NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

---KISAH CINTA YANG BERACUN *BAB 2: Rencana di Atas Puing-Puing*

---KISAH CINTA YANG BERACUN

*BAB 2: Rencana di Atas Puing-Puing*

Penerbangan dari Melbourne ke Jakarta memakan waktu tujuh jam, tetapi bagi Lea, setiap detiknya terasa seperti puluhan tahun siksaan.

Di dalam kabin kelas bisnis yang tenang, ia hanya menatap kosong ke luar jendela. Awan kelabu yang berarak di luar seolah mencerminkan badai yang sedang bergemuruh hebat di dalam dadanya.

Ponselnya yang berada di mode pesawat menyimpan puluhan panggilan tak terjawab dan pesan genit dari Julian, Ethan, dan Liam—pria-pria di Australia yang biasanya menjadi mainannya. Lea mengabaikan mereka semua.

Semua permainan cinta dangkal itu kini mendadak terasa hambar dan tidak berarti. Pikiran dan fokusnya kini terkunci rapat pada satu nama: Teo Ozawa.

---

Begitu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Lea langsung melangkah cepat melewati kerumunan, memanggil taksi, dan menuju ke alamat rumah kontrakan sederhana di kawasan Jakarta Selatan, tempat Alia dan nenek mereka tinggal.

Rumah itu tampak sepi, lembap, dan redup ketika Lea sampai. Begitu ia mendorong pintu kayu yang lapuk, aroma minyak kayu putih dan hawa kesedihan yang pekat langsung menyambutnya.

Di atas tempat tidur busa yang tipis di pojok ruangan, Nenek terbaring lemah dengan kompres di dahinya. Wajah tuanya tampak jauh lebih tua, pucat, dan letih dari terakhir kali Lea melihatnya via video call.

"Lea...?" bisik Nenek dengan suara parau. Matanya yang kabur menatap sosok gadis yang berdiri di ambang pintu. Nenek langsung mengenali Lea dari gaya pakaiannya—jaket kulit hitam dan celana jins ketat, sangat berbeda dengan Alia yang selalu memakai rok panjang dan pakaian sederhana.

"Kamu... kamu pulang, Nak?"

Lea berlari kecil, berlutut di samping tempat tidur neneknya, lalu menggenggam tangan keriput yang gemetar dan dingin itu.

"Nenek... di mana Alia?"

Air mata menetes deras dari sudut mata Nenek yang keriput.

"Dia... dia dibawa ke rumah sakit jiwa di luar kota tadi pagi, Lea. Pak RT dan tetangga kasihan melihat kondisi Alia yang terus histeris, tidak mau makan, dan berkali-kali mencoba menyakiti dirinya sendiri... Mereka patungan dan bantu mengurus jalurnya..."

Dada Lea terasa seperti dihantam godam besar. Napasnya tertahan. Tangan yang menggenggam jari-jari neneknya makin erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

"Teo...? Keluarga Ozawa itu... apa mereka tahu kondisi Alia?" tanya Lea, suaranya dingin menahan amarah yang membakar.

Nenek menggeleng lemah sambil menangis parau.

"Tidak ada yang tahu, Lea. Pria bernama Teo itu tidak peduli sama sekali. Bagi dia, kembaranmu cuma mainan yang habis manis dibuang. Dia bahkan tidak pernah menanyakan kabar Alia setelah hari itu. Sekolah juga cuma tahu Alia izin sakit dari Pak RT..."

Nenek mencengkeram tangan Lea dengan keputusasaan yang mendalam.

"Alia milik Nenek hancur, Lea. Pria itu merusak cucu Nenek..."

"Nenek tenang ya," bisik Lea, suaranya mendadak sangat halus, namun di balik kehalusan itu ada ketajaman yang mematikan. Ia mencium kening neneknya yang demam.

"Lea di sini. Biar Lea yang selesaikan semuanya."

---

Malam itu, Lea berdiri di kamar Alia yang sempit.

Kamar itu rapi, beraroma vanila yang lembut dan menenangkan. Di atas meja belajar kayu yang catnya sudah mengelupas, berserakan buku-buku latihan soal fisika dan persiapan ujian.

Namun di pojok meja, Lea menemukan sebuah buku diari bersampul biru yang terkunci. Tanpa ragu, Lea memaksa kunci itu terbuka menggunakan jepit rambutnya.

Halaman demi halaman ia buka. Awalnya, diari itu berisi tulisan tangan Alia yang rapi, menceritakan betapa bersyukurnya dia bisa bersekolah di Ozawa School, betapa bahagianya dia saat Teo Ozawa pertama kali menyapanya di perpustakaan, hingga momen manis saat Teo menyatakan cinta di bawah pohon sakura tiruan di taman sekolah.

Namun, sepuluh halaman terakhir adalah catatan mimpi buruk. Tulisan tangan Alia berubah menjadi cakaran panik, penuh dengan noda air mata yang mengering dan merusak kertas.

> *14 Oktober:*

> Teo membawaku ke kantin utama. Aku pikir dia ingin memperkenalkanku pada teman-temannya. Tapi di sana ada layar besar... Dia menayangkan rekaman percakapan gawai antara dia dan teman-temannya. Taruhan Rp500 juta. Cuma untuk membuktikan seberapa cepat 'si gadis beasiswa yang sok jual mahal' ini bisa ditelanjangi perasaannya.

>

> *15 Oktober:*

> Semua orang menertawakanku. Mereka melemparkan jus dan bekas makanan ke seragamku. Teo cuma berdiri di sana, tersenyum dingin, memegang bahu cewek lain. Dia bilang ke aku: "Kamu beneran mikir cowok kayak aku bisa suka sama cewek miskin kayak kamu, Alia? Kamu cuma hiburan sebulan."

> Aku mau lenyap.

_CRACK._

Tanpa sadar, Lea meremas halaman buku itu hingga robek. Napasnya memburu. Bayangan Alia yang polos, yang menangis ketakutan sambil disoraki dan dipermalukan satu sekolah, berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.

Lea berjalan menuju lemari pakaian Alia. Ia membukanya, lalu menarik keluar seragam SMA Ozawa School—sebuah setelan blazer biru tua bertuliskan lambang emas di dada, lengkap dengan rok lipat kotak-kotak.

Lea melangkah ke depan cermin berdebu di pintu lemari. Ia melepas jaket kulitnya, menghapus seluruh makeup tebal di wajahnya, dan mengikat rambut karamelnya yang biasanya terurai bebas menjadi kuncir kuda yang rapi—persis seperti gaya rambut Alia sehari-hari.

Ia mengenakan seragam itu. Pas. Sangat pas. Bagaimanapun juga, mereka adalah saudara kembar identik yang berbagi darah dan bentuk tubuh yang sama.

Lea menatap pantulan dirinya di cermin. Kini, yang berdiri di sana bukan lagi Lea Anggita si cewek populer yang menyebalkan dari Melbourne. Yang ada di sana adalah 'Alia Anggita'.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa disembunyikan: tatapan mata Lea. Matanya tidak lagi menyinarkan kepolosan atau ketakutan seperti Alia, melainkan kobaran api balas dendam yang dingin dan mematikan.

"Teo Ozawa," bisik Lea pada pantulan dirinya di cermin, bibirnya mengukir senyum tipis yang penuh racun.

"Kamu pikir kamu sudah selesai main-main? Permainan barumu baru saja dimulai."

---

Besok pagi, 'Alia Anggita' yang mereka kira sudah hancur, bersembunyi, dan menyerah... akan kembali melangkah ke Ozawa School.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!