NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:140
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan

Jam menunjukkan pukul empat dini hari.

Aku terbangun setelah tidur yang terasa begitu singkat. Namun entah mengapa, pikiranku justru semakin ramai. Sudah beberapa kali aku melakukan shalat istikharah untuk perkara yang sama. Memohon agar Allah menunjukkan jalan terbaik, menenangkan hati, dan menjauhkan pilihan yang tidak baik untukku.

Malam ini, aku kembali mengambil wudhu.

Aku menggelar sajadah, lalu berdiri menghadap kiblat.

Entah untuk keberapa kalinya aku meminta petunjuk tentang satu nama.

Aisyah.

Namun kali ini bukan Aisyah yang selama ini kukenal.

Melainkan Aisyah yang baru saja hadir dalam hidupku.

Jujur, aku sendiri belum tahu apakah perasaan ini benar-benar milik Aisyah yang baru kutemui. Kami bahkan baru beberapa kali bertemu. Belum cukup waktu untuk mengatakan bahwa aku telah mencintainya.

Tapi ada satu hal yang membuatku ingin mencoba.

Ustadz Syaiful.

Aku tidak ingin mengecewakan beliau. Selama ini aku sudah menganggapnya seperti bapakku sendiri. Beliau begitu percaya kepadaku dan telah banyak memberikan nasihat dalam hidupku.

Begitu pula dengan Ummu Aisyah.

Aku tahu, ada harapan besar yang beliau letakkan kepadaku. Dan aku tidak ingin membalas harapan itu dengan kekecewaan.

Mungkin aku belum mencintai Aisyah.

Setidaknya belum sekarang.

Tapi aku akan mencoba.

Aku akan mencoba mengenalnya. Mencoba memahami dirinya. Mencoba membuka hati dan belajar mencintainya, jika memang pada akhirnya Allah menakdirkan kami bersama.

Selesai shalat, aku duduk cukup lama di atas sajadah.

Kepalaku tertunduk.

“Ya Allah... jika dia memang baik untuk agamaku, hidupku, dan akhiratku, mudahkanlah. Tapi jika bukan, maka palingkanlah hatiku darinya.”

Aku menghela napas panjang.

Aku ingin memilih Aisyah yang baru kutemui.

Namun ada satu hal yang terus mengganjal pikiranku.

Bagaimana dengan Aisyah yang dulu?

Bagaimana aku harus menyampaikan kepadanya bahwa setelah sekian lama, ternyata pilihanku berubah?

Aku tidak ingin menyakitinya.

Aku juga tidak ingin memberikan harapan yang sebenarnya sudah tidak bisa kupenuhi.

Bagaimanapun, dia pernah menjadi seseorang yang begitu berarti dalam hidupku. Ada perasaan, harapan, dan mungkin juga doa yang pernah kami titipkan pada masa lalu.

Tetapi aku tahu, semakin lama aku menunda, semakin besar kemungkinan aku justru melukainya.

Aku menatap kedua tanganku yang masih menengadah.

“Ya Allah, kalau memang ini keputusan yang benar, berikan aku keberanian untuk menyampaikannya dengan cara yang paling baik. Jangan biarkan aku memilih seseorang dengan cara menyakiti orang lain.”

Mataku mulai terasa panas.

Aku terdiam cukup lama.

Mungkin istikharah bukan selalu tentang mendapatkan jawaban yang langsung membuat semuanya mudah.

Mungkin terkadang, jawaban itu datang dalam bentuk ketenangan untuk mengambil sebuah keputusan.

Atau keberanian untuk melepaskan sesuatu yang pernah kita yakini sebagai pilihan.

Dan pagi itu, sebelum azan Subuh berkumandang, aku mulai menyadari satu hal.

Aku mungkin belum sepenuhnya yakin dengan perasaanku kepada Aisyah yang baru kutemui.

Tetapi aku ingin mencoba.

Aku ingin memberi kesempatan kepada hati ini untuk mengenalnya.

Dan jika memang dia adalah pilihan yang Allah kehendaki untukku, aku tidak ingin terus berdiri di antara masa lalu dan masa depan.

Namun satu perkara masih harus kuselesaikan.

Aisyah yang dulu.

Aku harus memberitahunya.

Dan entah mengapa, membayangkan percakapan itu saja sudah membuat dadaku terasa sesak.

Mungkin memilih bukanlah bagian tersulit.

Yang paling sulit adalah menyampaikan pilihan itu kepada seseorang yang mungkin akan terluka karenanya.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Ummu mengajakku sarapan di luar. Tentunya bersama Aisyah.

Pagi ini Aisyah hendak kembali ke pondok milik Umi', neneknya. Sebelum berangkat, Ummu mengajaknya sarapan bersama kami.

Kami memilih sebuah rumah makan sederhana yang suasananya cukup asri. Tempatnya tidak terlalu mewah, tetapi terasa nyaman. Dari tempat kami duduk, terbentang pemandangan sawah yang hijau dan menyejukkan mata. Angin pagi sesekali berembus, membuat suasana terasa semakin tenang.

Menu yang tersedia cukup beragam. Ada pecel, gado-gado, salad, sop, dan beberapa pilihan ayam.

Aku memesan salad.

Ummu memilih pecel.

Sedangkan Aisyah memesan sup matahari.

Kami duduk sambil menunggu makanan disajikan. Obrolan ringan mengalir begitu saja, sampai tiba-tiba Aisyah membuka sebuah kenangan lama.

“Kak Alam, ingat waktu kecil aku pernah kabur dari rumah Jiddah?” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi.

Kabur dari rumah?

Aku mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak ada satu pun kejadian yang langsung muncul dalam ingatanku.

“Emm... kapan?” tanyaku.

Aisyah menatapku dengan wajah sedikit kecewa.

“Kakak nggak ingat?”

Aku menggeleng pelan.

“Padahal waktu itu aku senang banget, lho. Karena berhasil kabur,” katanya sambil tertawa kecil.

Aku kembali mencoba mengingat.

Aisyah mulai bercerita.

“Waktu itu Kakak ada di belakang pondok, sedang hafalan. Aku datang bawa sandal, tapi sandalnya nggak aku pakai karena takut ketahuan. Jadi aku jalan tanpa alas kaki.”

Aku mulai menyimak.

“Jiddah waktu itu manggil-manggil aku. Tapi Kakak nggak bilang ke Jiddah kalau aku ada di sana.”

Aku terdiam.

Perlahan, sebuah potongan kenangan muncul dalam ingatanku.

Ah...

Aku baru ingat.

Kejadian itu memang pernah terjadi.

Mungkin karena sudah terlalu lama, aku tidak lagi menyimpan detailnya dengan baik. Bagiku, kejadian itu hanyalah salah satu dari sekian banyak hal kecil yang terjadi ketika kami masih anak-anak.

Namun ternyata tidak bagi Aisyah.

Dia masih mengingatnya dengan begitu jelas.

Bahkan mungkin menyimpannya sebagai salah satu kenangan yang berharga.

“Pasti Aisyah waktu itu sudah jatuh cinta sama Alam,” celetuk Ummu tiba-tiba.

Wajah Aisyah seketika memerah.

“Ndak lah, Umi'. Aku kan masih kecil,” jawabnya cepat, berusaha menyangkal.

Ummu hanya tersenyum melihat putrinya.

Aku sendiri hanya diam.

Entah mengapa, ucapan Ummu tadi membuatku kembali teringat pada istikharah yang kulakukan beberapa jam lalu.

Aku menatap Aisyah yang kini sibuk memainkan ujung jilbabnya karena malu.

Ternyata ada begitu banyak cerita tentang kami yang tidak kuketahui.

Ada kenangan yang mungkin baginya begitu berarti, sementara bagiku hanya sebuah kejadian kecil yang hampir terlupakan.

Aku tidak tahu apakah itu berarti sesuatu.

Mungkin memang tidak.

Mungkin hanya sebuah kenangan masa kecil.

Namun pagi itu, untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa bisa jadi selama ini Aisyah menyimpan cerita tentangku jauh lebih banyak daripada yang pernah kusadari.

Dan aku...

bahkan baru mulai mencoba mengenalinya kembali.

1
ARDICK
semangat KA 👍 sukses selalu saling favorit 👍
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!