Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
Angel sudah di bawa ke kamarnya oleh Mbak Lilis. Dalam perjalanan kembali ke hotel tadi Angel tertidur di mobil. Dia pasti lelah.
Gue gak kembali ke kamar gue yang semalam, tapi ke kamar pengantin. Tidak ada gendong - gendong ala pengantin. Gue jalan sendiri, Richard disebelah gue.
Richard mempersilahkan gue masuk terlebih dahulu. Gue menutup mulut dengan kedua telapak tangan karena terpesona ke dengan
Bagaimana tidak, kamar president Suit ini dipenuhi oleh kelopak bunga mawar merah. Gue mengangkat ekor gaun gue dan berjalan dengan hati - hati.
"Kenapa diangkat?" Richard memberikan tatapan heran.
"Kasian, nanti dekornya rusak."
"Kamu suka?" gue menganggukkan kepala. "Ternyata preman juga suka bunga"
"Preman juga suka keindahan." gue membalas.
"Jadi kamu suka bukan karena romantis?" Richard memeluk gue dari belakang. Gue menggeleng.
"Aaaa!" Richard menggendong gue, membawa gue keranjang dan membaringkan dengan hati - hati.
Wajah kami begitu dekat, gue bahkan bisa merasakan hembusan napas Richard yang beraroma mint. Wangi parfum woodnya begitu... menggoda.
Richard menelusuri wajah gue dengan jari telunjuknya. Melewati mata, turun ke hidung, bibir dan terus turun hingga mencapai da*a gue. "Hari ini, adalah hari pertama dan terakhir kamu pakai pakaian dengan dada terbuka seperti ini."
Perlakuan Richard berhasil membuat gue menegang.
"Ini baju pilihan mu, sayang."
"Benar. Karena aku ingin melihat mu menjadi pusat perhatian hari ini. Hari ini kamu ratunya." Richard kini menelusuri lengan dan tangan gue.
"Apa kamu tidak mau membuat tato nama ku dan dan Angel?" Jari Richard sampai pada tato Faith gue.
"Ide bagus. Aku kan membuatnya."
"Kamu akan membuatnya dimana?
Gue berpikir dimana ya? Angel adalah seseorang spesial bagi gue, begitu juga Richard, jadi gue mau mereka mendapat tempat istimewa. " Disini." gue menunjuk dada kiri gue.
"Apa? Tidak! Tidak boleh! Kenapa kamu mau membuat disana? Apa kamu mau tukang tato nya melihat dada mu?!" Richard langsung emosi. Wajahnya seperti anak kecil yang menolak memakan sayur. Sungguh menggemaskan.
"Kamu cemburu?" gue menggoda Richard. Ternyata wajahnya lucu saat merajuk.
"Itu... Memang nya tidak ada tempat lain?!" Richard masih terdengar kesal.
"Karena itu tempat paling spesial. Dekat dengan jantung ku."
"Kau tau sayang?" gue masih ingin menggoda Richard. "Sewaktu aku membuat tato dipunggung ku, aku harus mem..."
Eeuummpphhh... gue mendorong Richard.
"Richard! lu mau bunuh gue?!" Richard tiba - tiba melahap bibir gue hingga gue kehabisan napas.
"Jangan cerita! aku tidak mau membayangkan bagaimana keadaan mu saat membuat tato di punggungmu. " jawab nya sebal.
"Ya sudah." gue turun dari ranjang, berjalan dengan hati - hati menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?" lagi - lagi Richard memeluk gue dari belakang.
"Mandi."
"Aku ikut."
"Tidak!" gue menjawab cepat tanpa berpikir.
"Kamu membutuhkan ku sayang." Richard membelai punggun gue dengan lembut. Membuat merasa tersetrum. "Aku suka tato mu yang ini sayang."
Richard memberi kecupan di beberapa titik punggung gue yang sukses membuat gue meremang. Gue memejamkan mata menikmati sensasi kenyal dan basah dari bibir Richard.
Apa dia akan melakukannya sekarang.
"Sayang aku mau mandi, badanku lengket." Richard membuka satu persatu kancing gaun gue. Membantu gue melepaskan gaun pengantin berharga puluhan juta. Pakaian termahal gue.
Gue menahan bagian depan gaun agar tidak melorot. "Sayang, ayolah."
"Kita akan melakukannya sekarang?" gue tanya aja dari pada gue deg deg-an gini.
"Kamu tidak mau?"
"Bukan begitu, bukan kah nanti malam kita masih ada acara? Jam tiga nanti aku sudah mulai dirias."
"Aahh kamu benar sayang, hampir saja aku melupakan itu." Richard tertunduk lesu.
"Maaf." cuman itu yang bisa gue bilang.
"Tidak apa - apa sayang. Aku juga tidak mau melakukannya dengan buru - buru. Tapi nanti malam kamu tidak boleh menolak."
Ampus gue!
Akhirnya gue bisa bebas dari Richard dan mandi dengan tenang. Masih ada tiga jam lagi sebelum perias datang, gue mau tidur sebentar.
...🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Ngasih gift seiklasnya ajah 🌼🌼🌼...
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..