Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.
“Sebaiknya mulai sekarang kau tidak bersikap kasar lagi
kepada Tiwi, karena aku tidak akan bisa menjamin keselamatanmu.” ujar Lingga
“Aku setuju dengan Lingga, lagipula gadis itu tidak bersalah
padamu, bahkan dialah yang selama ini merawatmu untuk menebus kesalahan yang
tidak pernah dilakukannya.” tambah Singgih
Kenan hanya terdiam mendengarkan nasihat Singgih dan Lingga.
“Dan mulai hari ini aku minta padamu untuk menjaga putraku,”
ucap Singgih menepuk pundak Lingga
“Aku??, jadi bodyguardnya dia?” sahut Lingga
“Sebenarnya bukan bodyguard, aku hanya ingin kau mengawasinya
dan menjaganya, agar hal seperti ini tidak terjadi lagi padanya,” cakap Singgih
“Sama saja kali,” sahut Lingga
“Tolonglah Aki, walaupun kalian seumuran tapi kau terlihat
lebih dewasa, anggap saja dia adikmu agar kau tidak merasa canggung dengannya,”
ujar Singgih
“Aku tidak perlu bodyguard ayah,” tukas Kenan
“Dia bukan bodyguardmu tapi lebih tepatnya penasihat
sepiritualmu nak.” Jawab Singgih
“Penasihat spiritual, keren juga namanya walaupun aku
terkesan menjadi orang tua. Its oklah daripada jadi dukun,” jawab Lingga sambil terkekeh
“Terserah ayah sajalah, “ sahut Kenan kemudian pergi meninggalkan
mereka menggunakan kursi rodanya,
“Kau harus sabar menghadapi dia Lee,” ucap Singgih
“Santuy aja tuan, lagipula mana berani dia macam-macam
dengan ku, atau siap-siap terkena santet dariku,” sahut Lingga membuat Lingga
menoleh kearahnya.
“Dasar dukun sialan, beraninya kau mengancamku,” Lingga kembali mempercepat laju kursi rodanya meningalkan
ruangan itu
“Kenapa kau jalan-jalan sendirian?” sapa Tiwi berdiri di
depan Kenan
Sial, kenapa dia
datang lagi kemari, sebenarnya apa yang dia inginkan?, apa dia sengaja
memancing kemarahanku agar Iblis itu membunuhku!.
“Biar aku yang menemanimu, katakana saja kau mau kemana, aku
pasti akan mengantarmu,” ucap Tiwi memegang kursi roda itu, namun dengan cepat
Kenan langsung menepisnya.
“Pergi, aku tidak butuh bantuanmu!” hardik lelaki itu
“Ehemmm!!” seru Lingga menghampiri keduanya
“Apa kau sudah bosan hidup hah!” hardik Lingga membuat Kenan langsung memalingkan wajahnya
“Cepat minta maaf padanya, atau aku akan meniupkan ajian
jarang guyang, agar kalian saling mencinta!” seru Lingga
“Astoge, yang bener saja Om, sampai kapanpun aku gak akan
pernah suka dengan gadis udik seperti dia,” sahut Kenan
“Jangan sombong, jika kau tidak suka dengannya tidak perlu
memperlihatkannya, karena benci itu adalah benih-benih kebucinan yang tertunda,”
sahut Rangga sambil terkekeh
“Maafkan gue!” ucap Kenan menjabat tangan Tiwi
“Nah begitu kan lebih baik,” ucap Lingga
“Jika dia berbuat kasar lagi padamu, beri tahu abang, biar
ku santet dia kalau macam-macam lagi denganmu,” imbuh Lingga
“Baik Bang,” sahut Tiwi
“Kenapa kau datang kemari nak, kami sudah mau pulang karena
Kenan juga sudah kembali sehat. Jadi
mulai sekarang kau tidak perlu lagi merawat Kenan,” tutur Singgih menghampiri mereka
“Tapi Om, Kenan kan belum bisa jalan jadi aku masih harus
merawatnya,”
“Tidak perlu nak, Kenan sudah bisa berjalan hanya saja dia
perlu memakai alat bantu, karena masih menjalani terapi. Jadi kau tidak perlu
khawatir lagi,”
“Baik Om kalau begitu Tiwi pamit pulang dulu,” gadis itu
kemudian mencium tangan Singgih dan kemudian
pergi meninggalkan mereka.
“Arrggghhh!” tiba-tiba gadis itu terjatuh sembari memgangi
dadanya.
Lingga langsung berlari kearahnya, “Bangun neng, bangun,
neng nong!’seru Lingga menepik-nepuk pipinya
“Bawa saja dia ke dalam!” seru Singgih
Lingga segera menggendong tubuh gadis itu menuju ke ruang
UGD.
“Bagaimana keadaan adikku?” Tanya Lingga ketika seorang
dokter yang memeriksa Tiwi keluar dari ruangan UGD.
“Dia hanya terkena serangan jantung, jadi harus dirawat
intensif di sini,” jawab sang dokter
“Lakukan saja yang terbaik dok, kalau soal biaya biar aku
yang akan menanggunggnya,” sahut Singgih
“Baik Tuan,”
Tiwi kemudian di pindahkan ke ruang perawatan.
Lingga terus menemani gadis itu, “Kenapa nasibmu begitu
malang Neng, kau maasih terlalu muda untuk mengidap penyakit jantung,” ucapnya
sembari mengusap lembut kepalanya
Tiba-tiba ia terkejut ketika melihat sesuatu yang bersinar
di tubuh gadis itu.
“Tidak mungkin, apa itu sebuah benda pusaka!” pekik Lingga
Lelaki itu segera duduk bersila dan memejamkan matanya. Ia
memusatkan kekuatannya dan berusaha mengeluarkan benda pusaka yang ada di tubuh
Tiwi.
“Arrrgghhh!” pemuda itu terlempar saat berusaha menyentuh
benda pusaka itu.
“Sial, Benda pusaka itu terlalu kuat, apa mungkin dia sakit
karena benda pusaka itu,”
**************
"Habisi dia putraku, biar aku
yang mengurus wanita itu!" seru Bram menepuk pundak Garra
"Tetaplah bersamaku jangan
menjauh dari ku," ucap Vito memegang erat lengan Tania
Garra segera melepaskan tendangannya
kearah Vito hingga lelaki itu terhuyung-huyung kebelakang dan Tania terlepas
dari genggamannya.
Ketika Vito akan mendekati Tania
Garra kembali menyerangnya, hingga ia berguling-guling menghindari serangan
Garra.
Sementara itu Bram langsung menjegal
Tania dan menyeretnya keluar dari rumah itu.
"Sekarang tanda tangani surat
ini atau aku akan membunuhmu dan juga janin mu!" ancam Bram
"Aku tahu kau mengincar sesuatu
yang berharga di klinik ku, untuk itulah sampai kapanpun aku tidak akan pernah
menjualnya padamu!" seru Tania
"Dasar brengsek, kau masih saja
keras kepala meski maut sudah di depan mata. Apa kau tidak kasian dengan
bayimu, apa kau tidak mau memberikan kesempatan hidup padanya!" Hardik
Bram
"Hidup mati seseorang sudah di
tentukan oleh Tuhan, jadi aku tidak takut padamu. Jika aku memang di takdirkan
berumur panjang maka aku akan tetap hidup meskipun kau berusaha membunuh ku.
Karena aku yakin Tuhan pasti akan mengirimkan Malaikat penolong untukku dan bayiku,"
*Plaaakkk!!!
Bram menampar wajah wanita itu
hingga darah segar mengalir dari bibirnya.
"Dasar banci beraninya kau
menyakiti ibu hamil, apa kau tidak takut karma hah!" seru Tania
"Aku tidak takut, justru kau
yang harus takut padaku dan banyak-banyak berdoa agar kau bisa selamat dari
ku," Bram kembali melesatkan tendangannya kearah Tania hingga ia
tersungkur ke tanah.
"Awww!!" gadis itu memekik
kesakitan dan memegangi perutnya yang terasa begitu nyari.
"Awww!!," ia begitu
terkejut ketika melihat darah segar mengalir dari telapak kakinya.
"Bertahanlah nak, kau harus
tetap hidup!" seru Tania mencoba bangkit dan berdiri.
"Rasakan kau wanita
sombong!" seru Bramantyo melesatkan kilatan ungu kearah wanita itu.
*Jraaashh!!
Vito segera menyambar tubuh Tania
menghindari serangan Bramantyo.
"Kau tidak apa-apa
sayang?" tanya Vito menyandarkan tubuh Tania
"Sepertinya aku akan
melahirkan," jawab Tania memegangi perutnya.
"Ya Allah, cobaan apa
ini," ucap Vito mengusap lembut wajah Tania, matanya berkaca-kaca menatap
wajah pucat istrinya.
"Bertahanlah sebentar disini,
aku akan menyingkirkan mereka agar bisa mengantarmu ke rumah sakit," Vito
memejamkan matanya dan menarik sebuah tongkat kecil dari dalam tubuhnya.
"Apa itu tongkat sakti Dewi
Iblis yang di maksud oleh Aki Darno?. Tapi bagaimana mungkin lelaki itu
memilikinya," ucap Bram memperhatikan dengan seksama tongkat di tangan
Vito.
"Kalian akan membayar mahal
karena sudah menyakiti istriku," Vito menggerakkan tongkatnya hingga angin
kencang berhembus menghantam Garra dan Bramantyo.
"Jika kau memang manusia
setengah Iblis kau juga akan mati di tongkat ini seperti leluhur mu!" seru
Vito
Ia langsung melesat menghujamkan
tombaknya kearah Garra.
*Aarrrggghhh!!!
Suara erangan Garra memekik membelah
kesunyian malam. Burung-burung berterbangan meninggalkan sarangnya, dan awan
hitam langsung menutupi sang purnama.
Vito menarik kembali tombaknya dan
bersiap menghujamkan kembali ke tubuh Garra.
"Aarrrggghhh!" pekik Garra
Vito mengurungkan niatnya ketika
melihat wajah Alexa di mata Garra.
"Kenapa kau tidak segera
membunuhku?" tanya Garra
" Aku mengampuni mu kali ini,
mudah-mudahan setelah ini kau akan berubah menjadi Iblis yang baik seperti
sosok yang melindungi mu hari ini," tukas Vito meninggalkan Garra
Ia kemudian mendekati Bramantyo,
namun lelaki itu langsung berlari meninggalkannya.
"Syukurlah, kau pergi!"
Vito langsung membalikkan badannya dan berlari menghampiri Tania
Ia langsung menggendong wanita itu
menuju ke mobilnya.
"Dasar bodoh kau pikir aku akan
melepaskan dirimu begitu saja!" seru Bramantyo menarik pelatuk pistolnya
dan menjadikannya kearah Vito
*Door, door!!
Dua buah peluru berhasil bersarang
di punggung Vito membuat lelaki itu hampir ambruk ke tanah.
"Aku harus bertahan demi istri
dan calon putriku," Vito mencoba terus berjalan meskipun tertatih menuju
mobilnya
"Ternyata kau masih belum
menyerah juga, baiklah... sepertinya satu peluru lagi akan membuat mu mati
dengan tenang!" Bram kembali melesatkan timah panas kearah Vito.
Lelaki itu segera mendudukkan Tania
di kursi mobilnya.
"Maaf aku tidak bisa mengantarkan
mu sampai rumah sakit, aku doakan semoga bayimu lahir dengan selamat. Cepatlah
pergi dari sini aku akan berusaha menghalau lelaki itu agar tidak mengejar
mu," ucap Vito menutup pintu mobilnya
Lelaki itu langsung berbalik dan
berjalan mendekati Bramantyo.
"Ternyata kau begitu kuat anak
muda, tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu melayani mu!" Bramantyo
mengarahkan pistol kearah jantung Vito
*Door!!
*Bruuugghhh!!
Seketika tubuh Vito ambruk ke tanah.
Jika
memang ini adalah saatnya untukku pergi mengadapmu, maka lindungilah bayi kami,
setidaknya biarkan dia hidup dan berikan aku kekuatan untuk menyembunyikan
tongkat Raja Iblis ini ke tubuh bayiku. Kelak Tongkat sakti ini yang akan
menjadi pelindung anakku dan tongkat ini juga yang akan keluar dari tubuhnya
saat ia sudah bertemu dengan pembunuhku. Aku tidak akan membiarkan lelaki itu
mengambil senjata pusaka ini.
“Vito!!” Seru Rangga bangun dari tidurnya