NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Keanehan

Ruang Engineer.

Dion berdiri mengarah ke meja Ibra yang kosong melompong. Laptop pria itu masih dalam kondisi standby, tapi pemiliknya masih tak terlihat sejak sebelum jam makan siang.

​"Aneh banget..." gumam Dion seraya berpikir, meletakkan jari jempol dan telunjuknya di dagu, bergaya ala Boboiboy dengan satu tangan tetap menggantung di bawah. Ada gerangan apa sebenarnya sahabatnya ini, mendadak hilang seperti diculik Wewe Gombel.

Pandang Dion beralih menatap ponselnya, menampilkan deretan pesan WhatsApp ke Ibra yang hanya centang dua abu-abu. Rata kanan, seperti pesannya pada Gea beberapa hari belakangan.

"Ibra ke mana, sih? Tadi pas rapat juga mukanya kayak orang enggak tidur setahun."

​Dion lalu melangkah ke arah Nadya di dekatnya, menyandarkan pinggulnya di tepi meja. Ia menyunggingkan senyum lebarnya. "Hai, Nad. Belum selesai, ya?" tanyanya, lebih tepatnya mengejek.

"Diem." Nadya menyahut tanpa mengalihkan tatapan dari komputer. Tangannya masih menari di atas kibor, tetap fokus tanpa terganggu meski ada sesosok makhluk halus di sebelahnya.

​Nadya bukan opsi yang bagus untuk diajak bicara, jadi Dion memilih untuk keluar ruangan. Meregangkan tubuhnya yang kaku, diam-diam memperhatikan Gea dari seberang. Tidak terlihat apa yang terjadi di dalam, tapi terdengar suara sahut-sahutan yang tidak jelas, di dominasi oleh suara si Lady bird pastinya.

Sementara yang terjadi di ruangan administrasi...

Suasana lumayan membara usai Lady menghempaskan tumpukan dokumen ke atas mejanya sehingga menimbulkan suara yang keras. Cukup membuat yang lain menoleh ke arahnya dengan dahi mengkerut.

Apa-apaan orang ini?

"Apa liat-liat," sentaknya. Wajahnya ditekuk dalam-dalam, membuat lipatan tebal di dahi dan bibir merahnya bergerak-gerak kesal.

"Kenapa, Kak?" Marina bertanya, menghentikan jarinya di atas kibor.

​"Ini nah, si Naya. Kenapa, sih, mendadak sakit di hari pas laporan lagi numpuk begini?!" gerutu Lady nyaring. "Pusing kepalaku. Kalau enggak ada Naya, siapa yang mau rekap data buat diinput? Masa aku yang harus kerjain sendirian?!"

​Gea yang baru saja melintas di depan meja administrasi dengan mug di tangan menoleh sesaat. Tanpa menghentikan langkahnya, wanita itu melempar ucapan lempeng dengan nada datar. "Kebiasaan nyuruh orang, sih. Makanya pas orangnya enggak ada, langsung gagap bingung sendiri."

​Mendengarnya Lady spontan melotot tajam, dadanya kembang-kempis menahan dongkol. "Kamu ngomong apa tadi, Gea?!"

​"Gak bisa di ulang, eksklusif. Misi, mau lewat," sahut Gea dengan senyum paksa, kembali menarik langkah santai tanpa beban dan duduk di kursinya. Puas melihat wajah marah seniornya.

​Di kubikel sebelah, Raka yang sejak pagi kepalanya mau pecah menyiapkan dokumen untuk meeting proyek, memijat pangkal hidungnya kasar. Suara nada tinggi dari seniornya yang tak berhenti mengeluh sejak pagi benar-benar merusak konsentrasinya.

​Raka akhirnya bersandar ke kursinya menoleh tipis ke arah meja Kak Lady. "Huh, keren ya Naya...." katanya menggantung, sengaja.

"Kenapa, tuh?" Bian menoleh, bertanya dengan serius.

"Ya, keren aja. Masih mau kerja di tempat yang banyak villain-nya begini."

​Sontak Bian yang sedang menyesap minumannya langsung tersedak. Pria itu menyemburkan tawa lebarnya hingga bahunya terguncang, tak sanggup menahan kekehan mendengar celetukan Raka yang begitu blak-blakan.

"Poor Naya."

Ini momen langka, Raka jarang menimbrung. Sekalinya nimbrung langsung membuat Lady terdiam, entah karena kesal atau karena malu.

Marina yang sejak tadi fokus dengan komputer ikut membela. "Raka! Kamu jangan ikut-ikutan ya?!" semprotnya.

Sementara Lady diam, ia makin emosi, wajahnya merah padam.

​"Jujur aja, suara Kak Lady dari tadi ngalahin sirine ambulans" balas Raka cuek, menekan kata kak, kembali pada komputer dan mengurus kerjaannya.

​Perlahan tawa Bian mereda, tanpa sadar mengalihkan pandangan ke meja Naya yang kosong. Bian mengecek ponselnya, tidak ada balasan untuk pesan yang ia kirimkan sejak pagi, juga teleponnya semalam yang tidak diangkat.

Sementara itu, Naya dan Ibra juga masih belum menemukan jalan keluar dari masalah mereka. ​ Keduanya baru saja beranjak dari meja kafe, berdiam cukup lama membuat suasana semakin tidak nyaman. Keduanya sama-sama bungkam setelah percakapan mereka berakhir tanpa menemukan jawaban.

Ibra sengaja tak lagi berucap apapun, memberi jeda pada keadaan tadi yang cukup menguras emosi. Terlebih, Naya juga tampak sangat enggan untuk berinteraksi lagi dengannya.

Jadinya, Ibra mengecek ponsel. Sudah lewat jam makan siang, dan ia belum makan sejak semalam.

"Naya, ayo kita makan dulu," ajak Ibra pada akhirnya.

Menghembuskan napas, Naya mengangguk saja mengikuti. Entah ke mana Ibra akan membawanya lagi, di dalam mobil pun mereka kompak membisu.

***

"Kamu mau makan apa?" Ibra memberikan daftar menu.

Naya menyambutnya lemah. Dari seberang meja Ibra melihat Naya sebagai sosok yang sangat rapuh. Bibirnya pucat, matanya juga membengkak efek menangis sebelumnya.

Dada Ibra sesak dibuatnya. Kabar kehamilan itu tentu membuat Naya terguncang, sama seperti dirinya.

"Saya..." Naya mengulum bibirnya, pasalnya semua tulisan di menu membuatnya tak fokus, ia juga bingung mau makan apa. "Saya enggak tahu."

Ibra mengambil kembali daftar menu dari tangannya. "Kalau begitu saya pilihkan?"

Naya hanya mengangguk.

Ibra menelusuri daftar menu sebentar. Matanya berhenti pada salah satu menu sejuta umat. "Lalapan ayam gimana?"

Naya mengangguk kecil. "Iya."

Ibra memanggil pelayan dan memesan lalapan ayam untuk Naya, juga dirinya, beserta dua gelas es teh.

Tidak lama kemudian, pesanan datang. Dua piring lalapan ayam diletakkan di hadapan Naya. Ayam goreng, sambal, irisan timun, kol, dan lalapan lainnya memenuhi piring. Aromanya langsung naik begitu makanan diletakkan di meja. Dua piring nasi juga menyusul diletakkan disana. Begitu juga es teh.

Baru beberapa detik menatapnya, wajah Naya berubah. Tangannya refleks menutup mulut. Ibra yang sedang mengambil sendok langsung berhenti melirik Naya yang memejamkan matanya kuat-kuat.

"Hey, kenapa?" tanyanya melihat gelagat aneh Naya.

Naya berdiri terburu-buru, kursinya sampai bergeser ke belakang. "Saya... mual."

Ibra ikut bangkit, mengekor Naya yang terburu-buru berlari menuju toilet. Begitu sampai di toilet, Naya berpegangan pada wastafel dan menundukkan kepala. Namun tak ada yang keluar selain suara mual yang tertahan. Sungguh, rasanya seperti akan memuntahkan isi perutnya, seperti saat mengalami asam lambung.

Dan tanpa disadarinya, tepat di samping Naya sudah berdiri Ibra. Saat menatap pantulan mereka di cermin, baru ia menyadari tangan Ibra tengah mengusap punggungnya. Naya tersentak menyadarinya.

"Ada apa?" Ibra bertanya, raut wajahnya terlampau panik.

Naya menggeleng, masih menunggu muntahannya yang terasa akan keluar. Namun, lagi-lagi tak ada yang keluar. Hanya rasa mual yang terus naik setiap kali ia menarik napas dan mencium aroma bumbu dari ayam goreng itu. Padahal sudah jauh, tapi aromanya seperti menyangkut di hidung.

Naya pun membasuh wajahnya dengan air, mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan dan menghembuskan napas panjang. Sesekali mual lagi tapi ditahannya.

"Cuma mual," kata Naya memberitahu.

Ibra mengangguk, meski wajahnya masih terlihat cemas, lalu menarik tangannya dari punggung Naya. "Maaf," ujarnya, baru sadar akan refleksnya, menyentuh Naya tanpa izin, tentu itu tidak baik.

"Kita keluar?" lanjutnya, Naya mengangguk.

Begitu kembali ke meja, Ibra langsung memanggil pelayan.

"Permisi Mas, yang ini tolong dibawa dulu, ya. Nanti tetap saya bayar."

Pelayan mengangguk dan mengangkat piring lalapan ayam dari meja.

Ibra menatap Naya. "Apa yang bisa kamu makan? Yang enggak bikin mual?"

Naya terdiam sebentar, lalu menunjuk salah satu bagian menu yang masih terbuka di meja dengan keraguan.

"S-sop tulang iga."

Ibra mengikuti arah jarinya. "Sop tulang iga?"

Naya mengangguk. "I-iya, apa boleh?"

Kedua sudut bibir Ibra berkedut, menahan senyum. "Boleh, enggak ada yang melarang."

Ibra sempat memperhatikan wajah Naya beberapa detik. Tadi dia bahkan hampir tidak sanggup melihat makanan di meja, tapi sekarang justru meminta sop.

Mungkin dari tadi sebenarnya Naya ingin makanan itu.

Mungkin dia cuma malu mengatakannya.

Ibra menggeleng, mengakhiri pikirannya dan memanggil pelayan lagi. "Mas, sop tulang iga dua, ya."

"Oke, Mas."

Setelah pelayan pergi, Ibra kembali duduk di kursinya.

Naya menunduk, kedua tangannya kembali meremas ujung hoodie. Pikirannya kembali pada percakapan mereka di kafe tadi. Saat Ibra membentaknya, ada beberapa hal yang memang tidak bisa ia bantah. Lalu tentang pernikahan dan bayi yang tengah ia kandung sekarang.

Perlahan tangan Naya menyentuh perut bawahnya yang masih rata. Kira-kira, apa yang akan terjadi beberapa bulan setelah ini? Perutnya akan semakin membesar, dan cepat atau lambat orang-orang akan sadar, terlebih orang tuanya. Dan tentang tanggung jawab, Naya mulai merasa ucapan Ibra tentang pernikahan ada benarnya.

Tapi entah kenapa, dirinya menolak begitu keras tadi. Kemungkinan karena ketidaksiapannya, juga karena sulit membayangkan harus hidup bersama orang yang bahkan belum benar-benar ia kenal. Maksudnya, kenapa mereka harus?

Sementara Ibra diam-diam memperhatikannya.

Sembari menunggu, ponsel Ibra yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Dion pun muncul di layar. Ibra menghela nafas, menimbang-nimbang apakah perlu dia angkat apa tidak. Beralih menatap Naya yang diam, Ibra akhirnya mengangkat panggilannya.

"Ya, halo. Enggak, gue lagi di luar. Mendadak ada urusan pribadi." Ibra melirik jam tangannya. "Iya, gue balik nanti. Bilang aja enggak usah tungguin takut lama....Oke."

Panggilan berakhir.

Ibra meletakkan ponselnya kembali ke meja. "Nanti setelah ini kita pulang," katanya pada Naya yang diangguki perempuan itu. "Kamu di kantor ambil libur atau apa?"

Dengan nada seperti itu, pertanyaan Ibra membuat Naya terkesiap. "Eh, ak-saya libur."

1
Agus Tina
Sebenarnya bukan hamya salah Ibra, mereka berdua korban dr keadaan, walaupin sebenarnya bisa dicegah
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!