Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23
Namun, kegembiraan Bima tidak berlangsung lama. Begitu dia membalikkan badan hendak masuk ke dalam kamar, dia oleh sosok Rasti yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Wajah janda kembang itu tampak sangat ditekuk. Bibir ranumnya mengerucut kesal, kedua tangannya bersedekap di dada, dan matanya yang bulat tampak memerah berkaca-kaca menatap Bima dengan pandangan penuh permusuhan sekaligus rasa cemburu yang membakar.
Bima yang peka langsung menangkap gelagat tidak beres itu. "Lho, Mbak Rasti? Kok mukanya cemberut gitu? Lihat nih, Mbak, Bima dapat ceperan seratus juta lagi! Kita bisa beli apa aja sekarang!" ujar Bima mencoba merayu sambil memamerkan layar ponselnya.
"Halah! Gak usah pamer uang!" semprot Rasti dengan suara ketus yang bergetar menahan tangis. Dia melangkah maju, menatap Bima dengan sengit.
"Pantesan tadi Mbak disuruh ngumpet di kamar! Ternyata kamu mau enak-enakan ya di luar? Pijat-pijat perempuan kota yang seksi, bening, pake baju kebuka kayak gitu! Sampe desah-desah denger tetangga gimana?!"
Bima melongo. "Lho, Mbak ngintip?"
"Biarin! Biar Mbak tahu kalau otak kamu itu emang mesum!" ketus Rasti jelas dia marah karena cemburu buta.
"Kemarin katanya pijat Mbak karena terpaksa ngobatin kutukan dukun. Terus tadi apa? Tangannya genit banget pake nyenggol-nyenggol dada cewek itu! Kurang gede punya Mbak, hah?!"
Mendengar kalimat terakhir yang lolos dari mulut kakak iparnya, seringai nakal Bima seketika muncul kembali. Rasa paniknya menguap, digantikan oleh gairah lelaki yang tertantang melihat janda kembangnya sedang merajuk kelaparan akan perhatian. Yang gini mana bisa diabaikan, goblok dan munafik kalau sok suci!
“Yaudah, mbak. Sebagai permintaan maaf, gimana kalau mbak aku ajak makan diluar saja? Mbak Rasti ikut Bima keluar? Kita jalan-jalan, makan di tempat yang enak, sekalian beli baju-baju baru yang modis buat Mbak. Jangan mau kalah sama orang kota,” ujar Bima mencoba merayu dengan nada jenaka.
Rasti mendongak, matanya sedikit berbinar mendengar ajakan kencan tersebut. Namun, gengsinya sebagai seorang kakak ipar membuatnya kembali bersedekap dada. "Gak mau. Malu dilihat orang desa, dikira kita mau pacaran."
"Lho, memangnya kenapa kalau dikira pacaran? Orang mbak itu kakak iparku, semua orang juga tahu. Kita kan jalan berdua, sah-sah saja," goda Bima sengaja menaikkan intensitas suasananya.
Tangannya perlahan turun mengusap lembut lengan Rasti, menyalurkan sedikit hawa hangat yang membuat bulu kuduk janda muda itu meremang nikmat. "Ayo dong, Mbak. Kasihan uangnya kalau cuma didiamkan di rekening."
Rasti menelan ludah dengan susah payah, seluruh urat kekesalannya mendadak runtuh akibat sentuhan posesif Bima yang teramat memabukkan. "K-kamu beneran mau ngajak Mbak jalan? Gak malu bawa janda desa kayak Mbak ke tempat mewah?"
"Malu? Malah Bima bangga banget bisa gandeng wanita secantik Mbak Rasti," puji Bima mantap, memberikan senyuman terbaiknya yang membuat jantung Rasti berdegup dua kali lipat lebih kencang.
Akhirnya, pertahanan Rasti jebol juga. Senyum tipis yang sedari tadi ditahannya pecah, berganti dengan cubitan gemas di pinggang tegap Bima. "Aww! Sakit, Mbak!" pekik Bima pura-pura kesakitan.
"Rasain! Itu hukuman karena bikin Mbak jengkel seharian!" rajuk Rasti, wajahnya kini sepenuhnya merona bahagia. "Ya sudah, Mbak mau ganti baju dulu. Awas ya kalau kamu tinggal!"
"Siap, Bos Rasti! Bima tunggu di depan," sahut Bima sembari menyeringai puas.
Setengah jam kemudian, Rasti keluar dari kamarnya. Bima yang sedang menunggu di teras rumah baru mereka seketika dibuat terpaku tanpa kedip.
Rasti mengenakan salah satu baju terbaiknya, sebuah kebaya kutubaru modern berwarna kuning gading yang dipadukan dengan kain jarik kelonggaran yang menonjolkan lekuk pinggulnya dengan sangat anggun. Rambut hitamnya disanggul rapi secara sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh di leher jenjangnya yang putih bersih.
Aroma bedak tabur tradisional yang harum dan segar langsung menyergap indra penciuman Bima.
"Gimana... Mbak aneh ya pake baju begini?" tanya Rasti ragu, jemarinya meremas ujung kainnya karena mendadak gugup ditatap begitu intens oleh adik iparnya.
Bima menelan ludah gila-gilaan, karisma alami janda kembang di depannya ini benar-benar tidak ada tandingannya, jauh lebih memikat daripada kemewahan palsu Nyonya Siska dari kota.
'Oalah pantes mas bayu terpesona.’ batin Bima berharap semoga di alam baka, masnya gak mengutuk dirinya.
"Gak aneh sama sekali, Mbak. Malah... luar biasa cantik. Bisa-bisa pemuda sedesa Sukamaju pada iri sama Bima hari ini," puji Bima tulus sembari mengulurkan lengannya.
Rasti tersenyum malu-malu bak gadis remaja yang baru pertama kali diajak berkencan. “Yaudah kalau gitu ayo jalan!”
“Siap, mbak.”
Bima dan rasti benar-benar keluar dan cari angin di desa, tujuan mereka itu ke pusat kota dan mencari tumpangan angkut umum. Gak naik motor atau gimana, biar tambah khas jawanya kelihatan, alias biar lebih romantis batin Bima.
Saat mereka berjalan di desa menuju tempat angkut umum. Orang desa langsung ngerumpi. Mereka membantin, tumben sekali Bima dan Rasti keluar berduaan begini. Masalahnya mereka itu gak terlihat bagaikan kakak ipar dan adik ipar, malah terlihat bak remaja normal yang lagi kencan perdana.
Bahkan Rasti sekarang terlihat glow up parah—efek dari pijat plus-plus dari Bima. Namun tentu saja, namanya juga orang desa alias plosok. Pasti pada suka ghibah yang tidak-tidak.
“Lihat itu, Rasti. Ditinggal suaminya meninggal malah deketin adik iparnya.”
“Astaga, murahan banget.”
Sementara lain hal dengan para pemuda desa mereka melihat Rasti dengan pandangan lapar, sementara istri mereka pada mencubit para suami nakal yang melirik-lirik genit ke arah rasti.
Rasti menundukkan kepala. Sebagai orang yang terbilang ayu, dia sering mendengar cibiran itu, dia merasa gak nyaman.
“Kurasa kita gak jadi aja bim—”
“Enggak. Harus jadi …” bima menghentikan langkah. Langsung melotot menatap tajam para mak-mak tukang ngibah dan para lelaki yang menatap tak senonoh rasti.
Efek tatapan itu luar biasa. Dengan sekejap semua orang bisu, yang suka gosip nyalinya langsung ciut. Tatapan itu seolah berbicara “berani bilang buruk, berani langkahi mayatnya.’ dan bima yang sekarang kuat membuat mereka takut.
Di lain sisi. Mang ujang membeku. Bangsat! Dia akan sudah sewa dukun buat membuat mampus Rasti, lah kok bisa dia sekarang sehat-sehat banget. Bisa berdiri tegak, malah tambah ayu lagi.
“Njir kok bisa?” Pikirannya terlintas satu hal : kwai wok. Dukun itu membohonginya. “Sialan! Dasar dukun tua bangka, sudah dibayar jutaan hasilnya gini!”
Entah kebetulan bagaimana, tepat saat dia ingin melabrak tempat mbah dukun. Ternyata kwai wok berada tepat di kerumunan itu.
Wajahnya juga mematung. Buset! Santet kirimannya tiap malam, ternyata gak ngefek! Kok bisa? Dia langsung jadi takut. Sudah hampir seminggu lebih dia mengirim santet ke rasti, hasilnya nihil.
Mampus dia bakal membuat mang ujang murka. Pria itu bingasnya lebih dari setan, gubuk tempat dia maksiat bisa langsung dibakar! Lebih baik dia cepat kembali, kabur dari desa ini untuk keamanan!
“Ehem!”
Terlambat! Baru saja Kyai Wok hendak memutar langkah dan menyelinap di balik punggung warga, sebuah dehaman berat bergetar rendah di udara, mengunci pergerakannya seketika.
Itu mang ujang! Tampaknya keberuntungan tidak memihak kepada dia.
“Kwai wok .. kita perlu bicara sebentar,” ujarnya dingin.
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊