Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Bertemu
Mario dan Tissa sampai di depan toko B-Glow. Ternyata benar saja, saat ini banyak sekali orang-orang yang berdesakan untuk masuk. Hanya saja kondisi aman terkendali, karena Belva sudah meminta beberapa Polisi untuk mengamankan jalannya acara.
“Tolong jangan saling dorong ya, teman-teman. Berbaris teratur, karena semuanya dijamin akan mendapatkan promo dan hadiah suvenir dari B-Glow!” teriak Yuri.
“Kok aku kaya kenal dengan suara itu, tapi siapa?” batin Mario.
Mario berusaha untuk melihat siapa yang sudah berbicara barusan, tapi karena banyak orang-orang membuat Mario tidak bisa melihatnya. “Kak, ayo kita ikut ngantri juga,” ajak Tissa.
Mario hanya bisa mengikuti keinginan Tissa walaupun di hatinya dia sama sekali malas melakukan itu. Mario menganggap kalau selama ini Tissa menderita maka dari itu dia ingin berusaha membuat Tissa bahagia. Mario justru membenci Belva akibat akting Tissa yang sangat meyakinkan dan memutar balikan fakta.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya Tissa dan Mario pun sampai di depan pintu toko B-Glow. Tissa sangat bahagia, sedangkan Mario tampak terkejut melihat orang yang ada di depan pintu sembari memegang toa. “Mario,” batin Yuri.
“Loh, itu ‘kan Yuri temannya Belva waktu di Korea,” batin Mario.
Mario dan Yuri saling tatap satu sama lain. Hingga akhirnya Mario dan Tissa pun masuk, Mario melewati Yuri dengan kaku. Yuri langsung menoleh ke arah Belva yang saat ini sedang sibuk membantu melayani konsumen.
“Astaga, bagaimana reaksi Belva kalau bertemu dengan Mario? Aku harap Belva gak bertemu dengan pria brengsek itu,” batin Yuri.
Tissa dengan semangat melihat-lihat produk yang sangat dia inginkan, berbeda dengan Mario yang tampak celingukan karena takut Belva juga ada di sana. “Kak, aku boleh beli apa pun ‘kan?” seru Tissa.
Mario tidak menjawab ucapan Tissa karena dia sibuk celingukan mencari keberadaan Belva. Merasa diacuhkan, Tissa pun menepuk lengan Mario membuat Mario kaget. “Eh, ada apa?” tanya Mario gugup.
“Ih, Kakak kenapa sih malah celingukan? Cari siapa?” kesal Tissa.
“Enggak. Barusan kamu ngomong apa?” tanya Mario mengalihkan pembicaraan.
“Aku ingin beli semuanya, boleh tidak?” tanya Tissa kembali.
“Boleh, kamu beli saja apa pun yang kamu mau,” sahut Mario gugup.
“Terima kasih,” ucap Tissa bahagia.
Pada saat Tissa sedang asyik mengambil beberapa produk B-Glow, dia tidak sengaja menabrak seseorang. Seketika keduanya saling pandang satu sama lain, bahkan Mario pun ikut kaget dengan pertemuan mereka yang tiba-tiba itu. Tissa memperhatikan penampilan Belva dari atas hingga bawah, Belva memakai kaos B-Glow sama seperti yang lainnya.
“Astaga, kamu kerja di sini ternyata,” ledek Tissa dengan senyuman sinis.
Belva hanya terdiam, bahkan saat ini tatapannya sudah beralih kepada Mario. Belva tidak menyangka akan bertemu keduanya di sana. Perasaan yang dulu sudah hampir hilang, sekarang kembali muncul akibat pertemuan itu.
Melihat tatapan Belva, Tissa langsung berdiri di hadapan Mario. “Tidak tahu malu ngelihatin pacar orang seperti itu,” kesal Belva.
Belva tersenyum sinis, dia kesal dengan ucapan Tissa tapi dia sama sekali tidak berniat untuk membalas ucapan Tissa. Belva pun hendak pergi, tapi Tissa menahan lengan Belva. “Sekarang semua milik kamu sudah menjadi milikku, termasuk Kak Mario. Jadi jangan sombong jadi orang, akhirnya hidup kamu jadi melarat seperti ini dan hanya jadi pelayan toko,” hina Tissa dengan senyumannya.
Belva menghempaskan tangan Tissa. “Nikmati saja semuanya, karena aku kasihan sama kamu soalnya dari kecil kamu sudah hidup melarat,” sahut Belva dengan nada sinis.
“Kurang ajar!” Tissa langsung menampar Belva membuat semua orang kaget termasuk Mario dan juga Yuri.
Yuri langsung mendekati Belva dan mendorong tubuh Tissa. “Berani sekali kamu menampar Belva!” bentak Yuri.
“Berani kamu membentak aku? Aku adalah pembeli di sini dan pembeli itu adalah raja. Kalian hanya pelayan, mau aku laporkan kalian ke atasan kalian supaya kalian dipecat,” geram Tissa.
Belva memegang pipinya dengan menatap tajam ke arah Tissa dan juga Mario. Kebencian Belva terhadap mereka berdua semakin besar. Berbeda dengan Mario, sebenarnya dia masih mencintai Belva tapi karena Tissa sudah menghasutnya maka Mario ikut-ikutan benci kepada Belva.
“Silakan kamu laporkan kita, karena kita gak takut. Sekarang, kalian keluar dari toko ini karena kita gak mau perusuh masuk ke dalam toko,” seru Yuri dengan penuh emosi.
“Hai, pelayan rendahan seperti kamu berani mengusir aku? Memangnya kamu siapa?” kesal Tissa dengan mendorong tubuh Yuri.
“Terus, kamu juga siapa? Toko ini tidak akan bangkrut hanya karena kamu tidak membelinya, jadi sekarang juga kamu dan pacar kamu itu keluar dari toko ini!” bentak Yuri.
“Yuri, jangan bentak-bentak pacar aku!” Mario meninggikan suaranya.
Tissa langsung menoleh ke arah Mario. “Kakak kenal sama orang ini?” tanya Tissa bingung.
“Dia ‘kan temannya Belva, sudah pasti aku kenal dia,” sahut Mario.
“Kalian memang menyebalkan,” kesal Tissa.
Belva memilih pergi, dia tidak mau sampai ada wartawan yang melihat kejadian itu. Sudah pasti wartawan akan mengorek informasi dan Belva tidak mau sampai identitasnya terbongkar sekarang. “Hai, aku bakalan laporin kamu ke Owner B-Glow ya, biar kamu dan teman kamu ini dipecat dari B-Glow!” teriak Tissa.
“Dasar gila,” sentak Yuri sembari pergi meninggalkan Tissa dan Mario.
Mario terus memperhatikan Belva sampai Belva menghilang di balik pintu. Entah kenapa dia tidak tega melihat Belva ditampar oleh Tissa di depan umum seperti itu. “Mereka berdua nyebelin banget sih,” kesal Tissa.
“Seharusnya kamu jangan tampar Belva, ini tempat umum bagaimana kalau ada wartawan? Ini ‘kan skincare yang lagi viral, sudah pasti bakalan banyak kamera apalagi bakalan ada artis Korea juga yang datang,” sahut Mario.
“Aku kesal sama dia Kak, selama ini dia sudah membuat aku mengalah dan sekarang rasanya aku puas sudah melampiaskan kemarahan yang selama ini aku pendam,” ucap Tissa.
“Ya, sudah sekarang kamu mau beli apa? Habis itu kita pulang,” seru Mario.
“Ih, aku ‘kan mau nunggu artis Koreanya,” rengek Tissa.
“Iya, maksudnya kalau sudah beli, kita tunggu di kedai koffee aku dulu,” sahut Mario membujuk Tissa.
“baiklah,” ucap Tissa.
Mario sedikit kesal kepada Tissa karena sudah membuat onar dan membuat dirinya malu. Tapi Mario merasa aneh juga kenapa Belva dan Yuri bisa bekerja di sana. “Kalau Belva bekerja di sana, berarti selama ini dia tinggal di sini dong?” batin Mario.
Mario mengajak Tissa untuk menunggu di kedai koffee miliknya. Mario tahu jika kekasihnya itu ingin sekali bertemu dengan artis Korea yang menjadi brand ambasador produk B-Glow. Mario sudah tertipu dengan cerita Tissa maka dari itu dia ingin membahagiakan Tissa karena menurutnya selama ini Tissa sudah menderita akibat ulah Belva.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva