraikan kamu! mantu mandul dan tukang selingkuh! mata duitan kamu!" sungutnya marah.
"Maaf Ibu ada apa mencari Gwen? tidak bisakah kita bicara baik baik di rumah?" tanya Gwen mencoba sabar karena dirinya kini menjadi tontotan oleh orang orang di sana.
"Tinggalkan rumah itu! itukan rumah anakku, dan kamu udah selingkuh dari dia, jadi rumah itu gak berhak buat kamu! Enak banget kamu, udah gak bisa ngasih anak, masih juga mau ngerampas rumah anakku!" ucap Dewi begitu pedas.
Kalau saja tangan Owen tidak di cekal oleh Gwen, ingin sekali rasanya Owen merobek mulut Dewi. Namun apalah daya, sedari tadi Gwen menahan tangannya sambil matanya menyiratkan seolah berkata 'jangan.'
"Maaf Bu, ralat yah itu rumah kami berdua bukan hanya mas Daniel. Aku pun ikut membayar angsuran rumah itu, dan mas Daniel sendiri yang bilang bahwa rumah itu sudah di berikan kepadaku, jadi maaf aku tidak bisa pergi dari sana," ujar Gwen selembut mungkin.
"Dasar tidak tau diri kamu yah! Ingat kamu itu mandul tidak bisa ngasih apa apa sama anakku! jadi jangan ngelunjak dengan meminta rumah itu sepenuhnya!" kata Dewi marah.
"CUKUP!" pekik Owen sudah mulai habis kesabaran.
"Untung orang tua, kalau saja—" ucap Owen marah.
"Owen jangan!" kata Gwen tegas dan menatap mata Owen dengan tajam.
"Hahaha, seneng kamu karena ada yang membelamu? cih, dasar perempuan murahan, pantas saja kamu mandul tidak bisa punya anak, wong kamunya doyan banyak pisang!" ucap Dewi berdecak lalu ia segera pergi.