Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tak lama setelah Mia pergi meninggalkan kontrakan, suara deru sepeda motor terdengar dari arah jalan depan. Pak Udin yang masih sibuk membersihkan halaman menoleh. Matanya menyipit ketika melihat siapa yang baru saja berhenti di depan deretan kontrakan. "Si Edo," Mendecih pelan Pak Udin.
Lelaki itu turun dari motornya, kemudian berjalan cepat menuju pintu kontrakan mereka. Tangannya bahkan sudah hendak meraih gagang pintu.
"Edo!" seru Pak Udin sigap. Edo menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kamu mau apa?"
"Mau masuk, Pak," jawab Edo singkat.
Pak Udin segera menghampirinya. "Nggak bisa."
Kening Edo berkerut. "Kenapa?"
"Mia tidak ada di kontrakan. Dia baru saja pulang ke Bandung."
Mendengar nama mantan istrinya disebut, wajah Edo seketika berubah. "Pulang ke Bandung?" ulangnya.
"Iya." Pak Udin menyahut ketus. Sebenarnya ia ingin sekali memarahi dan menonjok wajah Edo, tapi ditahan karena dia tak punya kuasa meski tahu kekejian Edo pada Mia tadi malam.
Edo terdiam. Tatapannya beralih ke pintu kontrakan yang kini tertutup rapat. Entah kenapa, mendengar Mia sudah tidak ada di tempat itu membuat dadanya terasa sesak.
Pak Udin kemudian menunjuk sebuah ransel yang tadi dititipkan Mia kepadanya. "Tuh ada barang-barang kamu. Mia sudah menitipkannya ke saya." Diambilnya ransel tersebut, lalu ia menyodorkannya kepada Edo. "Ini. Ambillah."
Edo memandangi ransel itu selama beberapa detik. "Ah, sial. Ternyata si Mia sudah mengantongi pakaian gue. Gagal deh gue ngambil barang-barang berharga di dalam kontrakan," rutuknya dalam hati. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Edo langsung menyambar ransel dari tangan Pak Udin. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras. Lelaki itu berbalik, berjalan cepat menuju motornya, lalu mengenakan kembali helm yang tadi dilepas. Ransel miliknya diletakkan di bagian depan motor. Mesin dinyalakan.
"Do!" panggil Pak Udin sekali lagi.
Edo tidak menoleh. Ia langsung memutar gas dan pergi meninggalkan halaman kontrakan.
Pak Udin hanya bisa menatap kepergian lelaki itu sambil geleng-geleng kepala. "Dasar budak gelo!" gerutunya kesal. Ia kemudian kembali mengambil sapunya. "Minimal bilang makasih, kek. Ini malah langsung pergi saja!" Pak Udin menghela napas panjang. Pandangannya sempat tertuju pada jalan yang baru saja dilalui Edo. "Semoga Mia benar-benar bisa hidup tenang setelah ini." Ia kembali membersihkan halaman, sementara suara motor Edo perlahan menghilang dari kejauhan.
Edo melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Wajahnya masih merah menahan amarah. Mulutnya terus mengumpat kasar.
"Brengsek! Sialan!" Ia sama sekali tidak menyangka Mia akan bertindak sejauh itu.
Setelah dirinya menjatuhkan talak tiga, Edo justru sempat berpikir Mia akan hancur. Ia membayangkan perempuan itu akan menangis sejadi-jadinya, memohon agar Edo menarik kembali perkataannya, bahkan mungkin memintanya untuk tetap tinggal.
Namun, kenyataannya justru membuat Edo geram.
Mia tidak melakukan semua itu. Perempuan itu malah mengemasi pakaian miliknya, memasukkannya ke dalam ransel, lalu menitipkannya kepada Pak Udin. Bahkan Mia sudah pergi lebih dulu ke Bandung.
"Kurang ajar!" Edo kembali mengumpat.
Tangannya mencengkeram setang motor semakin erat. "Harusnya lo nangis, Mia! Harusnya lo mohon-mohon sama gue!" Edo merasa harga dirinya terusik.
Bukankah selama ini Mia selalu mengalah?
Bukankah perempuan itu selalu berusaha mempertahankan rumah tangga mereka?
Lalu mengapa sekarang Mia bisa pergi begitu saja?
Edo mengira talak yang diucapkannya akan membuat Mia ketakutan kehilangan dirinya. Ia berharap Mia akan mengejarnya. Ia berharap Mia akan berkata bahwa dirinya masih mencintai Edo dan tidak sanggup hidup sendirian.
Tetapi yang didapatkannya justru sebaliknya. Mia menerima keputusan itu.
"Lo pikir gue bakal nyesel, hah?" gerutu Edo, seolah sedang berbicara kepada Mia yang tidak ada di sana.
Namun, setelah beberapa saat, raut wajahnya berubah. Ada keganjilan yang mulai mengusik pikirannya. Edo memang sudah menjatuhkan talak tiga. Tetapi entah mengapa, ia tidak pernah benar-benar membayangkan Mia akan menerima perpisahan itu dengan tenang.
Ia masih mengira perempuan itu akan tetap berada di tempatnya. Akan tetap menunggunya. Akan tetap memohon.
Tetapi pagi ini, Mia justru sudah pergi.
Edo mendengus kesal. "Dasar perempuan kurang ajar!" Ia kembali menarik gas.
Namun, semakin jauh motornya melaju, semakin kuat pula bayangan Mia yang pergi meninggalkan kontrakan memenuhi pikirannya. "Ah, si Mia setan! Dia pasti bakal ngadu ke orang tuanya. Gue nggak boleh tinggal diam. Gue juga harus buru-buru memutarbalikan fakta ke orang tua gue," putusnya menyeringai licik.
______
Tepat pukul dua belas siang, ojek yang ditumpangi Mia memasuki jalan kampung yang semakin menyempit. Mia menatap sekeliling jalan itu dengan hati yang perih. "Tenang, Mia. Jangan menangis," lirihnya dalam benak. Mia menguatkan hatinya. Ia gegas menepuk pundak sang tukang ojek. "Turun di sini saja, A," katanya tepat di samping pohon mangga.
"Iya, Teh." Tukang ojek itu menuruti.
Mia turun dari motor, melepas helm dan membayar ongkos. "Terima kasih, A."
"Sama-sama, Teh." Tukang ojek itu berbalik dan meninggalkan Mia.
Mia berdiri sejenak sambil memandangi rumah sederhana yang sudah begitu dikenalnya. Rumah tempat ia dibesarkan, tempat ia selalu pulang ketika sedang menghadapi masalah.
Namun, kali ini kepulangannya terasa berbeda.
Mia mengangkat tasnya dan berjalan mendekat. Di teras rumah, Titin dan Ayep ternyata sedang duduk santai. Sang ibu sedang memilah sayuran, sedangkan Ayep menikmati kopi sambil sesekali mengajak burung dalam sangkar bicara.
"Assalamu'alaikum, Pak... Bu." Mia berseru sambil berlari kecil menghampiri orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya hampir bersamaan.
Ayep langsung bangkit dari duduknya. "Lho, Mia, kok kamu pulang nggak bilang-bilang?"
Titin ikut berdiri. "Ya Allah... Mia," serunya kaget.
Mia memaksakan bibirnya mengeluarkan kekehan kecil. "Sengaja, mau buat kejutan untuk Ibu dan Bapak."
Titin memeluk Mia, Ayep pun juga. Tatapan keduanya kemudian jatuh pada tas yang dibawa Mia.
"Suamimu mana, Neng?" tanya Ayep heran.
Dada Mia tersentak kecil. Ada sesak yang menyeruak.
"Iya, Neng... Edo mana? Jangan bilang kamu pulang sendirian?" timpal Titin penuh curiga.
Mia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang nyaris tumpah. "Aku memang pulang sendirian, Bu, Pak." Akhirnya ia berkata jujur.
"Kenapa?!" serobot Ayep dan Titin serentak.
Mia mengembuskan napas panjang, belum sempat menjawab, sang ibu sudah kembali melontarkan pertanyaan. "Kalian ada masalah? Bertengkar?"
Dada Mia makin sesak. Sekuat apa pun ia menahan, sakit di hatinya tak bisa dikendalikan.
"Jawab, Nak, ada apa?" Ayep menyentuh bahu Mia.
Titin ikut menyentuh lengan anak sulungnya. "Ya sudah... yuk kita masuk. Kita bicara di dalam saja," ajaknya.
Mia mengangguk, Ayep mengambil alih tas dari tangan Mia. Sementara Titin membawa bakul sayuran dan menutup pintu rapat-rapat.
Tiba di ruang tamu, ketiganya langsung duduk.
"Kamu sudah siap cerita?" tanya Ayep dengan suara lembut.
Mia mengangguk.
"Sok, ceritakan ke Ibu dan Bapak apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" Titin mengusap punggung Mia. Dan hal itu membuat Mia tak kuasa lagi menahan air mata.
"Bu, Pak... Edo sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku," ucap Mia akhirnya.
"Apa?!" Ayep dan Titin membelalakan mata disertai mulut yang menganga.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪