Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA MEMANG BODOH.
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Mungkin sebelum meninggalkan panggung ini, Kau bisa memberikan kesanmu untuk acara pertunjukan Bloemencorso Zundert Flower Festival ini, nona cantik."
Xaviera tersenyum sambil mengangguk, ia kembali menatap ke depan. Xaviera memegang mikrofon dan merapatkan pengeras suara itu ke mulutnya. Suasana seketika hening dan menatap fokus ke arah Xaviera saja. Wanita cantik yang memiliki suara indah. "Terima kasih untuk kesempatan yang kalian berikan kepada saya, saya sendiri bangga bisa mengikuti acara ini selama enam kali berturut-turut di acara pertunjukan Bloemencorso Zundert Flower Festival. Ini adalah salah satu festival bunga terbesar di dunia dan menjadi kebanggaan dan yang paling kita tunggu. Terima kasih juga pada puluhan tim relawan yang ikut berkompetisi untuk membuat dan memamerkan rangkaian bunga raksasa dengan desain terbaiknya. Mereka memberikan waktunya dengan baik. Semua orang ikut bekerja keras selama hampir 3 bulan berturut-turut untuk mendapatkan hasil sebaik seperti ini. Hingga desain yang ditampilkan cukup kreatif. Sungguh acara ini bisa menjadi apresiasi bagi semua orang yang menyaksikan festival ini. Semoga tahun depan atau berikutnya, kita bisa membuat acara festival ini lebih meriah lagi. Saya ucapkan terima kasih atas semuanya." Xaviera pun menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat. Lalu menegakkan badannya. Riuh tepuk tangan kembali terdengar di sana. Xaviera memberikan mikrofonnya kepada pembawa acara tersebut. Dan memberikan senyum terbaiknya sambil ikut bertepuk tangan di sana.
"Oke terima kasih telah memberikan kesan-kesan terbaikmu, nona cantik. Anda memang luar biasa. Untuk penonton kita berikan tepuk tangan kepada nona cantik yang memiliki suara emas yaitu XAVIERA CAREEN...."
Begitu nama itu terucap dan kalimat itu lengkap keluar dari mulut pembawa acara itu. Javier langsung mengangkat wajahnya dengan tubuh menegang. Handphone yang ada ditangannya hampir terjatuh. Javier tengah asyik membaca pesan WhatsApp dari Carlissa. Wajahnya sangat terkejut dan shock.
DEG
DEG
DEG
"Xaviera?"Javier gagap saat menyebut nama itu. Bibirnya gemetar dengan pandangan nanar. Alisnya mengerut serius. "Benarkah itu kau Xaviera?" Javier berulang kali menenangkan dirinya sambil menarik dan mengembuskan napas beberapa kali.
"Terima kasih.... Terima kasih..." Xaviera membungkukkan badannya ke kiri dan ke kanan berulang kali.
"Terima kasih XAVIERA CAREEN. Sekarang anda bisa kembali ke tempat." ucap lelaki pembawa acara itu tersenyum penuh arti.
Xaviera membalas senyuman itu dan melambaikan tangannya kepada semua penonton. Ia bangga menatap ke depan, atas apa yang telah dilakukan hari ini. Enam kali berturut-turut ia bisa meramaikan acara ini, menjadi hal yang sangat disyukuri Xaviera. Pujian setiap pujian membuat pipinya merona, merasa sedikit malu dengan sanjungan tersebut. Xaviera kembali membungkukkan badannya di depan ratusan penonton yang ikut menyaksikan acara itu. Riuh tepuk tangan meramaikan tempat itu. Xaviera berjalan menuruni panggung. Dadanya membusung, punggungnya tegap, senyumnya merekah. Tatapannya penuh rasa bangga dan bersyukur.
Sementara Javier masih terus mencerna dan ingin memastikan sendiri. Jantungnya masih terpukul kencang saat mendengar nama itu. Wajahnya terlihat sangat terkejut dan shock. Javier nampak menarik napas dan menahannya di dada. Dengan langkah tegap dan elegannya. Xaviera pun turun dari atas panggung. Pandangan Javier menatap lurus ke atas panggung melihat Xaviera sudah turun dari atas.
Javier kembali mengembalikan pikirannya, Ia perlahan memajukan langkahnya satu per satu. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan.
"Benarkah itu kamu Xaviera? Xaviera yang selalu aku pikirkan, Xaviera yang selalu menggelitik hatiku dan membuat jantungku tak bisa diam." Napasnya keluar tidak stabil. Javier tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dadanya. Setidaknya ia ingin memastikan. Javier mempercepat langkahnya, berusaha menerobos dari kerumunan orang-orang yang ada di sana. Javier mencoba menenangkan jantungnya yang memicu begitu cepat, ia menghembuskan napas cepat, Ia nampak gugup dan kebingungan.
Di mulutnya hanya terucap satu nama dengan suara parau dan gemetar. "XAVIERA...."
Javier bahkan berlari. Sosok Xaviera masih bisa terlihat olehnya, diantara kerumunan orang yang ada di sana. Javier terengah. Derap langkah cepatnya terus berlari, mengejar seseorang yang selalu mengganggu pikirannya. Javier masih tidak tahu perasaan apa ini. Tapi ia begitu bahagia. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sambil terus melangkahkan kakinya.
"Aku mohon jangan pergi Xaviera. Kumohon tetaplah di sana." Javier terus memohon di dalam hatinya. Pandangannya terhalang, bunga yang akan di arak menutupi Xaviera.
"Ssshhiitt..." Javier mengumpat kesal, orang-orang mulai ikut berjalan melangkah mengarak bunga-bunga di jalanan kota Zundert. Javier terus mencoba menemukan Xaviera di antara kerumunan orang-orang. Lagi-lagi Javier menggeram, Ia terus menatap ke depan karena kebingungan mencari sosok dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.
Javier terus mengejar tanpa henti. Ini adalah ibarat penantian panjang yang membuahkan hasil. Meski ia tahu Xaviera bahkan tidak mengenalnya lagi. Pertemuan singkat mampu merobohkan tembok hatinya.
“Ahh! mungkin benar, cinta memang bodoh. Sebab sekarang, aku merasa bodoh harus terus menerus menunggunya. Xaviera selalu selalu berhasil mengganggu pikiranku. Xaviera benar-benar telah berhasil masuk ke dalam hatiku? Jadi tetaplah di sana. Aku mohon Xaviera." batin Javier menguatkan. Lucu, memang lucu. Javier seperti menemukan Xaviera yang lama menghilang. Namun sesungguhnya, saat pertemuan pertama mereka. Untuk saling menyapa dan menyebut nama saja tidak. Namun pesona Xaviera benar-benar membuatnya terhipnotis.
Dentuman irama jantungnya seakan mengejeknya. Memaki-maki matahari di barat yang bukanlah miliknya. Tapi Javier tidak pernah menyerah. Ia berlari seperti mengejar matahari yang makin tenggelam.
TAP TAP TAP
Langkahnya semakin melambat, Javier berhenti di tengah jalan. Celengukan mencari-cari sosok Xaviera. Menoleh ke kiri dan ke kanan. "Kemana dia?" Javier membungkuk dan memegang lututnya, mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat karena berlari tadi. Xaviera tidak ada di sana.
"Apakah dia ikut mengarak bunga?"Javier mengedarkan pandangannya. Mencoba menemukan sosok Xaviera. Ia bahkan berulang-ulang menenangkan dirinya sambil menarik dan mengembuskan napas beberapa kali. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menengadah ke atas. Javier duduk di pinggir jalan, menunduk dengan frustasi.
⭐⭐⭐⭐⭐
Benar kata Javier, Xaviera ikut mengarak bunga bersama aunty Angel. Mereka tersenyum bahagia. Angel sibuk mengabadikan momen indah ini. Ia mengambil beberapa foto untuk disimpan di galery handphonenya. Sementara Xaviera asyik membuat video dan menguploadnya ke media sosial miliknya. Namun tiba-tiba Xaviera menyadari sesuatu. Matanya membulat dengan wajah menegang.
"Astaga aku melupakan sesuatu aunty." Xaviera panik dengan setengah berteriak. Ia menyadari dokumen penting itu tidak ada di tangannya. "Ah.. tidak....." Xaviera histeris dengan menepuk-nepuk kakinya di sana.
Angel mengerutkan keningnya."Melupakan apa?" Ia ikut panik dan shock.
"Dokumen yang harus aku persentasikan besok. Aunty...." Wajah Xaviera meringis ingin menangis sambil mencengkram rambutnya.
"Bukannya tertinggal di mobil?" tanya Angel berusaha menenangkan Xaviera.
Ia menggeleng cepat dengan pandangan nanar."Tidak aunty, aku jelas ingat membawanya dari mobil."
"Kamu serius?"
"Iya, saat aku naik ke atas panggung...." Xaviera menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna. Ia mengingat sesuatu.
"Kamu taruh dimana?"
"Aku taruh di atas kursi di atas panggung aunty." Xaviera ingin menangis.
"Astaga Xaviera, kau benar-benar ceroboh..." rutuk Angel mengoceh.
"Aku ingin ke sana aunty."
"Hati-ha......"
Belum lagi Angel melanjutkan kalimatnya, ia sudah berlari menuju panggung itu kembali. Beruntung mereka belum terlalu jauh. Angel ikut menyusul. Ia juga sangat berharap dokumen itu masih aman di sana.
"Xaviera hati-hati...Aku tunggu di sini ya," Teriak Angel kembali mengingat saat Xaviera yang berlari menuju jalan pembelokan. "Astaga...dia sudah hilang..." Angel membuang napasnya. Ia masuk ke cafe dan memilih menunggu di sana. Angel berancang ingin menghubungi Xaviera setelah memesan minuman segar yang cocok untuk melepaskan dahaga.
Angel memesan dua minuman di sana, minuman Wimbledon dan Pimms. Sejenis minuman koktail yang mengandung stroberi, jeruk, lemon dan ketimun. Minuman ini adalah kekhasan yang menandakan musim panas di daerah Amsterdam.
Xaviera langsung naik ke atas panggung dan mencari dokumen penting itu. Dokumen yang baginya seperti nyawa hidupnya. Kenapa dia mengatakannya, karena sudah satu minggu Xaviera mempersiapkannya. Jika dokumen itu hilang itu sama artinya hidupnya END.
Jeng jeng....! Dokumen itu tidak ada di sana. "Hah...Kemana? Seingatku aku taruh di sini. Astaga..." jantung Xaviera terpicu resah. Ia nampak frustasi.
"Aku ingat betul menaruhnya di sini. Apakah seseorang telah mengambilnya?" Xaviera menggigit bibirnya dengan meloncat-loncat kecil dengan ekspresi bingung dan resah.
Sementara dari jauh, seorang lelaki tersenyum di dalam mobil melihat ekspresi lucu Xaviera. Ia mengusap bibir bawahnya menikmati pemandangan itu.
"Kemana lagi aku mencarinya?" Xaviera mengusap wajahnya dengannya kasar. Menyapu rambutnya ke atas sambil memegang dadanya, semua ekspresi bingung ia lakukan. Xaviera mencoba mengatur kembali pernapasannya yang memburu tidak karuan.
"Oh my god, aku bisa gila." Xaviera melepaskan napas yang tertahan lewat hembusan napas panjang dari mulutnya yang terbuka. Ia turun dari panggung dengan menunduk sedih. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya tidak keluar. "Ahh...aku siap di pecat jika seperti ini." Xaviera mengacak rambutnya.
Seorang lelaki keluar dari mobilnya, Ia tersenyum sambil membenarkan jasnya. Ia melangkah dengan tubuh tegap dan berjalan menghampiri Xaviera yang menunduk sedih.
"XAVIERA?" Panggil lelaki itu dengan suara baritonnya.
Xaviera membalikkan badannya. Ia mengerutkan dahinya menatap pria yang sedang tersenyum manis kepadanya.
"Apa kau masih mengingatku, nona XAVIERA?" tanya pria itu kembali.
"Anda siapa?" tanya Xaviera tanpa ekspresi. Matanya menyorot tajam saat lelaki itu tersenyum lagi.
BERSAMBUNG
❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗🤗🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee