Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Dua Sisi
Aku bersandar pada lengan kokoh Om Gabriel sedang mataku terfokus menonton TV, tanganku dengan rutin mengantar satu persatu biskuit ke mulutku. Om Gabriel hampir tertidur di sebelahku, ia memaksa datang untuk menemuiku saat senggang dari pekerjaan kantornya hingga Moly harus mengungsi ke apartemen di lantai 11.
Saat datang tadi, ia menggunakan baju zirahnya yang membuatnya terlihat seksi, rambutnya masih rapi dan tubuhnya sangat wangi. Setelah 3 jam bersamanya, kemeja kantornya mulai kusut dan rambutnya tak serapi tadi. Bahkan samar-samar kemejanya berbau asap karena memasakkanku makan siang, nasi goreng sosis andalannya. Kurasa ia hanya tahu satu menu itu saja.
“Om!” Aku mendongak padanya. Bagaimana bisa ia tertidur sambil duduk? Apa pekerjaannya benar-benar melelahkan? Bukankah ia hanya duduk di kursi kebesarannya dan menunjuk sana-sini memerintah bawahannya? Entahlah, aku awam perihal ini.
“Jangan menggangguku Queen, aku ingin tidur sebentar. Rasanya, mataku akan melompat keluar setelah memeriksa semua laporan-laporan itu.”
“Aku bosan, apa kita hanya akan duduk seperti ini?” Dudukku berubah tegak dan menghadap ke arahnya. Ia masih saja memejamkan matanya dengan tubuhnya bersandar pada sofa.
“Kemarilah, aku akan memelukmu. Diamlah 10 menit lagi ya? Aku janji akan pulang setelahnya.” Ia menarikku ke pelukannya dan kembali tenang.
“Engga mau, Om bau asap.” Aku menolak pelukannya dan kembali ke posisi semula.
“Aku berusaha menyenangkanmu setelah kamu mengamuk perihal beasiswa itu, kamu malah membenciku karena aku bau asap.”
“Tentu saja aku mengamuk. Bagaimana bisa aku terdaftar sebagai penerima beasiswa saat IPK-ku memerah seperti itu?”
“IP-mu naik kan? Itu sudah cukup sebagai alasan. Lagipula kamu menerima beasiswa dari yayasan milik kekasihmu sendiri Queen. Apa kamu harus mempermasalahkannya?”
“Terserah!” Aku menenggelamkan wajah pada lengannya, menggelayut manja di sana meski tubuhnya sedikit berbau asap. Ia benar-benar heroinku, setiap jengkal tubuhnya membuatku candu.
“Tidak ada lagi yang ingin kamu katakan padaku?” Kali ini Om Gabriel membuka kedua matanya dan duduk tegak hingga aku terjatuh ke belakang punggungnya karena kehilangan sandaran.
“Tidak ada!” Aku kembali bangkit dan bersandar pada sofa.
“Zain menghinamu?” Sontak aku membenarkan dudukku.
“Pak Jey yang melaporkan?”
“Tentu saja, kamu percaya pada perkataan Zain?”
“Hampir.”
“Hampir? Aku kira kamu tidak akan mempercayainya.”
“Ia terlihat meyakinkan.”
“Lalu, kenapa kamu tidak marah padaku?”
“Aku hanya wanita simpanan.” Aku membuang pandanganku ke sembarang arah, tidak sanggup menatap Om Gabriel saat menyebut diriku sebagai simpanan.
“Queen, aku tidak suka kamu berbicara seperti itu.”
“Maaf kalau begitu, apa Om melakukan sesuatu pada Zain?”
“Hanya sedikit peringatan kecil.” Ia membuat jarak kecil dengan ibu jari dan telunjuknya.
“Om tidak memotong kakinya bukan?”
“Ahaha, tidak Queen. Aku bisa dipenjara jika melakukan hal konyol seperti itu.” Aku menghela nafas lega.
“Kemarilah, bolehkah aku menciummu?” Ia menatapku dengan tatapannya yang menghanyutkan itu.
“Apa dulu Om meminta izin saat melakukannya?” Ia tersenyum begitu mendengar ucapanku.
Entah kenapa kali ini aku tidak ingin menunggunya melakukan pergerakan. Instingku menuntut pergerakan lebih dahulu. Aku bangkit dari dudukku dan bertumpu pada lutut untuk menyamakan tinggiku dengannya. Aku meraih kerah kemejanya dan menyerang bibirnya. Perlahan mengecup bibirnya yang manis dan menggoda, bergantian mencumbu bibir atas dan bawahnya. Om Gabriel segera membalas ciumanku, kami saling berpagutan, saling membelai dan berbagi kehangatan.
Tubuhku merasakan gejolak asing saat tangan Om Gabriel dengan cekatan membuka satu persatu kancing kemejaku. Setelah.membuka semua kancing kemeja, ia melepas pangutan kami, ciumannya segera turun di pipiku, berlanjut ke rahang, meniup pelan telingaku yang membuat tubuhku merinding dan berakhir dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Ia mengecup dan menggigit kecil di sana, meninggalkan bekas merah yang akan Moly ejek lagi nantinya. Saat aku mulai menikmati permainannya, Om Gabriel tiba-tiba menghentikan aksinya, ia mengaitkan kembali kancing bajuku tanpa bermain di sana.
“Bangunlah Queen!” Ia segera bangkit dari duduknya dan membenarkan kemeja serta rambutnya yang acak-acakkan karena ulahku.
“Aku akan pulang sekarang, maaf sudah berlebihan. Aku benar-benar mencintaimu Queen, percayalah padaku, hanya padaku.” Ia kembali mengulang kalimat yang sama seperti yang ia lakukan malam itu.
“Aku juga mencintai Om!” Aku berdiri di atas sofa dan merentangkan tanganku di udara.
“Kemarilah My Baby!” Om Gabriel menurut, ia memelukku erat sedang aku mengusap pelan rambutnya yang wangi.
“Kamu wanita yang baik, Queen,” bisiknya lalu ia melepas pelukannya, Om Gabriel sedikit mendongak karena posisiku yang lebih tinggi darinya.
“Om juga yang terbaik.” Aku menepuk pelan puncak kepalanya seperti yang sering ia lakukan padaku. Ia tersenyum, wajahnya memerah, sepertinya ia malu diperlakukan seperti itu.
****
“Si Om pulang jam berapa?”
“Siang udah pulang,” jawabku singkat.
“Emang kelar kalau cuma sebentar?” tanya Moly penasaran. Ia berucap tanpa mengalihkan pandangannya pada pizza delivery di hadapannya.
“Kelar?”
“Nah kan, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.”
“Wah, parah. Aku masih perawan!” teriakku tepat di telinganya.
“Buset, santai Queen. Si Om kenapa? Mungkin dia bermasalah.” Moly tertawa.
“Dasar gadis mesum!” Aku segera bangkit dari dudukku, melangkah ke dapur demi segelas air putih.
“Mesuman Pak Jey Queen.” Alisku bertemu. Gadis itu menyebut nama Pak Jey?
“Maksudnya?” Aku kembali ke hadapan Moly, menunduk padanya dengan tatapan tajam.
“Lihat ini!” Moly memperlihatkan lehernya yang di penuhi tanda merah, ia menarik kerah bajunya dan memamerkan tanda merah di sana.
“Kamu dan Pak Jey? Dia ada di sana juga? Apa yang kalian lakukan di sana?”
“Lebih panas dari yang bisa kamu bayangkan.” Gadis itu terkekeh.
Aku segera menarik kerah baju Moly, amarahku meluap membayangkan Pak Jey yang menikmati tubuh Moly setelah melempar kata-kata hinaan untuknya. Aku tidak menyangka diamku selama ini malah memperburuk keadaan, harusnya kuceritakan saja pada Moly semua cercaan yang dikeluarkan pria itu untuknya.
“Hei Queen, sakit. Apaan sih?” Moly berusaha melepaskan cengkeramanku dari kerah bajunya.
“Sadarlah Moly, ia tidak menyukaimu.”
“Queen, ia menyentuhku karena ia menyukaiku.”
“Kamu gila? Ia menghinamu Moly. Kamu tidak selevel dengannya.” Moly terdiam saat aku meneriakinya, bola matanya bergetar dan bibirnya terkatup rapat.
“Moly, aku sudah menemuinya dan kamu tahu apa yang ia katakan tentangmu? Kamu tidak selevel dengannya, ia tidak pernah mendekatimu, perasaanmu bukan urusannya. Dan sekarang kamu melempar dirimu padanya? Pada pria yang menghinamu itu? Sudah sejauh apa kamu melakukannya? Kamu sudah tidur dengannya? Sejak kapan Moly?”
“Queen, apa maksudmu? Kenapa kamu menemuinya?”
“Karena aku menyayangimu. Aku tidak sudi pria iblis sepertinya mempermainkanmu. Kamu tahu apa yang Om Gabriel katakan tentangnya? Ia tidak akan pernah puas dengan satu wanita. Hari ini ia menciumimu, malam nanti atau besok ia akan mencium gadis lain. Berhentilah Moly! Aku mohon padamu. Tidak ada sedikitpun cinta di hatinya untukmu, kamu harus percaya padaku.” Aku mulai terisak, entah kenapa rasanya menyakitkan sekali membayangkan Moly diperlakukan seperti ini.
“Kamu tahu ia sekeji itu namun tidak memberitahukannya padaku?” Air mata mulai membendung di kedua matanya.
“Aku takut kamu akan marah padaku dan menganggapku ikut campur. Niat awalku hanya meminta Pak Jey berhenti mengganggumu. Kumohon berhentilah Moly! Menjauhlah darinya, kamu gadis baik dan akan bertemu dengan yang lebih baik. Lepaskan daripada menyakitkan!” Aku melepaskan cengkeraman tanganku dari kerahnya, gadis itu beringsut terduduk.
“Aku benar-benar menyukainya Queen, apa yang harus kulakukan sekarang? Perasaanku tumbuh besar tak mampu kuredam.” Moly menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia mulai menangis hingga tubuhnya bergetar.
“Kamu masih punya aku Ly, akan kulakukan apapun untuk membahagiakanmu. Maaf aku terlambat datang menyelamatkanmu.” Kupeluk erat Moly yang semakin terisak itu, kutepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya. Ia sama sepertiku, gadis miskin yang tidak bisa mengandalkan siapapun selain diri sendiri. Saat ini, Moly hanya memilikiku dan aku hanya memilikinya.
.
.
.
.
.
Ada yang berusaha kutahan agar tidak tumpah,
Ada yang berusaha kubendung agar ia tidak jatuh.
Namun, aku kalah.
Ia lebih kuat dari yang kukira.
Terima kasih, kau telah mengundangnya.
-Air mata (via tigapuluhnovember)
To Be Continued,
berikan dukungan dengan klik like, komen, rate bintang 5 dan vote ya,
terima kasih,,
love, love
bemine_97