NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sore bersama dengannya

Yuna masih berdiri kikuk disamping lukisan dengan lebar satu depa dirinya.

Kedua matanya menatap layar ponsel Angga yang masih terangkat di hadapan cowok itu. Lalu ke arah lukisan bunga sedap malam yang masih terpajang diam dibelakang. Seolah-olah berharap akan muncul sebuah saran, "bergayalah seperti ini."

Harus berpose seperti apa?

Pikirannya berputar mencari kemungkinan yang paling masuk akal.

Hingga tiba-tiba—

Ah...

Sebuah ingatan kecil muncul begitu saja. Ketika dirinya hendak berangkat ke sini, dirinya sempat berkirim pesan dengan Melody.

Dalam foto profil itu, dia tampil berpose dengan tubuh sedikit menyamping. Kedua tangan dirapatkan di belakang punggung. Kemudian menoleh ke arah kamera dari balik bahu.

Sepertinya... Pose itu cocok untukku?

Dengan gerakan yang agak kaku, perlahan Yuna pun mengikuti ingatan tersebut.

Tubuhnya sedikit diputar menyamping. Kedua tangannya dirapatkan di belakang tubuh. Jemarinya saling menggenggam. Bahunya sedikit terangkat karena ia masih belum terbiasa dengan pose tersebut.

Kemudian ia menoleh di sebalik bahu. Rambut pendeknya jatuh mengikuti sisi wajah. Kepalanya sedikit dimiringkan. Dan untuk pertama kalinya, ia mencoba tersenyum ke arah kamera.

Angga yang semula hendak memberikan instruksi justru terdiam. Matanya sedikit melebar.

Loh...?

Bibirnya tanpa sadar merekah. Ibu jarinya langsung menekan layar.

Cekrek!

"Bagus banget, Yun!"

Yuna mempertahankan posenya. Alisnya sedikit terangkat. Meski mempertahankan pose sama saja dengan membiarkan pundaknya terasa kaku.

Tak kusangka berpose bisa setegang ini...

Angga kembali mengangkat ponselnya. Bahkan kini mondar-mandir seolah sedang mencari sudut pengambilan gambar yang cocok.

"Coba tahan sebentar."

Cekrek!

Ia mengambil satu foto lagi. Kemudian matanya menyipit sedikit.

"Senyum, Yun! Jangan cemberut."

Yuna berkedip.

Senyum?

Ia mengingat bagaimana dirinya pernah tersenyum ketika berhasil memecahkan persoalan rumit matematika.

Senyum puas.

Yang menurutnya itu pas untuk ditampilkan di depan kamera.

Melihat itu—

"Eee... coba alisnya diangkat sedikit, Yun."

"Heh? Diangkat?"

"Nah oke!"

Cekrek!

Kali ini, dalam pandangan Angga, senyum kecil Yuna yang sebelumnya nampak seperti senyum formal, kini terlihat jauh lebih tulus.

Angga yang hendak kembali menekan layar, entah mengapa jemarinya terhenti. Pipinya ikut terasa hangat.

Bahaya juga kalo dia senyum kek gini...

Melihat Angga yang tiba-tiba terdiam, Yuna yang masih mematung dalam posenya mulai merasa tidak nyaman.

"K-kenapa?"

Angga tersentak kecil.

"Apa aku harus ganti pose?"

"Eh?"

Angga buru-buru menggeleng.

"E-enggak."

Ia kembali memosisikan ponselnya. Tatapannya berusaha fokus pada layar.

"Nah. Sudah!"

Cekrek.

Ia pun akhirnya menurunkan ponselnya.

Yuna pun langsung kembali ke posisi berdiri normal. Bahunya mengendur. Seolah baru saja terlepas dari pembekuan.

Sementara di depannya, Angga kembali menatap hasil jepretannya itu. Untuk memperhatikan lebih lama pose Yuna yang berdiri di depan lukisan bunga sedap malam.

Pakaian sederhananya berpadu dengan suasana galeri yang tenang. Tubuhnya sedikit menyamping, kedua tangannya masih saling menggenggam di belakang pinggang.

Dan senyum kecil itu—

Entah mengapa membuatnya terlihat berbeda.

Ia melihat Yuna yang kini kembali memperhatikan lukisan bunga sedap malam dengan ekspresi datarnya lagi. Lalu kembali turun ke hasil jepretan kamera ponselnya.

Angga tersenyum hangat.

Kalo dia senyum kek gini...

Ternyata cocok juga.

Disaat dirinya masih sibuk memperhatikan hasil fotonya—

Tap!

Tap!

Tap!

Terdengar suara langkah kaki yang berlari kecil menuju kearahnya.

"Sekarang giliran kamu."

Yuna sudah berdiri dihadapannya.

Angga langsung tersentak kecil.

"Eh?"

"Oh iya?"

Ia pun mengantongi kembali ponselnya pada saku belakang celananya. Lalu berjalan menuju ke ruangan lain. Tempat seni-seni modern dipajangkan sebelumnya.

Dibelakangnya, Yuna berjalan mengikuti sembari pandangannya masih nampak asyik memperhatikan lukisan yang sebelumnya sempat mereka lewati. Meski kali ini, tanpa tambahan komentar beruntun seperti saat pertama kali masuk ke ruangan ini.

Di sela langkahnya, Angga tanpa sengaja melirik ke sebelahnya. Lalu tersenyum hangat melihat Yuna yang nampak begitu antusias.

....

Beberapa langkah melewati koridor, mereka pun sampai pada ruangan yang mereka tuju. Kemudian Angga langsung mendekati ke salah satu karya yang dipamerkan pada sisi barat ruangan.

Karya pilihannya adalah sebuah seni modern berupa lempengan logam yang digantung menggunakan beberapa kawat tipis. Dari satu sudut, benda itu hanya tampak seperti lembaran logam tanpa bentuk yang jelas.

Namun jika berdiri pada posisi tertentu, bayangan yang tercipta justru membentuk siluet yang berbeda. Sebuah karya yang sebelumnya sempat membuat Yuna kewalahan menganalisis keanehannya.

"Ini... bukannya kamu yang sebelumnya bingung sendiri? Karena karya ini tidak kelihatan seperti karya seni?" tanya Yuna.

Jempolnya yang sudah berada di atas tombol kamera mendadak menggantung.

Angga hanya tersenyum hangat.

"Gapapa. Toh sekarang aku udah tahu cara menikmati seni ini."

Yuna menyipitkan mata. Padahal, yang berhasil menangkap makna dari karya itu sebelumnya justru Yuna sendiri.

"Ayo cepet, Yun!" seru Angga. "Poseku udah cocok belum?"

Angga berdiri di depan lempengan logam itu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pose yang sebelumnya sempat mereka tertawakan karena terlihat seperti seorang satpam galeri.

Namun entah mengapa, kali ini Yuna justru merasa pose itu cocok untuknya.

"Diamlah selama beberapa detik."

Yuna mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.

"Aku akan mencoba cari sudut pandang yang bagus."

Angga mempertahankan senyum lebarnya hingga beberapa detik.

"Yun? Udah belum? Gigiku kering, nih," tegurnya tanpa sekalipun menutup mulut ketika berbicara.

"Sebentar..."

Yuna sedikit membungkuk. Matanya berpindah dari layar ke karya seni, kemudian kembali ke posisi Angga.

Seolah bukan hanya sekadar memastikan karya di belakangnya terlihat jelas, tetapi juga bagaimana cahaya jatuh pas pada tubuh Angga. Seperti seorang fotografer profesional.

Beberapa saat kemudian, ia berhasil menemukan posisi yang pas. Dengan tetap menonjolkan karya logam itu sebagai bagian utama komposisi. Tetapi Angga pula juga mendapatkan sorot cahaya yang membuatnya tampak seperti bagian dari karya tersebut.

Jempol Yuna hampir menekan tombol kamera.

Namun tiba-tiba pandangannya kembali tertuju pada layar—pada foto yang sebelumnya Angga ambil sebelumnya.

Sosok dirinya yang berdiri di depan lukisan bunga sedap malam. Entah mengapa, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Apa aku boleh... membiarkan dia menyimpan fotoku?" gumamnya pelan.

"Ayo, Yun! Udah belum?"

Suara Angga sontak membuyarkan lamunannya.

Yuna mengerjap.

"Oke."

Ia kembali mengarahkan kamera.

"Cocok."

"Tahan!"

Angga mempertahankan posenya. Bahkan senyumnya terlihat lebih lebar ketimbang beberapa detik sebelumnya.

Cekrek!

"Sudah."

Yuna menurunkan ponselnya. Kemudian tersenyum ke arah Angga.

Senyum yang terasa jauh lebih tulus daripada senyum formal yang sebelumnya ia pasang ketika difoto.

Angga pun langsung berlari kecil menghampirinya.

"Mana? Coba lihat."

Yuna menyerahkan ponselnya.

Sekaligus...

Foto dirinya sendiri yang entah mengapa, untuk pertama kalinya, ia izinkan seseorang untuk menyimpannya.

"Wihh! Bagus..." ucap Angga dengan sumringah.

Seolah baru menemukan signature pose yang kelak akan ia pakai berikutnya. Bahkan suaranya terdengar bergaung, memantul diantara lukisan dan patung-patung yang berdiri diam.

"Huh?"

Yuna yang menyadari perubahan itu, langsung menoleh ke belakang.

Lorong yang tadi dipenuhi suara percakapan kini mulai kosong. Beberapa pengunjung yang sebelumnya sibuk mengamati karya bahkan sudah tidak terlihat. Bahkan beberapa ruangan di sisi kanan dan kiri mulai tampak lebih lengang.

"Sudah... sepi..."

Angga yang masih memperhatikan layar ponselnya ikut mendongak.

"Apa?"

Ia memperhatikan sekitar. Galeri yang beberapa jam lalu terasa cukup ramai kini seperti kehilangan sebagian besar penghuninya.

Angga cepat-cepat melihat icon jam pada sudut atas layar ponsel.

Setelahnya, kedua alisnya langsung terangkat.

"Lah iya bener!"

Yuna ikut mengintip disebelahnya.

Angga pun sedikit menyodorkan ponselnya lebih dekat.

18.15.

Yuna terdiam.

Angga juga.

Mereka saling menatap.

Kemudian keduanya sama-sama meringis.

"Nggak kerasa ya?"

Yuna hanya mengangguk tak percaya.

"Mungkin untuk data-datanya, kita bisa simpulkan dirumah masing-masing, Ga?"

"Eee... boleh tuh. Berarti tinggal pulang nih?"

Yuna mengangguk setuju.

Mereka pun mempercepat langkah menuju pintu keluar.

Di balik kaca besar pintu tersebut, langit sore mulai berubah warna. Cahaya matahari yang sebelumnya terang kini telah merendah di ufuk barat.

....

Mereka akhirnya keluar dari pintu utama galeri. Udara sore langsung menyambut keduanya.

Lorong yang tadi dipenuhi pengunjung kini hanya menyisakan beberapa orang yang berjalan menuju pintu keluar. Cahaya matahari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang memantul pada kaca-kaca gedung.

Angga melangkah di samping Yuna.

Namun baru beberapa langkah, langkahnya tiba-tiba melambat. Entah sejak kapan, pikirannya kembali memutar ulang kejadian beberapa jam terakhir.

Yuna yang sibuk mengomentari lukisan.

Yuna yang begitu serius memperhatikan patung.

Yuna yang kebingungan ketika diminta berpose.

Dan...

Yuna yang tersenyum.

Angga tanpa sadar melirik ke samping. Kearah gadis yang kini berjalan lebih santai sambil memegang tali tasnya.

Tatapan tajam itu sepenuhnya menghilang. Alisnya kini sudah tak lagi berkerut.

Bahkan, komentar ilmiah yang biasanya membuat orang di sekitarnya menggaruk kepala, kini yang terpancar hanyalah ekspresi tenang. Dan senyum kecil yang sesekali masih tersisa di wajahnya.

Angga pun mulai menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira Yuna adalah gadis yang kaku.

Judes.

Sulit didekati.

Bahkan mungkin terlalu serius untuk ukuran anak SMA.

Tapi ternyata? Ia hanya belum pernah melihat sisi yang lain.

Tanpa sadar ia memperhatikan wajah itu sedikit lebih lama. Langkahnya yang semula sejajar dengan Yuna pun perlahan tersendat. Bahkan pipinya pun ikut menghangat.

"Kenapa?"

Suara Yuna membuat Angga tersentak. Cepat-cepat ia langsung menoleh kearah lain.

Di depannya, Yuna berhenti sembari menatapnya heran.

"Kok berhenti?"

Angga menggaruk tengkuk.

"Eee..."

Ia melirik ke arah gedung galeri. Kemudian tersenyum kecil.

"Nggak nyangka ya?"

Yuna memiringkan kepala.

"Kita sampai lupa waktu cuma buat observasi doang."

Yuna pun tersenyum hangat.

Lalu kembali berjalan menuju motor Angga yang terparkir tidak jauh dari sana. Seolah kalimat yang Angga ucapkan hanyalah sesuatu yang bukan masalah.

Namun bagi Angga, dirinya justru masih terpaku ditempatnya. Sembari tatapannya terus mengikuti punggung gadis itu—kali ini sedikit lebih lama.

Bukan karena ada sesuatu yang aneh dirinya.

Justru karena sekarang ia tahu...

Wajah datar itu bukan satu-satunya wajah yang dimiliki gadis itu. Dan entah kenapa, ia ingin melihat senyum tadi sekali lagi.

Jadi itu ya?

Tatapannya kembali tertuju pada Yuna.

Senyum asli kamu?

Angga menghela napas pendek. Lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan mempercepat langkah—menyusul Yuna yang sudah lebih dulu berjalan di depan.

Sore itu, mereka pulang membawa hasil observasi yang lengkap.

Namun bagi Angga, ada satu hal lain yang baru saja ia temukan:

Sesuatu yang tidak tertulis dalam lembar tugas. Sesuatu yang bahkan tidak ingin ia analisis terlalu jauh.

Karena untuk pertama kalinya...

ia hanya ingin menikmatinya.

1
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
kenzi moretti
coba lagi besok dito/Chuckle/
kenzi moretti
seseorang ada yg berkata "haremnya yuna nambah"/Sweat/
Moon.: tenang kak. si @Europa. fujoshi udah ku blokir kok dari sini./Smile/
total 1 replies
Europa.
yudi???
Moon.: biarin wlee
total 3 replies
Europa.
ini yuna kalau ngomong nusuk+nyakitin banget, yuda sama najwa aja dulu pernah kena keknya🗿
Europa.: tidak ada yg lolos dari pedang yuna
total 2 replies
Europa.
alasan mau ngerjain sosi inimah, aslinya pengen disamping yuna
Europa.
ughh, sakitnyee
Europa.
wahhh, ini my kisahnya yunaa, akhirnya muncul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!