Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 24 — INSIDEN KEMEJA DAN BEKAS GINCU
^^^SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA^^^
^^^BAB 24 — INSIDEN KEMEJA DAN BEKAS GINCU^^^
Keesokan harinya, hari Jumat — genap minggu ketujuh sejak pernikahan tertutup di KUA itu dilaksanakan.
Sejak status "Eksekusi Mutlak" dan amandemen darurat malam Jumat lalu berlaku, atmosfer di penthouse Kuningan benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Sinta yang tadinya mati-matian berakting jadi "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut" mulai terang-terangan melatih sifat aslinya di depan Dean. Sementara Dean? Pria kaku itu tetap berwajah lempeng, namun tingkat kepemilikannya terhadap Sinta meroket ke level yang sangat tidak rasional.
Pukul 06.45 WIB. Sinta sedang merapikan dasi hitam Dean di depan cermin besar kamar utama. Dean berdiri tegap seperti patung, menatap wajah istrinya dari jarak beberapa senti dengan pandangan dalam yang lurus.
"Retensi posisi dasi bergeser dua milimeter ke kanan," gumam Dean datar, namun tangannya justru melingkar santai di pinggang mungil Sinta, menahan gadis itu agar tidak menjauh.
"Iya, Pak Robot! Ini lagi dirapikan, jangan bergerak terus dong!" protes Sinta sambil menepuk pelan dada bidang suaminya.
Sinta lalu berjinjit sedikit, bermaksud membisikkan sesuatu di dekat telinga Dean. Namun karena pergerakan mendadak itu, bibirnya yang sudah teroles pemerah bibir (lip tint) berwarna merah ceri secara tidak sengaja menabrak kerah kemeja putih licin milik Dean tepat di sisi kanan dekat leher.
Mwah.
Sebuah jiplakan bentuk bibir berwarna merah ceri yang sangat jelas dan kontras kini tercetak sempurna di atas kain putih kemeja mahal tersebut.
Sinta mendadak membeku. Matanya membelalak lebar melihat noda gincu di kerah kemeja suaminya. "A-astaga... Mas Dean! Maaf! Bibir aku nempel di kerah baju Mas!"
Dean menunduk sekilas, melirik noda merah ceri di kerah kemejanya melalui pantulan cermin. Bukannya kesal atau minta ganti kemeja, wajah pria itu tetap lempeng tanpa dosa.
[POV Dean]
Pengamatan visual mengonfirmasi adanya residu zat pewarna bibir jenis lip tint berwarna merah ceri di area kerah kemeja bagian kanan. Luas paparan noda kurang lebih dua sentimeter persegi. Berdasarkan standar busana eksekutif dan protokol penampilan CEO Wijaya Group, noda ini dikategorikan sebagai penampilan tingkat sedang.
Secara teoritis, saya harus mengganti kemeja ini dalam waktu tiga menit agar tidak mengganggu kredibilitas profesional saya di rapat direksi pukul sembilan nanti. Namun, dari sudut pandang psikologis dan kepemilikan emosional, noda ini merupakan penanda visual yang sangat efisien. Keberadaan cap bibir Sinta di kerah saya berfungsi sebagai peringatan eksplisit bagi pihak luar—terutama sekretaris Anita dan jajaran staf—bahwa hak guna dan status kepemilikan atas diri saya telah teregistrasi secara sah. Tingkat efisiensi penandaan ini dinilai seratus persen.
"Tidak perlu diganti," kata Dean tenang. Suaranya berat dan dalam.
"Hah?! Tidak diganti gimana?" Sinta melotot, menunjuk noda merah itu dengan cemas. "Itu kelihatan banget, Mas! Kemeja Mas putih bersih! Kalau orang kantor lihat, gimana? Nanti Mas dikira aneh-aneh!"
"Noda ini dihasilkan oleh zat pewarna bibir milik istri sah saya," balas Dean lempeng, merapikan kerah jas hitamnya sedikit tanpa menutupi noda tersebut sepenuhnya. "Kalkulasi reputasi dinilai aman. Informasi keberadaan pemilik resmi justru perlu dipublikasikan secara implisit demi menekan potensi gangguan interferensi dari pihak ketiga."
Sinta menepuk jidatnya sendiri. Ya Tuhan! Ini orang beneran mau ke kantor dengan cap bibir di kerahnya?! Bener-bener gak ada obat anehnya!
"Terserah Mas Dean deh!" cetus Sinta pasrah dengan gaya cerewetnya. "Nanti kalau Sekretaris Anita atau pegawai lain nanya, jangan salahkan aku ya!"
Dean hanya menatap Sinta lurus, lalu menunduk sekilas untuk mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya. "Saya berangkat kerja. Rian sudah menunggu di bawah untuk mengantarmu ke Rumah Sakit Santika."
DI KANTOR WIJAYA GROUP — PUKUL 08.45 WIB
Suasana di lantai teratas Gedung Wijaya Group mendadak gempar dalam keheningan.
Sekretaris Anita sedang berdiri di depan meja kerjanya sambil memegang dokumen laporan keuangan saat pintu lift khusus direksi terbuka. Dean Galang Wijaya keluar dari sana dengan langkah tegap, berwibawa, dan dingin seperti biasa. Aura CEO bernilai triliunan rupiah menguar kuat.
Namun, saat Dean melangkah melewati meja sekretarisnya, mata Anita mendadak membelalak sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di atas kerah kemeja putih licin sang bos—tepat di sisi kanan lehernya—tercetak cap bibir merah ceri yang sangat jelas dan segar!
"P-Pak Dean..." panggil Anita refleks dengan suara gemetar, tak sanggup menahan rasa terkejutnya. "M-maaf Pak... di... di kerah kemeja Anda..."
Dean menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang kerja megahnya. Dia menoleh sedikit, menatap Anita dengan mata hitamnya yang dingin dan datar seperti biasa.
"Ada masalah dengan kerah saya, Sekretaris Anita?" tanya Dean dengan nada sekaku mesin pemotong kertas.
"I-itu... ada bekas gincu merah di kerah Bapak," bisik Anita dengan wajah pucat dan hati yang mendadak hancur berkeping-keping. Skenario yang selama tujuh minggu ini dia bangun di kepalanya—bahwa pernikahan Dean hanyalah pajangan bisnis yang dingin tanpa cinta—runtuh seketika dalam satu detik. Pria sekaku Dean Galang Wijaya tidak mungkin biarkan ada bekas bibir wanita di bajunya kecuali... dia sangat mencintai pemilik bibir itu!
Dean merapikan ujung jasnya dengan gerakan santai, menatap Anita lurus tanpa ekspresi.
"Ini adalah stempel validasi dari Nyonya Wijaya," jawab Dean lempeng tanpa rasa malu sedikit pun.
"Tolong jangan diganggu dengan proses dry cleaning internal. Sekarang, siapkan berkas rapat direksi."
Tanpa menunggu balasan dari Anita yang masih membatu di tempatnya, Dean melangkah masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu dengan bunyi klik yang mantap.
Di dalam ruang kerjanya yang luas, CEO kaku itu berjalan menuju kaca jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Dia melirik pantulan kerah kemejanya di kaca, lalu sudut bibirnya terangkat sangat tipis—sebuah senyuman tipis penuh kepuasan maskulin yang menandai bahwa dominasi istrinya kini telah resmi diakui di seluruh penjuru Wijaya Group.