Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan di Sudut Pujasera
Bel panjang penanda jam istirahat pertama berbunyi nyaring, seketika memicu gemuruh riuh rendah dari ratusan murid yang berhamburan keluar dari ruang kelas menuju kantin utama SMA Garuda Bangsa. Tempat makan sekolah elit ini lebih menyerupai sebuah pujasera mall mewah kelas atas, di mana berbagai menu makanan katering internasional disajikan hangat di atas piring-piring porselen putih yang berkilat bersih di bawah siraman lampu interior yang estetik.
Azrint Breynerlanz duduk santai di sebuah meja bundar eksklusif yang terletak tepat di dekat air mancur dalam ruangan. Tubuh modelnya bersandar anggun, sementara dia dikelilingi oleh Nadine dan beberapa siswi borjuis lainnya yang sejak tadi tidak berhenti memamerkan barang-barang belanjaan mahal mereka dari luar negeri. Azrint hanya mendengarkan obrolan kosong itu sembari mengaduk jus stroberi dinginnya malas-malasan dengan sedotan kaca, wajah cantiknya memancarkan aura manja yang biasa. Namun, di balik tatapan matanya yang sewarna karamel tua, dia diam-diam mengawasi sirkulasi pergerakan di sudut kantin yang lain untuk memastikan segalanya tetap berada dalam kendali normal.
Di sudut terjauh kantin, dekat pilar beton yang kokoh, Eriza Tryanaz duduk sendirian menghadap sebuah kotak makan plastik sederhana berisi nasi putih dan telur dadar bawaan rumah. Penampilannya yang terlalu bersahaja dan dingin membuat anak-anak kaya di sekolah sengaja menjaga jarak sejauh beberapa meter dari mejanya seolah-olah kemiskinan adalah hal yang tabu untuk didekati. Eriza sama sekali tidak peduli dengan pengasingan sosial tersebut. Telinganya yang terlatih sejak kecil justru memanfaatkan keheningan di sudut itu untuk merekam setiap frekuensi pembicaraan di ruangan, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan dari faksi luar yang berniat mengusik wilayah sekolah.
"Gue bosan banget sebenarnya lihat tingkah orang-orang kaya yang sok tahu di depan sana," gerutu Aleyna Rossalind sembari menghempaskan nampan berisi mie ayamnya ke atas meja panjang di lajur tengah kantin dengan gerakan kaku khas anak jalanan. Dia duduk dengan gaya maskulin, mengambil sendoknya dengan satu gerakan kasar yang efisien.
"Ih, El, jangan kencang-kencang dong kalau ngomong. Nanti ada yang dengar loh," bisik Camellia Putri yang duduk tepat di depannya dengan wajah imutnya yang tampak ketakutan palsu, seraya menyuapkan sepotong kecil salad buah segar ke dalam mulutnya yang mungil.
"Biarin aja. Emang gue peduli sama pendapat anak-anak manja yang gak pernah ngerasain debu jalanan itu? Gak level," sahut Aleyna blak-blakan dengan suara seraknya, menggunakan kata ganti "lo-gue" yang natural di antara mereka berdua karena jarak meja murid lain cukup berjauhan untuk mendengar percakapan mereka.
Tidak jauh dari meja mereka, Miya Fynezayn sedang berdiri mengantre di depan gerai kopi premium dengan postur tubuh body goals-nya yang tegak lurus sempurna. Ketika dia menerima cangkir kopi porselen hitamnya dari petugas gerai, langkah kakinya sempat bersilangan dengan Fyrline Zyornaland yang sedang membawa nampan berisi sup asparagus hangat untuk makan siangnya.
Sret.
Gerakan tubuh kedua gadis itu mendadak kaku selama sepersekian detik ketika pundak seragam mereka bergesekan tipis secara tidak sengaja di tengah ramainya antrean murid kantin yang padat.
"Maaf ya, Miya. Aku tidak melihat jalan dengan jelas tadi karena kacamataku agak berembun," ucap Fyrline dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, dan penuh dengan kepalsuan yang menenangkan di balik lensa kacamata tipisnya.
Miya menatap Fyrline dari balik helai rambut pirang ikalnya yang sedikit bergoyang ditiup angin kantin. Pandangan matanya yang berwarna biru jernih memancarkan wibawa dingin yang pekat, menolak untuk menunjukkan kelemahan apa pun setelah insiden semalam. "Gak apa-apa. Lain kali... pasang mata lo lebih baik lagi saat berjalan di tempat ramai, Kutu Buku," bisik Miya dengan logat asingnya yang tajam, sengaja menggunakan kata ganti "lo-gue" dengan volume suara yang sangat rendah agar tidak memancing perhatian dari murid borjuis di sekeliling mereka.
Fyrline hanya tersenyum manis tanpa membalas ucapan dingin Miya, lalu melangkah pergi menuju mejanya kembali dengan ketenangan yang luar biasa. Kedua gadis itu kembali ke mode normal mereka masing-masing, menolak untuk memperpanjang gesekan ego atau mengusik rahasia besar yang mereka simpan di dalam hati. Di dalam ruang kantin SMA Garuda Bangsa yang riuh dengan obrolan dunia atas, enam siswi kelas X-A itu tetap menjaga jarak kaku yang aman, fokus sepenuhnya pada kehidupan normal mereka sendiri, dan bersumpah untuk membiarkan badai malam tadi terkubur selamanya di dasar samudra.