NovelToon NovelToon
Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.

Status: tamat
Genre:Romantis / Sci-Fi / CEO Amnesia / Cinta Murni / Pihak Ketiga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 5
Nama Author: Biru Samudera

Season 2, lanjutan dari: Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda. Disarankan untuk membaca season 1 lebih dulu.

Ini bukan kisah cinta biasa.

Andrew Roux, penerus Phoenix.Co, memilih menolak permintaan ayahnya untuk meneruskan perusahaan keluarga demi mencari gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya. Apakah semua ingatan dan mimpi-mimpinya berkaitan dengan kehidupan masa lalunya?

Kehidupan Sakamoto Keiko, seorang putri mafia yang terjerat dalam perjodohan dengan putra rekan bisnis ayahnya mendadak berubah 180° derajat ketika Andrew Roux tiba-tiba muncul di hadapannya.


Takdir apa yang mempertemukan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu bukan dia

Andrew memakai setelan terbaiknya, lalu memeriksa pantulan dirinya dalam

cermin dengan teliti. Setelah tidur hampir seharian, kini tubuhnya terasa lebih

segar. Alarm yang dipasangnya pukul enam membangunkannya tepat waktu. Setelah meminum

secangkir kopi pahit dan seporsi dumpling kukus—camilan yang sepertinya kini

menjadi makanan favoritnya—sekarang ia siap untuk menjalankan rencana yang

sudah disusun oleh Mr. Tanaka.

Pria itu memasang dasi dan memeriksa ulang alat penyadap yang tersemat

di baliknya. Kali ini ia memilih spy glass berbentuk softlens yang dapat

dioperasikan melalui ponsel. Memakai kacamata hitam di malam hari akan terlalu

mencolok. Ia berkedip beberapa kali seraya mengaktifkan aplikasi khusus yang terpasang

di ponselnya untuk memastikan tidak ada kendala teknis.

Scanning ....

Bip. Bip. Bip.

Connected.

Tidak ada masalah dalam semua perangkatnya. Sekarang hanya perlu

sedikit keberuntungan agar identitasnya tidak terbongkar sebelum semuanya

selesai.

“Kamu sudah siap?” tanya Clark yang melongok dari balik pintu, “Kenapa

cepat sekali? Acara amal itu baru akan diadakan pukul delapan.”

Andrew memutar bola matanya ketika melihat Clark yang belum berpakaian

dengan rapi. Ia menunjuk jam tangannya dan berkata, “Ini sudah hampir pukul

tujuh, Clark. Aku akan meninggalkanmu kalau belum siap dalam ... sepuluh menit.”

“Hey, relaks, Drew. Jaraknya tidak terlalu jauh. Kita bisa sampai dalam—“

“Sepuluh menit.”

“Oke. Sepuluh menit. Tunggu aku.”

Andrew mengabaikan ekspresi sahabatnya yang terlihat sedikit tidak rela

dan berjalan keluar dari kamar. Mereka harus tiba di lokasi lebih awal untuk

mempelajari situasi. Setidaknya mereka bisa mengawasi tamu-tamu yang datang

sebelum acara dimulai. Jika tiba setelah acara dimulai, mereka bisa saja kehilangan

kesempatan yang berharga.

Clark tergesa merapikan pakaiannya, memasang alat komunikasi dan

beberapa perangkat lain sambil menggerutu pelan. Ia tidak pernah bisa

menyesuaikan diri dengan kedisplinan Andrew yang menurutnya sedikit berlebihan,

tapi ia juga tidak pernah memiliki keberanian untuk membantah sahabatnya itu.

“Clark!”

Suara yang menyerupai geraman dari balik pintu membuat Clark

berjengit karena terkejut.

“Tunggu sebentar! Sedikit lagi!” balasnya setengah berteriak. Ia belum

selesai menyisir rambut.

Andrew mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka. Ia menatap tajam ke

arah  Clark sambil bersedekap.

“Kenapa tidak memberitahuku kalau ada Jovanka di depan? Kamu sengaja

ingin menjebakku?” tuduh Andrew dengan sedikit kesal. Ia hampir saja terjungkal

ketika melihat wanita itu duduk di ruang tamu dengan gaun malam yang

mempertontonkan separuh tubuhnya.

“Oh. Ya. Aku lupa. Maaf, tadinya aku ingin memberitahumu,” jawab Clark

seraya merapikan rambutnya dengan pomade.

Tadinya ia masuk untuk memberitahu Andrew mengenai kedatangan Jovanka,

tapi sahabatnya itu justru memarahinya dan membuatnya gugup. Jangan salahkan

kalau ia jadi lupa dengan tujuan semula.

“Kenapa dia ke sini?” tanya Andrew dengan nada tidak suka yang sangat

kentara.

“Aku tidak tahu. Kenapa tidak kamu tanyakan langsung padanya?” goda

Clark seraya mengedipkan mata, “Jujurlah, dia sangat cantik malam ini.”

Refleks tangan Andrew terangkat dan meninju bahu Clark dengan cukup

keras.

“Aw! Aku bercanda! Hanya bercanda!” seru Clark sambil berusaha

menghindar ketika melihat tangan Andrew sudah kembali melayang di udara.

“Kita sama-sama tahu apa alasan dia ke sini. Atau, apakah kamu ingin

berpura-pura tidak tahu?” tanya pria itu seraya mengusap-usap bahunya yang

terasa sakit.

“Berisik sekali! Cepatlah!” desis Andrew kesal. Untunglah tadi ia langsung berputar dan

kembali ke kamar sebelum Jovanka sempat mengatakan apa pun. Melihat gairah

dalam sorot mata wanita itu membuat seluruh tubuhnya meremang.

“Aku heran kenapa pria dingin dan kaku sepertimu digilai oleh banyak

wanita. Mereka tidak pernah menyadari pesona dan kharismaku,” gerutu Clark

sambil melirik sahabatnya dari cermin. Ia merapikan dasi, lalu menyelipkan sebuah pistol mini yang menyerupai pemantik di balik jas.

“Berikan kunci mobil,” ujar Andrew seraya menyodorkan tangan, tidak

berniat merespon perkataan Clark yang menjengkelkan itu.

“Apa? Tapi ... kenapa?”

“Aku yang menyetir. Kamu duduklah dengannya di belakang.”

“T-ta-tapi ....”

“Cepatlah,” desak Andrew seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah

hampir setengah delapan.

Clark hanya bisa menghela napas. Ia menyerahkan kunci mobil pada Andrew

sambil berkata, “Ayo, berangkat.”

Dua pria itu berjalan beriringan menuju ruang tamu. Wajah Jovanka yang

suram mendadak berseri ketika melihat Andrew berjalan ke arahnya.

“Maaf aku datang tanpa memberi tahu kalian lebih dulu. Kendaraanku tiba-tiba

mogok di dekat sini, jadi aku putuskan untuk mampir. Kalian tidak keberatan, ‘kan?”

tanya wanita itu seraya tersenyum manis.

Andrew mendengkus pelan dan berjalan keluar tanpa mau repot-repot untuk

berbasa-basi. Memang ia akui, malam ini Jovanka terlihat sangat cantik, tapi

tetap saja ... potongan gaun yang membuat tungkai jenjang wanita itu terekspos tidak

membuatnya tertarik sama sekali.

“Tidak masalah. Ayo, jalan,” balas Clark seraya menyeringai kikuk.

Pria itu merasa sungkan karena sikap Andrew yang bar-bar dan sedikit keterlaluan.

Selain itu, bongkahan kenyal yang separuh menyembul di balik gaun backless yang dikenakan Jovanka

membuat ia sedikit tidak fokus. Ia tidak mengerti mengapa Andrew sama sekali

tidak tertarik dengan wanita di sampingnya itu.

Jika Jovanka mengejarnya seperti mengejar Andrew sekarang, maka ia

tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan

jalan pikiran sahabatnya itu. Lagipula, bukankah Sakamoto Keiko sudah memiliki

tunangan?

Memangnya dia mau merebut gadis itu dari tunangannya? Sungguh tidak

masuk akal, gerutu Clark dalam hati.

“Di mana Jimmy?” tanya Clark ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.

“Dia dan dua anak buah Mr. Tanaka sudah ada di posisi. Mereka sudah ada

di sana sejak satu jam lalu.”

“Oh.” Clark mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.

Sepanjang perjalanan, Clark berusaha mencairkan suasana yang kaku di

dalam mobil.  Hal itu karena Jovanka yang

terus berusaha menarik perhatian Andrew, tapi pria itu bersikap seperti fosil

dari zaman batu. Ia hanya terus memerhatikan navigasi di layar GPS dan terlihat

sangat serius ketika mengemudikan mobil.

Ketika mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju, Clark mengembuskan

napas lega karena tidak harus menjadi penengah lagi. Ia memerhatikan gedung

berwarna abu-abu yang terlihat cukup megah di depan sana. Beberapa mobil

terlihat mengantri dan menurunkan tamu-tamu yang mengenakan pakaian hasil karya

designer kelas dunia.

Andrew menepikan mobil ke dekat pintu masuk dan menyerahkan kunci mobil

pada petugas valet. Ia merapikan jasnya dan hendak berjalan masuk. Akan tetapi, tiba-tiba

tanpa aba-aba Jovanka melingkarkan tangan di lengannya.

“Miss?” tegur Andrew menyerupai desisan pelan.

“Ingat tugas kita di sini, Drew,” jawab Jovanka seraya tersenyum semanis

mungkin.

Clark terbatuk pelan dari belakang. Ia sungguh tidak menyangka Jovanka

seagresif ini. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya. Tugasnya malam ini adalah menjadi

asisten Andrew Roux, satu-satunya penerus Phoenix.Co.

Andrew ingin berdebat, tapi ia tahu Jovanka ditugaskan untuk menjadi tunangannya

oleh Mr. Tanaka. Itulah kesepakatan mereka kemarin. Semuanya harus terlihat

senatural mungkin. Oleh karena itu, setelah menarik napas dalam-dalam, Andrew

menggamit lengan Jovanka dan mulai berjalan masuk.

Setelah kartu undangan mereka

diperiksa, tiga orang itu langsung diarahkan menuju aula utama di lantai 12

oleh penjaga yang bertugas di lobby utama.

Aula itu benar-benar luas. Dua lantai dimodifikasi sedemikian rupa

sehingga menjadi satu ruangan megah yang dipenuhi ornamen klasik dan langka. Rangkaian

bunga dan beberapa hidangan pembuka yang mahal tersusun rapi di atas meja-meja

panjang. Segala jenis minuman ringan dan beralkohol ada di sana.

Belum ada banyak tamu yang datang. Alat pelacak yang sudah diatur

secara otomatis oleh Andrew langsung memindai wajah orang-orang dalam ruangan, lalu menampilkan

identitas mereka dalam bentuk hologram yang hanya dapat dilihat olehnya.

“Orang-orang ini, mereka adalah para milyuner dari seluruh penjuru

dunia,” ujar Jovanka sedikit takjub. Ia memiliki alat pendeteksi yang sama

dengan Andrew.

“Hum,” gumam Andrew hampir tak terdengar.

Ia mendongak untuk memindai ruangan di atasnya. Ada satu anak tangga

bergaya minimalis yang menghubungkan lantai bawah dan atas. Ada dua lorong di ujung

anak tangga, ke arah kanan dan kiri. Agak ke tengah, ada sebuah ruangan kaca

yang tembus pandang. Apa pun yang dilakukan orang-orang di sana dapat terlihat

dengan cukup jelas dari bawah. Beberapa pria bersetelan serba hitam berdiri

dengan sikap waspada, sesekali berbicara pada alat komunikasi mereka.

“Sepertinya itu semacam ruang untuk menjamu tamu VIP,” ujar Jovanka

yang menyadari ke mana arah tatapan Andrew.

Wanita itu terus menempel pada Andrew, tidak ingin melepaskannya sama

sekali. Ia tidak akan melepaskan kesempatan emas ini begitu saja. Ia bahkan

sudah memiliki sebuah rencana ... ketika acara ini berakhir nanti ....

“Selamat malam, Tuan Kobayashi.”

Sapaan yang cukup keras itu menarik perhatian Andrew. Meski begitu, ia

tidak terburu-buru menoleh. Setelah menghitung sampai sepuluh dalam hati, ia

baru menggerakkan kepalanya perlahan untuk mencari di mana posisi Kobayashi

Sora.

Akan tetapi, ketika akhirnya ia bersitatap dengan sosok yang dicarinya itu, ia

hampir kehilangan kendali.

Kenapa tua bangka itu tidak datang?

“Itu bukan dia,” ujar Clark dari balik tubuh Andrew, seolah bisa mengetahui

isi kepala sahabatnya.

Itu memang bukan dia.

1
Fiora Vyan
kak bii gak mau buat novel lain kah . part anak Hiro_ Cecil mungkin ??? seru tuh mafia cantik mata biru yg terobsesi sama cowok . aku suka karya mu cewek ny gak lembek menye. yg cuma bisa nangis
Fiora Vyan
masih rindu Kinara Alex . ya biarpun sudah di obati tapi tetep pputm di pikiran
Fiora Vyan
balik lagi baca pputm ngingetin ucapan Alex
Fiora Vyan
masih gak rela akhir Kinara
Fiora Vyan
aaaaa ....... so sweet /Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper/ akhirnya Keiko ingat Kinara lee
Fiora Vyan
dag Dig dug👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Fiora Vyan
/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Fiora Vyan
huh hah huh hah huh/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Fiora Vyan
makasih kak masih mikirin pembaca . kalau di tamatin seadanya aku pasti kecewa . apalagi gak ada novel lain yg aku suka . cuma kak biru .
Fiora Vyan
janganlah capek kakbirunya bikin cerita apalagi
Fiora Vyan
dia ingat kebodohannya waktu Alex menjadikan dia umpan untuk nangkep nathan
Fiora Vyan
nakal ya kak biruu.,./Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/
Fiora Vyan
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Fiora Vyan
setiap kata" baby" bawan sedih terus Ingan perjalan novel Alex - kinara
Fiora Vyan
cuma dua nevel yg aku baca novel kak biru sama Cherry blossom
Fiora Vyan: yg lain lewat
total 1 replies
Marhaban ya Nur17
kinara Lee anaknya tiplet y
Marhaban ya Nur17
yaahhh ahirnya sadar
Marhaban ya Nur17
udh cile insaf jan jd ulet keket deh
Marhaban ya Nur17
tuh kan bener bapaknya yg lebih heboh wkkwkw
Marhaban ya Nur17
gmn klo bapaknya Andrew tau wkwkwk pasti lebih heboh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!