Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Keluarga
Rana (narasi)
Alarm ponselku bunyi jam empat pagi. Aku bangun, sikat gigi, cuci muka, lalu turun ke dapur karena sudah terdengar suara dari sana.
"Pagi, Bu Lastri."
"Pagi, Sayang. Panggil saja Tante atau Ibu." Dia tersenyum, dan aku cuma menggeleng.
"Saya bisa bantu apa?"
"Ibu mau bikin makaroni schotel, daging panggang, kentang tumbuk, sama nasi. Dagingnya sudah Ibu masukkan oven. Kalau kamu mau, kupasin kentangnya." Aku mengangguk.
Aku membantunya memasak semuanya, dan setelah selesai, semua kami masukkan ke wadah plastik. Aku naik ke kamar Macan, mandi, dan mencuci rambutku yang bau masakan. Kuoleskan pelembap, lalu kupakai set lingerie biru, jin, blus hitam, dan sandal datar. Rambut kukeringkan dan kuikat ekor kuda, riasan tipis, parfum banyak-banyak. Siap. Kudengar Bu Lastri memanggil.
"Rana, ayo!"
"Iya, Bu!" Aku langsung menuruni tangga. Dia sudah menaruh tas-tas ke mobil dan duduk di belakang, dan aku masuk bersamanya.
Kerempeng dan satu pengecer lagi yang mengantar kami. Sepanjang jalan kami diam, sampai Bu Lastri mulai bicara dengan Kerempeng.
"Nak, masih lama ya kalian mengeluarkan dia dari sana? Mak nggak tahan lagi lihat anak Mak di tempat itu." Aku diam saja menyimak.
"Sebulan lagi, Mak. Transfernya sudah dijadwalkan, dan kami bakal keluarin dia dari sana. Tenang aja."
Ya Tuhan, orang-orang ini gila. Bagaimana mereka mau melakukannya? Macan lebih gila lagi, mau kabur dari penjara. Aku duduk di sini mati ketakutan.
Nggak lama kami sampai. Kami turun membawa tas dan ikut antrean. Setelah kira-kira satu jam, giliran kami digeledah.
Kami lewati semua prosedur, dan makanannya juga mereka bongkar semua untuk memastikan nggak ada apa-apa. Lalu kami dilepas dan masuk.
Jujur, perutku mulas juga. Aku nggak tahu kenapa, rasanya lambungku bergolak. Mungkin gugup.
Sampai di halaman, aku sudah melihatnya duduk di pojok yang ada kursinya. Begitu melihat kami, dia berdiri. Ibunya jalan duluan dan aku di belakang. Dari jauh pun kelihatan dia ganteng sekali, serba hitam dengan topi abu-abu, wajahnya galak, yang malah bikin dia makin menawan.
Ibunya mendekat dan menaruh tas-tas di meja, lalu dia memeluknya. Aku cuma memandangi.
"Mak kangen banget sama kamu, Nak." Bu Lastri menciumnya.
Mereka melepaskan diri, dan dia menatapku.
"Nggak mau datang menyapa gue?" katanya serius, dan aku jadi salah tingkah.
"Hai." Aku malu di depan ibunya.
"Sini, cantik." Dia menarik tanganku dan menciumku dalam-dalam sampai aku kehabisan napas dan malu setengah mati. Ibunya melihat kami sambil tersenyum, tapi nggak bilang apa-apa.
Kami duduk, dan dia menarikku ke pangkuannya sambil mengelus pahaku. Aku nggak tahu mau menyembunyikan muka di mana.
Mereka asyik mengobrol, aku diam saja. Bu Lastri berdiri dan pergi ke toilet, lalu dia bicara padaku.
"Lo memang selalu pendiam gini, atau malu sama Mak gue?" Dia menciumi leherku sampai aku merinding.
"Dua-duanya."
Dia menatapku lalu menciumku, dan ciuman itu baru kami sudahi karena kehabisan napas.
"Lo nggak perlu malu apa-apa, dia kan sekarang mertua lo."
Alisku terangkat.
"Mertua apaan? Kamu gila ya? Setahuku nggak ada cincin di jariku, dan aku nggak dilamar siapa-siapa." Aku bicara serius.
Dia mengerutkan wajah.
"Lo tahu lo sama gue, kan. Biarpun gue nggak bisa romantis, begitu gue keluar dari sini, gue bawa lo milih cincin apa pun yang lo mau."
"Kamu itu gila, tahu nggak. Kita aja belum kenal baik."
"Lo lagi ngelihat sisi terbaik gue, Rana, sisi yang nggak pernah dilihat cewek mana pun. Gue tahu gue lebih tua dari lo dan udah banyak pengalaman, dan justru karena itu gue mau tenang. Gue mau bangun keluarga sama lo." Dia bicara serius, dan aku terkejut.
"Kamu serius?"
"Omongan gue nggak belok-belok, cantik. Lo boleh yakin gue serius. Lo masuk ke kepala penjahat ini dan gue nggak sanggup lagi jauh dari lo, ngerti kan?"
"Aku takut nanti pas kamu keluar dari sini, kamu berubah sama aku."
"Gue nggak bakal berubah, yakin aja." Tepat saat itu ibunya datang dan duduk lagi.
"Terus gimana, Nak, kalian pacaran?"
"Ya iyalah, dia kan sudah atas namaku. Pas gue keluar, gue kenalin dia sebagai pacar resmi gue." Dia bicara serius.
"Jangan sampai mengecewakan dia ya, soalnya kalau sampai kejadian, Mak sendiri yang bakal nagih kamu." Ibunya bicara tegas, dan dia cuma mengangguk.
Kami mengobrol, dan aku menceritakan kondisi nenekku. Dia terus kelihatan tertarik pada hidupku, dan aku akui aku senang dengan itu.
Waktu makan siang tiba dan kami makan bersama. Dia makan tiga porsi, dan aku kaget melihat betapa banyaknya, tapi dia kasihan juga, katanya makanan di sini mengerikan.
Selesai makan kami mengobrol lagi, lalu petugas datang bilang jam kunjungan sudah habis. Dia berdiri dan memeluk ibunya. Mata Bu Lastri berkaca-kaca, kasihan. Begitu melepaskan ibunya, dia memelukku dan membenamkan wajahnya di leherku, mengendusku. Jujur aku melakukan hal yang sama, dan kalau bisa aku mau tetap di pelukan itu.
Dia menciumku, pelan dan penuh hasrat, lalu mengakhirinya dengan kecupan singkat dan menatap mataku.
"Jaga diri ya. Gue ngawasin lo."
Aku tersenyum miring padanya dan keluar dari sana bersama Bu Lastri menuju antrean. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di luar, dan dua pengecer sudah menunggu.
Kami naik mobil menuju bukit, dan Bu Lastri membuka obrolan denganku.
"Kamu suka dia juga, kan?"
"Kenapa Ibu bilang begitu?"
"Soalnya kelihatan kalau kalian berdua bersama. Kalian pasti saling suka." Dia tersenyum.