Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Batam menjadi wilayah yang banyak diincar oleh pengembang. Letaknya yang berdekatan dengan Singapura, membuat Batam menjadi surga investasi bagi para pemburu properti.
Beberapa pengembang mulai melebarkan sayap ke wilayah yang intensitas mobilitas warga dua negara semakin meningkat, salah satunya Abraham group Pihaknya merencanakan ekspansi proyek di Batam seluas 20 hektare.
Proyek ini adalah proyek kerja sama Daffa dengan Anita, wanita yang sangat piawai dalam membaca peluang bisnis, tak salah bila Daffa memilihnya jadi partner bisnisnya.
Sayangnya Daffa sama sekali tak menyadari tujuan utama Anita dibalik kerjasama mereka. Daffa terbius oleh pesona Anita yang begitu piawai dalam berbisnis.
Anita gadis cerdas dan pintar sebelum mendekati Daffa, dia telah lebih dulu mendalami karekter Daffa. Lelski agamis yang tak tertarik dengan hubungan di luar pernikahan.
Pedekatan dengan lelaki seperti itu tentu tidak akan gampang. itu sebabnya pendekatan dari dunia bisnis dia lakukan.
Tapi namanya juga Daffa, jangankan Anita yang tak memiliki ikatan. Patimah saja sebagai tunangannya dia kasih jarak.
Semenjak mengamdi di pesantren Daffa tak pernah sekalipun menghubunginya. Satu tahun bukanlah waktu yang pendek untuk dijalani tanpa godaan. Meraka bukanlah malaikat, mereka manusia yang di beri nafsu dan akal untuk berpikir.
Daffa menghela nafas, sejenak dia mengedarkankan pandanngan ke seluruh ruanagan. Melepas penat sudah jam sepuluh malam tapi dia masih berkutat dengan tumpukan berkas di atas mejanya.
Tok!
tok!
"Masuk!" seru Daffa. netranya menatap pintu yang kini sudah terbuka lebar.
"Anita?" Daffa tampak kaget Anita yang masuk bukannya pegawainya.
"Gak usah kaget gitu, aku tadi lagi beli cemilan. ketemu sama karyawan bapak, pas saya tanya bapak, dia bilang lembur, ya udah aku beli ini buat teman lembur," jelas Anita.
Tanpa di minta Anita meletakkan cemilan yang dia bawa di atas meja sofa yang ada di ruangan Daffa.
"Ini makan udah nyampek sini, gak baik di anggurin mubazir pak," ujar Anita sambil nyomot satu cemilan yang dia bawa, lalu memasukkannya kedalam mulut mengunya perlahan.
"Anita ini sudah jam berapa, sebaiknya kamu pulang," tegas Daffa, berdua di ruangan ini membuat Daffa tak tenang.
"Aku janji gak akan macem-macem. Setelah bapak cicipi makanan ini aku janji akan pulan," tutur Anita dengan tersenyum.
Daffa menghela nafas berat. Dia beranjak ke sofa, mengambil jarak lumayan jau dari Anita dengan duduk bersebrangan arah. Daffa mulai mencicipi makanan yang di bawa Anita untuknya.
"Anita, ini kali terakhir kamu mengunjungiku seperti ini, kalau besok-besok kamu lakukan lagi, dengan terpaksa security kantor ini mengantarmu keluar ruangan ini. di kantorku peraturan ku harus di patuhi, dan kamu sebagai rekan bisnisku mau tidak mau harus mematuhi peraturan yang ada di kantor ini. Aku tidak menerima tamu wanita tanpa di temani oleh sekretarisku, itu salah satu peraturan di kantorku, sebagai tamu aku harap kamu bisa menghargai peraturan tuan di kantor ini," jelas Daffa panjang lebar.
"Maaf pak, kalau saya tau ada peraturan seperti itu, saya tadi pasti tak datang sendiri," Kilah Anita.
"Sudah larut malam, sebaiknya kau pulang sekarang."
"Baik pak."
Dengan perasaan marah dan jengkel Anita meninggalkan ruang kerja Daffa, entah dengan cara apa dia bisa mendekati Daffa. Dengan peraturan-peraturan yang Daffa buat jarak mereka semakin jauh terbentang.
Sementara Daffa tengah memanggil securitynya keruangannya.
"Ada pak, bapak memanggil saya?"
"Itu ambil cemilan di meja, bawa ke pos bagikan sama yang lain."
"Baik pak."
Tanpa di perintah dua kali security bergegas mengambil bungkusan berisi cemilan membawanya keluar ruang kerja Daffa.
Kasman sedikit mengintip isi cemilan, yang ternyata berisi berbagai macam roti. Kasman yakin cemilan ini di bawa wanita tadi, tadi dia sempat melihat wanita itu menenteng bingkisan ini.
***
Bukan hanya Daffa yang pulang larut malam. Hanif juga pulang sudah hampir jam sebelas malam. Dengan tubuh lelah tak karun Hanif membuka pintu kamarnya. lampu kamarnya masih menyala menandakan istrinya masih belum tidur.
"Belum tidur sayang?"
Kanza yang sedang membaca Alqur'an menoleh kearahnya. melihat kedatangan suaminya Kanza menghentikan bacaannya, meletakkan kitab didalam rak buku yang ada di sebelahnya.
"Belum mas, belum ngantuk," sahut Kanza seraya melangkah kearah Hanif, membantu Hanif melepas kemejanya, kini Hanif cuma mengenakan Kaos dalam berwarna putih.
Hanif menatap wajah Kanza yang berada begitu dekat, dengan lembut dia memeluk Kanza, aroma vanila memanjakan indra penciumannya menghapus rasa penat di kepalanya.
"Mas aku buatin teh hangat ya?"
"Gak usah sayang ini aja udah hangat," goda Hanif seraya mencium puncak kepala Kanza. Aroma sampo yang begitu dia suka kembali menyegarkan pikirannya.
"Begini nikmatnya punya istri, dengan begini aja bisa ngilangi capek," ujar Hanif seraya mempererat pelukannya.
"Gombal!"
"Kok gombal sih sayang, ini beneran loh. kamu tau gak para suami itu bagaimana pun capeknya kalau pulang terus disambut senyum istri rasanya nyesss, ilang capeknya sayang."
"Sedahsat itu senyum istri?"
"Tentu sayang, makanya jangan berikan senyum mu pada lelaki yang bukan suamimu, paham."
"Tapi di kampus terlalu banyak lelaki yang sayang kalau gak di senyumin gimana dong mas?" goda Kanza dengan kedipan nakal.
"Di kantor juga seperti itu sayang, banyak wanita mengharap di senyumin sama aku, itu gimana sayang?"
"Ihhhh kalau itu mah memang mas nya yang ganjen," cebik Kanza kesal.
"Apa itu ganjen sayang?"
"Kayak mas tuh, yang seneng ngeramahin perempuan di kantor mas tuh!" sungut Kanza kesal.
"Sayang kenapa cemburu sama seorang Hanif, aku bukan siapa-siapa, tapi kalau sayang di ceburuin wajar, masih muda cantik, anak pemilik perusahaan siapa coba yang gak tertatik.," ujar Hanif seraya menangkup kedua tangannya di wajah Kanza.
"Mas juga, tampan, pinter, udah gitu punya bodi begini nih, wanita mana juga bakal traveling lihat tubuh mas," ujar Kanza seraya menatap tubuh suaminya yang mirip roti sobek itu.
"Traveling, hmmm udah pinter kamu sekarang ya?" ujar Hanif mencubit hidung Kanza gemas.
"Wanita itu suka pria beruang, bukan berotot sayang, cuma kamu yang suka lelaki tak beruang sepertiku."
"Mas aja yang gak tau, dulu saat aku masih kerja bareng mas, tuh perempuan suka ngebayangin tidur dengan tubuh mas yang menurut mereka sangat memuaskan, waktu itu aku gak paham ocehan mereka, tapi sekarang aku paham apa yang mereka bicarakan tentang mas."
"jangan bercanda deh sayang?"
"Gak sedang bercanda mas. makanya aku cemburu sama pegawai wanita di sana."
"Kan gak semua seperti itu sayang."
"Walaupun cuma beberapa tapi aku gak rela, mereka bayangin tubuh kamu mas," sungut Kanza.
Hanif tersenyum hayalan Kanza terlalu tinggi siapa sih yang mendamba l lelaki seperti dia.
"Aku jadi pria beruntung di cemburui oleh seorang Kanza," ucap Hanif sembari mengecup lembut kening Kanza.
"Ayo tidur sayang," ujar Hanif. Dengan lembuat dia mengiring tubuh Kanza ketempat tidur.
Kanza memeluk tubuh Hanif, usapan-usapan lembut dia berikan di dada bidang Hanif.
"Mas harusnya minggu lalu aku datang bulan tapi sampai sekarang kok belum ya?" tanya Kanza.
"Apa? benarkah sayang, tapi aku kan selalu pakai pengaman?"
"Gak selalu juga mas, mas lupa sering gak makai."
"Aduh mati aku," ujar Hanif panik seketika.
"Kenapa panik gitu sih mas?"
"Bagaimana kalau kau hamil sayang," sentak Hanif semakin panik.
"Bagus dong, kita bakal punya momongan."
"Iya aku juga ingin sayang, tapi keluarga mu bisa marah sama mas, kamu belum tamat kuliah sayang."
"Ini rumah tangga kita mas, kita yang tentuin, mereka gak punya hak marah."
Hanif terdiam Kanza benar. tapi benar Kanza sudah siap jadi ibu? ya tuhan kenapa dia bisa lalai begini sih
Happy reading
.
Dukung emak ya sayang🥰🥰🥰🙏🙏
sukses sll 😇😇😇