Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Melda menghela nafas, wajahnya langsung berubah sendu dan matanya berkaca-kaca menatap sahabatnya itu.
Wajah Biah berubah panik dan ikut sedih melihat perubahan wajah sahabatnya itu.
"Ada apa?, kenapa kamu tiba-tiba ingin menangis?". Tanyanya lembut.
Melda menunduk kemudian airmata yang dia tahan akhirnya tumpah juga
"Dia berselingkuh". Jawabnya dengan suara bergetar parau.
Dia menangis dengan tubuh bergetar, hatinya teramat sakit mendapati kenyataan lelaki yang begitu dicintainya yang telah tidak pulang berhari-hari ternyata menikah dengan orang lain dan lebih parahnya yang dia nikahi adalah sepupunya sendiri dan keluarganya tahu.
"Jangan bilang?". Ucapnya geram
Dia sangat jelas memahami maksud dari tatapan sahabatnya itu, mereka sudah mengenal sejak kecil bahkan ketika mereka ingin menyampaikan sesuatu tanpa berkata pun mereka sudah tahu
"Siapa?". Tanya Biah dengan suara bergetar emosi.
Wajahnya memerah karena membayangkan hal terburuk yang akan menghantam akalnya saat ini.
"Dia adikmu Biah". Cicitnya pelan.
Biah menggeleng pelan, anak dari perempuan yang telah menghilangkan nyawa ibunya dan berselingkuh dengan ayahnya dan sekarang anaknya kembali menghancurkan hidup sahabatnya begitu juga dengan anak-anaknya.
Benar, Melda merupakan keponakan dari ibu tirinya, walau begitu mereka memang saling mengenal sebelum perempuan itu menjadi perusak rumah tangga ayahnya.
Biah tertawa sumbang penuh kesakitan, wajahnya memerah yang kini mulai berembun, luka lama yang dia rasakan tidak pernah benar-benar hilang dari dirinya.
"Dulu ibunya melakukan itu kepada keluargaku, menghancurkan keluarga kecil dan membuat mereka berantakan sekarang anaknya melakukan hal yang sama, betul-betul ibu dan anak sialan".
Kalimat umpatan itu membuat Melda tersentak, seumur hidup mengenal sahabatnya itu, kalimat itu hanya keluar jika dia sangat marah dan akan membalasnya.
"Biah jangan bertingkah aneh-aneh". Ucapnya memperingatkan sahabatnya itu.
Aku tidak akan membiarkan mereka merusak keluarga kecilmu juga Melda, mereka tidak akan ku izinkan melakukan hal itu karena sudah menghancurkan keluargamu, mereka akan menerima kehancuran ". Geramnya sambil mengepalkan tangannya.
Melda menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya karena tidak setuju akan perkataan sahabatnya itu.
"Sudahlah Biah, biarkan saja mereka, lagian untuk apa aku mempertahankan lelaki yang bahkan memperlakukan aku seperti itu, aku masih bisa hidup tanpanya, walau aku mencintainya aku tidak akan membiarkan diriku menjadi orang bodoh untuk bertahan dalam pernikahan toxic ini".
Kini matanya berubah sendu, sahabatnya ini adalah saudara untuknya, mereka sudah melalui puluhan tahun bersama sehingga bisa sampai detik ini.
"Kamu yakin untuk melepaskannya?, bagaimana dengan anak-anak mu?".
Melda tersenyum pelan sambil mengelus tangan sahabatnya itu.
"Tenang saja, mereka bahkan sangat membencinya jadi aku tidak perlu berusaha payah nanti di pengadilan, anak-anak tidak mau dekat Dnegan ayahnya apalagi Meisya melihat ayahnya dengan perempuan itu".
Biah hanya menghela nafasnya, dia tidak pernah menyangka jika keponakannya itu akan mengalami luka yang sama yang dia rasakan.
"Baiklah, kamu atur saja menurutmu baik karena itu adalah hidupku, beritahu aku jika kamu butuh bantuan, aku akan membantu semampuku".
Senyuman jenaka terbit di wajah Melda kemudian menaik-turunkan alisnya menatap sahabatnya itu.
"Kembali jadi pengacara yah, bantu aku lepas dari lelaki sialan itu dan pastikan dia tidak mendapatkan hak asuh anak-anak".
Biah tersenyum lembut kemudian mengangguk pelan, seperti nya dirinya akan kembali lagi duduk dipersidangan, bukan hanya itu, dia juga akan menyiapkan tim khusus untuk mengejar ayahnya setelah ini begitu juga dengan ibu tirinya.
"Kalian tidak akan lolos, akan ku buat kalian semua membayar mahal segalanya".